Kali Kedua

Kali Kedua
Sang Penyelamat


__ADS_3

"Ingat, jangan ada yang membahas Lily di depannya !" ujar Yudha tegas


"Kenapa ?" tanya Dion (salah satu teman Yudha)


"Ya, karena Yudha sudah jatuh cinta pada gadis kecil itu !" Timpal Rafi


"Bukan ! aku hanya belum puas bermain dengannya !" sanggah Yudha cepat


"Cih, hanya karena itu, kamu sampai melempar ku ke sudut ruangan !" sungut Gio, masih kesal dia rupanya.


Sedangkankan Ibram, hanya diam mendengarkan ocehan temannya, dia adalah sosok yang paling tenang dan bijaksana diantara mereka berlima. Sesekali dia melirik ke arah ibu warung yang sedang membuat kopi pesananan mereka. Namun dia mengernyit saat hanya ada tiga gelas kopi yang di buat oleh ibu warung tersebut, dan semuanya kopi hitam, berarti Yudha tidak memesan kopi, karena biasanya Yudha memesan kopi susu, karena dia tidak suka kopi hitam.


Pandangannya langsung berfokus pada Yudha, yang kini tengah sibuk menyangkal semua ocehan sahabatnya yang lain, bahwa Yudha sudah jatuh cinta pada mainannya sendiri.


"Kamu gak pesen kopi Yud ? tanyanya datar, seketika pertanyaan itu membuyarkan celotehan yang lainnya.


Sedangkan Yudha, dia langsung mengarahkan pandangannya pada Ibram, yang kini memandangnya dengan tatapan penuh arti.


"Nggak, aku mau minum air putih aja, sama kayak Nara" jawab Yudha spontan


Byurr


"Uhuk....uhuk aaaaaaaaa panas !" Ujar Gio, setelah menyemburkan kopi panas yang baru di teguknya.


"Udah tahu panas, main minum aja, dasar b*g* !" Ucap Rafi


"Sejak kapan kamu lebih milih air putih, daripada kopi ? aaahhhh aku sampe kaget tadi dengernya !" ucap Gio, tangannya masih mengibaskan udara pada bibirnya yang sedikit memerah bekas kopi tadi "Panas tahu, ambilin air dingin kek, bukan ngatain !" timpalnya lagi seraya mendelik ke arah Rafi yang sedang meneguk kopinya perlahan.


"Ini Gi, minum !" Ujar Dion dengan segelas air putih dingin di tangannya, dia berjalan menghampiri Gio yang menatapnya penuh binar, namun ketika Gio akan meraih gelas air yang berada persis di depannya.


Splash


Dengan gerakan cepat, Dion menyiramkan seluruh isi gelas itu, tepat pada wajah Gio, membuat semua orang tertawa, tak terkecuali Yudha, sedangkan yang di siram hanya diam mematung, membiarkan air itu terus turun dari wajahnya. sejurus kemudian Gio memberikan tatapan tajam pada Dion yang masih tertawa terpingkal.


"Awww sakitttt" tawa Dion berganti pekikan saat ada sebuah batu kecil mengenai dahinya, dan ternyata itu dari Gio, yang entah kapan dia menunduk untuk membawa batu yang berada di bawah sepatunya, karena terlalu asyik tertawa, tak ada yang menyadarinya.


"Hahahaha" kini giliran Gio yang memberi tawa jahat pada Dion, sedangkan Rafi, kembali tertawa terbahak melihat pertunjukan di depannya, begitupun dengan Yudha.


Sedangkan Ibram, dia masih tak bergeming menatap Yudha, merasa tak mendengar suara tawa dari mulut Ibram, dia kembali menoleh dan melihat Ibram masih setia memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan, membuatnya risih, meskipun diantara mereka, Ibram adalah sosok yang paling tenang, tapi biasanya dia juga akan ikut tertawa meskipun tidak sampai terbahak berlebihan. Di pandang seperti itu, membuat Yudha merasa risih.


