
Sam menatap nanar Selana. Sedari anak anak berangkat sekolah wanita itu selalu menemani sang suami. Bagaimanapun juga status mereka masih suami istri yang sah secara hukum dan agama. "Honey." Panggil pria itu sambil berjalan pelan mendekati istrinya. Sam memeluk tubuh Selen. Menikmati aroma yang begitu menenangkan. "Kembalilah berbaring. Keadaanmu masih lemah." Selen berkata sedikit memerintah.Jujur Ia sangat malas untuk berinteraksi dengan pria itu. "Maaf." Lagi lagi Kata itu yang diucapkan Sam tanpa bosan. Sejak kedatangan Selena Sam sudah mengatakan Maafnya puluhan kali. "Kembalilah ke ranjang. Aku akan ke dapur sebentar." Selena melepaskan pelukan Sam dan melangkah perlahan keluar dari kamar.
Tadinya Selen memang akan ke dapur. Namun langkahnya terhenti saat berpapasan dengan Julian. Pria itu mengajak Selen untuk berbicara hal penting. Mereka kemudian duduk di ruang keluarga. Bill ternyata sudah ada disana juga.
__ADS_1
"Ada apa Om?" Tanya Selen ketika sudah duduk berhadapan dengan kedua pria itu. Wajah mereka tampak kesulitan. Bagaimana akan memulai untuk menyampaikan hal penting ini. "Om." Panggil Selen lagi membuyarkan lamunan keduanya. "Ah iya." Jawab Julian. Pria itu menghela napasnya panjang kemudian mulai mengungkapkan rahasia yang selama ini di sembunyikan. "Sam mengidap kanker hati." Tuturnya membuat Selena terkejut bukan main."Sejak kapan?" Lirihnya yang masih dapat di dengar oleh mereka. "Sebelum menikah denganmu." Bill kini angkat bicara setelah sedaritadi diam. Kanker Sam sudah stadium akhir. Pria itu menolak untuk berobat. Dia sudah menyerah. Segala daya upaya yang Ia lakukan tak akan membuatnya pulih total dan kematian semakin mendekat. "Jadi. Aku mohon. Bersama lah dengannya. Dia membutuhkanmu." Julian berkata dengan sendu. Pria itu menatap wanita di depannya dengan penuh permohonan. Selena menitihkan air matanya. Sudah sekian lama namun kenapa suaminya menyembunyikan semua ini. Tidakkah pria itu sadar jika semua yang dilakukannya membuat Selen sakit hati.
Sam mendongak menatap kedatangan sang istri. Wajah wanita itu memerah dengan bekas air mata di pipinya. Sam berdiri melepaskan kacamata Selena. "Kenapa menangis hm?" Pria itu mengusap lembut pipi Sang Istri. "Kenapa kamu tega?" Selena menangis dalam pelukan suaminya. "Kenapa kamu menyembunyikan penyakitmu dariku ha? Apa istrimu tidak berhak tau? Kenapa kamu begitu jahat?" Sam tersenyum tetap mendekap tubuh ramping itu dengan erat. "Aku tidak mau membuatmu khawatir. Aku tidak ingin membuatmu terbebani memikirkan sakitnya aku." Jawab Sam. Tangan pria itu mengelus punggung sang istri agar tenang.
__ADS_1
Kehangatan keluarga kembali tercipta setelah kehadiran Selena. Sam sudah mulai pulih. Pria itu rutin minum obat dan terapi sesuai yang dianjurkan oleh dokter. Hari ini weekend. Mereka tengah bersiap untuk pergi jalan jalan. "Ibu. Kita mau kemana?" Tanya Shai begitu girang. "Shai maunya kemana?" Selen malah balik bertanya. "Ke pantai." Jawabnya sambil tersenyum. "Baiklah. Kita ke pantai." Selena mencubit gemas hidung putrinya. "Biasakan jangan terlalu cerewet. Kakak terganggu." Keluh Sky dengan wajah datarnya. Adik perempuannya itu terlalu banyak bicara membuat Ia risih.
Sepanjang perjalanan diiringi dengan celotehan Shai. Entah gadis itu menuruni gen cerewet dari siapa. Pasalnya Sam maupun Selena tidak demikian. "Bisakah kau diam. Kakak pusing mendengarmu terus berbicara sedaritadi." Sky sedikit membentak adiknya membuat Shai diam. "Sayang. Tidak boleh begitu." Tegur Selen. "Dia mengganggu Bu." Jawabnya. "Minta maaf. Lain kali tegur. Jangan di bentak." Sky menjabat tangan adiknya dan mengalihkan pandangan menatap keluar jendela mobil. Sam menggelengkan kepala. Sikap mereka menurun darinya. Sky yang kasar, dingin serta arogan sedangkan Shai sombong dan keras kepala.
__ADS_1
Suasana pantai sepi dan begitu tenang. Sam menggenggam tangan istrinya sambil mengawasi anak anak yang bermain air di tepi pantai. Sky biasa saja namun Shai tampak begitu antusias. Keduanya sering bertengkar karena sesekali gadis kecil itu mencipratkan air pada sang kakak. Tiba tiba saja sang suami memeluknya membuat Selen sedikit terkejut. Sam memejamkan mata menikmati kenyamanan yang Ia rasakan. Perasaannya begitu damai. Bebannya seakan hilang. Jika boleh Ia meminta. Sam ingin seperti ini selamanya. Bersama istri tercinta dan membangun semuanya dari awal. Memperbaiki segalanya hingga yang ada hanyalah bahagia.