
Sam bergegas menemui Julian. Pria itu akan memberikan informasi mengenai keberadaan istrinya. Ia langsung memasuki salah satu ruangan di markasnya. "Dimana?" Tanya pria itu dengan napas yang memburu. Julian menggeleng. Ia mengarahkan tangannya untuk menyuruh Sam duduk terlebih dahulu. "Aku tidak punya banyak waktu. Katakan sekarang juga." Sam begitu tak sabaran. "Kau harus berjanji jika bertemu dengannya kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk. Kontrol emosimu." Julian menatap sahabatnya dengan serius. "Ya. Katakan saja dimana istriku." Kata Sam kemudian Julian memberikan alamat hasil penyelidikannya selama ini.
Sam kemudian menelpon seseorang untuk menyiapkan pesawat pribadinya. Ia akan segera terbang ke Jogja untuk menemui sang istri. Perasaan Sam bercampur aduk di sepanjang perjalanan. Rindu, Marah, dan gugup menjadi satu. Ia tak siap. Namun sudah setengah jalan di laluinya pria itu tak akan mundur.
Selena baru saja pulang dari rumah sakit untuk melihat kondisi kandungannya. Wanita itu menyuruh kedua anaknya untuk masuk terlebih dahulu sementara Ia duduk di teras rumah. Selen menghela napasnya. Dokter masih sama menyarankannya untuk tidak terlalu kelelahan. Obat penguat kandungan juga harus di konsumsinya selama beberapa bulan ke depan di masa kehamilan. Selen beranjak dari duduk. Wanita itu masuk ke dalam rumah dan menghampiri anak anak yang sedang menonton di ruang keluarga. "Tidak tidur siang?" Tanya Selen sembari ikut bergabung bersama si kembar. "Kita masih menunggu Ibu." Shai tersenyum kemudian menarik tangan Ibunya untuk diajak ke kamar.
__ADS_1
Pukul dua siang Selena terbangun. Ia mengecup kening kedua anaknya dengan lembut kemudian turun perlahan dari ranjang. Wanita melangkah meninggalkan kamar. Menutup pintu dengan hati hati agar anak anaknya tidak terbangun.
Langkah Selen terhenti saat melihat sosok pria tengah berdiri di ambang pintu utama yang sudah terbuka lebar. Jantungnya berdetak lebih kencang saat pria itu berjalan semakin mendekat. Sepersekian detik kemudian tiba tiba saja Sam sudah berada di depannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Selen mampu merasakan napas pria itu yang memburu. Jujur saja Selena takut sekarang. Takut dengan pria yang telah menjadi suaminya beberapa tahun itu. "Kau kabur dariku? Tak akan aku biarkan." Sam menggendong tubuh ringan istrinya memasuki salah satu kamar yang berada di lantai satu.
Sky menyaksikan Ibunya di gendong sang Ayah dengan darah yang menetes di lantai. Ia masih kecil namun cukup tau dengan situasi yang ada. Sang Ayah berulah lagi. Suara tangisan sang Ibu dan bentakan dari Ayahnya sudah Ia dengar semenjak tadi. Pria itu menyakiti hati Ibunya untuk yang kesekian kali. "Tuan Muda. Mari ikut saya." Alex menghampiri bocah itu dan menggandeng tangannya sambil menggendong Shai yang menangis.
__ADS_1
Suasana tampak kacau. Sam kini sudah terluka. Sudut bibir pria itu tampak darah yang mengering karena pukulan dari iparnya. Mereka masih menunggu dokter keluar dari ruang UGD. "Bagaimana keadaanya dok?" Tanya mereka menghampiri wanita paruh baya yang baru saja keluar. Hembusan napas tampak keluar mulut dokter itu. Wajah lelah dan kesulitan begitu membuat mereka panik. "Dokter. Katakan sesuatu." Cecar Bunda Selen tak sabaran. "Maaf. Janinnya tidak bisa kami selamatkan. Kandungan Nyonya sangat lemah ditambah dengan guncangan pikiran dan kekerasan fisik yang diterimanya membuat calon bayi tidak bisa bertahan. Kami turut berduka." Kata dokter membuat mereka semua terpukul. Bagaimana ini? Apa yang akan mereka sampaikan pada Selen nantinya? Wanita itu pasti akan sangat terpukul dan merasa kehilangan. "Bajingan kau. Enyahlah kau." Shon lagi lagi memukul iparnya. Ia sudah tidak bisa mengontrol emosi. Ingin sekali membunuh suami adiknya itu dengan tangannya sendiri.
Sky dan Shai tenang dalam pelukan kedua pamannya. Mereka berada di ruangan khusus agar tidak terlalu bersedih melihat kondisi sang Ibu yang belum sadar. "Paman. Ibu bagaimana?" Tanya Shai. "Ibu akan segera sembuh." Jawab Sean sambil memeluk keponakannya. "Sky. Are you ok?" Shon khawatir tentang keadaan keponakan laki lakinya yang sedari tadi diam. Alex mengatakan jika Sky selalu menyaksikan ketika sang Ibu di sakiti oleh Ayahnya. Itu akan berdampak buruk pada psikis Sky. "Aku baik Paman." Jawabnya sambil mengangguk.
Sam menatap istrinya dari kaca di ruang ICU. Wanita itu belum bangun. Hatinya seperti tertusuk ribuan belati yang menghujam secara bersamaan. "Pergilah." Kata seorang pria menghampirinya. "Ayah." Lirih Sam menatap mertuanya. "Aku minta maaf." Sam menatap pria di depannya itu penuh penyesalan. Ayah Selena menggeleng. Ini sudah yang kesekian kalinya. "Pergilah. Ketika sadar pun aku yakin dia tidak ingin melihatmu lagi." Katanya kemudian berjalan menjauh.
__ADS_1