"Kenapa ?" tanya Yudha, sedangkan yang di tanya hanya mengangkat bahu, dan sedikit tersenyum

__ADS_1


"Tidak apa-apa, hanya_____ "


"Apa ? " tukas Yudha


"Benar kamu tidak sedikitpun mencintainya ?" tanya Ibram ragu


"Te-tentu saja, hanya Lily yang aku cintai" jawab Yudha terbata, sedangkan Ibram hanya mendengus kecil mendengarnya. Dia terlihat seperti meremehkan Yudha dengan senyumnya itu.


Gio, Rafi, dan Dion seketika terdiam, mereka nampak serius memperhatikan percakapan Yudha dan Ibram, untuk beberapa saat suasana hening seketika.


"Kalau begitu, berikan gadis kecil itu pada Gio sekarang juga !" Ucap Ibram tiba-tiba, membuat Gio tersedak ludahnya sendiri, secara spontan Gio melirik ke arah Yudha yang kini sedangkan mengepalkan tangannya, membuat Gio, Rafi, dan Dion bergidik ngeri.


Kok jadi bawa-bawa aku sih. batin Gio


Siap-siap dah kamu Gi. batin Rafi


Waaaaa seru nih. batin Dion. dasar mereka berdua, sahabat yang gak punya akhlak !


Seketika perkataan Ibram membuat darah dalam tubuh Yudha mendidih, badannya merasa panas, namun respon tubuhnya begitu gemetar, ada perasaan takut, dan tak rela di hatinya, dia menyadari perasaannya pada Nara benar adanya, namun dia buru-buru menepisnya, ketika bayangan Lily muncul di kepalanya, bergantian dengan bayangan Nara, membuat hatinya semakin tidak rela kehilangan keduanya.


Aku mencintai Lily, sangat mencintainya, tapi Nara, aku juga tak bisa jauh darinya. batin Yudha


Suasana ceria tadi tiba-tiba berubah mencekam, mereka semua fokus menatap Yudha yang tak bersuara setelah mendapat perintah dari Ibram.


Glek


Gio menelan ludah susah payah, membayangkan botol tersebut adalah dirinya, mulai hari ini dia berjanji pada dirinya sendiri, tidak akan menggoda Nara lagi seperti tadi, tidak akan.


Sedangkan Ibram, hanya tersenyum simpul melihat tingkah Yudha, kini dia bisa tahu bagaimana perasaan Yudha pada Nara sebenarnya. Dia pun beranjak menghampiri Yudha, dan ikut di duduk di samping Yudha. Dia menepuk pelan punggung Yudha.


"Lily adalah gadis yang baik dan sangat mencintaimu" Ujar Ibram lembut, pandangannya menerawang, mengingat dulu bagaimana Yudha dan Lily menjalin kasih hingga sekarang. "Dan aku juga bisa melihat pancaran cinta yang tak kalah besar di mata gadis kecil itu saat memandangmu, begitupun sebaliknya, saat kamu menatapnya" Ucapan itu membuat Yudha terkesiap, apa sangat terlihat perasaannya pada Nara, sehingga Ibram bisa menyimpulkannya begitu mudah.


"Namun bagaimanapun, kamu harus tetap memilih Yud" Ucapnya lirih namun tegas, Ibram seperti tahu jika hal itu sangat sulit di lakukan Yudha.


Sedangkan Yudha, dia hanya diam saja, tenggorokannya terasa tercekat, bibirnya kelu, dan entah apa yang harus dia ucapkan saat ini. Dan lagi, bayangan Nara dan Lily kembali berdatangan silih berganti, membuatnya semakin frustasi dalam diam.


Suasana kembali hening, semua orang sedang bergelut dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya Gio berteriak, tidak terlalu lantang, tapi cukup mengejutkan di situasi hening begini.


"Astaga, aku melupakan sesuatu" seru Gio, dia langsung memandang Yudha dengan tatapan khawatir, tubuhnya gemetar tak karuan. "Yud... ada foto mesramu bersama Lily di meja studio" timpalnya lagi dengan suara gemetar. Yudha terkesiap mendengar itu, tanpa ba-bi-bu Yudha langsung berlari meninggalkan warung tersebut, di ikuti oleh keempat sahabatnya.


