Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Kecurigaan dan Peringatan


__ADS_3

Sean dan Shon tampak berbicara serius kepada kedua orang tuanya. Rasa tidak suka pada Sam muncul terlebih dengan kejadian kemarin. Pria itu tampak mencurigakan. Bukan bermaksud untuk berburuk sangka. Namun melihat tatapan serta perlakuan manis Sam pada sang adik dan beberapa kejanggalan membuat mereka meminta kepada Sang Ayah untuk menjauhkan Selena dari Sam. Permasalahan pertama adalah kepindahan Sam yang tiba tiba dan tepat berada di depan rumah mereka. Bukankah ini hal yang patut di curigai? Terlebih pria itu pindah bertepatan dengan adiknya yang kembali. Kedua, pria itu tampak semakin intens mendekati keluarga Alister. Sering berkunjung dan membawakan berbagai oleh oleh yang semuanya adalah kesukaan Selena. Tidak mungkin jika Ia tau semua hal yang disukai adiknya merupakan sebuah kebetulan belaka.


"Jangan berburuk sangka Nak." Itulah jawab yang keluar dari mulut sang Ayah membuat kedua pemuda itu menghela napas.


"Kami sudah memperingatkan Ayah." Katanya memilih untuk undur diri.


Sebuah tangan terulur untuk mengelus pipi gadis yang tengah tertidur itu dengan lembut. Dua kecupan mendarat di kening sebelum sepasang tangan menggendongnya.


Dua orang pemuda tengah berbincang dengan pelan di balkon kamar agar tidak mengganggu tidur adiknya. Mereka menyampaikan hasil penelusuran yang di dapat beberapa hari ini. Ya. Ini semua adalah tentang Sam. Pria dingin, kejam dan arogan itu begitu penuh misteri. Hanya sedikit informasi yang mereka peroleh. Pria itu cukup sering berkunjung ke Club'. Entah apa yang dilakukan. Informan yang mereka bayar tidak bisa masuk karena pria itu berada di ruangan yang dijaga ketat oleh beberapa orang bersenjata.


"Menurutmu apa yang pria itu lakukan disana?"


Tanya Sean pada sang adik.

__ADS_1


"Mungkin minum dan bermain wanita." Jawabnya masih menatap lurus ke depan. Sean menggelengkan kepalanya. Ia menunjukkan pada sang Adik jika Sam alergi pada wanita atau mungkin Impoten. Jadi dugaan yang di katakan Shon tadi adalah salah.


Sam tersenyum menatap layar laptopnya mendengarkan percakapan mereka. Tadinya Ia hanya ingin melihat gadisnya yang sedang tidur siang. Siapa sangka Ia malah mendengar informasi yang bisa menolongnya untuk mengambil langkah kedepan. Dua manusia itu yang akan menjadi batu sandungan untuk meraih tujuannya. Untuk mengatasi hal ini dan membangun kepercayaan sebuah sandiwara harus diadakan bukan? untung saja Sam adalah orang yang cukup kompeten di bidang ini. Tangannya meraih ponsel kemudian menghubungi seseorang. Ia memerlukan bantuan dari beberapa orang untuk melancarkan aksinya.


Selena sedang mencari Choki, si kucing gembul itu pergi keluar. Ia tak menyadari sebuah mobil melaju cukup kencang hendak menabraknya. Beruntung atau memang kebetulan sosok pria merengkuh tubuh itu dalam pelukan dan membuat keduanya jatuh terguling di sisi jalan. Sam merasakan wangi dan kenyamanan tak memperdulikan rasa sakit di badannya akibat berbenturan dengan aspal. Ia dapat merasakan jantung masing masing yang berdetak hebat. Selen karena terkejut dan Ia karena perasaanya. "Kamu tidak apa?" Tanya Sam sembari membantu gadis itu untuk duduk.


"Tidak Om. Terimakasih sudah menolong aku."


"Om terluka. Mari aku obati." Lanjut Selen dan Sam mengangguk. Ia mengulurkan tangannya untuk meminta bantuan berdiri. Meskipun enggan namun Selena melakukannya. Ia harus bertanggung jawab bukan? Tangan lembut itu menggenggam tangan Sam. Hanya dengan sentuhan itu mampu membuat milik Sam bangkit.


"Terimakasih sudah menyelamatkan putriku." Kata Ayah Selena.


"Tidak masalah Kak." Jawab Sam terus memberikan sorot mata itu pada Selena yang tengah sibuk meneteskan obat merah pada lukanya. Pria itu sedikit meringis untuk menyempurnakan sandiwaranya. Agar semuanya yakin bahwa ini murni sebuah kecelakaan.

__ADS_1


Sampai di rumah Sam langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Pria itu tersenyum menatap langit langit kamar seperti orang gila. Ia mengingat betul sentuhan dan aroma itu yang begitu melekat. Sam duduk dan mengusap rambutnya dengan kasar. Sesuatu yang di bawah sana telah membuatnya tersiksa. Ia berjalan cepat menuju kamar mandi untuk menuntaskan masalah ini.


Keluarga Alister sedang berkumpul. Ayah dan kedua anak laki lakinya tengah berdebat. Sang pemimpin keluarga membela Sam dan kedua anak kembarnya bersikeras menuduh pria itu tidak benar. "Ayah. Pria itu sering pergi ke Club'." Katanya berusaha meyakinkan.


"Ayah tau. Itu urusannya. Selama dia baik dengan kita Ayah tidak mempermasalahkan hal itu." Ia menekankan setiap kata katanya.


"Ayah."


"Sudah cukup. Jangan membuat drama konyol dan menuduh orang sesuka hati kalian." Katanya membuat kedua pemuda itu pergi. Mereka sudah memperingatkan namun jika begini responnya mereka memilih untuk berhenti. Bunda dan Selen sedaritadi hanya diam. Gadis ikut berpamitan untuk menyusul dua saudaranya.


"Kakak." Selena memasuki kamar Sean. Ia melihat kedua kakaknya sedang bicara bersama. "Kemarilah Sayang." Kata keduanya. Selena langsung mendapat pelukan hangat begitu bergabung bersama mereka.


"Selen percaya kakak." Kata gadis itu secara tiba tiba membuat Sean dan Shon tersenyum. Akhirnya ada yang percaya dengan apa yang keduanya rasakan.

__ADS_1


"Kami akan menjagamu sayang." mereka tersenyum sambil memberi pelukan hangat lagi.


__ADS_2