Kali Kedua

Kali Kedua
MASALALU GALEH DAN LAURA


__ADS_3

Laura berjalan keluar dari kantor Dafa, dia berjalan sendirian di trotoar. Sesekali dia mengusap air mata yang tak berhenti keluar dari matanya. Laura berjalan tertatih, dia tidak memperhatikan sama sekali kesekitarnya. Laura terus berjalan hingga akhirnya lengan Laura di cekal seseorang dari belakang. Laura menghentikan langkahnya, menoleh dan melihat Rico berdiri tanpa ekspresi apapun dibelakangnya.


"Apa lagi yang kau inginkan? Kenapa terus mengikutiku?" Laura menghempaskan genggaman tangan Rico pada lengannya.


"Laura."


"Galeh, pergi dariku dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi didepanku." Air mata Laura semakin deras keluar dari matanya.


"Laura, maafkan aku."


"Apa yang kau lakukan? Kau menipuku dan sekarang minta maaf padaku?"


"Laura, dengarkan aku."


"Tidak, pergi dariku sekarang!" Laura bicara setengah berteriak.


"Kau sudah mati, apapun keadaanmu sekarang, bagiku kau sudah mati."


"Laura, maaf."


"Cukup!"


"Laura."


"Apa tidak cukup bagimu menghancurkan semuanya dulu? dan sekarang kau benar-benar menghancurkan hatiku."


Laura terus menangis hingga akhirnya Rico membawanya dalam pelukan. Laura memberontak namun akhirnya dia kehabisan tenaga dan terus menangis dalam dekapan Rico. Laura terus menangis, Rico hanya mengelus kepalanya hingga suara tangisan Laura tak terdengar lagi.


"Kau boleh membenciku, tapi ku mohon dengarkan aku kali ini saja." Rico berucap saat Laura sudah tenang.


"Aku haus." Laura berucap pelan tanpa menggubris perkataan Rico.


"Ikut aku."


Rico menarik pelan tangan Laura dan membawanya masuk kesebuah kafe disekitar tempat itu. Laura menurut saja, dia tak berkata apapun. Rico memesan minuman untuk mereka berdua dan membawa Laura duduk di meja sudut kafe yang lumayan tenang, tak banyak orang disana. Setelah pesanan datang, Laura langsung menghabiskan minumannya, sepertinya dia benar-benar haus.


"Laura."


"Ya."


"Maafkan aku."


Laura hanya diam sambil menatap gelas minumannya yang sudah kosong. Pikirannya tiba-tiba tertuju ke masalalu, masa dimana dia dan Galeh masih bersama-sama. Mereka bersahabat sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.


Galeh, anak pintar dan baik hati yang tak punya banyak teman. Dia yang terlihat culun sering di ganggu oleh anak lain. Dari sanalah Laura mengenalnya, Laura anak yang sebenarnya tak punya otak pintar namun sangat populer karena cantik dan sangat percaya diri.


Laura menolongnya dari gangguan anak-anak lain dan menjadikan Galeh sebagai teman. Awalnya Laura tidak terlalu tulus, dia ingin memanfaatkan Galeh karena tahu bahwa Galeh anak yang pintar. Laura berharap Galeh memberinya bantuan untuk menaikkan nilai-nilai akademiknya. Namun seiring berjalan waktu, karena kebaikan Galeh akhirnya mereka benar-benar menjadi sahabat.

__ADS_1


Laura berubah menjadi anak yang lebih sopan sejak mengenal Galeh. Nilai-nilainya juga mulai naik dan tentunya dia bertambah populer. Persahabatan mereka terus berjalan hingga ke bangku kuliah. Laura semakin bersinar, namun Galeh tetap seperti yang dulu. Galeh yang culun, pintar dan baik hati. Namun dibalik sifat culunnya dia sudah bisa melindungi Laura dari gangguan pria-pria yang mendekatinya dengan niat tak baik.


Galeh selalu mendukung apapun yang dilakukan Laura selama itu baik. Laura yang sangat ingin menjadi seorang model saat itu berusaha keras agar bisa lolos audisi menjadi model. Galeh yang sebenarnya anak orang kaya membantunya lewat belakang, Galeh meminta agar para dewan juri menilai dengan jujur dan sungguh-sungguh karena Galeh yakin dengan kemampuan Laura.


Benar saja, Laura lolos dalam audisi, dia mulai meniti karirnya sedikit demi sedikit. Laura yang memang memiliki bakat dibidang itu semakin berkembang. Seiring bertambahnya kepopuleran Laura semakin banyak pula pihak yang tak menyukainya. Beberapa orang terus berusaha menjatuhkannya, namun Galeh selalu berada dibelakang Laura, melindunginya.


Hingga pada suatu hari kecelakaan terjadi pada Galeh, mobilnya terbakar bersama pengemudinya. Galeh dinyatakan meninggal dalam kecelakaan tersebut. Laura diperiksa sebagai saksi karena pihak kepolisian menduga bahwa kecelakaan tersebut adalah aksi bunuh diri. Dugaan Galeh menabrakkan mobilnya sendiri diperkuat karena sebelum kejadian itu Laura dan Galeh bertengkar hebat. Karena itulah Laura diperiksa untuk diminta keterangan.


