Kali Kedua

Kali Kedua
GRACE-KAU LAGI


__ADS_3

Hari sudah sangat sore, langit semakin terlihat gelap. Aku berdiri di balkon apartemen menatap hujan yang turun sangat lebat. Aku suka hujan, entah kenapa suara hujan menenangkan hati, jika hujan di malam hari maka aku akan sangat cepat terlelap hanya karena mendengar suaranya. Lama aku berdiri disini, tak bergerak sedikitpun dari tempatku walaupun terkadang rinai air hujan mengenai wajah dan tubuhku saat angin berhembus kencang.


Tiba-tiba aku merasa kepalaku berdenyut, rasa sakit menyerang kepalaku. Apa ini? Kenapa rasanya sangat pusing. Aku berpegangan pada pagar pembatas balkon, perlahan tubuhku merosot terduduk bersandar di pagar balkon. Aku memegang kepalaku yang terus berdenyut.


Aku memejamkan mata, secara perlahan aku melihat kilasan masalalu dikepalaku. Aku melihat diriku sendiri sedang berlari kecil menerobos hujan di depan sebuah rumah besar dengan menenteng kantong belanja kecil. Tubuhku terlihat basah kuyup dan menggigil kedinginan. Aku menggantung kantong belanja itu di gagang pintu rumah besar itu.


Aku tersadar dan membuka mataku perlahan, berdiri dan berjalan pelan meninggalkan balkon. Aku masuk kedalam kamar dan naik ketempat tidur, menyandarkan tubuhku ke sandaran kasur. Aku meminum air mineral yang ada diatas meja samping tempat tidur. Aku memegang pelipisku yang tak berhenti berdenyut.


Apa tadi yang kulihat? Apakah aku melihat diriku dimasalalu? Apakah ingatanku perlahan kembali? Aku yakin tadi itu benar-benar diriku, sedang apa aku? Aku sepertinya mengenali rumah itu tapi rumah siapa? Jelas itu bukanlah rumahku. Aku berusaha mengingat tapi sama sekali tidak bisa, kepalaku semakin sakit memikirkannya.


Aku mengambil ponselku di atas meja, aku ingin menghubungi Jane. Aku baru saja ingat bahwa Jane berada di Singapura sekarang. Sebaiknya aku tidak menganggunya, biarkan dia menikmati waktunya bersama keluarganya disana. Aku meletakkan kembali ponselku ke atas meja.


Baru saja aku meletakkannya tiba-tiba ponselku berdering, aku menatap layar ponsel. Nama Dafa tertera disana, sejenak aku merasa bingung, untuk apa presdir menghubungiku? Aku menekan tombol terima dan menempelkan ponsel ke telingaku.


"Halo?"


"Grace?"


"Ya?"


"Kau sedang apa?"


"Aku sedang tidak melakukan apapun."


"Apa kau hanya berdiam diri?"


"Begitulah."


"Apa kau sakit?"


"Tidak, hanya sedikit pusing."


"Pusing? Kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja."


"Sungguh?" Suara Dafa terdengar berbeda, terdengar seperti sedikit khawatir.


"Sungguh." Aku mengangguk-angguk walaupun takkan terlihat olehnya.


"Baiklah, aku akan menghubungimu lagi nanti."


"Ya."


Dafa mematikan sambungan telepon, kekonyolan anak itu kembali lagi. Dia meneleponku hanya untuk menanyakan aku sedang apa. Aku tersenyum mengingat pria itu, mengingat segala tentangnya selalu saja membuatku merasa senang. Bahkan saat ini rasa pusing di kepalaku perlahan menguap setelah mendengar suaranya, walaupun hanya lewat sambungan telepon.


Aku teringat ucapan Adel beberapa waktu yang lalu tentang kekasih Dafa yang lama menghilang. Adel bahkan mengatakan bahwa gadis itu mirip denganku, aku tidak tahu apakah itu benar atau Adel hanya bercanda. Tapi sedikit banyak aku terus memikirkan hal itu karena Adel terlihat serius mengatakannya. Dafa juga sama sekali tidak menampiknya saat itu.


Aku teringat perlakuan awal Dafa kepadaku, pria itu bersikap berbeda kepadaku sejak awal. Apa mungkin karena aku benar-benar mirip dengan kekasihnya itu? Apa selama ini dia memperhatikanku hanya karena itu? Apa dia memperlakukanku dengan manis karena melihat sosok kekasihnya pada diriku? Huh kenapa aku merasa kesal, kenapa ya?

__ADS_1


Jika benar begitu aku harus sedikit menjaga jarak darinya, aku tidak ingin dia mendekatiku hanya karena mirip dengan kekasihnya. Bukankah itu hal yang akan merugikan bagiku? Bagaimana jika aku terlanjur terbawa perasaan padanya karena dia terus memperlakukanku dengan manis? Bagaimana jika aku jatuh cinta padanya? Dan bagaimana nasibku jika kekasih Dafa yang sesungguhnya kembali. Aku yang terlanjur jatuh hati tentu saja akan tersingkir bukan?


Aku benar-benar merasa kesal sekarang, apa yang harus kulakukan? Bagaimana caranya aku menjauh jika setiap hari kami terus bertemu di kantor? Apa aku harus pura-pura cuek kepadanya? Ah itu bukan sifatku, aku tidak bisa cuek pada orang yang baik padaku. Jadi bagaimana ya? Aku harus apa?


