
Akhir pekan telah tiba, Grace sedang bersantai pagi itu. Grace duduk di balkon menatap hamparan taman hijau di depan apartemen. Pikirannya serasa tenang jika melihat hal yang berhubungan dengan alam. Grace menyesap perlahan susu hangat yang baru saja di buatnya sambil terus menatap lukisan alam di depannya.
Sejenak Grace melamun, beberapa hari terakhir ini dia merasa ingatan-ingatannya mulai kembali sedikit demi sedikit. Walaupun kilas kehidupan masa lampaunya muncul secara berantakan seperti potongan-potongan puzzle yang berhamburan namun secara perlahan dia bisa menangkapnya satu persatu. Grace berusaha menyusun kembali potongan puzzle itu, dia ingin ingatannya kembali seutuhnya.
Grace tersentak dari lamunannya saat ponselnya berdering. Dia tersenyum melihat siapa yang meneleponya. Grace menekan tombol terima dan meletakkan ponselnya ke telinga.
"Grace?"
"Ya?"
"Jangan melamun."
"Kata siapa aku melamun?"
"Tadi kau sedang melamun di balkon."
"A..apa? Darimana kau tahu?"
"Lihat ke bawah."
Grace seketika menatap ke bawah, ada Dafa yang sedang melambai ke arahnya. Grace melongo, bukankah sejak tadi dia menatap ke arah taman dan tak ada siapapun. Tapi sekarang disana berdiri seseorang yang lebih indah dari taman itu sendiri, entah sejak kapan pria itu nangkring disana.
"Apa kau terpesona melihatku?" Terdengar tawa dari seberang sana.
"Sejak kapan kau ada disana?"
"Sejak tadi."
"Kenapa aku tidak melihatmu?"
"Karena kau melamun." Dafa terkekeh.
"Benarkah?"
"Ya, ayo jalan denganku." Dafa terlihat tersenyum di kejauhan
"Baiklah aku akan siap-siap dulu." Grace merasa sangat senang.
Grace bergegas masuk kedalam dan membenahi diri, ini akan menjadi acara jalan-jalan pertamanya bersama Dafa setelah mereka saling mengungkapkan perasaan. Beberapa hari yang lalu mereka sangat sibuk dengan pekerjaan karena ditinggal oleh Jane dan Ken yang sedang mengambil cuti sehingga hampir tidak ada waktu untuk sekedar berbincang santai. Mereka hanya bertemu sejenak ataupun menghadiri rapat bersama, sisanya mereka kembali ke ruangan masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaan.
Grace turun dan menghampiri Dafa setelah selesai, entah kenapa dia merasa sedikit gugup. Dafa menyambutnya dengan senyuma, sejak tadi Dafa terlihat tak berhenti tersenyum. Grace sangat menyukai senyum dengan mata bulan sabit yang akhir-akhir ini sering di lihatnya.
"Apa kau sudah siap nona?" Dafa membuka pintu mobil dan mempersilahkan Grace masuk.
"Kau berlebihan." Grace terkekeh.
"Kau cantik."
"Kau tidak nyambung." Grace tertawa.
"Baiklah, kita akan segera pergi membawa nona cantik jalan-jalan." Dafa mulai melajukan mobilnya.
"Berhenti memanggilku nona."
"Apa aku perlu memanggilmu sayang?" Dafa terkekeh.
"Hei, kita bahkan bukan sepasang kekasih." Grace tertawa.
"Lalu kemarin apa? Apa artinya kau memelukku dan mengatakan kau mencintaiku?" Dafa mengerutkan keningnya.
"Itu hanya ungkapan perasaan." Grace terkekeh.
"Benarkah, apa aku harus berjuang lagi untuk menjadi kekasihmu?"
"Tentu saja." Grace tertawa kecil.
"Baiklah, kau tunggu saja." Dafa mengerling pada Grace.
Mereka telah sampai di sebuah restoran besar di pusat kota. Dafa mengajak Grace masuk ke tempat itu, mereka di arahkan untuk memasuki sebuah ruangan khusus yang ternyata sudah di siapkan Dafa sebelumnya. Dafa merasa takjub saat memasuki ruangan itu yang sudah di siapkan sedemikian rupa.
"Apa kau yang menyiapkan ini semua?" Grace menyentuh bunga anyelir merah muda yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Ya, sebenarnya ini untuk acara makan malam kita, tapi aku tidak bisa menahan diri hingga malam hari untuk bertemu denganmu."
"Kenapa sejak tadi kau selalu menggodaku?" Grace terkekeh.
"Aku tidak menggoda, itu ungkapan perasaan."
"Kau selalu mencari alasan." Grace tertawa.
"Duduklah."
Dafa menarik kursi untuk Grace dan mempersilahkan gadis itu untuk duduk. Dafa kemudian duduk di seberang Grace. Dia terlihat benar-benar senang saat ini, senyum tidak berhenti menghiasi wajahnya sedari tadi.
"Grace."
"Ya?"
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Katakanlah."
"Mmm, aku mencintaimu." Dafa terkekeh.
"Aku tahu." Grace tertawa.
