Kali Kedua

Kali Kedua
KEN-MISI MEMPERJUANGKAN PERASAAN


__ADS_3

Sudah dua hari Jane pergi, aku merasa sangat uring-uringan hari ini. Dua hari tidak melihat senyum gadis itu membuat semangat hidupku menurun, sepertinya aku sangat merindukannya. Aku teringat tentang pernikahan Liam yang akan dilaksanakan awal bulan depan, besok adalah tanggal terakhir bulan ini yang berarti pernikahannya tinggal satu hari lagi. Karena hal itu aku merasa sedikit khawatir dengan keadaan Jane, aku takut dia terluka kembali.


Aku keluar dengan cepat dari ruanganku menuju ruangan Dafa. Tanpa permisi aku masuk kesana dan langsung duduk di sofa. Dafa seketika menatapku dengan tatapan tidak sukanya tapi aku tidak menghiraukannya sama sekali.


"Kenapa kau kesini Ken?"


"Daf, aku ingin meminta sesuatu padamu."


"Apa itu?" Dafa terlihat penasaran.


"Izinkan aku cuti sebentar."


"Kau mau apa? Apa kau mau menemui mantan kekasihmu di seberang pulau sana?"


"Hei, jangan mengungkit masalah itu lagi."


"Bukankah terakhir kali kau cuti karena itu?" Dafa terkekeh.


"Itu dulu." Aku mendengus kesal, ya itu dulu sekali waktu aku masih berhubungan dengan kekasihku, aku beberapa kali mengambil cuti untuk menemuinya.


"Lalu, untuk apa kau mau mengambil cuti sekarang?" Dafa mengernyitkan kedua alisnya.


"Aku ingin menghadiri pernikahan teman."


"Oh ya? Apa aku tidak di undang?"


"Tidak."


"Bolehkah aku ikut?"


"Tidak."


"Kau mencurigakan, Ken."


"Mencurigakan apa? Aku hanya ingin menghadiri pesta pernikahan temanku." Aku membela diri.


"Hmmm, baiklah, jadi kapan kau akan mengambil cuti?"


"Besok dan lusa, cuma dua hari." Aku tersenyum lebar.


"Apa? Bukankah besok akan ada rapat? Apa kau menyuruhku untuk mengurusnya sendirian?"


"Tidak, aku akan menyelesaikan semua hal yang diperlukan untuk rapat besok, kau tenang saja aku juga akan minta bantuan Grace untuk menemanimu. Kau menyukainya bukan?" Aku mengerling pada Dafa.


"Huh, kau memakai nama Grace untuk merayuku."


"Hmmm tidak, ini hanya seperti simbiosis mutualisme, situasi ini sama-sama saling menguntungkan bagi kita."


"Cih, alasanmu saja, Ken."


"Jadi, kau mengizinkanku bukan?"


"Ya, pergilah."


"Oh, terima kasih presdir ku yang tercinta."


"Jangan berlebihan, keluar kau dari ruanganku sekarang."

__ADS_1


"Huh, kau mengusirku?"


"Ya, sana pergi, kau mengganggu pekerjaanku."


"Baiklah, aku pergi."


Aku keluar dari ruangan Dafa, aku tidak kembali keruanganku tapi aku berjalan menuju ruangan Grace. Aku mengetuk pintu ruangan Grace dan masuk kesana. Grace menatapku dengan heran, mungkin dia bingung kenapa aku masuk ke ruangannya sendirian tanpa Dafa disampingku.


"Ada apa, Ken?" Grace menatapku.


"Grace, bisakah kita berbicara sebagai teman hari ini?" Aku tidak ingin berbasa-basi dan aku tidak ingin berbicara formal dengannya di situasi ini.


"Ya, silahkan Ken. Duduklah." Grace mempersilahkan aku duduk di sofa, dia terlihat semakin bingung.


"Aku ingin meminta tolong padamu."


"Apa itu?"


"Apa kau tahu tentang pernikahan Liam?"


"Liam?"


"Iya, Liam." Aku mengangguk.


"Mantan kekasih Jane?"


"Tepat."


"Aku tahu, pernikahannya akan di gelar lusa, kenapa?"


"Apa kau di undang?"


"Apa kau akan datang?"


"Aku tidak bisa datang, banyak yang harus ku kerjakan." Grace menggeleng.


"Bolehkah aku yang menggantikannya?"


"Kau?"


"Ya." Aku mengangguk.


"Kenapa? Apa kau mengenal Liam?"


"Nanti akan ku jelaskan padamu, tapi tidak sekarang."


"Apa ini menyangkut tentang Jane?" Grace kembali bertanya.


"Ya." Aku mengangguk.


"Mmm, baiklah, kau berhutang penjelasan padaku Ken."