Suara bel apartemenku berbunyi, aku langsung tersadar dari pikiranku. Aku turun dari tempat tidur dan berjalan keluar, siapa malam-malam begini berkunjung? Jane tidak mungkin, anak itu tidak ada disini. Aku juga tidak merasa memesan makanan atau apapun secara online saat ini, aku membuka pintu dengan rasa penasaran.


Aku melongo, seorang pria yang baru saja ku pikirkan berdiri dengan tersenyum di depan pintu, rambut dan bajunya terlihat basah mungkin terkena hujan yang masih turun dengan lebat di luar. Dia masuk tanpa permisi, berjalan cepat menuju kedapur. Aku menutup pintu dan segera mengejarnya. Dia terlihat mengambil piring dan meletakkan beberapa makanan disana. Dafa terlihat menata piring-piring itu di atas meja makan, aku menggeleng melihat kelakuan pria aneh satu ini.


"Dafa."


"Apa?"


"Kenapa kau kesini?"


"Aku hanya ingin makan bersama denganmu." Dafa menatapku.


"Sudah ku bilang..."


"Aku tidak terbiasa membawa pria ketempat tinggalku, bagaimana jika Jane melihatmu di apartemenku? Itukan yang akan kau bilang, aku sudah hafal tahu." Dafa menyela kata-kataku tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Hei." Aku bingung harus berkata apa lagi.


"Apa?"


"Kalau kau sudah hafal kenapa kau masih datang ketempatku?"


"Jane sedang tidak ada, jadi tidak apa-apa bukan?"


"Terus?"


"Aku tidak terbiasa.."


"Ya, nanti kau akan terbiasa." Dia kembali menyela perkataanku.


"A..apa?" Apa maksudnya dia akan terus ketempatku hingga aku terbiasa?


"Sebaiknya kita makan terlebih dahulu, baru kita lanjutkan perdebatan kita. Bukankah kau merasa pusing? Mungkin kau belum makan, jadi aku membelikanmu makanan." Dafa menyodorkan piring berisi makanan kepadaku.


Aku akhirnya duduk karena tidak bisa menolak pesona makanan di depanku, aromanya sudah membuat perutku terasa sangat keroncongan. Dafa terlihat tersenyum melihat tingkahku, sepertinya dia tahu kelemahanku. Aku memang tidak bisa menolak untuk memakan makanan enak. Aku mengesampingkan rasa malu dan akhirnya menyantap makanan itu tanpa ampun.


"Apa kau masih mau berdebat?" Dafa bertanya setelah kami menghabiskan semua makanan.


"Tidak." Aku menjawab singkat.


"Kau memang cerewet saat sedang lapar." Dia tertawa.


"Dafa?"


"Ya?" Dia menoleh kepadaku.

__ADS_1


"Terima kasih." Aku akhirnya mengucapkan terima kasih karena telah dibelikan makanan oleh pria itu.


"Sama-sama." Dafa tersenyum manis.


"Apa kau sedang tidak sibuk?"


"Ya, sedang tidak ada yang kukerjakan." Dafa mengangguk.


"Aku ingin bercerita." Akhirnya aku mengatakannya, pria ini sudah tau masalahku, dia juga berjanji akan membantuku untuk mengingat kembali memori masalalu dan aku mepercayainya.


"Ceritakanlah." Dafa kembali tersenyum.


"Hari ini aku mengingat sesuatu."


"Benarkah? Apa itu?"


"Memori di balik hujan."


"Hujan?"


"Ya, aku mengingat saat aku berlari menerobos hujan di depan sebuah rumah besar, tapi itu bukan rumahku."


"Kau pasti akan mengingat rumah itu nantinya Grace, bersabarlah." Dafa tersenyum.


"Ya, semoga saja."


"Biarkan saja dulu, sedikit demi sedikit kau akan dapat merangkai kembali ingatanmu Grace."


"Mmm, Daf?"


"Ya?"


"Terima kasih sudah mau mendengarkanku."


"Ya, terima kasih juga sudah mau bercerita padaku."


Aku tersenyum menatap wajah Dafa, wajah yang selalu ada di dekatku selama beberapa waktu ini. Pria itu bahkan seakan mengerti setiap aku merasa kesepian. Seperti saat ini dia datang saat aku tidak punya teman untuk berbagi. Apakah dia punya kepekaan yang tinggi terhadapku.


Aku baru teringat dengan rambutnya yang basah, aku berjalan mengambil handuk. Aku tidak lagi memberikannya pada Dafa tapi aku langsung mengeringkan rambutnya sendiri. Dafa terlihat senang, anggaplah ini sebagai ucapan rasa terima kasihku untuknya.


"Hei, apa kau sekarang sudah peka?" Dafa terkekeh.


"Sedikit." Aku tersenyum sedikit merasa malu.


"Terima kasih."


"Ya, apa kau memarkir di parkiran luar hingga kehujanan begini?"


"Mmm, ya, aku ingin cepat-cepat naik kesini. Jadi aku tidak memarkir di basement." Dafa tertawa.

__ADS_1


Parkiran luar memang cara paling efektif jika tergesa-gesa. Aku juga lebih sering memarkir disana jika ingin cepat. Namun jika keadaan hujan begini aku pastinya akan memarkir di basement walaupun harus sedikit memutar agar saat keluar dari mobil tidak kehujanan. Jika dari parkiran luar aku hanya berjalan sedikit dan akan bertemu lift di lobby. Jika lewat basement, aku harus melewati tangga yang lumayan melelahkan terlebih dahulu untuk sampai ke lobby.


...****************...


__ADS_2