
Sebuah batu besar yang terlihat seperti bukit menjulang tinggi berhasil menarik perhatian Nara untuk menaikinya tidak butuh waktu lama, Nara sampai di puncak bukit tersebut, dia begitu takjub melihat pemandangan dari sana, sungai tenang yang di apit oleh perkebunan teh hijau yang terhampar luas terlihat begitu segar, angin berhembus terasa lebih besar hingga mampu meniup rambut panjang yang indahnya dan lebat.
" Ahhh... segarnya !! " gumamnya dengan memejamkan mata dan merentangkan kedua tangannya, membiarkan angin menyapu tubuhnya, rasanya sangat tenang dan nikmat
" Ehemm !! "
Seketika suara deheman asing itu berhasil mengubah ketenangan Nara menjadi sebuah keterkejutan, dia langsung membuka matanya dan langsung membulat sempurna, tangan yang semula di rentangkan dengan reflek langsung bergerak dan menutup bagian tubuh depannya, dia bisa langsung merasakan detak jantungnya yang begitu cepat karena terkejut. Karena seingatnya sedari tadi dia hanya seorang diri disini, tapi kenapa tiba-tiba ada suara orang asing yang mengganggunya, dengan perlahan dia membalik badan untuk melihat, dan...
Deg
Seorang lelaki berkulit putih, dan tubuh yang menjulang tinggi, tengah berdiri di depannya, entah siapa dia, tapi dia begitu tampan, dengan sorot mata tajam namun hangat, rambut sedikit ikal dan berwarna hitam agak kecoklatan, dia terlihat sangat tampan dan mempesona, membuat Nara yang biasanya percaya diri saat melihat lawan jenis, kini hanya bisa berdiri mematung, matanya terpaku, tubuhnya membeku, darah seakan berhenti mengalir di tubuhnya, hanya detak jantung yang semakin berdegup kencang dan terus semakin kencang seiring dengan mendekatnya orang itu dan kini dia sudah ada di depan Nara.
" Si- siapa kamu ? " tanya Nara terbata, namun bukan jawaban yang dia terima tapi sebuah pelukan. Ya, lelaki itu tiba-tiba memeluknya begitu erat dan hangat. Nara terkejut, dia lekas mendorong tubuh asing tersebut namun tenaganya kalah kuat, dan membuat pelukan itu semakin erat.
" Diamlah ! aku kekasihmu, aku mencintaimu." Suaranya terdengar datar, namun mampu membuatnya berhenti memberontak, tapi otaknya masih berfikir untuk menolak, namun berbeda dengan hati dan tubuhnya, pada akhirnya hati dan tubuhnya yang menang. Nara mulai menikmati pelukan itu, bahkan kini dia mulai membalas pelukan itu, dia bisa merasakan hembusan nafas lelaki itu di ujung kepalanya, tangan yang mengelus rambut panjangnya, dan suara detak jantungnya yang terdengar begitu merdu di telinganya, sangat nyaman. Bahkan udarapun kini terasa lebih sejuk dari sebelumnya, rasanya sangat nyaman.
Sampai akhirnya Nara merasakan ada sesuatu yang mengguncang tubuhnya, namun karena rasa nyaman pelukan itu, Nara tidak menghiraukannya, namun kini guncangan itu makin terasa, bahkan terasa ada tarikan di punggungnya, semakin lama tarikan itu makin keras dan membuat Nara terlepas dari pelukan itu, dan tubuhnya pun terus menjauh dan semakin menjauh, lelaki itu hanya diam, tanpa ada pergerakan.
" Aku mencintaimu Nara, kita akan bersama sampai aku mati." hanya itu yang terakhir Nara dengar saat dia semakin menjauh, dan lelaki itu pun menghilang.
" Ra....Ra...bangun sayang "
" Ra... bangun ! ini udah subuh, ayo bangun Ra ! " suara gusar mamah Nara kini yang terdengar, dengan perlahan lahan Nara membuka matanya, dahinya terlihat mengerut terlihat bingung.
" Lho, kok mamah ? "
" Emang kamu ngarep nya siapa ? pangeran ? " jawab mamah kesal
" Yahh jadi aku cuma mimpi ya..? " ujar Nara kecewa, lalu dia kembali menarik selimut lalu mencoba memejamkan matanya kembali, dan itu berhasil membuat mamah murka.
" Bangun Tanara Anggia, ini udah subuh, ayo bangun !! " ujar mamah Nara sambil menarik selimut tebal milik Nara dan membuangnya ke bawah tempat tidur.
