Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Mengajarkan Untuk Sederhana


__ADS_3

Selena mengunci pintu ruang kerjanya. Terdengar ketukan dari luar namun Ia tak menghiraukan. Suaminya sedaritadi mengacau membuatnya tidak konsentrasi dan akhirnya semua pekerjaan berantakan. Alhasil dia harus mengulang lagi. Hembusan napas keluar dari mulut wanita itu. Benar Ia sudah terbiasa. Namun jika Sam sangat menyebalkan seperti saat ini juga membuatnya tidak tahan.


Di balik pintu berwarna putih itu Sam menunggu setelah mengetuk pintu sedaritadi tidak di buka. Pesan dan panggilan yang Ia tujukan pada Selena juga tidak ada yang terbalas. "Honey." Lirih pria itu sambil mendudukkan diri di sofa yang tak jauh dari sana. Ia selalu ingin dekat dengan istrinya namun Selen menolak. Sam berpikir ketika anak anak sedang bersekolah Ia bisa menikmati waktu berdua dengan sang istri. Nyatanya tidak. Wanita itu malah sibuk dengan pekerjaannya. Jika Ia tega mungkin Ia akan menutup seluruh bisnis istrinya agar Selen bisa selalu menemaninya.

__ADS_1


"Ayah." Panggil Sky dan Shai ketika mereka baru saja pulang. Keduanya mencium tangan Sam bergantian. "Kalian sudah pulang?" Tanya Sam dan mereka mengangguk. "Ibu dimana Yah?" Sam menunjuk ruangan istrinya yang masih tertutup rapat. "Ayah tidak boleh masuk." Kata Sam.


"Alhamdulillah jika Mbak dan keluarga puas. Kami turut senang." Selen sedang berbicara dengan seseorang lewat telpon. Wanita itu sangat fokus hingga tidak mendengar ketukan pintu dari luar. "Ya. Kami memang menggunakan bahan yang nyaman. Kepuasan pelanggan adalah hal utama. Jadi kami tidak ingin mengecewakan. Pesan lagi?" Tanya wanita itu sambil mengangguk. Ia meraih pena dan buku catatannya. Menulis sambil mendengarkan dengan cermat apa yang dikatakan orang di sebrang sana. "Saya ulangi lagi. Lima kaftan dengan warna peach dan lima kebaya modern broklat 3 berhijab dan dua tidak dengan warna maroon. Benar?" Tanyanya memastikan. "Baik. Akan segera kami siapkan. Terimakasih." Selena menaruh telponnya di tempat semula. "Shai." Wanita itu bergegas pergi karena mendengar tangisan anaknya dari luar.

__ADS_1


"Sayang." Selen terkejut melihat Shai yang duduk berjongkok masih menggunakan seragam sambil menangis kencang. Ia meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya. "Ibu nakal. Shai tidak boleh masuk." Kata bocah itu sambil memeluk ibunya dengan erat. "Cup...cup...Maaf sayang. Ibu sedang bekerja tadi." Selen mencoba menenangkan putrinya. Sam menahan tawanya. Kali ini istrinya mendapat balasan karena tega pada suami. Wanita itu kalang kabut menenangkan anaknya yang tek berhenti menangis. "Ayo mandi dulu. Setelah itu kita makan. Ibu buat puding susu buat kalian." Selena menggandeng tangan Sky sembari menggendong Shai untuk dimandikan.


Sesuai keinginan Shai. Malam hari mereka sudah berada di kedai sederhana untuk membeli nasi bebek. "Ibu." Shai menahan tangan Selena. "Ada apa hm?" Tanya Selen sembari berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Shaina. "Tidak jadi. Tempatnya tidak nyaman. Tidak bagus. Ayo pulang." Katanya. "Bisa bisanya. Sudah jauh jauh kesini malah minta pulang." Sam kesal. Shai menatap Ayahnya. "Kita ke restoran saja Yah." Pinta gadis itu dan Selena menggeleng. Ia akan mengajarkan anaknya itu apa arti sederhana. Hidup di manja dengan segala kemewahan membuat Shai tidak tau bagaimana kehidupan orang di bawahnya. "Kita beli disini. Jangan mengeluh. Shai harus terbiasa dengan kesederhanaan mulai sekarang. Lihat. Satu kali makan di restoran dapat membeli banyak makanan disini. Dan itu sangat membantu mereka." Kata Selena sembari menunjuk beberapa pedagang.

__ADS_1


Shai terus menggenggam tangan ibunya yang sedang membeli berbagai jenis makanan. Selena sadar anaknya itu tidak nyaman tapi Ia akan membiasakan. "Jangan beli macam macam Honey. Jangan makan sembarangan." Keluh Sam. "Maaf Mas. Makanan disini katanya enak semua. Aku pengen coba. Boleh ya." Sam mengangguk karena tak tega kemudian mengecup kening wanita itu dengan lembut.


Mereka makan di ruang keluarga karena semua makanan di bungkus. Sam tidak ingin makan di tempat yang ramai dan terbuka. Pria itu tidak terbiasa. Selena menyuapi Sky dan Sam bergantian. Sementara Shai tidak mau makan. "Kamu tidak mau Shai. Ini enak lo." Kata Sky menggoda adiknya. "Ayo sayang. Sini makan. Ibu suapi. Enak kok. Bersih. Lihat Ayah sama Abang lahap banget makannya." Shai mengangguk lemah. Ia juga ingin mencoba karena melihat Ayah dan Abang nya makan dengan lahap disuapi Selena dengan tangan kosong. "Enak kan?" Tanya Selena dan gadis kecil itu mengangguk. Selan tersenyum. Ia melanjutkan menyuapi ketiganya bergantian. "Uh Honey. Yang ini sambalnya kok pedas." Kata Sam. Dengan cepat Selen langsung memberikan air pada suaminya. "Gimana sih Mas. Sambalnya kan sudah dipisah. Yang kamu buat makan kerupuk itu yang pedas." Tutur Selena.

__ADS_1


__ADS_2