Kali Kedua

Kali Kedua
DAFA-KESALAHAN DI MASALALU (5)


__ADS_3

Aku benar-benar sadar setelah kepergian Defina. Aku sadar betapa berharganya dia, sekali lagi aku kehilangan pijakanku. Aku kembali kehilangan seseorang yang baru kusadari telah menggenggam setengah kehidupanku. Dia pergi seakan ditelan bumi, sekeras apapun aku mencarinya aku tak pernah menemukannya.


Aku kembali terpuruk, kerapuhan telah menguasai diriku. Saat itu Andres pun kesulitan untuk menenangkanku kembali. Aku tahu itu jelas adalah kesalahanku, sangat jelas itu adalah kehancuran yang kubuat sendiri. Aku merutuki apa yang telah kulakukan, aku memaki diriku sendiri yang telah berbuat sebodoh itu.


Benar kata setiap orang, setelah kehilangan barulah ada penyesalan. Itu satu-satunya yang kurasakan sekarang, rasa kehilangan dan penyesalan menari-nari di hati dan pikiranku. Sekali lagi waktu dan keadaan kembali membuatku babak belur. Defina tak pernah kembali, dia benar-benar pergi meninggalkanku. Sebotol yogurt menjadi kenangan terakhir yang ditinggalkannya untukku.


Aku dengan tertatih menjalani hidup kembali, dengan segala sisa-sisa kenangan yang tertinggal. Aku meneruskan hidup dengan terus berusaha mencari keberadaan Defina. Aku memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti aku akan menemukannya.


Ayah telah memberikan perusahaan induk disini untuk ku pimpin karena aku memiliki pencapaian yang sangat bagus pada perusahaan. Aku memilih Andres untuk memimpin anak perusahaan yang kutinggalkan, karena menurutku hanya Andres lah yang pantas meduduki kursi pimpinan disana.


Hal tak terduga terjadi, Seorang anak yang kupikir paling konyol kembali ke kehidupanku. Ken dengan senyum jenaka yang mengembang kembali menemuiku. Dia bahkan berkata bahwa akan terus berada disini bersamaku. Anak itu memang sangat tidak bisa ditebak, dia tiba-tiba kembali setelah dulu meninggalkanku. Dan dia kembali di saat yang benar-benar tepat.


Kehadiran Ken membuat segalanya kembali berubah, perlahan dia membuatku bisa tersenyum kembali dengan tingkah-tingkah dan pikiran konyolnya. Semangat kehidupan perlahan mulai menyeruak keluar dari dalam diriku. Aku dengan Ken menjadi tak terpisahkan lagi, seperti dulu saat kami masih anak-anak.


Aku menceritakan semuanya kepada Ken walaupun kutahu sedikit banyak pastilah dia sudah mengetahuinya. Ken membantu segala urusanku, menyelesaikan segala masalahku dengan sigap, kecuali tentang Defina. Ken juga tidak bisa menemukannya sama sekali.


Setelah kedatangan Ken kuakui semuanya menjadi lebih baik. Suasana hatiku lebih bisa dikendalikan, emosi yang dulu sering muncul tak terduga kini sudah teredam. Dia selalu berusaha memberikan semangat pada kehidupanku walaupun dengan cara-cara yang sangat aneh.


"Ken?"


"Apa?"


"Kenapa kau kembali?"


"Kau mau jawaban jujur atau jawaban bohong?"


"Jujur."


"Hmm, aku diminta ibuku untuk terus menjagamu. Kau tahu bahwa aku tidak pernah bisa menolak permintaan ibu."


"Menjagaku?"


"Ya." Ken mengangguk dengan pasti.


"Bilang pada ibumu bahwa selama aku bersamamu dahulu akulah yang selalu menjagamu, bagaimana bisa kau menjagaku sekarang?"


"Hei, itu dulu. Lihatlah aku sekarang, aku sudah tumbuh dengan sempurna, aku bahkan bisa menjadi bodyguardmu." Dia terkekeh.


"Hmmm." Aku hanya berdehem, memang jika kulihat sekarang dia benar-benar bertumbuh dari segi fisik dia terlihat sangat berubah dari anak kecil kurus kerempeng menjadi pria dengan badan tinggi ideal dan berotot. Walaupun kurasa mental dan pikirannya tidak terlalu berkembang, dia terlihat masih kekanakan dan konyol.


"Apa hanya itu responmu hah?"


"Kau mau respon ku seperti apa."


"Kau harusnya takjub melihatku."


"Tidak, biasa saja."


"Kurang ajar "


"Hmmm." Aku kembali hanya berdehem.


"Daf?"


"Apa?"


"Aku punya beberapa permintaan, aku mohon kabulkanlah?" Apa Ken pikir aku adalah jin pengabul keinginan.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Bantulah aku agar terlihat tegas dan dingin di kantor."


"Apa?" Aku terbahak dengan apa yang dikatakan oleh Ken.


"Kenapa?" Ken mendengus.


"Ken, kau tahu seberapa parah sifat kekanakanmu? Mana mungkin kau bisa bersikap tegas dan dingin seperti itu." Aku terus terbahak.


"Hei, aku cukup berpura-pura, nanti akan terbiasa."


