Jerat Cinta Tuan Penguasa

Jerat Cinta Tuan Penguasa
Bercerailah Dengan Putriku


__ADS_3

Suasana rumah Sam begitu sepi siang ini. Para penjaga di rumah terpaksa harus pergi untuk menyelesaikan beberapa tugas dari Tuannya. Suara tamparan begitu memekakan telinga di ruang tamu rumah tersebut. Seorang wanita tengah duduk lemah di sofa dengan bekas air mata yang telah mengering. Tangannya telah diikat oleh seorang pria yang tak Ia kenali "Aku minta kamu tandatangani ini." Mama Sam mencengkram dagu menantunya dengan keras. Mengabaikan hidung dan sudut bibir menantunya yang berdarah. Selen tetap tak bergeming. Dalam hatinya terus berdoa semoga Ia dilindungi dan cepat ada bantuan yang datang.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu. Seorang pemuda datang langsung menghempaskan tubuh wanita itu hingga tersungkur dan memukuli pria yang ada disana dengan brutal. Ia tak habis pikir. Kemana perginya semua orang di rumah ini yang biasanya di jaga ketat oleh belasan pria bertubuh kekar. "Sayang." Sean merengkuh tubuh adiknya yang tampak lemas tak berdaya setelah menyelesaikan dua orang yang telah membuat Selena seperti ini. Ia merasakan tubuh Selen semakin memberat dan tak sadarkan diri. Buru buru Sean menggendong adiknya untuk dibawa pulang.

__ADS_1


Sam baru sampai di rumah. Ia terkejut melihat keadaan sang istri yang tak sadarkan diri tengah di gendong iparnya. "Istriku kenapa?" Tanyanya sambil mengimbangi langkah cepat Sean. "Mau dibawa kemana?" Ia bertanya lagi karena tak mendapat jawaban. "Jangan temui adikku lagi. Urus keluarga biadabmu itu." Sean melangkah cepat meninggalkan Sam yang masih berdiri mematung.

__ADS_1


Ruang keluarga begitu mencekam dengan emosi tiga orang pria yang ada disana. Mereka menatap Sam dengan tajam. "Plak....." Satu tamparan kencang mendarat pada pipi kanan pria itu. Shon pelakunya. Ia tak akan memberi ampun pada orang yang telah menyakiti adik tercinta. "Kau tidak bisa melindungi adikku. Bahkan dari keluargamu sendiri. Kau lihat sekarang keadaan Selena seperti apa hah? Semua kau penyebabnya." Teriaknya sambil mencengkram kerah kemeja Sang adik ipar. Ayah Selen berdiri. Pria itu membawa putranya untuk duduk agar tenang. "Kenapa? Ayah ingin membelanya juga?" Ia tak terima dengan Ayahnya yang begitu santai menghadapi situasi saat ini. "Bercerailah dengan putriku." Kata Seseorang yang baru datang bergabung bersama mereka. Sam menatap mertuanya. Ia tidak bisa jika harus bercerai dengan Wanita yang begitu Ia cintai. "Bunda. Aku tidak mau. Aku mencintai Istriku." Pria itu berkata sambil meminta maaf berkali kali. Namun mereka tetap dalam keputusannya. "Ini demi Selena. Putriku satu satunya. Lepaskan dia jika bersamamu membuatnya sakit dan terluka. Sam, Aku tau ini berat. Tapi anakku sudah cukup menderita. Kau tau apa yang dikatakan dokter? Dia mengalami tekanan, dan trauma hebat. Tanpa kau sadari, setiap kali dia kesini. Dia akan menangis kencang di kamar mandi dan keluar dengan senyumnya. Putriku ingin terlihat baik baik saja padahal dia hancur. Ketahuilah bahwa semua yang di paksakan itu tidak baik. Aku tau kau mencintainya. Begitupun Selen juga pasti akan mencintaimu karena kamu suaminya. Namun Sam, tolong dengarkan baik baik. Daripada di antara kalian selalu ada rasa sakit. Sebaiknya lepaskan." Tutur Sagar panjang lebar pada menantunya. Sam mendengar semua itu seperti di Hujam seribu belati. Istrinya memendam semua seorang diri.

__ADS_1


Selen membuka matanya setelah tak sadarkan diri selama empat jam. Bunda mengelus lembut wajah putrinya yang terlihat pucat. Ia menangis kembali melihat pipi anaknya yang memar dan sudut bibir yang terluka. "Bunda." Lirihnya menggenggam tangan wanita itu. "Aku baik baik saja." Lanjutnya dengan suara menahan tangis. Mereka tak habis pikir. Selena yang begitu di jaga dengan sangat hati hati di lukai oleh orang lain. "Honey." Panggilan itu membuat semuanya menoleh ke arah sumber suara. Selena mengalihkan pandangannya sambil mengusap air mata yang sudah di tahan sedari tadi. "Maafkan Aku." Sam mendudukkan diri di tepian ranjang sambil mengecup tangan istrinya beberapa kali. Pria itu menggenggam tangan Selena dengan lembut karena masih ada infus di punggung tangan istrinya. "Aku mohon maafkan aku." Katanya lagi tapi masih tidak mendapat jawaban. Selena menoleh setelah beberapa saat membuang pandangannya. Rasa sakit hati muncul setiap kali Ia menatap wajah sang suami. Pembunuhan, penyiksaan dan semua kejadian mengerikan yang dialami seakan berputar kembali dalam otaknya. Selen menangis. Sam merasa iba dan bersalah melihat wajah istrinya. Mereka memaksa pria itu untuk keluar. "Jika kau masih disini. Kau akan menambah luka." Kata Shon menutup pintu kamar adiknya setelah berhasil membuat iparnya keluar.

__ADS_1


__ADS_2