Kali Kedua

Kali Kedua
TEMAN LAMA


__ADS_3

Grace keluar dari apartemennya, dia terlihat sudah rapi sekali. Grace pergi menuju apartemen Jane yang berada satu lantai dibawah apartemennya. Grace masuk ke apartemen Jane tanpa permisi, dia mencari sosok Jane di kamarnya. Kamarnya begitu gelap, gorden tertutup dengan rapat, cahaya matahari yang sudah meninggi pun tidak dapat menembusnya sama sekali. Grace menyingkap tirai-tirai gorden hingga cahaya matahari langsung menyeruak masuk menimpa sosok yang sedang menggeliat sangat malas diatas tempat tidur.


"Oh ada apa ini? Cahaya apa sepagi ini?" Jane mencoba menghalangi cahaya yang menyorot wajahnya dengan telapak tangan.


"Bangun Jane." Grace menggelengkan kepalanya menatap sahabatnya itu.


"Grace kenapa kau berada di kamarku sepagi ini?"


"Ayolah Jane, ini sudah menjelang siang."


"Tapi ini hari libur, Grace. Aku ingin tidur lagi." Jane memeluk gulingnya.


"Ayo bangunlah Jane." Grace menggoyangkan bahu Jane.


"Tidak mau." Jane semakin memeluk erat gulingnya.


"Jane kau berjanji akan menemaniku ke salon hari ini." Grace mulai kesal.


"Kenapa harus sepagi ini?" Jane masih tidak bergerak, hanya mulutnya saya yang menyahut.


"Jane, aku pergi sendiri saja, kalau kau perlu bantuan jangan cari aku lagi." Grace pura-pura kesal dan beranjak dari kamar Jane.


"Baiklah, Grace. Aku akan bangun sekarang." Jane turun dengan malas dari tempat tidur menuju kamar mandi.


"Bagus." Grace tersenyum menang.


"Kau selalu saja mengancamku." Jane menutup pintu kamar mandi dengan keras. Grace hanya tertawa mendengarnya.


...----------------...


Grace dan Jane memasuki sebuah salon kecantikan yang lumayan besar. Mereka disambut dengan ramah oleh para karyawan disana. Grace dan Jane disuruh menunggu di suatu ruangan tunggu yang suasananya sangat nyaman. Tidak lama menunggu, beberapa karyawan wanita masuk dan mempersilahkan mereka menuju ruangan treatment.


Grace dan Jane mengambil paket perawatan lengkap, dari perawatan rambut, wajah, badan, dan kuku. Selesai dari perawatan mereka memilih untuk berendam air hangat dengan aromaterapi. Rasanya tubuh dan pikiran mereka segar kembali setelah lelah sepekan bekerja.


Menjelang sore hari, Grace dan Jane baru selesai dengan kegiatan mereka. Mereka benar-benar merasa puas dengan pelayanan di salon kecantikan itu. Grace dan Jane membereskan barang-barang mereka bersiap untuk pulang. Saat memasuki lobby, mereka berpapasan dengan seseorang.


"Definaaa?" Seorang pria kemayu menyapanya dengan heboh.

__ADS_1


"Aku?" Grace terlihat bingung, dia tidak mengenal pria ini sama sekali.


"Oh sayang, kau semakin cantik dan dewasa. Kemana saja kau selama ini?" Pria cantik ini memeluk Grace dengan bahagia.


"Si..siapa?" Grace tercengang.


"Apa kau melupakan aku, Def?" Pria itu memegang bahu Grace dan menatapnya.


"Mmm, namaku memang Defina, tapi maaf aku tidak mengenalmu." Grace menatap pria itu.


"Oh, gadisku yang cantik, apa kepalamu terbentur? Kenapa kau bisa melupakan aku?"


"Mmm, maafkan aku, aku tidak bisa mengingatmu." Grace merasa sangat bingung.


"Def, ini aku, Maria. M-A-R-I-A." Pria itu mengeja namanya dengan jelas.


"Maria?" Grace semakin bingung karena ternyata pria ini bernama Maria.


"Oh sayang bagaimana bisa kau melupakan aku, mana ponselmu?" Maria memegang tangan Grace.


"Ini." Grace tidak sadar memberikan ponselnya.


"Ba..baiklah."


"Datanglah kembali kesini sayang, aku pemilik salon ini, kau bisa datang kapan saja." Maria kembali memegang bahu Grace dan menatapnya dengan lembut.