"Ya, aku akan membayarnya nanti. Bolehkan aku meminta undangan milikmu?"


"Baiklah, tunggu sebentar." Grace membuka laci meja dan terlihat membongkar isinya.


"Ini, kau tinggal menunjukkannya pada penjaga nantinya."

__ADS_1


"Ya, terima kasih Grace."


"Sama-sama."


"Oh ya, aku hampir lupa. Bisakah kau mendampingi Dafa untuk rapat besok? Aku akan cuti dua hari kedepan."


"Baiklah." Grace mengangguk.


"Terima kasih Grace, kau sangat membantuku."


"Ya."


"Aku akan segera kembali keruanganku, banyak yang harus ku kerjakan."


"Ya, Ken. Ingat kau berhutang penjelasan padaku."


"Ya." Aku melambaikan tangan dan keluar dari ruangan Grace. Aku berjalan dengan cepat menuju keruanganku, banyak yang harus ku selesaikan hari ini.


Hari sudah sore, tidak lama lagi waktu pulang kantor akan tiba. Aku sedang berusaha menyelesaikan semua pekerjaanku untuk dua hari kedepan, tinggal sedikit lagi dan aku bisa tenang diwaktu cutiku. Aku menarik napas lega saat pekerjaanku akhirnya selesai, aku merapikan banyak dokumen dan menaruhnya di rak dengan rapi.


Aku menyandarkan tubuhku dikursi, mengistirahatkan punggungku yang terasa pegal. Aku mengambil kembali undangan pernikahan Liam yang diberikan oleh Grace tadi. Aku membuka kotak undangan yang terlihat mewah itu dan mengambil gulungan kertas di dalamnya. Aku menarik pita yang mengikat gulungan tersebut dan mulai membacanya. Aku mencatat alamat tempat digelarnya pesta pernikahan tersebut dan kembali memasukkan kertas itu kedalam kotak.


Aku berencana datang ke pesta pernikahan Liam untuk melihat keadaan Jane, lebih tepatnya memata-matainya. Aku ingin memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja. Entah kenapa aku sangat khawatir dengan keadaannya, walaupun aku tahu Jane tidak akan melakukan hal yang akan merugikan dirinya sendiri. Aku telah memantapkan hati untuk pergi ke Singapura seorang diri.


...----------------...


Aku telah tiba di Singapura, aku menginap di hotel yang dulu pernah ku kunjungi bersama Dafa. Malam ini aku harus tidur dengan cepat dan aku harus bisa menyingkirkan bayangan-bayangan jahat dikepalaku. Aku berusaha memejamkan mata, tak ada Dafa disampingku, tak ada siapapun disini. Aku merasakan sedikit hawa menakutkan, tapi aku terus berusaha untuk tidur.


"Aku adalah seorang pria dewasa, kenapa harus takut dengan bayangan hantu?" Aku bergumam menguatkan diri.


Walaupun terus mengucapkan kata-kata mutiara untuk membangkitkan keberanian dalam diriku tetap saja aku merasa takut. Aku benar-benar meyesali masalaluku, kenapa dahulu aku menyaksikan pembunuhan berdarah itu di depan mataku hingga hantunya terus mengikutiku sampai aku setua ini. Aku akhirnya memutuskan untuk menelepon Dafa lewat video call.


"Apa kau ketakutan lagi, Ken?" Wajah Dafa langsung muncul di layar ponselku.


"Kau memang selalu tahu keadaanku." Aku terkekeh


"Kau memang selalu begitu."


"Aku belum sepenuhnya sembuh dari trauma itu, hantu-hantu itu terus mengikutiku." Aku mengeluarkan keluh kesahku.


"Aku akan membawamu kembali ke psikiater nanti."


"Apakah itu penting?"


"Tentu saja penting."


"Baiklah, aku akan melakukannya nanti."


"Ken kau dimana? Aku seperti mengenali kamar itu."


"Aku sedang menginap di hotel, desainnya memang mirip dengan hotel-hotel yang pernah kita tempati." Aku berbohong, aku belum memberitahukan tentang ini pada Dafa, jika dia tahu sekarang mungkin aku akan menjadi bahan ledekannya.


"Oh ya? Apa kau sudah mau tidur Ken?"


"Ya, tetaplah disana Daf sampai aku tertidur." Aku memejamkan mataku.


"Hei, apa kau menyuruhku memperhatikanmu saat tidur?"

__ADS_1


Aku tidak lagi menjawab pertanyaannya, aku terus memejamkan mataku. Aku mendengar suara Dafa terus memaki-maki diseberang sana, tapi dia tidak mematikan sambungan teleponnya, dia memang selalu mengerti keadaanku. Aku tidak lagi membuka mata, aku hanya menikmati suara omelan pria itu hingga tanpa sadar aku telah terlelap.


...****************...


__ADS_2