Kali Kedua

Kali Kedua
Mati Lampu


__ADS_3

Nara terus mengeluarkan isi lemarinya, melemparkan semua bajunya ke atas kasur, hingga tumpukan itu membentuk sebuah bukit yang terbuat dari baju.


" Ini bukan, ini......juga bukan, ini juga asas bingung !!! " teriak Nara frustasi, " Apa aku beli baju baru aja ya ? " tercetus sebuah ide gila yang segera di tanggapi gelengan kepala warasnya sendiri.


Hey Nara ! ada apa denganmu ?


Mana kepercayaan diri yang melampaui batas wajar itu ! . profokasi hati Nara


*Hey hati, diamlah ! bukannya membantu malah mencemooh seperti itu.!


Aku hanya bertanya !! ini tidak seperti dirimu, biasanya kamu selalu percaya diri menghadapi lawan jenismu, tapi sekarang ? hah lucu sekali.


Hey !!! sudah ku bilang diam !!! dia berbeda, dia itu, ahhhhhh pokoknya dia itu sempurna, pesonanya membuatku kehilangan akal.


" Aaaaaaaaa " teriak Nara frustasi dengan pikirannya sendiri, dia menjatuhkan tubuhnya di atas tumpukan baju itu karena merasa lelah, dia memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya, namun tiba-tiba bayangan senyuman Yudha memenuhi pikirannya.


" Aaaaaaaaa gila ! bahkan sekarang pesonanya sudah menggangguku meskipun mataku terpejam ! " ucapnya seraya mengusap wajahnya kasar.


Drrtt....Drrtt...Drtt,


getaran ponsel di meja, membuyarkan pikiran Nara, dia pun beranjak untuk mengambil ponsel tersebut, senyuman terukir di wajahnya saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ternyata ibunya yang menelpon.


" Hallo mah ! " ucap Nara dengan suara riang


" Hey anak nakal ! kemana saja kamu ? apa kamu lupa masih memiliki mamah !"


" Hehe...maaf mah, mamah apa kabar ? "


" Baik, bagaimana denganmu, dan bagaimana juga keadaan ayahmu ?"


" Kita juga baik Mah, hmmm apa kak Angga dan kak Arya selalu mengunjungi mamah ?"


" Iya, kak Angga baru saja pulang, semalam menginap disini dengan si kecil Tiara " Tiara adalah anak tunggal Angga (kakak tertua Nara) yang kini berusia 7 tahun


" Wahh pasti seru,.....hmm mamah kangen aku nggak ? "


hening, terdengar helaan nafas berat di sebrang sana, seperti menahan tangis, dan Nara sadar itu, dan ini adalah salah satu alasan Nara tidak menghubungi ibunya, seorang ibu akan merindukan anaknya walaupun perpisahan itu belum lama terjadi.


" Tentu saja ! Dasar anak nakal ! " Jawabnya ketus untuk menutupi kesedihannya


" Hehehe, Nara juga kangen mamah, sabar ya, setelah selesai liburan Nara bakal langsung pulang !"


" *Ya sudah, tutup teleponnya dulu ya, jaga diri disana, awas jangan manja sama ayahmu, jangan males ! "


Dih tahu aja* !


" Iya maa, oke, bye " Panggilan pun terputus, sejenak Nara melupakan kegelisahannya tadi, pikiran dan hatinya terasa tenang setelah mendengar suara lembut sang ibu.


Meskipun seorang ibu cerewet, suka marah, suka memerintah, tapi percayalah tidak ada yang bisa menandingi ketulusan cinta ibu pada anaknya.


Ibu adalah orang pertama yang akan sakit saat anaknya terluka, orang pertama yang merasa bangga atas sekecil apapun pencapaian kita, ibu adalah segalanya bagi seluruh anak di bumi ini.


Drrtt....Drrtt..


getaran pada ponsel yang masih di pegang Nara kembali terasa, namun getaran itu terasa singkat, menandakan sebuah pesan yang masuk.


Yudha :


Sampai bertemu jam 7 malam Nara.


Aaaaaaaaa, pesan singkat dari Yudha, mampu membuyarkan ketenangan yang baru sebentar di rasakan Nara, kini kegelisahannya kembali menghampiri, jantungnya bekerja begitu keras akhir-akhir ini setelah mengenal Yudha, meskipun di rasa terlalu cepat, namun pesona pemuda itu tidak bisa di hiraukan Nara, ini adalah pertama kalinya Nara merasa seperti ini, bahkan pada mantan pacarnya yang dulu, walau pada Ikbal sekalipun.


dengan tangan gemetar Nara membalas pesan Yudha.


**Nara :


Iya kak, hmm apa boleh kalo Dicky juga datang ?


Yudha :


Jangan khawatir, aku sudah mengajaknya, antisipasi untuk mengatasi kecanggungan yang akan melanda kita nanti.


Nara :


Terimakasih sudah mengerti kak, sampai bertemu nanti malam.


Yudha :


Apapun untukmu cantik**.


🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈


Jarum jam menunjukan pukul 18 : 45, 15menit lagi, waktu yang di sepakati Yudha dan Nara untuk bertemu malam ini, saat ini Nara sedang sibuk menyisir rambut panjangnya di depan cermin, dia sengaja tidak mengikat rambutnya, dia ingin memberikan kesan berbeda pada Yudha, sebuah gaun selutut, bercorak bunga kecil, dengan kerutan karet di bagian lengan, membuat Nara terlihat manis dan cantik saat ini.

__ADS_1


namun tiba-tiba mati lampu, semua gelap, Nara terkejut, dia segera meraba mejanya untuk mencari ponsel.


Nara :


Kak disini mati lampu, apa kakak dan Dicky akan tetap kesini ?


beberapa menit berlalu setelah pesan itu terkirim, tapi tidak ada balasan apapun dari Yudha, Nara menghembuskan nafas berat, ada rasa kecewa di hatinya jika pertemuannya di batalkan.


" Ra...ini pasang lilinnya biar ga gelap " ujar Ayah yang kini sudah masuk ke kamar Nara, dan memberikan sebuah lilin yang berdiri di atas piring kecil.


" Makasih ayah " Nara menerimanya, dan meletakan lilin tersebut di atas meja, memberikan suasana temaram di kamar itu.


" Ya udah, ayah keluar dulu ya, mau nyalain lilin di tempat lain " Ujar sang ayah, sambil melirik Nara dari atas hingga bawah yang penampilannya tidak seperti biasanya, namun sang ayah tidak bertanya apapun setelah ucapannya hanya di balas anggukan oleh Nara.


Selepas ayah pergi, Nara kembali menghembuskan nafas berat, rasa kecewa kembali menjalar di hatinya, saat melihat ponsel yang di pegangnya sedari tadi tidak mengeluarkan getaran apapun, Nara pun meletakan ponsel tersebut di depannya, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba mengusir kecewa. Tiba-tiba terdengar suara getaran yang membentur meja, membuat Nara terperanjak kaget, dia buru-buru meraih ponsel tersebut, dengan semangat dia mengangkat panggilan tersebut, yang ternyata panggilan dari Yudha.


" Ha-halo kak ? "


" Hallo Ra, kamu bisa keluar ? aku sudah di depan rumahmu !"


apa ? di depan rumah ?


" I-iya kak sebentar " telepon pun terputus, dengan perasaan bahagia, gugup, yang bergemuruh jadi satu, Nara mengambil lilin dan bergegas keluar, namun saat akan membuka pintu, sang ayah menahannya, membuat Nara bingung.


" Mau kemana kamu ?"


" I-itu yah, ada temen mau kesini ?"


" Siapa ?" tanya ayah penuh selidik


" Temen Nara ayah ! udah ah kelamaan. di nunggu "


" Tunggu ! biar ayah yang buka pintu, kamu tunggu dulu disini "


" Tapi Yah___ " tanpa mendengar ucapan Nara, ayah sudah membuka pintu, dan berjalan menuju gerbang, Nara hanya bisa melihat dia perasaan was-was dan takut ayahnya tidak mengijinkan, terlebih dengan penampilan Yudha yang bergaya ala badboy dengan baju hitam, kalung, dan celana jeans hitam saat itu, Nara takut jika ayahnya akan berfikir macam-macam dan tidak mengijinkan Yudha untuk bertemu dengannya.


Ayah dan Yudha terlihat sedikit berbincang, entah apa yang di bicarakan, rasa khawatirnya membuat telinga tuli saat itu juga, tiba-tiba kini Yudha sudah berjalan mengekor di belakang ayahnya Nara menuju kursi yang berada di teras.


" Ra....buatin kopi dua ya " teriakan sang ayah membuyarkan pikiran Nara, tanpa berkata apapun Nara pergi ke dapur untuk membuat dua kopi, setelah selesai Nara bergegas keluar untuk menyerahkan kopi tersebut.


" Ayo di minum kopinya Nak Yudha "


" Makasih om " jawab Yudha mengambil cangkir kopi dan sedikit meminumnya sambil melirik sekilas Nara, sedangkan yang di lirik wajahnya sudah semerah tomat karena merona.


" Ayah....panggil aku ayah ! "


" I-iya om...eh Ayah "


Apa-apaan sih tua ini, aku belum apa-apa udah pendekatan duluan dia, bikin malu. gerutu Nara dalam hati


" Nah gitu, ya sudah Ayah ke dalam dulu, Nara sini temenin nak Yudha ngobrol " Ujar Ayah bangkit dari duduknya, dan berjalan menghampiri Nara


" Pepet dia Ra, ganteng banget " bisik sang ayah di telinga Nara sambil terkikih, lalu pergi meninggalkan Nara yang mematung, dan hanya bisa bergidik ngeri melihat kelakuan sang ayah.


Kok jadi ayah yang ngebet sih


Nara pun melangkah, dan duduk di kursi yang tadi di duduki ayahnya.


