Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Tuan Saifan 2


__ADS_3

Seorang pria duduk di sebuah ruangan dengan tingkat pencahayaan sedang. Ia tampak menghela napas beberapa kali sambil mencibirkan bibirnya melihat tatapan tajam dari Pria yang sedaritadi melangkah mengitari kursi yang di dudukinya. "Kenapa dia bisa mengetahui identitas ku ha?" Bentaknya tidak membuat Anthony takut. Pria itu malah memutar bola matanya dengan malas. Ini bukan kesengajaan yang Ia dibuat. Semua berjalan murni tanpa rekayasa. "Sudah aku katakan jika aku mabuk waktu itu. Secara tidak langsung aku menjawab semua pertanyaannya." Jujur Ia seperti orang bodoh kala itu. Hanya minum beberapa teguk sudah membuatnya teler. Memang dia bukan peminum yang handal. Namun Ia bisa menghabiskan beberapa gelas dengan keadaan yang masih sadar. "Apa dia mencampurkan sesuatu di wine ku." Gumamnya langsung mendapat pukulan cukup keras di bahu kekarnya. "Memangnya kau di tawari apa hingga bisa bertemu dengannya?" Tanya Alex berhenti di depan Asistennya. 'Ah Bodoh.' Anthony merutuki dirinya sendiri sambil menampar pipinya beberapa kali. Pria itu lebih cerdas merayunya daripada seorang wanita. "Elang Golden." Lirihnya pelan. Mata Alex membola, Ia begitu tak percaya dengan penuturan Anthony barusan. "Kau menukar identitas asliku dengan seekor hewan." Marahnya sambil mencengkram kemeja si Asisten. "Santai saja. Aku mempercayai orang itu. Dia tidak mungkin membongkarnya." Jawab Anthony dengan santai sambil mengibaskan tangannya. "Maaf Tuan Saifan. Sepertinya pekerjaan di kantor Anda memanggil saya." bangkit dari duduk dan berjalan pergi. Alex tak bisa berkutik dan membiarkan Asisten kurang ajar itu untuk lolos. Anthony masih sangat dibutuhkannya untuk menghandle segala urusan pribadi maupun pekerjaannya.

__ADS_1


Selena mengantarkan anak anak dan saudaranya sampai ke depan. Wanita itu mengecup si kembar sebelum memasuki mobil. "Ibu baik baik di rumah ya." Pesan Sky dan Selena mengangguk sambil tersenyum. "Belajar yang rajin Sayang." Selen mulai menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya. "Kami juga berangkat Sayang." Sean dan Shon menghampiri sang adik untuk berpamitan. "Jika ada sesuatu segera hubungi kami. Ada beberapa orang yang akan datang untuk menjagamu." Tuturnya sambil mencium kening Selena bergantian. "Hati hati." Selen tersenyum mencium tangan kedua saudaranya. "Kamu juga." Balas mereka sebelum memasuki mobil masing masing.

__ADS_1


Sam hidup dalam kesepian. Pria itu masih belum beranjak dari ranjang mengingat semua kenangan manisnya bersama sang Istri yang telah Ia hancurkan. Selalu ada yang membangunkannya, menyiapkan segala kebutuhan, mengurusnya dengan baik dan sabar kini sekarang hilang tinggal kenangan. Hidupnya porak poranda semenjak ditinggal Selena. Dadanya serasa sakit mengingat kejadian yang telah wanita itu alami karenanya. "Bersiaplah Bodoh. Kita ada meeting penting." Suara itu membuat Sam mengangkat pandangannya. "Wakili Aku." Jawab Sam tetap tak ingin beranjak. "Tidak bisa. Ini kerjasama penting. Kau harus menghadirinya sendiri." Jelas Julian. "Dimana Alex?" Sam turun dari ranjang sembari melangkah menuju kamar mandi. "Dia sedang di bawah."

__ADS_1


Suasana ruangan sedikit sepi. Hanya tersisa dua kubu yang masih setia duduk di tempatnya masing masing. Mereka belum saling undur diri karena tau harus menyampaikan sesuatu. Sam mengangkat pandangannya. Pria itu menghela napas melihat tiga orang yang menatapnya dengan tajam. "Ayah." Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya. "Datanglah nanti malam ke mansion. Ada sesuatu yang perlu kita bahas." Kata Sean mewakili Ayahnya. Ketiganya berdiri secara bersamaan kemudian melangkah pergi. "Bagaimana dengan istriku?" Tanya Sam membuat mereka berhenti seketika. "Izinkan aku bertemu dengannya." Lirih pria itu sembari menundukkan kepala. "Kehadiranmu akan membuatnya terluka lagi. Jadi jika tidak bisa membahagiakan, bisakah kau tidak menyakiti? Hidup bukan melulu tentangmu Sam. Semuanya tidak bisa kau paksakan sesukamu. Anakku sudah berusaha menjadi seorang istri yang patuh. Menerimamu dan menemanimu di kala kau jatuh. Aku tak pernah mengungkit jasanya. Namun ada baiknya jika kau membuka hatimu. Rasa terimakasih tidak perlu kau ucapkan dia akan mengerti jika kau memperlakukannya dengan baik. Namun apa yang kau perbuat sudah menjadi jawaban. Selena tau kau orang yang seperti apa. Kau yang meminta putriku dengan paksa. Kau juga yang telah menyakitinya." Ayah Selen menjeda ucapannya. "Putriku. Putri kami yang kami jaga dengan sepenuh hati. Dengan gampangnya kau lukai. Sudahlah. Ini tak akan mengubah keadaan. Jangan lupa untuk datang. Banyak hal yang perlu kita bicarakan." Ayah Selen pergi diikuti kedua anak kembarnya setelah mengatakan sesuatu yang mengenai hati Sam.

__ADS_1


__ADS_2