
Selena berteriak histeris membuat Sam buru buru menghampirinya. Gadis itu tampak ketakutan. "Ada apa Honey?" Tanyanya begitu khawatir sambil memeluk erat tubuh sang istri. "Ular."Jawab Selen sambil gemetar. Sam mengamati sekitar. Ia menemuka ular itu tengah berada di bawah bantal sofa. Ukurannya yang cukup besar dengan pita merah di pangkal ekor.
Pria itu memeluk tubuh istrinya sambil menenangkan. Ia juga memberikan minum pada Selena agar lebih tenang. "Kenapa ada ular di rumah?" Tanyanya setelah merasa lebih baik. "Jangan khawatir Honey. Mereka masih menyelidiki." Jawab Sam sambil mengusap punggung Sang Istri dengan lembut.
__ADS_1
Sosok pria menghampiri Sam yang sudah duduk menunggu. Ia menunduk sebentar kemudian melaporkan apa yang sudah di selidikinya. Sam mengepalkan tangannya kuat kuat. " Dimana dia tinggal?" Tanyanya dengan nada dingin. " Di rumah lama." Jawab Bill cepat. "Bawa dia kemari. Aku tak Sudi kesana." Kata Sam dan Bill mengangguk kemudian pergi untuk melaksanakan perintah Tuannya.
Pria itu melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan. Ia nampak sedang menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Pintu terbuka lebar. Sam langsung memukuli seseorang yang sudah menunggunya di dalam dengan brutal. Mereka saling melukai satu sama lain. "Kenapa kau menggangguku?" Tanya Sam mencengkram kerah kemeja lawannya. "Bukan aku. Aku hanya di suruh Mama." Jawabnya sambil berteriak. "Kau tau. Dia ingin istrimu itu pergi. Wanita itu bersikeras ingin mendekatkanmu dengan Bella." Lanjutnya lagi membuat Sam menghempaskan tubuh Bertrand dengan kasar ke lantai. Dengan susah payah Bertrand menjelaskan mengapa Mamanya bersikeras menjodohkan Sam dengan Bella. Itu karena perjodohan yang telah kedua belah pihak sepakati. Terlebih sekarang dengan keadaan Bella yang baru sembuh. Mama Sam lebih semangat lagi untuk menyatukan keduanya.
__ADS_1
Selen sedang mengobati beberapa luka di wajah suaminya. Pria itu tak meringis atau bereaksi sedikitpun. Sam malah cenderung menatap tajam sang adik yang sibuk mengamati istrinya sedaritadi. "Aku congkel matamu jika berani menatap milikku." Katanya begitu pedas dan mengancam. "Dia memang cantik." Jawabnya sengaja ingin menyulut emosi pria itu. Sam meraih Vas dan melemparkannya hingga pecah. Sam menoleh menatap istrinya yang terkejut dan ketakutan. "Maaf Honey." Katanya sambil memeluk sang istri. "Setelah ini enyahlah. Aku tidak membunuhmu karna kau membawa informasi penting." Kata Sam segera membawa istrinya pergi dari sana.
"Pembunuh." Sam begitu terpukul dengan kata yang keluar dari mulut sang istri. Selen berusaha melepaskan diri dari pelukan suaminya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Sam sedang mengeksekusi seseorang. Padahal pria itu sudah diberikannya peringatan untuk tidak membunuh lagi namun Sam tidak mendengarkan. Selena menangis pilu. Rasa takut dan kecewa menguasai dirinya. Dengan tiba tiba Pria itu mendorong tubuh sang istri dengan kasar ke ranjang. "Jangan sentuh aku." Teriak Selen namun tidak di hiraukan. Sam dengan cepat membungkam mulut Selen dengan ciumannya. Ia menahan kedua tangan Sang istri dengan tangan kiri dan tangan kanannya sibuk bergerilya kesana kemari. Pria itu melepas satu per satu pakaian yang melekat pada tubuh keduanya hingga terpampang lah keindahan yang begitu Ia dambakan. Tubuh yang begitu putih mulus dan sangat terjaga. Selena terus menangis namun suaminya tidak peduli. Kini Sam sudah menciumi seluruh tubuhnya dan berhenti di bawah. Memainkan lidah dengan lihai hingga menciptakan gelombang aneh yang baru pertama kali Selen rasakan. Sam tersenyum penuh kemenangan. Ia beralih memainkan tubuh bagian atas. Mengulum, menghisap dan sedikit menggigit dengan gemas. Meninggalkan bekas bekas cinta di seluruh leher dan tubuh putih mulus Selena.
__ADS_1
Sebuah benda tumpul memaksa masuk di bawah sana. Mencoba mendorong beberapa kali dengan paksa membuat Selen menangis merasakan kepedihan dan sakit yang luar biasa. "Akh....Sakit." Keluh wanita itu. "Ah Honey.....Ini sangat sempit." Kata Sam mendorong pinggul hingga miliknya tenggelam sempurna di rongga yang begitu hangat setelah beberapa kali percobaan. Ia terus bermain dengan tangan dan mulutnya yang tak mau menganggur. Keringat dan air mata membasahi keduanya. Selen akan menunaikan kewajibannya. Namun bukan cara seperti itu yang Ia mau. Sebagai seorang wanita Ia ingin diperlakukan dengan lembut dan penuh cinta. Pria itu terus bergerak memompa tubuhnya hingga pelepasan pertama telah terjadi. Ia melakukannya lagi dan lagi tanpa memperdulikan Istrinya yang sudah lemas.
Sam telah selesai mencium bibir dan kening istrinya dengan lembut. Ia meraih tissue dan membersihkan miliknya dan bekas darah pada milik sang istri. Selen menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Wanita itu dengan perlahan duduk di tepian ranjang. "Sakit..." Lirihnya ketika mencoba berjalan. Beruntung Suaminya dengan cepat menghampiri dan menahan tubuh Selen sebelum jatuh. "Istirahatlah." Kata Sam dengan lembut. Ia merasa bersalah sekarang. "Mau mandi." Jawab Selen singkat. Sam mengangguk langsung menggendong istrinya untuk mandi.
__ADS_1