
"Kau membeli bunga?" Grace bertanya.
"Ya."
"Untuk siapa?"
"Untuk ibu, Grace maukah bertemu dengan ibuku?"
"Mau." Grace mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah, ayo berangkat."
"Tunggu dulu, aku harus membawakan apa untuk ibumu? Sesuatu yang disukai ibumu misalnya."
"Tidak perlu, ini sudah cukup." Dafa menunjuk rangkaian bunga.
"Bunga saja? Apa ibumu suka bunga?"
"Ya, ayo kita pergi." Dafa tersenyum dan menggandeng tangan Grace agar berjalan sejajar di sampingnya.
Dafa melajukan mobilnya meninggalkan mall tempat mereka jalan-jalan hari ini. Hari sudah sore dan awan terlihat sedikit mendung, sepertinya akan turun hujan. Dafa mempercepat laju mobilnya agar mereka bisa sampai di pemakaman sebelum turun hujan.
"Kenapa kita kesini?" Grace bertanya heran karena Dafa memarkirkan mobilnya di pemakaman.
"Ayo turun." Dafa membukakan pintu untuk Grace.
Grace tidak mengerti tapi dia menurut saja apa yang dilakukan oleh Dafa. Dafa terus menggenggam tangan Grace selama mereka berjalan, dia seakan tak ingin melepas tangan gadis itu. Dafa berhenti di depan sebuah makam dan meletakkan bunga disana.
"Grace, ini ibuku." Dafa tersenyum namun Grace melihat rasa sedih di matanya.
"Ya." Grace menatap makam itu, dia tidak bisa berkata apapun. Grace hanya bisa menggenggam erat tangan Dafa.
"Ibu, ini Grace kekasihku, dia cantik bukan? Mungkin beberapa waktu kedepan aku akan segera menikahinya." Dafa tersenyum.
Grace hanya diam memperhatikan Dafa yang terus memuji-muji dirinya di depan makam ibunya. Dafa terus berusaha tersenyum hingga akhirnya dia tidak bisa menahan lagi perasaannya. Pria itu meneteskan air mata yang sedari tadi di tahannya agar tidak menetes. Bahunya terlihat bergetar karena berusaha menahan sesak di dadanya.
Grace hanya mengusap lembut bahu Dafa, hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini untuk sedikit menenangkan Dafa. Grace tidak menyangka jika pria itu bisa meneteskan air mata, selama ini dia tidak pernah menunjukkan kesedihannya sekalipun. Grace mengerti bahwa kehidupan Dafa tidak sesempurna apa yang terlihat dengan mata, nyatanya dia menyimpan kesedihan di dalam dirinya.
"Grace hari mulai gerimis, ayo kita pulang." Dafa sudah terlihat lebih baik.
"Baiklah."
Mereka beranjak meninggalkan pemakaman, Grace masih melihat kesedihan di mata Dafa. Selama perjalanan pulang mereka tidak terlalu banyak bicara. Grace mengerti bahwa Dafa masih terbawa perasaan sedihnya, jadi dia tidak ingin terlalu banyak bicara. Hujan turun dengan lebat membuat suasana sedih semakin terasa menusuk kedalam hati.
"Grace, hujan sangat lebat, kita pulang kerumahku saja dulu ya?" Akhirnya Dafa membuka mulutnya.
"Ya." Grace mengangguk.
Rumah Dafa tak jauh dari pemakaman, tidak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai dirumah Dafa. Dafa menghentikan mobilnya dan mereka turun dari mobil. Dafa membuka pintu dan menggandeng Grace untuk masuk kedalam rumah.
"Dafa tunggu." Grace memegang keningnya yng terasa nyeri.
"Grace, kau kenapa?" Dafa seketika panik.
"Sepertinya aku mengingat tempat ini, pintu rumahmu." Dafa menunjuk ke arah pintu.
"Ya, ya, ayo kita masuk terlebih dahulu." Dafa merangkul bahu Grace membawanya masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
"Apa kepalamu pusing?"
"Sedikit." Grace mengangguk.
"Ayo ikut aku." Dafa kembali membawa Grace menuju kamarnya.
Dafa merebahkan Grace di tempat tidur, dia mengelus lembut kepala Grace. Wajah Dafa terlihat sangat khawatir dengan keadaan Grace, dia takut terjadi sesuatu kepada Grace. Dafa menggenggam erat tangan Grace yang terasa hangat.
"Dafa." Grace bangun dan duduk bersandar.
"Ya, Grace. Apa kau sudah merasa lebih baik?"
"Mmmm." Grace mengangguk.
"Aku akan memanggil dokter."
__ADS_1
"Tidak perlu Daf, aku tak apa." Grace tersenyum.
"Kau yakin?"
"Ya." Grace mengangguk.
"Aku sangat khawatir denganmu." Dafa menggengam erat jemari Grace. Grace tersenyum dan membalas genggaman tangan Dafa.
"Daf sedikit ingatanku kembali, ingatanku menuju pada pintu rumahmu, aku mengingat aku berlari ditengah hujan di depan rumahmu dan mengantungkan sesuatu di gagang pintu rumahmu. Aku sangat yakin itu adalah pintu rumahmu." Grace tersenyum lemah.
