
Sam memasuki kamarnya dengan langkah lebar. Pria itu mendapat laporan jika istrinya muntah muntah. "Honey." Panggilnya langsung memeluk tubuh ramping Selena. "Kamu sakit?" Tanya Sam Khawatir sambil menangkup wajah cantik itu. Selen menggeleng. Ia kemudian menyerahkan benda pipih pada suaminya. Pria itu memperhatikan testpack yang diberikan sang istri. Ada dua garis merah di sana. "Kamu hamil?" Sam bertanya dengan cepat dan Selena mengangguk. Pria itu menunjukkan ekspresi tidak suka. Napasnya naik turun seperti sedang menahan sesuatu di dadanya. "Aku tidak menginginkan anak itu." Sam berkata dengan dingin. "Gugurkan saja." Lanjutnya membuat Selena melebarkan matanya. Kenapa suaminya Setega itu? ini juga darah dagingnya. Dengan tega pria itu menyuruh Selen untuk menggugurkan janin di dalam rahimnya. "Tidak. Jika kamu tidak menginginkannya. Aku akan merawatnya Mas. Dia anak kamu. Anak kita." Selen memegang lengan Sam dan langsung di tepis oleh pria itu. "Aku tidak mau dia hadir. Aku tidak menginginkannya. Sudah aku katakan padamu aku tidak ingin memiliki anak. Kenapa kamu tidak mendengarkanku ha?" Sam membentak sang istri dengan sangat kencang. "Mas. Sadarlah." Ia mulai menangis. "Aku tidak mau tau. Aku tidak menghendakinya hadir." Ia langsung pergi meninggalkan Selena yang menangis tersedu sedu.
Suara ketukan pintu tak di hiraukan orang yang sedang berada di dalam kamar. Selena tidak bisa menemui siapapun dengan kondisi mata sembab seperti ini. Terlebih lagi kedua anaknya. Mereka cukup peka dengan keadaan sang Ibu. Oleh karena itu Selen tidak menemui mereka untuk menjaga perasaan kedua anak kembarnya.
__ADS_1
Sam kalut. Pria itu memutuskan untuk pergi memenangkan pikirannya di markas. Ia mendudukkan diri sambil membuang jasnya dengan asal. Sudah Ia katakan pada Selena jika Ia tak mau memiliki anak lagi tapi wanita itu tak mendengarkannya. "Kenapa?" Tanya Julian memasuki ruangan Sam dan duduk di depan pria itu. "Tidak ada." Jawab Sam sambil memijit pelipisnya yang berdenyut. "Aku mengenalmu dari kecil Sam. Aku tau kau sedang ada masalah." Tutur pria itu akhirnya membuat Samuel bercerita. "Tidak benar jika kau menyuruh istrinya menggugurkan kandungannya. Bagaimanapun. Dia anak kalian." Julian mencoba menasihati. "Kau tidak tau apa yang aku inginkan." Sam berkata dengan dingin sambil menatap pria di depannya tajam. "Aku tau. Aku paham. Tapi caramu salah." Julian kini yang menjadi pusing. dia juga seorang yang kejam. Tapi untuk anak Dia tak akan setega itu.
Selena keluar dari kamar saat keadaannya sudah tenang. Wanita itu kemudian menghampiri anak anaknya yang sedang asyik mengerjakan sesuatu di ruang keluarga. "Ibu." Keduanya langsung berdiri dan memeluk Selena. "Ayah dimana Sayang?" Tanya Selen dengan lembut. "Ayah tadi keluar Bu." Jawab Sky dan Selen mengangguk paham. "Kalau begitu kita makan siang dulu ya." Selena menggandeng tangan mungil itu di sisi kanan dan kiri.
__ADS_1
"Maaf menyakitimu Honey. Tapi aku benar benar tak menginginkan bayi itu." Sam bercermin memandangi wajahnya. Ia teringat ketika Selena menangis dan ditinggalkannya begitu saja. Padahal selama ini Sang istri selalu ada untuknya di masa masa sulit sekalipun. Wanita itu selalu menemani Sam di kala suka maupun duka.
Pria itu memperhatikan istrinya yang terlelap begitu damai. Keningnya sesekali berkerut kentara jika Selena tengah memikirkan sesuatu di alam bawah sadarnya. "Ungh..." lenguh wanita itu membuat Sam pura pura tidur memunggunginya. Selen mengerjap hingga matanya terbuka sempurna. "Kamu sudah pulang Mas?" Lirih Selen sambil mengusap punggung suaminya dengan lembut. Ia berpikir bahwa Sam mungkin sudah tertidur pulas karena tidak menyahutinya. "Ini anakmu Mas. Darah dagingmu sendiri. Kenapa kau tega berkata demikian?"Selen mulai menangis lagi hingga terdengar isakan isakan kecil yang membuat hati Sam teriris. "Semoga kamu cepat sadar Mas." Tuturnya saat setelah merasa tenang. Sam merasakan sebuah kecupan di pelipisnya. Selena meninggalkan ranjang. Wanita itu pergi ke kamar mandi kemudian ke ruang ganti. Sam tau Istrinya akan sholat. Tapi Ia tetap tak berkutik dan pura pura tidur seperti sebelumnya.
__ADS_1
Selen kembali ke ranjang setelah menyelesaikan kegiatannya. Wanita itu bersandar di headboard ranjang. "Ibu akan menjagamu nak. Jika Ayah tidak menginginkanmu. Ibu bisa menjadi orang tua tunggal untukmu." Gumam Selena sambil mengusap perutnya yang masih rata. Ia kemudian membaringkan tubuhnya menghadap sang suami yang memunggunginya. Sam sebelumnya tidak pernah seperti ini. Semarah marahnya Ia pasti akan selalu memeluk Selen ketika tidur. "Selamat tidur Mas." Ia membenarkan selimut Sam dan mengecup bahu kokoh pria itu dengan lembut. Sam menitihkan air matanya. Perasaannya kacau sekarang mendengar semua ungkapan dan perlakuan manis istrinya.