
Pagi itu matahari sudah menunjukan sinarnya, perlahan kehangatannya mengikis embun yang membasahi daun. Dicky bangun kesiangan pagi ini, badannya terasa remuk dan lelah. Karena ulah calon kakak ipar tidak tahu malu, yang sudah menumpang tidur, eh menyusahkan juga.
Flashback on
Semalam udara sangat dingin, angin bertiup sangat kencang, dua warung yang berada tak jauh dari rumahnya sudah tutup, jadi terpaksa Dicky harus berjalan lebih jauh lagi untuk menuju satu warung yang biasanya buka sampai larut malam.
Dengan langkah lelah dan tubuh yang gemetar karena angin, Dicky terus melangkah seraya mengusap telapak tangannya, untuk memberikan sedikit rasa hangat di tubuhnya. Karena tadi dia berangkat dengan tergesa, dia sampai lupa untuk mengenakan jaket, alhasil dia kedinginan sekarang.
Kamu kuat Dicky, ini demi Alana, ya demi Alana !!. batin Dicky menguatkan diri sendiri, terlebih warung yang Dicky tuju melewati rumah Alana, membuatnya sedikit bersemangat meskipun hanya melihat rumahnya.
Langkah Dicky semakin cepat, ketika melihat lampu dari kejauhan menyala, semakin dekat, perasaannya sangat senang dan lega, matanya berbinar melihat sinar itu semakin dekat.
Baru kali ini aku begitu bahagia melihat warung ini !!
" Bu, ada mie goreng,?" tanpa basa-basi bertanya
" Bentar ya Ky, cari dulu," Dicky punya menunggu, sambil memainkan jajanan yang tergantung di depan warung, tak lama Dicky melihat sang ibu pemilik warung kembali mendekat, dengan tangan kosong.
Deg... " Please Bu, jangan bilang mie nya habis."
" Duh Ky, mie gorengnya abis !"
" Yah Bu, emang gak ada gitu satu aja, kali aja ada yang nyempil gitu Bu."
" Gak ada Ky, kamu sih kemalaman, tadi masih ada lima bungkus, tapi udah di beli semua sama Alana "
" sama Alana Bu ? Alana adeknya kak Yudha ,?" tanya Dicky memastikan
" Iya, Alana adeknya Yudha, pacar kam__ " ucapannya terputus tatkala melihat Dicky yang langsung berlari begitu saja, ibu itu hanya menggelengkan kepala, dan bergegas menutup warungnya.
Sedangkan Dicky, dia langsung berlari ke rumah Alana, untuk membeli kembali mie goreng yang sudah di beli Alana di warung tadi. tak lama, Dicky pun sampai di rumah Alana, dia langsung mengetuk pintu beberapa kali sebelum pintu itu di buka oleh Alana.
" Loh Ky, ngapain kamu kesini malam-malam,?" tanya Alana heran, karena tak biasanya Dicky menemui Alana malam hari.
" Jadi gini Lan ceritanya....." Dan mengalirlah cerita tentang kejadian beberapa waktu lalu, dari awal dia pura-pura tidur, Yudha menelpon Alana, ancaman, hingga syarat harus membelikan mie goreng, ceritanya di buat sedramatis mungkin, namun sesekali Dicky melirik raut wajah Alana, takut-takut cerita tentang kakak kesayangannya itu membuat Alana marah padanya, namun setelah cerita selesai, Alana malah tertawa, membuat Dicky heran.
" Kenapa kamu ketawa ?" tanya Dicky
" Kak Yudha gak nelpon kok tadi !"
Kakak ipar sialan, aku balik di tipu, ahhhhhh sabar Ky. batin Dicky seraya mengelus dada
Akhirnya karena kasihan, Alana memberikan dua bungkus mie goreng itu pada Dicky tanpa harus membayarnya. Dicky menerimanya dengan senang, dia pun bergegas pulang, dan langsung menuju dapur, dia memasak kedua mie tersebut untuk dirinya juga pastinya, setelah matang, Dicky membawanya ke kamar untuk di berikan pada Yudha.
Namun saat masuk kamar dengan kedua tangan membawa piring mie goreng. Dicky di hadapkan dengan yang tak suka di lihatnya.
Yudha sudah tidur dengan pulas dan nyaman di kasurnya, membuat rasa iri menjalar di hati Dicky. Perlahan Dicky meletakan kedua piring berisi mie tersebut di atas sofa, namun sepersekian detik mata Dicky melihat secarik kertas ada di atas sandaran sofa tersebut. Rasa marah dan frustasi menghampirinya saat membaca tulisan di kertas itu.
MIE GORENGNYA BUAT KAMU AJA KY, AKU KENYANG UDAH MAKAN MALAM SAMA NARA DAN OM BRAM SEBELUM KESINI...
SELAMAT MAKAN CALON ADIK IPAR.
Dengan tangan gemetar menahan marah dan tatapan kosong, Dicky duduk di tengah-tengah mie goreng yang sudah hampir dingin itu, dia marah dan berteriak dalam hati, dengan terpaksa Dicky memakan semua mie goreng itu, lalu tertidur karena kekenyangan dalam posisi duduk.
