
" Ay, kok kamu tahu aku ada disini? " tanya Nara sesaat setelah melepas pelukannya.
Yudha tidak menjawab langsung pertanyaan Nara, dia malah memandang Dicky yang kini tengah berdiri di belakang kursi yang di duduki Gio, berada tepat di seberangnya. Sekilas terbayang kejadian sebelum dia datang ke rumah Dicky.
Flashback on
" Tuhan.... aku merindukan Nara. " Ujar Yudha frustasi, dia sedang menatap ponsel yang baru dia nyalakan kembali setelah dari sore kemarin dia matikan. Setelah muncul logo tangan saling berjabat yang menjadi icon ponsel tersebut, tak butuh waktu lama, puluhan pesan dan daftar panggilan tak terjawab dari nomor Nara langsung memenuhi layar ponsel tersebut. Tanpa pikir panjang, Yudha berniat untuk kembali menghubungi Nara, namun belum dia lakukan, ponselnya sudah kembali berdering, dan itu dari Dicky, dengan malas dia mengangkat panggilan tersebut.
" Ada apa Ky ? " tanya Yudha malas
" Kak ada kabar buruk, ini gawat !!"
" Ada apa ? Eh nanti aja lah ngomongnya, aku mau menghubungi Nara dulu, bye !"
" Tunggu ! ini ada hubungannya dengan Nara !"
" Katakan !", Dicky pun menceritakan jika dia mendengar Nara menanyakan perihal siapa Lily pada Gio, kebetulan saat Nara bertanya pada Gio, Dicky sedang melangkah keluar untuk mencari Gio karena perutnya sudah lapar. Namun saat mendengar Nara menanyakan Lily membuat rasa lapar Dicky menghilangkan begitu saja entah kemana, terlebih saat melihat tingkah Gio yang sepertinya tidak bisa menjawab, untung saja otaknya masih bisa di pakai untuk berfikir, dan langsung menghubungi Yudha.
" Aku akan segera kesana !" Ucap Yudha langsung mematikan ponselnya, lalu berlari menuju rumah Dicky.
Flashback Off
" Ohh itu, tadi aku mau ke rumah kamu, tapi saat lewat sini, aku liat sandal kamu di depan, jadi ya berarti kamu disini. " dalih Yudha
" Ohh begitu ya, " Ucap Nara sambil menganggukkan kepalanya percaya, membuat Yudha menghela nafas lega, ternyata kebohongan spontannya berhasil.
" Tapi kenapa harus berlari tergesa seperti tadi, seperti ada hal yang gawat saja." timpal Nara
" Kata siapa aku berlari, aku tidak berlari kok,"
" Kalau Ay gak lari, terus kenapa sampai berkeringat begini?" Tanya Nara polos, tangannya menyentuh dahi Yudha yang basah, membuat Yudha tercekat, tak bisa berkata-kata.
Dasar bod*h kau Yudha. Gerutu Yudha membatin
Dasar buaya bod*h !. batin Gio
Untuk yang satu ini, maaf aku tidak bisa bantu menjawab Kak. batin Dicky
" Udara di luar panas sayang, makanya sampai berkeringat. " dalih Yudha
" Sepanas itu kah, padahal ini kan masih pagi. " Ucap Nara sambil mengernyit bingung
" Hmm Kak Yudha, Nara, aku sama Kak Gio keluar dulu ya, mau nyari sarapan, " Ujar Dicky di sela perbincangan Yudha dan Nara
" Iya Yud, kita belum sarapan, laper banget ini, " rengek Gio " Yuk Ky!" timpalnya lagi seraya bangkit dari duduknya, dan di balas anggukan oleh Dicky pertanda setuju.
Lama-lama disini bisa gila aku! laparr. batin Gio
"Tunggu!" Ujar Nara tiba-tiba, menghentikan langkah kaki Dicky dan Gio, membuat Gio merasa kesal karena lapar. Ya terkadang emosi akan lebih mudah tersulut ketika lambung belum di isi bukan? Apalagi ini sarapan. Gio menoleh, memaksakan senyum palsu pada Nara.
__ADS_1
Aku lapar, aku lapar!
