Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Aku Benci Bayi Itu


__ADS_3

Semakin hari sikap Sam semakin dingin pada istrinya. Ia tak memperlakukan Selen seperti biasa. Cinta pria itu seakan hilang. Semenjak hari itu Sam sangat irit bicara. Menjawab singkat apapun yang di tanyakan sang istri. Namun Selena tetap sabar. Ia menjalaninya dengan senyuman. Meskipun setiap hari Wanita itu selalu menangis diam diam.


Lagi lagi hati Selen seperti teriris. Pria itu tak menyambut uluran tangannya dan memilih pergi begitu saja memasuki mobil. "Hati hati." Gumam Selen lalu menarik tangan yang mengaggur dengan cepat. Ia masuk ke dalam rumah setelah mobil yang di tumpangi suaminya meninggalkan halaman.


Air matanya jatuh. Ia tak menyangka suaminya bisa sekejam itu. "Nyonya." Alex menghampiri wanita itu. Ia khawatir dengan keadaan istri Bosnya. Wajah Selena tampak pucat dengan tubuh yang lemas. "Nyonya tidak apa?" Tanyanya mendapat gelengan dari Selen. Wanita itu berdiri kemudian tersenyum menatap pria di depannya. "Tolong antarkan aku ke rumah sakit Om." Selen berkata pada Alex. "Baik." Jawab Pria itu dengan cepat.


Alex memperhatikan gerak gerik wanita yang tengah duduk sambil membaca lantunan ayat suci di kursi penumpang. Entah kenapa hati Alex menghangat mendengar suara merdu itu. Setiap kali keluar berdua dengan Selen wanita itu membuat perjalanan menjadi tenang. "Sudah sampai Nyonya." Katanya selesai memarkirkan mobil di basment rumah sakit. Selen mengangguk "Terimakasih. Om tunggu sebentar ya." Katanya sambil turun dari mobil di susul Alex. "Nyonya. Saya punya kewajiban menemani Nyonya." Pria itu tak ingin mengingkari tugas utamanya. " Hanya sebentar. Tidak akan lama. Aku akan cepat kembali." Selena tersenyum kemudian melangkah pergi

__ADS_1


Mobil telah sampai di halaman sekolah twin. Kedua anaknya langsung berhambur memeluk Selen saat melihat wanita itu turun dari mobil. "Ibu jemput kita?" Tanya Shai yang begitu ekspresif. "Iya sayang. Ayo masuk. Kita makan di luar." Ajak Selen karena Suaminya tak akan pulang untuk makan siang. Semenjak saat itu Sam tak pernah makan di rumah dan pulang hanya untuk tidur saja atau bahkan tidak pulang sama sekali.


"Ayo duduk Om. Kenapa masih berdiri." Kata Selen melihat Alex tak duduk di kursinya. "Tidak apa Nyonya. Aku makan nanti saja." Pria itu tak ingin melewati batas. Ia sadar hanya seorang pengawal. "Jangan begitu. Om membuatku sedih. Duduklah. Kita makan sama sama." Selena berkata dengan lirih membuat pria itu tidak tega. Ia akhirnya ikut duduk bergabung bersama mereka.


Makanan sudah tersaji di depan mereka. Selena makan sambil menyuapi kedua anaknya. Wanita itu juga mengajak Alex mengobrol ringan. "Jadi. Sudah ketemu siapa yang menyakiti Fira?" Tanya Selen sambil mengelap bibir Shai yang berantakan. "Sudah Nyonya. Sekarang masih dalam proses." Jawab pria itu dengan jujur. "Aku tak habis pikir. Kenapa mereka mudah sekali menyakiti orang lain." Selena menggelengkan kepalanya. "Karena Fira anak yang pendiam Nyonya. Dia sangat mudah di tindas." Tutur Alex membuat wanita di depannya itu mengangguk setuju.


Sudah pukul satu malam namun Selena tak mendapati tanda tanda suaminya akan pulang. Biasanya jam segini Sam sudah pulang dalam keadaan mabuk. Ia mondar mandir cemas menanti kedatangan pria itu. Pria yang telah mendiaminya beberapa minggu ini. Selena melangkahkan kaki ke teras depan. Ia melihat Alex duduk di bangku taman sambil menghisap rokoknya. "Nyonya. Maaf." Pria itu membuang dan menginjak rokoknya yang masih setengah karena melihat kedatangan Selena. "Om. Antarkan aku ya." Pintanya dengan nada cemas. "Nyonya. Ini sudah sangat malam. Jika Nyonya ingin Aku menyusul Tuan. Aku akan pergi sendiri." Alex menolak dengan halus. "Tidak. Antarkan Aku. Aku harus memastikan sesuatu. Jika tidak mau, aku berangkat sendiri." kata wanita itu bergegas menuju basment.

__ADS_1


Selena mendapat tatapan aneh dari semua orang yang ada disana. Ia tak berhenti beristigfar melihat laki laki dan wanita sedang berbaur dengan pakaian setengah telanjang memamerkan kemolekan tubuh mereka. Alex melindungi wanita itu. Mencegah Selen agar tidak bersentuhan dengan orang orang yang ada di sana.


Keduanya langsung menuju ruangan di lantai dua setelah mendapat informasi jika Sam berada disana. Selen membuka pintu dengan paksa setelah Alex berhasil mengalahkan dua orang pria berbadan kekar yang berjaga disana. Ia melihat suaminya sudah mabuk berat dengan Julian dan Bill yang mencoba menyadarkan pria itu. "Selena." Keduanya tampak terkejut melihat kedatangan wanita itu. "Bawa dia keluar." Tegasnya lalu melangkah pergi.


Aroma alkohol begitu menyengat di mobil. Pria itu terus merancu tidak jelas di sepanjang perjalanan. Bill dan Julian membantu Sam turun dan membawanya ke kamar. Pria itu masih membawa botol wine dan tak mau melepaskannya. "Terimakasih." Ucap Selen sebelum mereka pergi.


Ia membersihkan tubuh suaminya dengan telaten dan mengganti pakaian pria itu. Saat hendak meraih botol dari tangan suaminya Sam tiba tiba terbangun. Pria itu memukul dan memaki Selen membuat kening sang istri berdarah. "Mas." Selena menatap suaminya dengan nanar. "Aku benci bayi itu." Sam meneguk minuman haram itu dan mencium bibir Selena. Mata wanita itu membola ketika rasa aneh masuk melewati tenggorokannya. Ia memberontak namun kekuatan Sam tak bisa Ia imbangi. Ia menangis. Tak percaya Sam melakukan ini padanya. Minuman itu sudah masuk ke tubuh Selen. Ia merasa sangat berdosa.

__ADS_1


__ADS_2