Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Hanya Bisa Membuat Luka


__ADS_3

Sam sedang mengamati istrinya dari Tab. Wanita itu sedang sibuk di dapur. Ia menajamkan penglihatannya. Lalu buru buru berdiri dari kursi rodanya ketika melihat sosok pria datang mendekat pada Selena.


Pelukan erat Selena rasakan. Wanita itu memberontak namun tetap tidak bisa mengimbangi tenaga laki laki itu. "Dasar bajingan." Umpat seseorang seiring dengan tembakan timah panas di lengan Bertrand. "Sial." Gumamnya menahan rasa sakit yang luar biasa. "Honey kamu tidak apa?" Sam buru buru memeluk sang istri yang sudah menangis tersedu sedu sambil menutup telinga. "Wah. Rupanya kakakku sudah sembuh?" Cicitnya belum beranjak dari sana. "Keluar." Geram Sam. "Aku akan kembali." Satu kata yang terucap dari mulut Bertrand sebelum pergi. "Honey. Jangan takut. Ini aku." Sam mencoba menenangkan Sang istri yang masih terlihat ketakutan.

__ADS_1


Selen menatap suaminya dengan penuh tanda tanya. "Sejak kapan sembuh?" Tanya wanita itu sambil menatap wajah Sam dengan serius. "Sejak berhenti terapi." Lirih Samuel. Deg......hati Wanita itu bergetar ketika mendapat jawaban dari Sang suami. Berarti sudah lama dan Samuel diam saja melihat saudaranya memperlakukan dia dengan hina. "Keterlaluan kamu. Selama ini kamu diam Aku di perlakukan tidak baik oleh saudaramu. Mas, Aku ini kamu anggap wanita apa?" Selena menangis lagi setelah beberapa saat tenang. "Honey." Lirihnya sangat merasa bersalah. "Kamu tega. Dulu kamu perlakukan Aku seperti itu. Dan sekarang kamu membiarkan pria itu menyentuhku, memelukku. Aku sangat menjaga diri dari sentuhan pria dan kamu tau itu. Aku sudah bersuami Mas. Kamu suami Aku. Kamu seharusnya melindungi Aku." Selena mengungkapkan semua yang dia rasakan. "Honey. Maafkan aku." Kata Pria itu dengan lembut hendak memeluk istrinya namun dengan cepat Selen menghindar. " Aku mau sendiri." Selen berkata tanpa memandang wajah Sam. "Honey. Jangan seperti ini. Aku minta maaf." Kata Sam lagi namun tidak mendapat jawaban. Karena suaminya tak mau pergi Selena beranjak. "Biarkan Aku sendiri." Katanya melihat sang suami ikut berdiri.


Mata Selen tampak sembab dengan hidung yang memerah. Kentara jika wanita itu menangis. "Sayang. Siapa yang membuatmu seperti ini?" Tanya Sean. "Dimana suamimu? Akan aku habisi dia." Lanjutnya lagi ketika tak mendapat jawaban. Selena mencoba menenangkan kedua saudaranya. Wanita itu menangis lagi membuat mereka akhirnya mengalah. Sean dan Shon memeluk Selena untuk menenangkan. Mereka tak akan mungkin terus menekan Sang adik untuk bicara.

__ADS_1


Tiga orang tengah duduk bersama. Salah satu dari mereka hanya bisa diam menunduk mendapatkan tatapan mengintimidasi dari dua orang di depannya. "Katakan sesuatu. Kenapa adikku bisa menangis Hah?" Sean menggebrak meja tak tahan dengan Sam yang diam membisu. Pria itu menghela napas kemudian menceritakan semuanya tanpa terlewat sedikit pun. Mereka begitu kecewa dan sakit hati dengan perlakuan pria itu yang selalu menyakiti hati adik perempuannya. "TINGGALKAN SELENA." kata itu keluar begitu saja dari mulut Shon membuat adik iparnya tersentak. "Perlakuanmu padanya sejak awal sudah keterlaluan. Kamu hanya bisa membuat Selena menderita." Sean berkata dengan serius. "Aku tidak akan meninggalkannya. Dia istriku. Dan selamanya akan begitu." Tegas Sam lalu meninggalkan kedua kakak iparnya.


"Mama." Teriak gadis kecil langsung berhambur memeluk Selena. "Hap. Pelan pelan Sayang." Tutur Selen sambil menggendong Maura. "Sam mana?" Tanya Julian menghampiri keduanya. "Di ruang kerjanya Om." Pria itu mengangguk lalu memberikan Paper bag pada Selena. "Ini bolen pisang keju buat kamu." Selen tersenyum. "Terimakasih." Katanya di jawab anggukan oleh Julian.

__ADS_1


Pria itu menghela napas setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya. Ia sudah menduga jika kejadian akan seperti ini. Julian juga sudah memperingatkan Sam berkali kali namun pria itu tak mau mendengarkannya. Sam harus terima jika sang istri marah dan kecewa. Ia tak boleh egois. Semua perbuatan pasti ada konsekuensi nya bukan? jadi inilah yang harus di hadapi.


Suara celotehan dua orang terdengar riang di ruang keluarga. "Maura ayo pulang." Kata Julian menghampiri anaknya diikuti Sam yang berjalan di belakang. "Maura mau sama Mama." Jawab gadis kecil itu sambil memeluk Selena. "Mama capek nanti urus kamu yang bandel ini. Ayo pulang." Julian hendak menggendong anaknya namun Maura malah menangis. "Biar disini saja Om." Selena mengusap punggung gadis kecil itu dengan lembut agar tenang. "Lihat wajah suamimu. Dia tidak suka di ganggu." Julian menyindir. "Tidak apa." Kata Sam terpaksa setuju agar sang istri memaafkannya. "Jangan kamu jadikan anakku sebagai perantara damai pertengkaran kalian. Aku tidak mau terlibat." Bisik Julian tau akal busuk pria di sampingnya itu.

__ADS_1


__ADS_2