
Hari ini Selena di perbolehkan pulang setelah beberapa hari menjalani perawatan. Ia akan kembali lagi ke kota semula namun di tempat yang berbeda. Tak mungkin baginya untuk tinggal di mansion keluarganya karena rumah suaminya berada tepat di depan istana tempat Selen di besarkan. "Ibu. Are you ok?" Tanya Sky sambil mengusap lembut pipi wanita yang begitu di cintainya. Sky khawatir keadaan Ibunya belum baik baik saja. "Ibu baik baik saja sayang." Selena tersenyum. Berharap putra kecilnya yang begitu peka itu tidak cemas. Perjalanan di mulai. Selena menghela napas panjang ketika burung besi itu mulai terbang meninggalkan kota yang telah menjadi saksi bisu Ia kehilangan calon buah hatinya. Ia harus kuat. Ada anak anak yang membutuhkannya. Merekalah kekuatan Selena untuk terus bertahan.
__ADS_1
Rombongan mobil terparkir di sebuah bangunan megah. Dua anak berusia sama itu menggandeng tangan Ibunya pelan memasuki hunian itu. "Hati hati sayang." Tutur Bunda Khawatir jika terjadi sesuatu pada putrinya. "Duduk pelan pelan." Katanya saat sudah sampai di ruang tengah. "Kamu mau minum sayang?" Tawar Sean dan adiknya mengangguk. Laki laki itu bergegas mengambil botol air mineral dan membukanya. Membantu sang adik minum dengan hati hati. "Mulai sekarang kamu akan tinggal disini. Kakak akan temani." Kata Shon duduk di dekat Selen. "Bunda dan Ayah juga akan temani Sayang. Kamu jangan khawatir." Bunda menyahuti perkataan anak tengahnya. "Tidak Perlu. Kalian jangan khawatir. Jika Kakak dan Ayah disini akan jauh ke kantor. Aku akan baik baik saja." Selena menolak secara halus. Ia tak ingin merepotkan mereka. "Jarak bukanlah alasan. Yang terpenting kamu aman." Sean kekeh ingin menemani adiknya. "Bunda dan Ayah saja yang kembali. Ayah yang lebih intens ke perusahaan induk." Lanjutnya lagi. "No Sean. Ayah juga akan menemani adikmu disini." Pria itu tak mau kalah. "Ayah. Dengarkan dulu. Bukan itu satu satunya alasan aku menyuruh Ayah untuk pulang. Ada hal lain yang harus Ayah lakukan." Kata Shon ambigu membuat Ayahnya mengangguk. "Ayah dan Bunda setiap hari akan berkunjung." Bunda memeluk anak perempuannya dengan hangat.
__ADS_1
Lama menikmati kebersamaan dan makan siang, Ayah dan Bunda Selena akhirnya berpamitan. Keduanya tak berhenti mengingatkan kedua putranya untuk menjaga sang adik dengan baik. "Jangan lupakan apa yang Bunda katakan." Wanita itu memeluk cucu kemudian putrinya. Selen mengangguk sambil tersenyum. "Sean. Shon. Bunda akan menghukum kalian jika membuat kesalahan." Tuturnya lagi kemudian memeluk kedua putranya bergantian. "Pakaian kalian akan Bunda kirim segera." Wanita itu tak berhenti berceloteh panjang lebar. "Kami pulang dulu sayang." Ayah memeluk semuanya bergantian. "Cucu Opa. Jaga Ibu baik baik ya." Pesannya kepada si kembar dan mereka mengangguk.
__ADS_1
Dua orang pria duduk saling berhadapan di sebuah ruangan VIP restoran keluarga. Belum ada yang angkat bicara sedaritadi. Yang mengundang juga belum mengatakan maksud dan tujuannya. "Apa Bosmu masih bisa bernapas setelah apa yang dia lakukan?" Tanya Sean dan Alex hanya mengangguk lemah. "Aku tau kau bukan orang bisa. Bodohnya Sam tidak menyadari kedokmu itu." Kata Sean sukses membuat napas Alex tercekat. Namun Ia sebisa mungkin mengendalikan ekspresinya. "Apa maksud Tuan?" Tanyanya sambil menyesap secangkir cappucino yang tersaji. "Jangan menganggap Aku bodoh. Aku tau semuanya. Ada tujuan di balik kehadiranmu. Namun aku juga heran. Kenapa kau bertahan sekian tahun dan tidak langsung menyelesaikannya." Sean berkata dengan dingin. Pria itu seperti mendukung sekaligus mencurigainya secara bersamaan. "Semua yang Tuan katakan Saya tidak mengerti." Alex berkata namun Sean dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tuan Saifan. Seperti namamu, kau benar benar sebuah pedang tajam yang mengerikan." Sean menatap lawan bicaranya dengan serius. Alex tak menyangka. Pemuda di depannya itu bahkan lebih berbahaya daripada Sam. Ia tak menyangka Sean yang tampak tenang ternyata begitu menghanyutkan.
__ADS_1