"Grace aku bukan pria romantis, aku bahkan sulit untuk mengungkapkan perasaan, tapi hari ini aku telah menyiapkan diri untuk semuanya."
"Ya, kau menyiapkan semuanya dengan sangat baik, Daf." Grace tersenyum.
"Mmm, maukah kau jadi kekasihku?" Dafa terlihat sedikit gugup.
"Apa untungnya bagiku menjadi kekasihmu?" Grace terkekeh menggoda Dafa agar pria itu tidak lagi merasa gugup.
"Kau akan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah." Dafa tertawa.
"Apa lagi yang akan kau janjikan?" Grace ikut tertawa.
"Kebahagiaanmu." Dafa tersenyum tulus.
"Baiklah, aku mau menjadi kekasihmu." Grace tersenyum.
"Deal." Grace menyambutnya.
"Mulai hari ini kau resmi menjadi kekasihku." Dafa tertawa.
"Kenapa kau sekonyol sekretaris Ken sekarang?" Grace ikut tertawa.
"Benarkah?"
"Ya."
"Sepertinya sifat pria jomblo itu menjangkitiku."
"Hei, kau menghinanya jomblo, kau juga jomblo sebelumnya." Grace tertawa.
"Itu dulu, sekarang aku sudah memilikimu."
"Sepertinya sekretaris Ken juga akan mengakhiri masa jomblonya." Grace tertawa.
"Apa maksudmu?" Dafa terlihat bingung.
"Apa kau tidak tahu?"
"Tentang apa?"
"Sekretaris Ken."
"Ada apa dengannya?"
"Apa kau tidak tahu kemana Ken pergi saat cuti beberapa hari yang lalu?"
"Tidak." Dafa menggeleng.
__ADS_1
"Apa kau mau tahu?" Grace berbicara sedikit berbisik seakan takut ada yang mendengarnya.
"Tentu saja." Dafa terlihat serius.
"Dia pergi ke Singapura."
"Apa?" Dafa sedikit terkejut.
"Ternyata dia tidak memberitahumu." Grace tertawa kecil.
"Apa yang dilakukannya disana?"
"Apa kau tidak bisa menebaknya?" Grace menatap Dafa yang terlihat berpikir.
"Jane? Bukankah Jane juga pulang ke Singapura?" Dafa seakan mendapatkan pencerahan.
"Betul."
"Ada apa diantara mereka?" Dafa kembali terlihat bingung.
"Sesuatu."
"Apa itu?"
"Kemungkinan masalah perasaan." Grace terkekeh.
"Oh God, apakah Ken sedang mengejar Jane?"
"Sepertinya begitu."
"Kenapa pria itu tidak mengatakannya padaku? Apa dia berniat menyembunyikannya dariku?"
"Aku tidak tahu." Grace mengedikkan kedua bahunya.
"Darimana kau tahu, Grace? Apa Jane bercerita kepadamu?"
"Tidak." Grace menggeleng.
"Lalu darimana?"
"Ken meminta undangan pernikahan Liam kepadaku sebelum berangkat ke Singapura."
"Liam? Siapa dia?"
"Mantan kekasih Jane."
"Apa hubungannya?"
"Aku juga belum tahu pasti, tapi sepertinya Ken mengkhawatirkan Jane."
"Kenapa?"
"Karena Liam masih mengejar Jane."
"Ternyata pria itu sudah mulai bergerak, awas saja kau, Ken. Habis kau nanti jika bertemu denganku." Dafa bergumam pelan namun masih tertangkap oleh pendengaran Grace.
"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Grace terkekeh.
"Aku akan memaksa dia untuk menceritakan semuanya." Dafa terlihat tersenyum licik.
"Hei, kau tidak perlu mencampuri urusan perasaan mereka."
"Aku penasaran." Dafa terkekeh.
Akhirnya sepasang kekasih baru itu hanya menggosipkan tentang hubungan sekretaris Ken dengan Jane. Acara romantis mereka berubah menjadi ajang gosip, Dafa dan Grace bertukar pikiran dan menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya antara Ken dengan Jane.
Mereka terlihat sangat akur saat bergosip tentang hubungan Ken dan Jane. Kadang Grace di buat tertawa karena hipotesis-hipotesi konyol yang dibuat oleh Dafa tentang hubungan Ken dengan Jane kedepan. Mereka benar-benar terlihat senang menggosipkan sekretaris konyol itu.
...----------------...
Ken sedang duduk di gazebo kebun belakang rumahnya, dia baru saja pulang dari berolahraga. Ken bersantai menikmati hembusan angin sambil menatap bunga-bunga mawar yang sedang bermekaran. Ken terlihat tersenyum-senyum sendiri entah apa yang sedang dipikirkannya. Tiba-tiba tanpa sebab apapun Ken merasakan gatal di lubang hidungnya hingga akhirnya dia bersin.
__ADS_1
"Hei, kenapa aku bersin cuma satu kali? Bukankah orang zaman dulu mengatakan bahwa itu pertanda ada yang membicarakanku? Ah, tapi aku tidak percaya dengan mitos." Ken mengusap-usap hidungnya.
...****************...