Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Menjenguk


__ADS_3

Selen baru kembali lagi ke dapur setelah mendapat izin dari suaminya untuk memasak. Sam masih di kantor dan harus menghadiri rapat penting. Oleh karena itu sudah pukul 11 namun pria itu masih belum pulang. "Ibu beneran boleh masak?" Tanya mereka khawatir akan dimarahi oleh Sam. Selen mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian melanjutkan kegiatannya. Mereka tak berhenti meningkatkan Selen untuk hati hati. Bukan hanya khawatir jika terjadi sesuatu pada majikannya dan Sam akan marah. Namun kondisi Selena yang tengah hamil juga membuat mereka was was.


"Sam." Panggilan itu membuat seorang pria berbadan tegap menghentikan langkahnya. Ia harus buru buru pulang. Namun malah ada hambatan seperti ini. "Jangan bicara disini. Di mobil saja." Kata Pria itu langsung mendapat anggukan dari lawan bicaranya.

__ADS_1


Suasana hening sesaat. Sam merasa geram karena Julian tak kunjung bicara. "Ada apa ha? Jangan buang waktuku. Aku ingin segera pulang." Katanya dengan nada tinggi membuat Sahabatnya tersentak. " Sam. Mamamu sudah parah. Aku memindahkannya ke rumah sakit di di dekat cabang perusahaanmu." Jelasnya namun Sam tak menanggapi. "Keluarlah. Aku harus pulang." Ia berkata dengan dingin. Julian menjelaskan kembali. Saat ini Bertrand sudah tidak bersama sang mama. Laki laki itu tidak menemani ibunya yang sedang sakit keras. "Dia malah pergi entah kemana." Lanjutnya membuat Sam mengangguk paham. Sam menyuruh Julian untuk memberikan perawatan terbaik untuk Mamanya. "Dia ingin bertemu denganmu dan Selena." Lirih Julian. Sam tidak peduli. Ia belum bisa menemui wanita yang telah membuatnya terluka berkali kali.


Sampai di rumah Sam langsung menuju dapur karena tau sang istri berada disana. Semua asisten rumah tangga yang melihat kedatangan tuannya langsung bergegas pergi. Pria itu tersenyum melihat Selena yang masih berceloteh sendiri. Ia tak menyadari hanya ada dia seorang dan suaminya. Pelukan hangat Selen rasakan. "Sudah pulang?" Tanyanya sambil memberi toping pada brownies. "Wangi." ucap Sam. "Mau seperti anak kecil berbuka di siang hari? Pergilah mandi dan sholat. Bajunya sudah aku siapkan." Kata Selen masih fokus dengan kegiatannya. "Kamu yang wangi." Jawab pria itu membuat Selena tersenyum. Ia kira suaminya ingin makan kue itu. "Aku mandi dulu Honey. Nanti kamu menyusul ya." Ia beranjak setelah mengecup pipi istrinya.

__ADS_1


Sam dan istrinya sudah sampai di rumah sakit. Keduanya langsung menuju ruangan tempat Sarah di rawat. Wanita itu langsung menangis melihat kedatangan anak dan menantunya. "Mama." Selena tanpa ragu mencium tangan wanita itu membuat Mama Sam tersenyum. Ia langsung menangis dan meminta maaf dengan apa yang telah di perbuatanya. "Kami sudah memaafkan Mama." Jawab Selena sambil tersenyum. "Aku akan punya cucu?" Tanyanya hanya di jawab anggukan oleh Sam. "Semoga sehat dan jadi anak baik." Doanya pada calon buah hati yang masih ada di perut sang menantu. "Mama sudah makan?" Tanya Selen dan wanita itu menggeleng pelan. "Makanan rumah sakit tidak enak." Keluhnya. "Selen bawa makan. Mama mau?" Sarah mengangguk. Wanita itu menangis saat di suapi menantunya. Ia merasa begitu jahat atas perbuatannya yang lalu.


Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit Selen meminta berhenti sebentar di dekat taman. "Kenapa Honey?" Tanya suaminya saat mereka sudah turun. "Aku ingin sate." Jawabnya sambil berjalan ke arah beberapa penjual yang ada disana. Sam mengentikan langkah membuat Selena otomatis juga berhenti karena tangannya di genggam erat oleh sang suami. "Kenapa hm?" Tanya Selen di jawab gelengan oleh suaminya. "Jangan makan makanan pinggir jalan. Nanti aku suruh orang di rumah untuk buatkan." Sam menarik tangan Selen untuk pergi dari sana. "Kenapa sih? Aku mau buka puasa pakai sate." Kesal wanita itu saat sudah sampai di mobil. "Jalan pak." Tegas Sam pada supirnya. "Honey. Aku nggak mau kamu makan makanan pinggir jalan. Nggak sehat. Nggak tau bersih atau enggak." Pria itu berkata dengan nada tegas untuk melarang istrinya. Selena seketika diam membuat Sam merasa bersalah. "Maaf." Ia berkata sambil merengkuh tubuh sang istri dalam pelukan.

__ADS_1


"Maafkan aku Honey. Maaf telah membuatmu takut." Katanya lagi hanya di jawab anggukan pelan.


__ADS_2