Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Sosok Misterius


__ADS_3

Selen kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantarkan suaminya sampai ke depan. Wanita itu kemudian duduk sambil membaca buku yang terletak di atas meja. Buku dengan judul yang sama namun entah kenapa Ia tak merasa bosan sama sekali harus membaca secara berulang ulang. lembar demi lembar di baliknya dengan perlahan. Hingga beberapa saat matanya merasa lelah kemudian memutuskan untuk menyudahi kegiatannya.


Ia memutuskan untuk berjalan jalan di taman belakang rumah. Selen melihat seseorang yang tengah memperhatikannya. Tak begitu jelas bahkan sampai Ia mengucek mata beberapa kali untuk memastikan apa yang dilihat. Langkahnya semakin mendekat namun tidak ada siapapun disana. Selena berpikir mungkin para pekerja di rumah. Namun berubah haluan karena semua pekerja di rumah ini memakai pakaian serba hitam sementara yang dilihatnya tadi memakai pakaian berwarna biru laut. Meskipun Selen tak melihat begitu jelas namun Ia cukup tau. Wanita itu menggeleng kemudian memutuskan untuk duduk di bangku. Rumah ini di jaga dengan aman. Tidak mungkin ada penyusup atau orang asing yang bisa masuk. Selena mengelus perutnya yang sudah membesar. Ia sangat bahagia di beri kepercayaan memiliki buah hati. Bukan hanya satu bahkan dua sekaligus. Namun rasa heran juga tak mungkin di tepisnya. Ia merasa jika Sam hanya peduli padanya bukan bayi yang sedang di kandung. Pria itu tak pernah berinteraksi atau terlihat antusias saat Selen mencoba berbicara tentang calon buah hati. Bukannya Selena berburuk sangka. Namun itulah kenyataan yang ada. Bahkan pria itu tak pernah melihat hasil USG yang Selena lakukan. Hanya keluarganya saja yang antusias. "Sehat sehat di dalam sayang. Bunda menantikan mu." Gumamnya pelan.

__ADS_1


Sam baru saja menyelesaikan meetingnya. Pria itu menyempatkan berbincang dengan Bill dan Julian mengenai hal yang sangat mengganggu akhir akhir ini. Sam mengatakan jika sang istri sering mendapatkan pake paket misterius tanpa di sertai nama pengirimnya. Sam sudah mencoba melacak namun sangat sulit untuk di temukan. "Apa isi paket itu? Apa membuat istrimu takut?" Tanya Julian dengan raut wajah khawatir. "Hey kenapa kau panik begitu?" Tanya Sam sambil menatap pria di depannya itu dengan tajam. "Jelas. Dia Mama Maura." Jawabnya membuat Sam melemparkan bantal sofa dengan kencang ke arah sahabatnya. "Lupakan. Aku serius." Lanjut Julian. "Tidak. Paket itu tidak pernah sampai ke istriku. Aku menyuruh para penjaga langsung memberikannya padaku. Isinya bukan hal yang menakutkan. Justru hal hal manis. Bunga, puisi dan beberapa makanan yang disukai istriku." Sam berkata sambil memijit pangkal hidungnya. "Kau perlu waspada kawan. Bukannya aku menakuti. Namun sepertinya orang itu berniat mengganggu kalian." Tutur Julian dan Sam mengangguk paham. Ia sepemikiran dengan kawannya itu.


Sam langsung memeluk sang istri yang sedang duduk menunggunya selesai berpakaian. Pria itu mengecup bibir mungil Selen beberapa kali. "Ayo makan. Kamu pasti lapar hm." Pria itu membantu istrinya berdiri. Selen mengangguk. Ia mengikuti langkah Sam yang merangkul pinggangnya.

__ADS_1


"Brugh...." Selena menubruk rak buku membuat Sam panik. Pria itu langsung menghampiri istrinya untuk memastikan kondisi wanita itu baik baik saja. "Kamu baik baik saja Honey?" Tanya Sam sambil mengusap kening Selen yang memerah. Ia membawa sang istri duduk dan memberikan salep dengan hati hati. "Kenapa kamu akhir akhir ini sering menabrak sesuatu hm?" Tanya Sam. Selen menggeleng. Ia takut akan di marahi karena berulang kali Sam menasihati namun di abaikan olehnya. "Bilang saja. Aku tidak akan Marah Honey." Pria itu memeluk istrinya. "Aku tidak bisa melihat dengan jelas." Jawabnya pelan. Sam ingin memarahi pun tak tega. Berulang kali Ia memperingati istrinya untuk tidak membaca dengan jarak dekat namun tidak di hiraukan.


"Kita ke dokter mata." Putusnya sambil mengusap punggung sang istri.

__ADS_1


Sam langsung mengajak istrinya untuk masuk rumah setelah mampir sebentar di rumah mertua saat mereka pulang dari dokter mata. Mata Selena minus dan sekarang Ia harus menjalani perawatan dan memakai kacamata. Sam tersenyum menatap istrinya. Selen terlihat imut dan cantik mengenakan kacamata dengan bingkai bulat itu. Apalagi sedang menikmati minuman Boba yang di belinya tadi. Seperti anak kecil yang sangat menggemaskan. "Kenapa?" Tanya Selen melihat Suaminya senyum senyum tidak jelas. "Nanti malam bisa kan?" Sam menaik turunkan kedua alisnya. "Bisa apa?" Tanya Selen kebingungan. "Aku tadi kan sudah bilang Honey. Aku minta imbalan karena sudah membelikan kamu Boba dan Donat madu itu." Kata Sam mengingatkan membuat Selen memelankan kunyahannya. "Kamu begitu perhitungan." Katanya setelah menelan makanan di mulutnya. "Aku menginginkanmu. Aku sudah membelikan baju baru untuk nanti malam." Kata Pria itu sambil mengedipkan mata. "Aku sedang hamil." Selen mengelak. "Sudah boleh. Dokter bilang malah akan membantu ketika kamu nanti melahirkan." Sam tersenyu menang berhasil membungkam penolakan istrinya. "Aku akan pelan dan lembut. Aku janji." Pria itu menangkup wajah istrinya dan mencium bibir mungil itu beberapa kali.


__ADS_2