Flashback Of
Kini Dicky sudah berada di depan rumah Nara, dia berniat menceritakan semua kelakuan kekasih sahabatnya tersebut. Pintu pagar Nara terbuka, tanpa curiga Dicky masuk begitu saja, saat dia akan meraih knop pintu rumah Nara, dia mendengar suara aneh dari dalam rumah, membuat dia mengurungkan niatnya untuk membuka pintu tersebut.
" Akkhhhh pelan-pelan Kak !"
" Iya...ini pelan kok Ra,"
" Uhhh... sakit banget Kak."
" Tahan ya Ra, ini akan sedikit sakit, tapi nanti bakal enak ko !"
Aduh, lagi ngapain mereka, ya ampun Ra, jangan mau di ancurin sama dia !
" Aaaakkkkhhhhh " suara jeritan Nara membuat Dicky frustasi, tak bisa menahan lagi, dia langsung membuka pintu itu dengan semua kekuatan yang dia punya, karena dia berfikir pintu tersebut di kunci, padahal tidak sama sekali, membuat Dicky terlempar ke dalam karena tenaganya sendiri, dia langsung tersungkur, dengan kening mengenai kaki sofa yang sedang di duduki Nara dan Yudha.
__ADS_1
Brakk
" Auww sakit " Ucapnya sambil mengelus kening, tak lama di pun tersadar, dan langsung mengedarkan pandangannya ke arah Yudha dan Nara yang tengah menatapnya aneh.
" Kalian masih pada pake baju,?" tanyanya polos
" Maksudnya,?" tanya Nara heran
" Aku tadi denger kamu jerit-jerit, akhh sakit kak, pasti kalian lagi macem-macem kan ?" Dicky menatap curiga
" Eh sialan, mikir apaan kamu ?" jawab Yudha gusar, langsung menendang kaki Dicky, membuatnya mengaduh kesakitan
" Maaf kak, kirain aku kakak lagi macem-macem sama Nara, apalagi di luar tadi aku gak liat Vespanya om Bram, takutnya terjadi sesuatu yang 'sangat di inginkan' " ucap Dicky seraya mengibaskan kakinya yang di tendang Yudha tadi.
" Kamu___ "
" Udah diem kalian.!" teriakan Nara menghentikan ucapan Yudha, Nara mengelus pundak Yudha, lalu menggelengkan kepalanya saat Yudha menoleh padanya, seketika emosi yang menyala di mata Yudha hilang seketika, dengan refleks Yudha kembali menyentuh kaki Nara yang keseleo tadi.
Dih...gilaaa, seorang Yudha bisa sangat patuh pada seorang Nara ? Ahhh sepertinya akan ada hujan es di waktu dekat ini. tanpa sadar Dicky menggelengkan kepalanya melihat pemandangan itu.
Di rasa Yudha sudah tidak lagi emosi, Nara mengalihkan pandangannya pada Dicky yang masih berdiri menatap Yudha.
" Ky..!" ucap Nara, menyadarkan lamunan Dicky.
" Eh...iya Ra " jawab Dicky gelagapan, melihat tatapan menyeramkan Nara.
Dih...si Nara ketularan galak !
" Tadi pagi pas lagi lari, aku keseleo, nah tadi aku lagi di pijitin sama kak Yudha, aku jerit-jerit karena sakit, bukan lagi macem-macem "
" Ohhh....gitu, hehe maaf ya Ra, aku cuma panik aja tadi " ucap Dicky cengengesan
" Iya gak apa-apa, makasih ya Ky udah peduli " ucap Nara sambil tersenyum, " duduk Ky, gak pegel apa ?"
" Ehh...iya " Dicky menggaruk pundaknya yang tidak gatal, dia pun memilih duduk di sofa yang bersebrangan dengan Nara dan Yudha.
hening
hening
Kenapa menatapku seperti itu, hey kakak ipar jahat, apalagi salahku sekarang !
" Udah nggak kok Kak...emm aku bikin minum dulu ya buat kalian " Nara pun bangkit, namun saat akan melangkah tangannya di cekal oleh Yudha.
" Gak usah, kaki kamu masih sakit sayang " ucap Yudha lembut, tatapannya begitu tulus
Dihh... kenapa bulu kudukku merinding, saat dia memanggil Nara sayang, ihh geli. batin Dicky
"Gak apa-apa kok, kakiku udah gak sakit, berkat kakak " ujar Nara, seraya mengelus pipi Yudha, membuat pipi itu merona. Melihat itu Dicky memalingkan wajahnya, ingin sekali dia tertawa terbahak melihat wajah Yudha saat ini, namun dia tidak bisa melakukan itu, karena dia masih ingin selamat.
Akhirnya, Nara pun pergi ke dapur untuk membuat sirup segar dengan es batu, dan dia menambahkan lebih banyak es batu pada gelasnya, karena Nara penyuka minuman dingin dan manis, dia juga menyiapkan beberapa cemilan, membuatnya agak lama berada di dapur.
