Kali Kedua

Kali Kedua
KEN-AKU MENGAKUINYA


__ADS_3

Aku merebahkan diriku di kasur, akhir pekan telah tiba. Malam ini tak ada yang ingin aku lakukan, malam minggu seperti biasa menonton televisi sendirian kemudian tidur. Huh, malam minggu yang selalu membosankan. Aku menatap langit-langit kamar, membiarkan pikiranku melayang kemanapun dia mau.


Hari ini Andres datang ke kantor, dengan santainya dia mengatakan bahwa dia sedang mengejar seorang gadis. Dia mengingatkanku tentang perjanjian kami waktu itu, perjanjian konyol yang entah kenapa bisa muncul di pikiran kami waktu itu. Perjanjian itu menyebutkan, siapapun yang terlebih dahulu menikah akan menang dan yang kalah harus memberikan sebuah rumah dan mobil mewah untuk yang menang sebagai kado pernikahan. Dengan bodohnya aku mengiyakan perjanjian itu, seakan itu adalah hal yang sangat mudah. Ternyata sekarang aku tahu bahwa sangat sulit untuk mencari pendamping hidup.


Andres ternyata sudah mendapatkan gadis incarannya. Pria itu adalah seorang jomblo sejati yang sepertinya pantang mendekati wanita. Memang banyak yang mengejarnya, tapi sepertinya tak satupun yang menarik perhatiannya. Entahlah mungkin anak itu terlalu pemilih masalah wanita, mungkin yang sedang di kejarnya sekarang adalah seorang bidadari. Tapi aku bingung, mana ada seorang bidadari di kantor Date Group.


Aku berusaha mengorek informasi tentang siapa gadis itu pada Andres, tapi dia tidak mau menyebutkannya. Andres si kurang ajar itu sengaja ingin membuatku merasa penasaran. Namun saat dia bertemu dengan Jane, raut wajahnya berubah. Bahkan mereka berdua saling mengenal, pria itu terlihat sangat ramah pada Jane. Apa-apaan dia, dari sekian banyak wanita kenapa harus dengan Jane dia beramah tamah. Andres bahkan memberikan senyum termanisnya yang tidak pernah kulihat selama ini untuk wanita manapun.


Aku berpikir keras, apa jangan-jangan gadis yang di sukai Andres adalah Jane. Aku berdoa semoga saja tidak, aku tidak tahu kenapa aku merasa tidak rela jika Jane dekat dengan Andres. Aku semakin kesal karena Jane juga terlihat ramah dengan Andres, gadis itu membalas senyuman Andres. Melihat hal itu hatiku benar-benar merasa dongkol, ingin rasanya aku menampol wajah Andres yang tidak berhenti tersenyum itu.


Saat itu kami makan siang di resto milik Adel, aku mengamati Andres dan Jane. Andres terlihat selalu mencuri pandang kepada Jane, sangat jelas dia tertarik kepada Jane. Karena itulah aku menyimpulkan bahwa gadis yang menarik perhatian Andres adalah Jane. Aku merasa semakin dongkol dengan kesimpulan yang kubuat sendiri. Aku mengamati Jane, gadis itu terlihat biasa saja kepada Andres. Aku menarik nafas sedikit lega, sepertinya masih aman, Jane kelihatan tidak tertarik pada Andres.


Malam ini aku kembali memikirkan hal itu, terutama memikirkan tentang Jane. Aku merasa sesuatu yang berbeda saat berada di dekat gadis itu. Aku selalu merasa senang setiap bertemu dengannya, ada rasa yang tak bisa kujelaskan. Sepertinya aku harus mengakuinya bahwa aku jatuh cinta pada gadis itu.


Aku tersenyum saat membayangkannya, mengingat kembali hal-hal yang terjadi antara kami selama beberapa bulan terakhir ini. Hal-hal konyol namun terasa manis di ingatanku, gadis itu membuatku merasa gemas dengannya. Ku akui sekarang bahwa muncul setitik rasa ingin memiliki yang semakin membesar di hatiku.


Aku teringat Andres, bagaimana bisa kami menyukai seorang gadis yang sama. Aku tentu saja tidak ingin mengalah pada pria itu. Bagaimanapun akulah yang lebih dulu mengenal Jane, dan mungkin aku juga yang lebih dulu memiliki rasa kepada gadis itu. Bagaimana caranya agar aku dan Andres bisa bersaing dengan sehat, dan bagaimana caranya agar aku yang memenangkan hati Jane.