Grace hanya mengangguk dan mengajak Jane untuk berlalu dari tempat itu. Mereka berdua pergi dengan segala tanda tanya yang muncul di kepala mereka.Begitu juga dengan Maria, dia merasa bingung kenapa Defina tidak mengenalinya, tapi Maria yakin seratus persen bahwa itu adalah Defina sahabatnya.


...----------------...


"Jane?"


"Apa?" Jane yang sedang menyetir menoleh sekilas pada Grace.


"Apa kau memikirkan hal yang sedang kupikirkan?"


"Ya." Jane mengangguk.

__ADS_1


"Pria kemayu itu?"


"Benar." Jane mengangguk lagi


"Menurutmu siapa dia, Jane?" Grace menatap Jane.


"Kurasa kenalanmu." Jane menjawab


"Tapi aku tidak mengenalinya." Grace menggeleng.


"Tapi dia mengenalimu." Jane melirik Grace sekilas.


"Sepertinya dia salah orang, bukankah nama Defina sangat banyak?"


"Kemungkinan, tapi dia terlihat sangat yakin bahwa kau adalah Defina yang dikenalnya."


"Ya, dia terlihat sangat yakin, apakah benar dia kenalanku. Tapi aku tidak ingat sama sekali, Jane." Defina mencoba mengingat-ingat.


"Mungkin kalian pernah bertemu disuatu tempat atau suatu acara?" Jane terlihat berpikir.


"Tidak mungkin, aku pasti mengingat wajahnya jika pernah bertemu." Grace menyentuh keningnya yang tiba-tiba terasa pusing.


"Sudahlah, Grace. Jangan terlalu dipikirkan, mungkin saja dia benar-benar salah orang."


Tidak terasa mereka telah sampai, Jane memarkirkan mobil, mereka berjalan cepat menuju apartemen masing-masing. Jane berpesan pada Grace untuk tidak menganggunya karena dia ingin melanjutkan istirahatnya yang tertunda.


"Grace, jangan ganggu aku sampai besok pagi, aku mau melanjutkan istirahatku yang kau ganggu." Jane tertawa, dia melambaikan tangan saat keluar dari lift dan berjalan ke arah apartemennya. Grace hanya tersenyum masam menatap dan membalas lambaian tangan Jane.


Pintu lift terbuka, Grace berjalan memasuki apartemennya. Kepalanya terasa sedikit pusing setelah kejadian disalon kecantikan. Otaknya terus berputar mencoba mengingat siapa Maria, namun dia sama sekali tidak mengingatnya.


Grace mencoba menenangkan pikirannya kembali, dia pergi kedapur dan membuat susu hangat. Grace berjalan menuju balkon, dia duduk dikursi sambil memandangi langit yang terlihat mulai gelap. Cahaya jingga terlihat mulai meredup, matahari sudah menarik diri untuk beristirahat dari tugasnya.


Grace meminum perlahan susu hangat ditangannya, pikirannya sudah mulai terasa tenang. Dia tidak terlalu memikirkan tentang Maria lagi, dia memejamkan matanya sebentar menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya, senja benar-benar menenangkan hatinya saat ini.


Grace beranjak malas dari kursinya, dia masuk kembali dan menutup pintu balkon karena hari sudah benar-benar gelap dan nyamuk mulai menganggunya. Grace pergi kekamar mandi, mencuci wajah dan mengganti pakaiannya dengan piyama. Tidak ada kesibukan apapun yang bisa dilakukannya malam ini sehingga dia merasa sedikit kesepian. Grace membuka ponselnya sebentar namun tidak ada sesuatu yang penting sehingga dia meletakkan kembali ponselnya.


Grace merasa lapar, dia menuju dapur dan membuat roti daging kesukaannya. Dia menyantap makan malamnya sambil menonton televisi, sebenarnya dia ingin mengunjungi Jane saat ini, tapi sudah sangat jelas bahwa anak itu melarangnya untuk mengganggu istirahatnya malam ini. Akhirnya Grace memutuskan untuk menghabiskan malam dengan menonton televisi.

__ADS_1


Malam semakin larut, Grace beranjak dari sofa, mematikan televisi dan naik ke tempat tidur. Dia sudah beberapa kali menguap tanda kantuk mulai menyerangnya. Grace masuk kedalam selimut dan mulai memejamkan matanya. Tidak lama dia sudah terlelap menyusuri alam mimpi.


...****************...


__ADS_2