
Selena membereskan semua barangnya dan memasukkan ke koper. Tekadnya untuk berpisah dengan Sam sudah bulat. Tugasnya sudah selesai. Ia ingin hidup bahagia dengan kedua anaknya.
Baru beberapa langkah hendak keluar dari kamar Ia melihat suaminya berjalan cepat dan memeluknya dengan erat. Pria itu terisak. "Jangan tinggalkan aku. Aku mohon." Lirihnya sambil duduk bertumpu pada kedua lutut memeluk pinggang Selena. "Mas. Jangan seperti ini. Kita bahagia masing masing saja. Berpisahnya kita mungkin adalah jalan terbaik." Kata Selena.
Sam berdiri. Pria itu tiba tiba berjalan dan membuka laci meja. Meraih pistol dan menodongkannya di kepala. "Mas." Selen menutup mulutnya terkejut dengan kelakuan pria itu. "Tidak ada gunanya aku hidup lagi jika tanpamu. Aku semangat untuk sembuh karena kamu. Dan kamu sekarang pergi meninggalkan aku. Jadi untuk apa aku di dunia ini lagi." Teriak Sam semakin menekankan benda itu ke kepalanya. "Kesalahanku memang tidak bisa di tebus. Tapi aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku mencintaimu. Sangat. Bahkan tidak ada orang yang begitu aku cintai selain dirimu. Hukumlah aku sesukamu. Tapi jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Sam menangis lagi. "Mas. Jangan bertindak bodoh." Selen mencoba mendekat namun pria itu semakin menjauh. "Kita bicarakan baik baik. Letakkan itu Sekarang juga." Bujuknya. Sam menggeleng. Pria itu tak mau menuruti apa kata sang istri. "Untuk apa aku hidup kalau kamu tidak bersamaku?" Ia berteriak histeris. "Ok. Kita bicarakan ini. Letakkan dulu." Selen semakin mendekat. Meraih benda itu saat suaminya lengah dan membuangnya jauh jauh. "Kenapa kau lakukan ini padaku ha? kenapa kau begitu kejam." Selen menangis memukul dada Sam yang sedang memeluknya. "Kau jahat. Kau orang paling jahat yang pernah ku kenal. Teganya kau membunuh anakku." Selen berteriak. "Kenapa? Kenapa Tuhan tidak memanggilku saja? Kenapa makhluk tak berdosa yang aku jaga dan nantikan malah di panggilnya. Kenapa dunia begitu kejam padaku?" Ia mengungkapkan semua membuat hati Sam teriris. "Honey." Panggil Sam merasakan tubuh Istrinya yang semakin memberat.
Sam mengamati istrinya yang masih belum sadar. Wanita itu pingsan sudah satu jam lamanya. Kata dokter Selen hanya tertekan dan kelelahan. Kondisinya akan membaik nanti. Hati Sam sakit mengingat semua yang dilakukannya pada sang istri tetapi wanita itu tetap sabar. Tak pernah mendurhakai atau membantahnya. "Um..." Selen mengerjapkan mata perlahan. Ia mengernyit merasakan kepalanya yang pusing. "Honey. Kamu bangun sayang?" Tanya Sam sambil menggenggam tangan wanita itu. Selen mendudukkan diri dibantu suaminya. Ia menepis tangan itu membuat hati Sam berdenyut. Pria itu teringat saat dulu Ia mengabaikan istrinya. "Mau minum?" Tanya Sam namun Selena menggeleng. Wanita itu meraih kacamata dan memakainya. Ia beranjak dari ranjang menolak semua bantuan dari suaminya. Sam menatap kepergian sang Istri dengan tatapan sendu.
__ADS_1
Suasana makan malam tampak senyap. Hanya ada dentingan sendok yang beradu dengan piring masing masing. Shai tak banyak bicara kali ini. Mungkin gadis itu sudah merasakan aura yang tidak baik baik saja dari Ayah dan Ibunya. "Ibu sakit?" Tanya Sky mengawali pembicaraan. Ia Khawatir melihat wajah Ibunya yang sedikit pucat. "Tidak Sayang. Ibu baik baik saja." Jawabnya sambil tersenyum. "Ibu. Ayo kita ke minimarket." Shai kini yang berbicara. "Mau apa? Ini sudah malam." Selena heran. "Mau beli cemilan. Shai pengen. Kita pergi ya..." Gadis itu memohon. "Iya." Selena menuruti keinginan putrinya. Sam hanya mengamati interaksi mereka. Meskipun tidak dekat dengan anak anak. Namun akhir akhir ini hubungan mereka membaik.
Sam menemani Istri dan anaknya berbelanja. Pria itu tentu saja tidak akan membiarkan Selena keluar sendiri apalagi ini sudah malam. Mereka berjalan kaki karena jarak minimarket yang cukup dekat. "Gendong." Shai merentangkan tangannya saat hendak sampai. "No Shai. Ibu lelah jika harus menggendongmu." Sky kesal dengan adiknya. "Dengan Ayah saja." Tawar Sam namun putrinya menggeleng dengan cepat. "Kemarilah." Selena menggendong putri manja itu dan mulai berjalan mendahului suami dan putranya.
Sampai di rumah. Shai dengan antusias membuka semua belanjaan. Mencicipi satu persatu cemilan yang dibelinya. Sementara Sky duduk dengan tenang sambil meminum susu dan makan keripik kentang. "Bisakah kau duduk. Makan dengan baik Shai. Kau seorang perempuan. Ingat itu. Duduk dan makan dengan tenang." Tegur Sky melihat adiknya itu makan sambil berdiri. Sam tersenyum. Istrinya sudah tidak perlu mengomel kini sudah ada Sky yang mewakili. "Dasar langit." Gerutu Shai kemudian duduk. "Aku mendengarmu Shai. Itu tidak sopan. Aku kakakmu." Kata Sky membuat adiknya meminta maaf. "Jangan lupa gosok gigi sebelum tidur." Selen mengingatkan kedua anaknya. "Iya Bu." Jawab mereka bersamaan.
Hy Guys...Raders tercinta, tersayang. Author banyak banyak terimakasih karna sudah mau baca dan tinggalkan like dan komentar kalian. Baca komen itu rasanya yaampun..seneng banget. Kaya lelah ngetik dan mikir alur ceritanya nggak berasa sama sekali. Dukungan kalian adalah kebahagiaan bagiku. Ehe....
__ADS_1
Baca yang ini juga ya "Princess Alesya and The Possessive Daddy." Novel baru Author. Ceritanya beda dari sebelumnya. Baru up dua episode. Kalau rame nanti Author akan tambah rajin. Menyempatkan waktu untuk up di sela kesibukan yang luar biasa. (Ehm....Berasa kaya orang penting).
Aku tunggu ya guys......
-LOVE YOU SO MUCH-
__ADS_1