Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Ada Sedikit Kemajuan


__ADS_3

Selena duduk sambil mengamati dua hidangan yang telah tersaji di atas meja. Ini adalah kesekian kali Sang suami memasak untuknya. Nampak ada sedikit kemajuan. Pria itu tak lagi mencampur semua bahan yang tidak jelas. Selen pikir Sam mengikuti resep. Tampilannya juga jauh lebih baik dari sebelumnya meskipun tetap berantakan. Yah mungkin rasanya bisa di terima jika penampilan tidak mendukung. Seperti idiom kalimat metafora don't judge a book by its cover. Yang artinya jangan menilai buku dari sampulnya. Siapa tau isinya berbeda. Seperti masakan Sam sekarang. Di balik penampilannya yang tidak menggiurkan siapa tau ada rasa yang membangkitkan selera. Selena berharap akan seperti itu setelah kemarin merasakan asin, manis dan pahit yang tidak bisa diterima. Ia berharap ada kemajuan atas belajarnya pria itu.

__ADS_1


"Jika Shai jadi Ibu. Shai tidak ingin mencicipinya." Kata gadis itu membuat semua yang ada disana membulatkan mata terutama Sam. Pria itu berpikir apakah masakannya seburuk itu hingga anaknya dengan mulut tak berfirter berkata demikian. Selen menggelengkan kepalanya. Mulut Shai memang pedas. Kedua mulut anaknya memang demikian. Menurun dari siapa lagi jika bukan dari Ayahnya. Gadis kecil itu tak peduli bagaimana perasaan Sang Ayah jika Ia berkata demikian. "Ibu akan coba. Siapa tau rasanya enak." Kata Selen membuat Sam tersenyum. Wanita itu selalu membuatnya bahagia. Selena meraih garpu. Menggulung spaghetti dan memakannya dengan perlahan. "Bagaimana?" Tanya Sam ingin mendengar komentar istrinya. "Better daripada yang kemarin. Tapi kamu merebus pastanya terlalu lama jadinya lembek. Juga kejunya terlalu banyak. Jika orang tidak terbiasa akan eneg. Jika sudah menggunakan keju kurangi garam. Karena keju yang Mas pakai sudah asin. Selebihnya tidak ada." Jawab Selen membuat Sam tersenyum. Pria itu meminta sang istri menyuapinya. Dan rasanya seperti yang telah Selena jelaskan. Terlalu asin dan lembek. "Kalian mau Sayang?" Tawar Selen dan kedua anaknya menggeleng cepat. "Coba brownies yang aku buat Honey." Sam memotongnya dan menyajikan di piring sang istri. Jika ini Selen benar benar ragu. Cake itu terlihat tidak meyakinkan. Tapi Ia tetap mencicipinya. Selena menggeleng pelan. Tanpa menunggu pertanyaan suaminya Ia angkat bicara. "Rasanya amis. Kamu tidak menambahkan vanili di dalamnya. Banyak butiran tepung yang belum tercampur karena menggumpal. Kuenya juga tidak mengembang sempurna." Kata Selena dan Sam mengangguk paham. "Ibu. Shai mau." Kata gadis itu. "Sini Ibu suapi." Selen mulai menyendok kuenya. "Bukan itu. Mau buatan ibu." Katanya dengan senyuman manis.

__ADS_1


Keluarga kecil itu sudah berada di dapur untuk membantu Selen membuat brownies sekalian belajar. Sam memperhatikan istrinya dengan cermat. Pantas saja buatannya selalu gagal. Mulai dari langkah pertama saja sudah salah. "Ibu." Panggil Sky. "Ya sayang. Kamu mau sesuatu?" Tanya Selena sambil meneruskan kegiatan. "Sky mau es krim." jawabnya sambil tersenyum. Selena menatap anak laki lakinya itu. Ia mengusap kepala Sky dan Shai dengan lembut. "Shai mau juga Ibu." Kata gadis itu. "Baik. Mas tolong ambilkan eskrim." Pinta Selena dan Sam langsung menuruti. Pria itu pergi sebentar kemudian kembali dengan dua cup eskrim. "Makanlah." Katanya setelah membuka dan menaruh eskrim di depan kedua anaknya. Shai mulia makan dengan semangat. "Bilang apa sama Ayah." Tegur Selena. Ia selalu membiasakan kedua anaknya untuk mengucapkan terimakasih. "Terimakasih Yah." Kata mereka bersamaan. "Sama sama." Jawab Sam mengusap kepala putra putrinya bergantian.

__ADS_1


Sam memeluk istrinya sambil duduk menikmati suasana malam di balkon kamar. "Pakai bajumu Mas. Nanti masuk angin." Tuturnya melihat Sam bertelanjang dada hanya memakai boxer. "Tidak mau. Aku nyaman begini." Jawab Sam dan istrinya hanya diam. Ia membiarkan apa yang ingin dilakukan pria itu. Sam melepaskan jilbab istrinya. Menenggelamkan kepala di ceruk leher Selena. "Geli." Selen mendorong pelan tubuh Sam ketika pria itu mengecup dan menjilati lehernya. "Honey....Aku menginginkanmu Sayang....Jadi ijinkan aku....." Kata Sam dengan tangan yang mulai bergerak liar. Selena dengan cepat mencekal tangan suaminya. "Kenapa hm? Kamu tidak memberi izin padaku?" Tanya Sam sedikit kecewa. "Aku seharian ini tidak sholat Mas. Itu artinya aku sedang datang bulan." Jawab Selen membuat Sam mengangguk dan tersenyum. Ia sudah terlanjur ON dan harus menuntaskannya sendiri dengan imajinasi.

__ADS_1


Sam dengan langkah gontai menaiki ranjang dan memeluk tubuh istrinya erat. "Uh...Sangat tersiksa seperti ini. Kamu membuatnya tegang dan tidak bertanggung jawab." Keluh Sam pada sang istri. Selena membuka mata. Wanita itu melepaskan pelukan suaminya. Ia mengambil guling dan menaruh di tengah untuk memisahkan keduanya. "Begini adalah solusi. Jika kamu tegang jangan tidur sambil memelukku." Wanita itu berbaring kembali memunggungi suaminya. "Honey. Bukan begitu." Sam membuang gulingnya dan memeluk Selen. "Lepaskan. Kamu menyalahkan ku karena tegang. Jangan peluk peluk." Wanita itu memberontak namun Sam memeluknya lebih erat. "Maaf. Jangan marah Sayang. Mari kita tidur." Ia mengecup pelipis istrinya dan ikut tidur dengan kedua kaki mengapit tubuh Selena.

__ADS_1


__ADS_2