"Grace jangan terlalu memikirkannya terlebih dahulu, aku takut kepalamu menjadi sakit."
"Aku baik-baik saja."
"Kau yakin?"
"Ya, jadi bagaimana menurutmu? Apa ingatanku keliru? Kenapa itu terasa begitu nyata?"
"Kau tidak keliru Grace." Dafa menatap wajah Grace.
"Maksudmu? Apa yang terjadi? Apa kau sebenarnya mengetahui tentangku?" Grace terlihat sangat penasaran.
"Ya." Dafa mengangguk.
"Jangan bercanda Daf." Grace tertawa.
"Apa aku terlihat sedang bercanda Grace?"
"Mmm, tidak." Grace melihat raut wajah Dafa yang
terlihat serius.
"Grace percayalah, aku adalah bagian perjalanan hidupmu di masa lalu." Dafa semakin mengeratkan genggaman tangannya.
"Daf, bagaimana bisa?" Grace merasa sangat bingung.
"Grace aku belum bisa menjelaskannya sekarang karena ingatanmu belum kembali seutuhnya, aku takut kau akan mengira bahwa aku mengada-ada."
"Jelaskan sedikit saja Daf, aku percaya padamu." Grace menatap lembut dua bola mata Dafa."
"Daf, benarkah ini?"
"Ya." Dafa mengangguk.
"Kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku selama ini?"
"Grace, jika aku mengatakannya sebelum kau mengingat sesuatu apakah kau akan percaya?"
"Setidaknya kau harus jujur padaku."
"Grace, apakah aku harus jujur padamu bahkan saat kau tidak mengingat sedikitpun tentangku?"
"Tapi kau membuatku berjuang sendirian, Daf."
"Grace, aku sama sekali tidak membiarkanmu berjuang sendirian selama ini."
"Kau tak jujur."
"Grace, kau ingat pertama kali aku mengajakmu berjalan-jalan? Kau ingat itu? Aku membawamu untuk naik bianglala hari itu."
"Ya, kenapa?"
"Itu adalah tempat kita sering menghabiskan waktu bersama."
"Benarkah?"
"Ya, aku berharap kau bisa mengingat sedikit tentangku, tapi saat itu kau sama sekali tidak mengingatku."
Grace hanya diam, dia tak bisa berkata-kata. Bagaimanapun ternyata Dafa sudah berusaha sejak awal untuk mengingatkannya pada kenangan mereka. Grace tidak bisa menyalahkan Dafa dengan apa yang terjadi. Pria itu hanya menunggu waktu yang tepat untuk bisa mengatakan semuanya.
"Grace, percayalah aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan semuanya darimu."
"Ya." Grace mengangguk.
__ADS_1
"Grace, aku meminta maaf atas semua yang terjadi."
"Daf, kau tidak perlu minta maaf, kau tak salah." Grace menggenggam tangan Dafa, dia merasa bersalah karena tadi sudah merasa kesal pada Dafa.
"Grace, istirahatlah dulu." Dafa menatap lembut pada Grace.
"Tidak, aku ingin kau menceritakan kenapa aku pernah datang kerumahmu saat hujan, dan apa yang kuletakkan di gagang pintu?"
"Grace maafkan aku, aku tidak tahu kenapa kenangan itu yang pertama kembali di kepalamu."
"Memangnya kenapa?"
"Hari itu adalah hari yang menyedihkan di antara kita."
"Apa maksudmu?" Grace terlihat bingung.
"Itu adalah kesalahanku."
"Kesalahanmu?"
"Ya, hari itu juga hari terakhir kita bertemu." Raut wajah Dafa berubah suram.
"Kenapa?"
"Setelah hari itu kau pergi meninggalkanku."
"Benarkah? Aku pergi meninggalkanmu?"
"Ya."
"Hei, kukira hari itu terjadi peristiwa romantis diantara kita, ternyata terjadi hal yang menyedihkan." Grace terkekeh.
"Entahlah, jika kau mengingat semua yang terjadi mungkin kau akan sulit memaafkanku." Dafa menunduk.
"Kenapa?"
"Aku melakukan kesalahan padamu, Grace."
"Apa itu?"
"Aku mengabaikanmu."
"Benarkah? Kau mengabaikan gadis secantik aku?" Grace masih terkekeh.
"Grace kau tak ingin marah padaku sekarang?"
"Aku belum mengingat semuanya, nanti mungkin aku akan marah jika ternyata kesalahanmu sangat berat." Grace tertawa kecil.
"Grace, jangan bercanda, aku serius."
"Daf, apapun yang telah terjadi di masalalu antara kita, aku akan berusaha menerimanya."
"Sungguh?"
"Ya." Grace mengangguk dan tersenyum.
"Jika kau mengingat semuanya ku yakin kau akan marah padaku."
"Ya, aku akan marah pada waktunya." Grace tersenyum.
"Maafkan aku." Dafa terus meminta maaf.
"Ya, kau kumaafkan untuk sementara." Grace terkekeh.
"Terima kasih." Dafa tersenyum.
"Memang bagaimana hubungan kita dulu?" Grace bertanya.
"Kau ingin tahu?" Dafa tersenyum.
"Ya." Grace mengangguk."
"Kau kekasihku."
__ADS_1
...****************...