
Selena memulai kehidupan barunya. Ia sekarang berada di kota Jogja. Di sebuah rumah sederhana berlantai dua yang di tempati bersama kedua anaknya. Bukan bermaksud lari dari tanggung jawab. Namun Ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Jika tidak menjauhi pria itu Selen akan terus tersiksa dan itu berdampak buruk pada janinnya. Kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya cemas. Ketika suaminya membuat Ia meneguk minuman beralkohol itu. Selen sudah memeriksakan kandungannya. Ia harus beristirahat total beberapa hari belakangan dan jangan terlalu banyak pikiran. Kandungannya sangat lemah. Ia harus bisa rileks agar semuanya baik baik saja. "Kamu harus bertahan sayang. Kuatlah bersama ibu." Gumam wanita itu sembari mengelus perutnya yang masih rata.
Mereka sekarang sedang berada di mall untuk membeli beberapa kebutuhan termasuk pakaian. Karena keberangkatan yang buru buru membuat Selena tak menyiapkan apapun. "Sayang. Baju mana yang kamu inginkan?" Tanya Selena pada sang putra yang sedaritadi hanya diam mengekori adiknya yang sibuk memilih. "Ibu pilihkan saja. Ibu paling tau yang Sky suka." Jawabnya sambil tersenyum. Selen mengangguk wanita itu kemudian memilih beberapa baju untuk si kembar dan dirinya sendiri. Selen selalu menggunakan kartu pribadinya. Jadi tidak ada seorang pun yang tau keberadaannya sekarang.
__ADS_1
"Mau dimasakkan apa sayang?" Tanya Selen sembari mendorong troli belanja. "Apapun yang Ibu masak kami suka." Jawab Shai. "Ibu." Gadis itu menarik gamis Selena membuat wanita itu berhenti. "Boleh ya?" Tanahnya mengamati keripik kentang dan coklat yang tepat berada di sebelahnya. Selena tersenyum kemudian mengangguk. "Ambilkan untuk kakak juga."
Sampai di dapur Selan langsung menata belanjaannya di dalam kulkas dan menyisakan beberapa untuk segera di masak. Anak anak juga ikut membantu. Mereka begitu antusias dan tak membiarkan wanita yang sedang hamil itu kelelahan. "Ibu lelah. Istirahat saja." Sky begitu dingin dan berwajah datar namun sangat perhatian. Shai juga perhatian. Namun gadis itu lebih,cerewet, judes dan sombong. Wajah mirip Selena tapi tidak dapat di pungkiri jika sikap mereka menurun dari Sam. "Tidak sayang. Ibu tidak lelah. Kalian mandi dulu ya. Nanti kita makan sama sama." Mereka mengangguk langsung melaksanakan apa yang diperintahkan Ibunya.
__ADS_1
Makan siang penuh drama akhirnya selesai. Kini Selena sedang menemani kedua anaknya untuk tidur siang. Semilir angin masuk melewati jendela besar yang terbuka lebar di kamar lantai dua. Pohon nyiur tampak melambai lambai menandakan angin cukup kencang di luar sana. Jemari lentik wanita itu mengusap lembut kedua pipi bocah yang tengah tertidur pulas sambil memeluknya. Merekalah kekuatan Selena. Ia begitu bersyukur di berikan kepercayaan untuk menjadi seorang ibu. Air mata tiba tiba membasahi pipi. Teringat betul bagaimana sang suami membencinya karena ada nyawa baru yang akan hadir. Tatapan pria itu sudah di tutup oleh kebencian. Rasa cinta penuh kelembutan seakan sirna di hati suaminya. Perjuangan Selena untuk menerima dan mencoba bertahan pada akhirnya sia sia. Dulu dia yang memaksa. Kini dialah yang menghancurkannya juga. Selen akan tetap bertahan di babak baru kehidupan. Ia akan membiasakan diri hidup mandiri dengan kedua putra putrinya. Jika ini jalan yang terbaik. Ia akan jalani.
Selena masih dalam pencarian baik dari pihak keluarga maupun suaminya. Belum ada petunjuk apapun tentang keberadaan wanita itu. Sam tampak kacau. Pria itu bukannya menata diri malah lebih banyak minum dan marah marah tidak karuan. Bukannya dia orang yang sangat egois? Dialah penyebab semua ini dan dia juga memarahi orang orang yang terlibat dalam pencarian karena tidak berhasil menemukan keberadaan Selena nya. "Sampai kapan kau akan seperti ini ha?" Julian tak tahan menggebrak meja dan membentak sahabatnya itu. Sam yang sudah malas tak mau merespon. Kepalanya cukup pusing karena meminum beberapa gelas wine tadi. "Kau pengecut Sam. Kau bajingan. Kau yang buat istrimu pergi." Lagi lagi Julian mengeluarkan emosinya. Pria itu tak pernah semarah ini sebelumnya. Puluhan tahun mengenal Julian Sam baru kali ini mendapati sahabatnya semarah itu. "Kau kenapa? Kenapa kau semarah ini?" Sam akhirnya ikut berteriak. "Aku. Aku masih punya hati Sam. Wanita itu cukup bahkan sangat menderita semenjak bertemu denganmu. Kau ingat semua yang kau lakukan padanya. Menculik, mengancam, memukul, menampar dan masih banyak lagi. Apa aku perlu jelaskan satu persatu betapa kejinya dirimu. Kau ingat saat kau lumpuh siapa yang menerimamu. Dia terus bertahan meskipun Perlakuanmu padanya begitu menyakiti hati. Kau Posesif dan pencemburu. Kau sering melukainya tanpa bertanya. Kau keparat Sam." Kata Julian langsung meninggalkan sahabatnya sendiri. Semua yang diucapkannya membuat Sam merenung.
__ADS_1