" Nara lagi gak sholat mah, mau tidur lagi aja, lagian ini masih gelap ! "
" Gak ada alesan, anak perempuan itu harus bangun pagi meskipun ga sholat, ayo bangun, atau mamah potong uang jajan kamu ! "
Dan berhasil, ancaman itu langsung membuat Nara membuka matanya, dengan cepat Nara bangun dan langsung turun dari ranjang, dengan sempoyongan Nara berlari kecil menghampiri meja rias untuk mengambil ikatan rambut, dan mengikat rambutnya asal-asalan.
Pagi itu Nara menjalankan aktivitas rutinnya yaitu, membereskan mamah dan dirinya sendiri, membersihkan rumah, menyiram bunga, dan mencuci piring bekas makan malam.
Jika biasanya mimpi indah akan membuat mood menjadi lebih baik, tapi itu tidak terjadi pada Nara, suasana hatinya sangat buruk, terlihat dari dia menghela nafas berat berkali-kali.
" Ahhh semua gara-gara mamah ! " ujarnya sambil mengibaskan tangannya yang basah setelah mencuci piring
" Apanya yang gara-gara mamah hah ? " sahut mamah dengan nada kesal
Mati aku, hangus sudah uang jajan. batin Nara
" Itu...mmm gara-gara mamah aku jadi tepat waktu bangun, terus jadi gak telat buat ke sekolah hehehe " dalih Nara
" Heumm " cibir mamah sinis
Tuh kan, mode gawat ini.
__ADS_1
" Mah.... hari ini aku sama siapa berangkat ke sekolah ? " tanya Nara mengalihkan pembicaraan.
" Sama kak Arya gak apa-apa kan Ra..? soalnya mang Udin gak bisa anterin kamu, lagi dapet penumpang ke pasar pagi dia " jawab mamah yang sudah lupa kalau dia sedang kesal
" Gak apa-apa mah, lagian aku juga kangen sama kak Arya, udah lama gak ngobrol " jawab Nara sedih, melihat itu mamah menghentikan aktivitasnya yang tengah memasak nasi goreng untuk sarapan lalu menghampiri Nara.
" Sayang, Kak Arya sudah menikah, sudah punya kehidupan baru dan tanggung jawab baru untuk membahagiakan istrinya, tapi bukan berarti dia lupa sama kamu " ujar mamah yang ikut mendudukan tubuhnya di kursi makan sebelah Nara " kalau kamu sudah dewasa nanti, kamu bakal ngerti sayang " ucap mamah lagi sambil mengusap punggung Nara.
" Iya mah, Nara ngerti ko " jawab Nara dengan senyum yang di paksakan
" Ya udah sekarang mandi gih ! " perintah mamah
" Oke mah ", Nara pun berlalu, dia merasa sedih karena merindukan Arya kakaknya, Arya sangat dekat Nara, dan Nara pun biasa membicarakan semua hal dengan kakaknya itu, termasuk soal pacaran. Namun setelah Arya menikah dia jadi jarang ada waktu untuk Nara, namun dia cukup mengerti meskipun rasa rindu itu selalu ada.
Setelah selesai bersiap-siap dengan seragamnya, terakhir Nara membalutkan kerudung putih instan di kepalanya, ya, sekolah Nara mewajibkan semua murid perempuan berjilbab, meskipun sekolah Nara bukan sekolah negeri islami. Ketika sedang bercermin, dia kembali teringat mimpi indahnya malam tadi, namun tiba-tiba saja dia merasa kesal karena dia tidak bisa mengingat wajah tampan lelaki di mimpinya.
" Ahh gara-gara mamah sih tadi bangunin, jadi lupa kan, ah sebel ! " ujar nya kesal sambil menghentakkan kaki. Nara memejamkan matanya lagi, berharap dia bisa mengingat wajah asing di mimpi itu lagi.
Tok....tok.... tok
" Dek... ayo berangkat, nanti kak Arya telat kerja nih "
" Iya kak ! " mendengar suara Arya, Nara langsung lupa dengan kekesalannya, dengan tas selempang yang sudah ada di pundaknya, Nara bergegas keluar kamar untuk berpamitan dengan mamah, dan membawa bekal untuk di makan di sekolah, sepanjang di perjalanan Nara tidak berhenti bercerita tentang mimpinya sampai dia sampai di gerbang sekolah. Nara pun mengikuti pelajaran seperti biasa, walau sesekali dia masih memikirkan mimpinya.
🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈
Suara petikan gitar terdengar begitu merdu dan indah, namun dari awal sampai akhir tidak ada lirik lagu yang terdengar, hanya gumaman yang mengiringi alunan melodi gitar indah tersebut memenuhi ruangan dengan cat hitam itu.
" Kak Yudha ! " untuk kesekian kalinya, panggilan yang sama dari suara berbeda menghentikan lantunan gitar itu. Tidak lama datang seorang gadis dengan senyum manis membawa botol air mineral menghampiri seorang pemuda yang sedang duduk memegang gitar, wajah lelaki itu dingin tanpa ekspresi.