Gadis itu terlihat biasa saja kepadaku, tak terlihat perasaan yang berbeda darinya untukku. Karena itulah aku khawatir jika akhirnya Jane tertarik kepada Andres. Jika dibanding Andres, jelas saja aku setingkat lebih tinggi dari segi apa saja daripada pria itu, hmm tapi itu penilaian dariku sendiri. Sudah seharusnya aku yang harus memenangkan persaingan ini bukan?


Walaupun aku sudah memiliki segala kesimpulan tentang Andres dan Jane, tapi aku harus tetap memastikannya terlebih dahulu. Aku harus membuat Andres mengatakan siapa gadis yang menarik perhatiannya. Aku takut aku salah mengira, bisa-bisa aku terlihat konyol di depan Andres dan menjadi bulan-bulanan hinaan pria itu.


Malam belum larut, aku bangkit dari tempat tidurku, menyambar jaket yang tergantung di rak. Berlari kecil menuruni tangga, masuk kedalam mobil dan melajukannya. Aku berhenti di depan apartemen bertingkat tempat tinggal Grace dan Jane. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku pergi kesini. Aku menepuk-nepuk dahiku, aku hanya tahu letak bangunan apartemen ini, tapi aku tidak tahu yang mana milik Jane ataupun Grace.

__ADS_1


Apartemen ini adalah apartemen tipe garden, karena memiliki halaman dan pekarangan hijau yang sangat luas. Bangunan ini jika kuhitung terdiri dari sepuluh tingkatan, dimana tipe bangunan tinggi, juga memanjang kesamping dan berjejer menempel satu sama lain. Kulihat dari luar, sepertinya setiap lantai terdapat lima buah apartemen.


Aku menatap balkon-balkon apartemen yang berada didepanku, entah yang mana milik Jane, aku sama sekali tidak tahu. Aku berpikir cepat, bagaimana caranya agar aku bisa menemui gadis itu. Akhirnya aku memutuskan untuk meneleponnya, cara terbaik yang kurasa paling tepat untuk sekedar bertemu dengannya.


"Halo." Suara lembut diseberang sana.


"Jane?"


"Ya?"


"Kau sedang berada dimana?"


"Di apartemen, ada apa Ken?"


"Keluarlah ke balkon apartemenmu."


"Lakukan saja."


"Mmm, baiklah."


Sepersekian detik Jane tidak bersuara, aku hanya mendengar suara langkah kakinya dari telepon. Aku menatap balkon-balkon itu, menunggu kemunculan seseorang disalah satu balkon. Aku melihat pintu balkon perlahan terbuka disalah satu bangunan tingkat empat jejeran nomor tiga dari kiri. Seorang gadis cantik yang kurindukan muncul disana, dia terlihat menatap kelangit.


"Ken, aku sudah menuruti kata-katamu. Sekarang aku harus apa? Apa kau menyuruhku melihat bintang?" Terdengar suara di teleponku.

__ADS_1


"Jangan memandangi langit, tengoklah ke bawah arah jam tujuh."


Seketika Jane menatap kebawah dan dia langsung menemukanku, aku melambai kearahnya. Jane terlihat sedikit terkejut dan sepersekian detik dia tersenyum kepadaku. Hei, lihat dia benar-benar tersenyum kepadaku, sangat manis. Aku membalas senyumannya tak kalah lebar, malam ini aku merasa melihat sesuatu yang lebih bersinar daripada bulan.


"Tunggu disana." Suara Jane di telepon.


Belum sempat aku menjawab, Jane sudah menutup teleponnya dan masuk kembali kedalam. Aku menebak-nebak, apakah dia baru saja menyuruhku menunggunya? Apakah dia akan turun menemuiku? Seketika jantungku berdebar tidak beraturan. Apakah akhirnya aku akan menghabiskan malam minggu dengannya malam ini?


Sekitar kurang dari lima belas menit, aku melihat Jane berjalan pelan ke arahku. Wajahnya tersenyum ke arahku, tentu saja aku membalas senyumannya walaupun aku tidak tahu arti senyuman yang diberikannya kepadaku. Dia menghampiriku dan berhenti tepat di depanku.


"Ken, sedang apa kau disini?"


"Aku menunggumu." Aku tersenyum.


"Kenapa?"


"Tak apa, apa kau sibuk malam ini?"


"Tidak." Dia menggeleng.


"Maukah kau berjalan-jalan sebentar denganku?"


"Mau." Dia mengangguk.

__ADS_1


Aku sangat senang dengan jawaban cepat dari Jane, tanpa berpikir panjang dia mengatakan mau. Dia juga tidak menanyakan mau kemana aku membawanya. Kesimpulannya dia mau jalan-jalan bersamaku bukan?


...****************...


__ADS_2