" Maaf ya kak, kalo kelakuan ayah bikin kakak gak nyaman "


" Gak apa-apa kok, santai aja Ra " jawab


Hening


Hening


Hening


" Kopi buatan kamu enak Ra " ucap Yudha mencoba mencairkan suasana canggung


" Makasih kak " kembali hening, Nara bingung harus bicara apa, dia tidak pernah merasa senang gugup ini sebelumnya.


" Ra..."


" Kak..." ucap mereka bersamaan, keduanya menoleh ke arah masing-masing, pandangan mereka bertemu, mata mereka terkunci, jantung pun berdetak lebih kencang dari biasanya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut mereka, hanya mata yang berinteraksi, membuat suara jantung keduanya sangat jelas terdengar, hanya ada pandangan sejuk dan nyaman dari keduanya, seakan kedua pasang mata itu tengah berkomunikasi dengan bahasanya sendiri.


" Hah... capek, haus, Ra minta minum " suara Dicky yang tiba-tiba muncul membuyarkan lamunan mereka.


Dan kehadiran Dicky pun mencairkan suasana, mereka mengobrol hangat malam itu, mengejek dan mengolok-olok Dicky, mereka tertawa bahagia malam itu, di temani lilin yang menyala temaram.


Waktu terus berlalu, malam makin larut, Yudha dan Dicky berpamitan untuk pulang, Ayah dan Nara mengantar mereka ke luar pagar, setelah mengucap salam, Dicky dan Yudha menuju rumah Dicky karena berencana menginap di rumah Dicky.


Nara pun membersihkan meja, dan mencuci cangkir bekas kopi tadi, perasaannya sangat bahagia malam ini, setelah selesai Nara masuk ke kamarnya, dan mengambil ponsel di meja yang terus bergetar, dan ternyata ada panggilan dari Yudha.

__ADS_1


" Hallo Kak ! "


" Hallo Ra... kamu belum tidur ?"


"Belum kak, ada apa ? "


" Hmmm... aku ingin mengatakan sesuatu "


" Apa kak,"


" Tapi...kamu janji jangan marah "


" Iya kak, aku gak bakal marah, emangnya kakak mau ngomong apa ? "


" Sebenernya, sejak pertemuan di rumah Dicky waktu itu, aku udah suka sama kamu Ra, kamu mau gak jadi pacarku ? "


Deg


Deg


Deg


Waktu terasa berhenti, jantung Nara begitu cepat bekerja saat ini, lidahnya kelu, rasa bahagia menjalar ke seluruh tubuhnya, tubuhnya sampai gemetar menerima kebahagiaan yang membuncah di hatinya.


" Hallo....Ra....Hallo, kamu marah ya, maaf ya, lupakan ucapannya barusan kalo kamu tidak nyaman, aku minta maaf "


" Ng-nggak kok kak, aku gak marah cuma kaget, apa kakak yakin, kita kan baru kenal "


" Aku sudah menduga kamu bakal bilang gitu, tapi percaya atau tidak, aku merasa sudah lama mengenalmu " Ucap Yudha yakin


" Apa kamu tidak merasa hal yang sama padaku Nara ? "


" A-aku..."


" Sudahlah Ra, ga perlu di jawab, aku tahu kamu pasti menolakku, "


Tidak Kak, aku juga mencintaimu, sejak kamu selalu datang di mimpiku. batin Nara


" Ya sudah Nara, maaf atas perkataan ku, selamat tidur "


" Tunggu Kak ! "


" Kenapa lagi Ra, aku terima kamu menolakku "


" Siapa yang nolak kakak ? "


" Lalu jawaban mu apa ?


" Aku mau Kak ! "


" Maksudnya ? " pura-pura bodoh


" Aku mau jadi pacar kakak " terdengar teriakan bahagia di seberang sana, samar-samar nama Dicky di sebut di sela tawa pemuda itu, seakan dia ingin menyalurkan kebahagiaannya pada orang yang ada di dekatnya saat ini.


sedangkan Nara hanya bisa mendengarnya sambil tersenyum, di ikuti gelengan di kepalanya, dia juga sangat bahagia malam ini.


" Aku bahagia Ra, terimakasih " ucap Yudha tulus


" Iya Kak, aku juga bahagia "


" Ya sudah, ini sudah malam, cepat tidur, besok aku mau ngajak kamu ke suatu tempat "


" Kemana Kak ?


" Nanti juga kamu tahu tempatnya, ya sudah, selamat tidur Nara "


" Selamat tidur juga kak " panggilan pun terputus, seiring dengan menyalanya lampu setelah sekian lama mati, Nara pun beranjak dari duduk, mematikan lampunya dengan lampu tidur, lalu dia merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, membalutkan selimut di tubuhnya, lalu dia memejamkan mata, namun belum sampai terlelap, terasa getaran singkat dari ponselnya.


**Yudha :


Selamat tidur, aku mencintaimu Tanara Anggia.


Nara :


Aku juga mencintaimu Yudha Pramudya, selamat tidur


Bersambungl** .


.


.


selamat membaca, semoga suka...

__ADS_1


jangan lupa, vote, komen, dan like nya ya !!!!!


__ADS_2