Laura tak bisa berkata banyak, selain dia syok dengan kepergian Galeh yang tiba-tiba dia juga terkejut dengan kenyataan bahwa Galeh menyukainya. Galeh sahabatnya itu ternyata telah lama suka padanya, penyidik memperlihatkan beberapa bukti tentang hal itu. Hingga akhirnya kasus di tutup dengan kesimpulan bahwa kecelakaan Galeh adalah kasus bunuh diri. Kejadian itu membuat Laura terpuruk, karirnya pun menurun. Cukup lama dia tak muncul di media, meratapi nasib yang terjadi padanya dan Galeh.


"Laura." Rico melambaikan tangannya di depan wajah Laura membuatnya tersentak dari lamunannya.


"Galeh."


"Apa kau masih ingin memanggilku dengan nama Galeh?"


"Galeh, apa yang sebenarnya terjadi padamu?"


"Ceritanya sangat panjang. Aku tak yakin kau mau mendengarkannya."


"Aku terlanjur bertemu denganmu, karena itu aku akan mendengarkan."


"Kau mau dengar bagian yang mana?"


"Bagaimana bisa kau selamat dari kecelakaan waktu itu? dan mayat siapa yang hangus terbakar didalam sana?"


"Apa benar kau menabrakkan mobilmu sendiri? Apa kau bunuh diri?"


"Apa kau percaya hal itu? Apa aku punya tampang berani untuk bunuh diri? Apa karena aku terlihat sangat culun sehingga orang-orang mengira aku bunuh diri. Cih, penyidikan itu sangat keliru."


"Jadi, apa yang sesungguhnya terjadi?"


"Ada seseorang yang ingin mencelakaiku."


"Siapa"


"Entahlah, sepertinya dia adalah orang bayaran."


"Lalu kenapa hasil DNA nya persis milikmu?"


"Aku tak tahu tentang hal itu, entah terjadi kekeliruan atau apapun itu, yang jelas hasil DNA nya serupa denganku sehingga kepolisian menyimpulkan bahwa mayat itu adalah aku."


"Lalu kenapa kau bersama orang itu?"


"Waktu itu aku baru pulang dari tempatmu, setelah kita bertengkar hebat waktu itu. Setelah pergi dari rumahmu aku singgah sebentar di sebuah minimarket. Saat kembali kemobil, aku tak tahu jika ada seseorang didalam mobil. Dia membiusku dan mengambil alih kemudi, membawaku entah kemana. Aku terbangun saat merasakan guncangan-guncangan, entah bagaimana caranya tubuhku dipindahkannya ke kursi belakang. Aku membuka mata perlahan, melihat pelan kearah jalanan yang sepi dan gelap, tak tahu dimana, tak ada lampu jalan atau petunjuk apapun. Hanya terlihat pepohanan besar dan tak ada satupun rumah, toko atau apapun itu. Aku akhirnya memutuskan untuk merebut kemudi, aku memukuli orang itu walau dengan tangan terikat. Begitu juga dia yang terus balas memukulku, hingga akhirnya mobil kehilangan kendali dan menabrak pepohonan di tepi jurang. Terbalik beberapa kali hingga akhirnya terbakar."


"Lalu, bagaimana kau selamat saat mobil terbakar."

__ADS_1


"Beberapa saat sebelum terbakar aku berhasil keluar dari mobil. Aku berlari dengan tertatih menjauhi mobil walaupun seluruh tubuhku terasa remuk."


"Terus?"


"Aku terus berlari sejauh mungkin, demi apapun aku sangat takut saat melihat mobil meledak dari kejauhan. Aku tak tahu arah, tak ada siapapun, aku bahkan berpikir jika aku mungkin akan mati dimakan binatang buas didalam hutan."


"Siapa yang menyelamatkanmu?"


"Pemburu babi hutan."


"Benarkah?"


"Ya, hampir aku dikiranya babi hutan."


"Kau memang mirip babi hutan. Ah rasanya aku ingin tertawa tapi aku sedang bersedih."


"Tertawa saja jika kau ingin."


"Nanti saja, lalu bagaimana selanjutnya?"


"Aku dibawa ketempatnya, sebuah desa kecil dipinggir hutan. Diobati dengan obat-obat tradisional, kau tahu jika banyak tulangku yang patah. Terutama di bagian wajah, kau tahu tulang hidungku bahkan retak dan bergeser entah kemana."


"Galeh, aku benar-benar tak percaya. Bagaimana bisa aku tak mengenalimu waktu itu?"


"Banyak berubah bukan?"


"Ya, sangat berbeda, kau melakukan operasi?"


"Ya, karena kerusakan beberapa tulang wajah membuatku harus melakukan operasi."


"Mmm, dimana kacamata berbingkai tebal yang selalu menemani selama ini?"


"Aku bukan Galeh yang dulu, aku tak akan memakainya lagi."


"Kupikir kau akan memakainya seumur hidup."


"Semuanya berubah, akupun hampir lupa jika aku pernah hidup sebagai Galeh."


"Benarkah?"


"Ya, peristiwa waktu itu membuat perubahan besar dalam hidupku, terdengar seperti dongeng ataupun drama di televisi namun itu benar-benar terjadi pada hidupku. Aku sempat trauma beberapa waktu, cedera di kepala membuatku melupakan beberapa bagian ingatan dimasalalu. Tapi ada satu bagian yang sama sekali tak terhapus dari memoriku."


"Apa itu?"


"Semua tentangmu."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2