"Ken, jangan konyol."


"Aku sungguh-sungguh, Daf."


"Memang apa yang ingin kau capai dengan hal itu?"


"Aku hanya ingin orang-orang kantor segan terhadapku sehingga mereka tidak akan seenaknya."


"Huh, apakah itu sebuah pencitraan?"


"Hmm bisa dibilang begitu." Dia terkekeh.


"Tanpa kau bersikap begitu pun takkan ada yang berani seenaknya denganmu, jabatanmu jelas sangat tinggi."


"Oh ayolah Daf, jabatan tinggi tidak menjadi jaminan aku akan di segani."


"Baiklah, bersikaplah seperti apa yang kau mau Ken."


"Apa yang harus kubantu?"


"Aku akan memanggilmu dengan sebutan tuan, seakan-akan aku dan kau benar-benar pimpinan dengan sekretaris tanpa ada ikatan saudara."


"Terus?"


"Jangan mengajakku bercanda di depan umum dan jangan memancingku untuk bertindak konyol. Kau tahukan aku sangat tidak tahan untuk tertawa ataupun berkomentar konyol terhadap sesuatu hal yang receh sekalipun."


"Apa lagi?"


"Itu saja."


"Kau benar-benar konyol, apa kita akan bermain drama kehidupan?"


"Ya, tentu saja. Aku akan jadi pemeran utama, kau hanya pendamping saja."


"Hei, aku yang pemeran utama, kau pendamping."


"Bukankah ini bertujuan untuk kehidupanku? Berarti akulah yang akan menjadi pemeran utamanya."


"Tidak bisa."


"Kenapa?"


"Aku adalah seorang presdir, dan kau seorang sekretaris. Pastilah aku yang selalu menjadi sorotan."


"Kau hanya figuran, pemeran pendukung untuk cerita hidupku."

__ADS_1


"Ken."


"Apa?"


"Akulah pemeran utama." Aku mulai merasa kesal.


"Tidak."


"Terserahlah." Aku lelah berdebat.


Kenapa aku dan Ken malah meributkan sesuatu hal yang sangat tidak penting. Pemeran utama dan pendamping? Ah terserahlah, mau jadi pemeran utama ataupun figuran kita sama-sama tetap hidup. Kita sama-sama mengejar apa yang ingin kita capai. Sebenarnya kita adalah pemeran utama di kehidupan kita sendiri, walaupun mungkin kita adalah figuran di hidup orang lain. Jadi, berusahalah sebaik mungkin untuk kehidupan kita sendiri tanpa mengusik kehidupan orang lain. Aku kembali teringat akan Defina, jika aku diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengannya aku akan melakukan yang terbaik untuk hidupnya, tak peduli apapun yang telah terjadi dan apapun yang akan terjadi.


"Daf."


"Hmmm."


"Jangan melakukan hal bodoh lagi seenak hatimu."


"Hal bodoh apa?"


"Hal yang membuatmu kehilangan sesuatu yang baru kau sadari sangat berharga setelah dia pergi."


"Ya. aku sangat menyesal."


"Jangan pernah menghancurkan hatimu lagi hanya karena ego."


"Ya, itu kesalahan yang sangat kusesali."


"Lihatlah dirimu sekarang, kau terlihat sangat berantakan." Ken terkekeh.


"Setidaknya aku sedikit lebih baik sekarang."


"Hiduplah selalu dengan baik, Daf."


"Terima kasih, Ken."


"Jangan terpuruk lagi."


"Semoga saja." Aku tersenyum masam, aku terus berharap, tapi saat ini pun hatiku masih terus terpuruk.


"Hmm, aku akan selalu membantumu, Daf."


"Ken, kenapa kau serius sekali? mana sifat kekanakanmu itu? Apa dia bersembunyi sekarang?" Aku terkekeh.


"Huh, Dafa kurang ajar, padahal aku sudah berkata-kata bijak, tapi kau masih meledekku."


"Teruskanlah kata-kata bijakmu itu, aku ingin mendengarnya." Aku terbahak.


"Tidak, kata-kata bijakku tiba-tiba menghilang dari otak." Ken mendengus.


Aku semakin terbahak-bahak mendengar perkataan Ken, sudah kubilang dia selalu bersikap konyol hingga sekarang. Namun, hal itulah yang membuatku selalu merasa bersyukur atas kehadirannya. Ken sudah seperti saudara kandungku sendiri, hubungan erat kami sudah tak bisa dionggarkan lagi.


Ken benar-benar tidak pernah meninggalkanku. Dia yang terus berusaha berada disampingku hingga saat ini, hingga Defina kembali dengan sosok Grace. Sosok yang sama namun dengan segalanya yang berbeda. Sekarang Ken menjadi saksi betapa kebodohan dan kekonyolan merasuki diriku saat bertemu kembali dengan Defina.


Defina adalah sosok terakhir kali yang kulihat saat hujan waktu itu dan Grace sosok pertama yang membuat jantungku kembali berdetak sejak pertemuan kami pertama kali. Teka-teki kehidupannya mulai terangkai, sedikit demi sedikit aku mulai mengetahui apa yang terjadi padanya. Aku berjanji dengan segala yang kumiliki untuk terus menggenggam tangannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2