" Sebagai permintaan maaf, gimana kalo aku aja yang nyiapin sarapan buat kakak sama Dicky, sekalian makan bareng, aku juga belum sarapan! "
" Gak usah Ra! " tolak Dicky tidak enak
" Boleh Ra! " Ujar Gio cepat, tidak ingin Nara berubah pikiran karena ucapan Dicky, sumpah demi apapun, Gio sudah sangat lapar, dan tak ada lagi sisa uang untuk membeli sarapan.
" Kak ! hmmmppp. " Dengan cepat Gio menutup mulut Dicky dengan telapak tangannya, mencegah Dicky memberi kalimat penolakan lagi, seraya mendelik sebal menatap mata Dicky.
Diamlah! aku sudah lapar tahu!. Seperti itu kira-kira arti tatapan tajam Gio
" Kalau begitu, tunggu sebentar, aku bawa dulu bahan makanan di rumah, disini pasti gak ada yang bisa di masak kan?" Tanya Nara seraya bangkit dari duduk, dan Yudha pun melakukan hal yang sama.
" Hehe tahu aja kamu Ra," Ucap Dicky cengengesan, dan hanya di balas senyuman oleh Nara, dia mulai berjalan dari tempatnya berdiri, diikuti oleh Yudha.
" Mau kemana Yudh,?" tanya Gio " Tunggu aja kali disini, Nara gak bakal hilang kok!" Cegah Gio, dia ingin Yudha tetap tinggal agar dia bisa mengatakan perihal Nara yang mengetahui soal Lily karena ulah Ikbal, namun harapan tinggalah harapan, Yudha sama sekali tidak menggubris perkataan Gio. Seperti kerbau yang di cocok hidungnya, Yudha berlalu begitu saja mengikuti Nara.
" Cih...tuh bocah, katanya gak bener-bener cinta sama Nara, tapi gak mau lepas, dasar aneh..!" Gerutu Gio sambil kembali duduk di kursi.
" Akan bagaimana akhir kisah ini ya Kak?" tanya Dicky getir
" Bodo amat! yang jelas sekarang aku laper!" Jawab Gio sambil mengelus perutnya dengan wajah memelas. Emang ya kalau perut beli terisi, otakpun susah untuk berfikir!
Tak butuh waktu lama, Nara dan Yudha sudah datang, membuat wajah memelas Gio tadi berubah jadi berbinar, tatkala dia melihat Yudha dan Nara bukan membawa bahan masakan tapi membawa makanan yang sudah siap santap. Sudah tak tahan, mereka pun mulai sarapan bersama.
Dan seperti yang sudah-sudah, saat makan pun tak hentinya Yudha memberikan perhatian kecil dan bersikap romantis pada Nara. Mereka selalu lupa jika ada jomblo ngenes yang jengkel melihat adegan romantis itu.
" Maaf Kak!" Ucap Nara merasa tidak enak
" Apa sih Gi!" Ucap Yudha acuh
" Jangan mesraan terus! gak bagus di lihatnya!" Padahal sebenarnya Gio iri.
" Sirik aja jomblo!" Celetuk Dicky.
Duaaarrrrr, ucapan spontan Dicky bagai petir di siang bolong, saat ini Gio sadar bahwa hanya dirinyalah yang jomblo diantara mereka, membuat Gio tercekat dan merasa kesal sendiri. Dia melanjutkan sarapannya dalam diam dan sesekali menggigit sendoknya saat adegan romantis kembali terjadi.
Aku iri, aku iri. batin Gio
Tanpa mereka sadari, di luar sana terlihat seorang pemuda mengepalkan tangannya menahan amarah melihat kebersamaan Nara dan Yudha.
Acara sarapan yang di bumbui perasaan itu dari jomblo pun berakhir. Setelah membereskan semuanya, Nara memutuskan untuk kembali pulang untuk menyimpan bekas makan mereka barusan, tapi kali ini dia tidak mengijinkan Yudha ikut karena tidak enak pada Gio, yang sedari tadi terus menyindir kebersamaan dengan Yudha, setelah melewati sedikit drama akhirnya Yudha menurut untuk tetap tinggal. Setelah Nara pergi, Yudha memberikan tatapan kesal pada Gio, membuat Gio bergidik ngeri.
Gak usah gitu juga kali liatnya, orang cuma di tinggal ke rumah sebelah doang, bukan ke bulan! batin Gio
Setelah terjadi keheningan beberapa saat, Gio teringat soal Ikbal, dan dia mulai buka suara.
" Yudh...ada yang mau aku omongin."
