
Selesai sholat subuh Selena menuju ke kamar anak anak. "Ibu. Kita mau kemana?" Tanya Shai sementara kakaknya hanya diam dan menurut. "Kita akan berlibur Sayang." Jawab Selen sambil meraih tasnya yang sedaritadi di letakkan di ranjang. "Ayah ikut?" Tanyanya lagi membuat Selen menggeleng. "Kita akan liburan bertiga saja. Ayah sedang sibuk jadi tidak bisa ikut." jawabnya sambil tersenyum. "Tunggu. Kening ibu kenapa?" Sky yang sedaritadi diam angkat bicara. Bocah tampan itu menghawatirkan keadaan Ibunya. "Ibu terjatuh sayang. Jangan khawatir. Ayo berangkat. Taxi sudah menunggu di depan." Selena menggandeng tangan kedua anaknya. Lagi lagi Sky dan Shai tak mau banyak bertanya. Mereka sudah bisa menebak apa yang terjadi. Keributan tadi malam tak sengaja mereka dengar karena pintu kamar utama setengah terbuka. Terutama Sky sangat tau. Luka sang Ibu adalah karena Ayahnya.
__ADS_1
Matahari mulai meninggi. Sekarang sudah jam 11 namun Sam masih setia memejamkan mata. Pria itu menggeliat. Tidurnya terganggu karena ponselnya tak berhenti berbunyi. "Jam 11." Gumam pria itu. Ia memutuskan untuk mendudukkan diri di ranjang. Kamarnya tampak berantakan. Sam mencoba mengingat kejadian semalam di tengah pening yang Ia rasakan. Jantung Sam berpacu sangat cepat. Ia mengingat semua kejadian yang dilakukannya pada sang istri dengan sangat jelas. Pria itu menuruni ranjang. Pecahan botol wine dan tetesan darah mengotori lantai yang biasanya bersih itu.
__ADS_1
Sam telah selesai membersihkan diri. Pria itu meraih baju yang telah di siapkan dengan baik oleh sang istri. Ia bergegas melangkah pergi. Menuruni satu persatu anak tangga. Sedikit aneh. Sam tak menjumpai Istrinya sedari tadi. Namun perasaan itu di tepisnya. Wanita itu mungkin sedang berada di rumah Bundanya. Kerenggangan hubungan mereka akhir akhir ini membuatnya terbiasa tanpa kehadiran sang istri. Sam tak ambil pusing. Ia menghampiri Alex yang sudah berdiri menunggu. Pria itu menunduk memberi salam melihat kedatangan tuannya. "Tuan." Ia berkata dengan wajah kesulitan. "Kenapa? Ada yang ingin kau katakan?" Tanya Sam dan Alex mengangguk. "Anak anak tidak berada di sekolah. Nyonya juga tidak ada Tuan." Lapor Alex membuat jantung Sam seketika tak ingin berdetak lagi. "Kemana?" Tanyanya dengan khawatir. "Maaf Saya telah lancang. Saya tadi melihat CCTV. Nyonya dan anak anak menaiki taxi jam 4 tadi. Setelah kami lacak taxi itu berhenti di sekitaran mall dan setelah itu kami kehilangan jejak." Jawab Alex.
__ADS_1
"Sean." Tegas sang Ayah membuat pemuda itu menoleh. "Kenapa Yah? Ayah tega melihat adikku seperti itu. Berapa kali dia menyakiti dan kita memberinya kesempatan namun selalu diulangi lagi." Sean tak tahan mengungkapkan semua gejolak yang ada di hatinya. "Namun perceraian bukanlah jalan." Tutur Ayah. "Perceraian adalah sebuah jalan bagi hubungan yang tidak sehat. Kenapa harus bersama jika selalu di sakiti. Ayah paham bukan jika adikku itu sudah sangat menderita. Semenjak bertemu dengan suaminya yang bajingan itu di hidupnya hanya ada sengsara." Shon kini angkat bicara untuk mendukung kakaknya. "Terserah Ayah mau bagaimana. Ketika nanti adikku kembali. Aku akan membawanya pergi jauh dari tempat mengerikan ini. Dia berhak bahagia. Bukan hanya menjadi burung dalam sangkar emasnya." Tuturnya langsung pergi meninggalkan Ayah dan Bunda.
__ADS_1
Sam meraih gelas wine namun dengan cepat di cegah oleh Julian. "Kenapa?" Tanya Sam sudah setengah mabuk. "Kau pikir dengan begini semuanya akan baik baik saja? Kau yang sudah membuat masalah dan kau harus menyelesaikannya sendiri." Julian berkata dengan serius pada pria di depannya. "Apa yang kau dapatkan?" Tanya Sam. "Sabar. Kami masih berusaha." Beberapa saat kemudian Alex dan Bill datang memasuki ruangan. "Bagaimana?" Tanya Sam ingin segera mendapat kabar dimana keberadaan istrinya. "Maaf Tuan. Tidak ada petunjuk. Nyonya bahkan meninggalkan ponsel, jam tangan dan semuanya. Jadi kami tidak bisa melacak." Bill melaporkan. "Bagaimana dengan transaksi kartu?" Tanya Sam dan keduanya menggeleng. "Nyonya tidak melakukan transaksi dari kartunya sama sekali." Jawab Alex membuat sang penguasa menghela napasnya. Kepalanya sangat pusing memikirkan semua ini.
__ADS_1