Sementara itu di ruang tamu...
Dicky beringsut mendekati Yudha, setelah memastikan Nara masuk ke dapur, Dicky sengaja meminta Nara untuk menyiapkan sirup dan cemilan untuk mereka. Bukan hanya karena dia lapar, tapi agar dia bisa mencuri waktu untuk berbicara serius dengan Yudha.
" Aku rasa ini sudah cukup Kak !" bisik Dicky, sambil sesekali melihat ke arah dapur, memastikan Nara masih disana
" Apa ?" ucap Yudha acuh, dia lebih fokus menatap foto dirinya bersama Nara dan menempelkannya di buku Diary Nara, seperti yang biasa mereka lakukan bersama akhir-akhir ini.
" Kapan kakak akan meninggalkan Nara ? lebih cepat, lebih baik, agar nanti dia bisa mudah melupakan kakak !"
" Ini belum saatnya Ky " masih fokus menempel foto sambil tersenyum
" Kapan kak ? ini sudah 7 hari, biasanya setelah 3hari kakak akan meninggalkan selingkuhan kakak dan kembali pada kak Lily, apa kakak sudah jatuh cinta pada Nara ? tanya Dicky curiga. Yudha diam, tangannya sudah berhenti bergerak, lalu dia menatap kosong ke depan.
" Ti-tidak !" jawabnya kemudian, dengan ragu dan terbata
" Hmm... benarkah ?" tanya Dicky dengan suara meremehkan " Kalau begitu, aku akan memberitahu Nara tentang Kak Lyli. bahkan kakak merahasiakan keberadaan kak Lily pada Nara, sebelumnya tidak seperti itu " ujar Dicky sambil bersedekap " Apa kakak takut kehilangan Nara, jika dia tahu kalau kakak punya kak Lily ? " tanya Dicky lagi dengan mode serius
__ADS_1
" Tidak sama sekali !" jawab Yudha tegas, namun terlihat guratan ragu di matanya.
" Baiklah, aku akan katakan sekarang !" ujar Dicky menantang " Ra....sin____mmppp "
" Jangan macam-macam ! " ancam Yudha dengan tatapan tajam, dan tangan yang membekap mulut Dicky, setelah terlihat anggukan dari kepala Dicky, Yudha melepas bungkamnya.
Kamu sudah jatuh cinta pada Nara Kak ! bahkan karena Nara, sekarang ini kamu sering memintaku mengangkat telpon dan dari kak Lily dan berbohong jika kamu sedang sibuk, kalaupun kamu yang angkat, pasti ada saja alasanmu untuk menghindar, semoga kamu bisa cepat tegas memilih antara dua orang baik ini. batin Dicky
Tak lama, Nara pun datang dengan sirup dan beberapa cemilan, mereka pun kembali mengobrol, namun Yudha lebih banyak diam di banding tadi, membuat Nara heran, sedangkan Dicky hanya tersenyum penuh arti melihat perubahan sikap Yudha.
Sepertinya dia sedang berfikir !. batin Dicky,
Setelah kenyang, Dicky berpamitan untuk pulang, karena dia sudah berjanji pada Alana untuk bertemu, setelah kepergian Dicky, Yudha masih diam, membuat Nara tak tahan untuk bertanya.
" Kak ? Kakak !!"
" Ehh...iya Ra, kenapa ?"
" Kakak yang kenapa, diem terus dari tadi"
" Aku gak apa-apa Ra,"
" Yang bener ? kalau kakak gak mau bilang kenapa, mending kakak pulang, jangan kesini lagi !" ucap Nara tegas, membuat Yudha gelagapan.
" Ya udah aku cerita, emm sayang, kamu jangan panggil aku kakak dong, ganti pake panggilan yang romantis gitu " Ucap Yudha berbohong, karena tidak mungkin kan dia bilang kalau dia sedang bingung karena ucapan Dicky tadi.
" Jadi kakak cuma mikirin itu dari tadi ?" tanya Nara tak percaya, terlihat dari sorot mata Yudha kalau dia sedang berbohong, namun Nara mencoba percaya
" Iya, beri aku panggilan khusus !"
" Apa ya ?" tanya Nara bingung
" Terserah kamu !"
" Ay....Ay aja ya, simple tapi manis " ujar Nara dengan mata berbinar
" Baiklah aku setuju, aku mencintaimu sayang " ucap Yudha dengan tatapan dan senyuman tulus, seraya menggenggam tangan Nara
" Aku juga mencintaimu Ay, meskipun ini sangat cepat, aku sangat mencintaimu Ay " ucap Nara dengan tatapan tak kalah tulus dari Yudha.
Yudha pun melepaskan genggaman tangannya, lalu menangkup kedua pipi chubby Nara, dan mendaratkan ciuman sayang di kening Nara.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..
.
.
.
.
selamat membaca..
jangan lupa like.... vote...komen ya
di tunggu
__ADS_1