Jarak antara warung dan studio itu sangat dekat, namun entah kenapa dalam situasi seperti ini, terasa begitu jauh, dan sulit untuk sampai. Saat sudah sampai di depan pintu, Yudha menghentikan langkahnya, dia berusaha mengatur nafas, dan mencoba bersikap biasa saja, saat akan membuka pintu, Ibram buru-buru menghentikannya, lalu Ibram memberikan air mineral dingin untuk Nara pada Yudha, agar Nara tidak curiga. setelah merasa siap Yudha membuka pintu dan berusaha menunjukkan wajah biasa saja.

__ADS_1


"Sayang ini minum dul____" Ucapannya langsung terputus, minuman dingin yang ada di tangannya terjatuh begitu saja karena terkejut.


"Ay..... ini foto siapa ?" tanya Nara dengan suara bergetar. Yudha lupa jika di meja studio itu ada fotonya bersama Lily.


Byurr. Gio langsung menyemburkan minumannya melihat pemandangan itu, sedangkan temannya yang lain hanya bisa menarik nafas berat, di sertai gelengan kepala


Maaf Bro, sepertinya takdir sedang mengajakmu becanda sekarang. batin semua sahabat Yudha kompak.


"I-itu" aku harus jawab apa ??. batin Yudha


"Siapa !" sentak Nara membuat semua orang kaget, air matanya mulai jatuh tak terkendali "Apa ini kekasihmu juga selain aku ?" tanyanya lagi, membuat Yudha semakin tercekat, Yudha mencoba mendekat perlahan, melihat itu Nara spontan menjauh.


Melihat Nara mulai menangis, membuat Yudha frustasi, dan rasa takut gadis itu pergi semakin menggila di hatinya, membuat Yudha menyadari jika perasaannya pada Nara sudah terlanjur dalam, namun di sisi lain ada Lily di hidupnya. Apakah ini saatnya untuk memilih di antara mereka ?.


"Tolong, denger penjelasan ku dulu, Ra" Ucapnya lirih


"Coba jelaskan !" Bentak Nara, namun terselip rasa takut, karena terdengar getaran pada nada bicaranya


"Dia.... Itu....."


"Kak Yudhaaaaaa" teriakan suara cempreng seorang remaja lelaki tiba-tiba memutuskan ucapan Yudha, tak lama setelah teriakan itu terlihat Dicky dengan nafas ngos-ngosan sepertinya dia berlari cukup kencang tadi.


"Wah lagi pada ngumpul ya ?" Ucapnya saat melihat sekeliling, lalu dia mengernyit melihat Nara memegang sebuah foto di tangannya, dan terlihat jika Nara habis menangis, dengan langkah santai dia menghampiri Nara dan mengambil foto tersebut.


"Manisnyaaa, apa kamu tahu Ra, dulu saat aku melihat foto ini, aku sangat iri dan cemburu, karena kak Yudha dan Alana lebih terlihat seperti kekasih di banding kakak beradik" Ucapan Dicky yang membuat semua orang tersentak kaget.


"Ja-jadi.....dia Alana, adik Kak Yudha sekaligus pacar kamu Ky ?" tanya Nara, dia langsung menatap Yudha dengan rasa bersalah


"Tentu saja, siapa lagi !" tanpa mendengar jawaban Dicky, Nara langsung berlari ke pelukan Yudha, membuat Dicky dan yang lainnya menghembuskan nafas lega.


"Maaf Ay, aku udah nuduh kamu, aku cemburu, aku takut" ujar Nara yang semakin mengeratkan pelukannya.


"Iya gak apa-apa sayang" Ucap Yudha tersenyum lega, dan membalas kedipan mata pada Dicky, mengucap terima kasih tanpa suara, dan Dicky hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada Yudha.


Thanks Dik, kamu sang penyelamat hari ini. batin Yudha.


Sedangkan sahabat Yudha, hanya bisa menghela nafas lega dan menggeleng kepala melihat kekompakan calon adik dan kakak ipar ini.


Bersambung


jangan lupa like, komen, dan vote ya guys.

__ADS_1


selamat membaca, semoga suka !!!!!


__ADS_2