__ADS_1
" Apaan !" Yudha masih kesal sepertinya
Gio pun menghela nafas, dia menatap Dicky sebentar, setelah Dicky mengangguk, Gio pun bersiap memulai ceritanya.
" Jadi gin__"
" Assalamualaikum." Suara salam dari arah luar menghentikan ucapan Gio, semua orang menoleh, tanpa di persilahkan orang yang menyeru salam itu masuk begitu saja, membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Yudha, karena selama ini dia tidak terlalu akrab dengan Ikbal, entah angin apa yang membawanya kesini.
" Lagi pada ngumpul ya," sapanya ramah sambil ikut duduk di samping Yudha, tempat yang di duduki Nara tadi. Tak ada yang menjawab pertanyaannya, ketiga orang itu masih terasa terkejut dan terlihat sedikit bingung.
" Gio, Dicky, apa kalian bisa keluar sebentar, aku ingin berbicara berdua dengan Yudha!" Ikbal menatap Gio dan Dicky bergantian, lalu berakhir menatap Yudha lama dengan pandangan yang sulit di artikan, membuat Yudha menautkan kedua alisnya bingung.
" Ta-tapi...." Ucap Gio terbata, Ikbal tidak merasa canggung sama sekali, meskipun dia menyadari kehadirannya tidak di sambut dengan baik.
" Tolong ya, aku hanya ingin mengobrol sedikit serius dengan Yudha." pintanya lagi dengan suara ramah namun tatapan matanya menatap Gio penuh ancaman.
" Kalian berdua keluarlah." Pinta Yudha, membuat niat Gio untuk tetap tinggal urung sudah.
" Ayo Ky!" Ajak Gio pasrah, tanpa protes Dicky meninggalkan tempat itu, membiarkan Ikbal memulai percakapan mereka. Setelah sampai di luar, Gio dan Dicky menatap jendela yang memperlihatkan Gio dan Yudha tengah berbincang, entah apa yang mereka bicarakan, meskipun jaraknya tidak terlalu jauh, tapi suara Ikbal begitu pelan, sehingga baik Dicky maupun Gio tidak bisa mendengar apapun.
Dicky dan Gio menghela nafas berat, mereka saling pandang, tapi tak ada kata yang keluar dari mulut mereka, terlebih saat melihat ekspresi Yudha yang seperti menahan marah membuat Gio dan Dicky tiba-tiba merasa khawatir.
" Kok aku jadi deg-degan ya Ky," Gio membuka suara
" Aku juga sama Kak.!" Jawab Dicky tanpa mengalihkan pandangannya yang masih fokus melihat raut wajah Yudha yang berubah menyeramkan sekarang.
" Kok pada di luar, Kak Yudha mana?" Suara Nara tiba-tiba dari arah belakang, membuat Gio dan Dicky yang tengah fokus menatap depan terkejut, dan mereka berteriak bersamaan.
" Aaaaaaaaa." Teriak Dicky dan Gio bersamaan, membuat Nara menutup kedua telinganya dengan tangan.
" Maaf, kalian kaget ya...hehe" Ucap Nara polos.
" Gak apa-apa Ra!" Jawab Dicky dan Gio bersamaan seraya mengusap dada masing-masing
"Kompak banget sih, lucunya." Ucap Nara gemas. " Oh iya, Kak Yudha mana ?" Tanya Nara lagi.
Nara pun melihat sekeliling, lalu dia kembali menatap Dicky dan Gio yang tidak menjawab pertanyaannya, dua orang itu malah menatap lurus ke depan, Nara pun mengikuti arah pandang dua orang itu dan.
Deg
Deg
Deg
Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, dia begitu terkejut, melihat siapa yang sedang duduk dengan kekasihnya.
" Mas Ikbal." gumamnya, tanpa pikir panjang, dengan langkah lebar Nara menghampiri Ikbal dan Yudha.
" Ay....." Panggil Nara lirih, Yudha pun menoleh, namun tatapannya nampak tidak bersahabat, terkesan menakutkan, bahkan tatapan Yudha kali ini terasa menikam jantungnya, menimbulkan rasa nyeri, lalu dia beralih menatap Ikbal yang sedang tersenyum menyeringai melihat keterkejutannya saat ini.
__ADS_1
Ada apa ini sebenarnya.!!!!!!!!
Bersambung