" Aku kangen kamu " ujar gadis itu manja menggelayutkan tangannya
" Aku tidak ! " jawabnya dengan menghempas tangannya kasar
" Kenapa kakak jahat sekali ? " air mata mulai bercucuran, namun Yudha tidak bergeming, dia masih mengamati senar gitarnya
" Apa kakak mencintaiku ? "
" Tidak ! " Jawabnya cepat
" Lalu, kenapa kemarin kakak mencium bibirku ? " tanya gadis itu frustasi
" Karena kau juga menginginkannya ! "
" Yudha ! " bentak gadis itu berdiri dari duduknya
" Apa ?!! " Jawabnya gusar ikut bangkit dari duduk
" Kita putus !! " ujar gadis itu terisak
" Memangnya kapan aku berkata kita menjalin hubungan ? " cibir dengan tawa kecil di sudut bibirnya
" Kamu brengsek !! " di susul dengan tamparan keras berhasil mendarat di wajah tampannya, namun itu tidak membuatnya bergeming sedikitpun.
__ADS_1
" Apa kamu sudah puas ? " tanyanya dengan seringai tipis. Namun tidak ada jawaban dari gadis itu, hanya terdengar suara nafas tak beraturan dengan dada yang naik turun " PERGI !! "
Gadis itu pun akhirnya pergi dan berpapasan dengan Gio, sahabat baik Yudha, dia hanya menggeleng kepala, melihat wajah seorang gadis menangis dan beberapa botol air mineral dengan berbagai merk berserakan di sudut ruangan, sedangkan sang Casanova terlihat kembali duduk dan mengambil gitar yang sempat dia letakkan tadi.
" Mau sampai kapan bro ? " tanya Gio
" Entahlah, godaan sesaat sangat berat "
" Apa Lily tahu tentang mereka ? " tanyanya sambil melirik botol di sudut ruangan
" Tentu saja dia tahu " jawab Yudha santai
" Apa dia tidak marah ? atau cemburu ? "
" Tentu saja dia marah dan cemburu awalnya, tapi aku selalu bisa meyakinkannya, berapapun wanita yang datang, aku akan tetap kembali padanya setelah bosan bersenang-senang "
" Dan dia percaya ? "
" Tentu saja, buktinya selama ini aku tetap kembali padanya kan ? " jawabnya tegas, lalu dia kembali memainkan gitarnya seperti tadi.
" Apa kamu kembali bermimpi aneh tadi malam ? " tanya Gio yang tahu, kalau Yudha memainkan melodi itu, pasti dia habis bermimpi aneh
Permainan gitarnya kembali berhenti, tatapannya menerawang kosong, hembusan nafas berat terdengar beberapa kali.
" Entahlah Gi, hanya kumpulan melodi ini yang aku dapatkan ketika aku mencoba mengingat wajah gadis itu, detak jantung dan hembusan nafasnya yang masih ku ingat, hingga aku bisa menyusun aransemen ini " jawab Yudha datar
" Bagaimana dengan liriknya ? "
" Belum ada, aku berpetualang dengan banyak gadis, berharap aku bisa mengingat gadis di mimpiku, dan menemukan lirik yang indah untuk lagu ini, tapi tetap tidak ada " jawabnya putus asa
" Meskipun pada diri Lily ? "
" Ya " jawabnya berat
" Apa kamu benar mencintai Lily ? " tanya Gio serius
" Tentu saja " jawabnya yakin
" Yakin ? "
" Ak__ " jawabnya terputus saat handphone nya berdering, dan tertera nama My Love di layar, wajah datarnya langsung berubah cerah dengan senyum mengembang di bibirnya, dia langsung bergegas mengambil meletakan gitar dan mengambil kunci motor sportnya yang berada di nakas.
" Gi, sorry, aku harus pergi, Lily udah nungguin di stasiun, dia sudah kembali "
" Apa dia habis mengunjungi saudaranya yang ada di kota xx ? " tanya Gio
" Ya begitulah, ya sudah aku pergi dulu, bye "
" Oke, hati-hati bro "
" Oke " Yudha pun menyalakan motornya dan pergi, sepanjang perjalanan senyum berkembang di bibirnya, sampai pertanyaan terakhir Gio kembali terngiang.
" Apa kamu mencintai Lily ? " , ya tentu saja, sejauh ini hanya Lily yang bisa menggetarkan hatinya, begitu isi pikiran Yudha, namun bayangan mimpi itu kembali hadir menghantui pikirannya.
__ADS_1
**Bersambung
semoga suka ya teman-teman 😊😊😊😊**