
Dafa memutar kursinya menghadap ke arahku. Tanganku masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dafa berdiri dari duduknya, aku menghentikan aktivitasku karena pria itu menyentuh tanganku yang berada di atas kepalanya. Aku merasakan tanganku di genggam lembut olehnya.
"Grace?"
"Ya?" Aku menatapnya bingung.
"Apa kau mau tahu sedikit rahasiaku?"
"Rahasia?"
"Ya." Dia mengangguk.
"Apa itu?" Aku membulatkan mataku, heran kenapa tiba-tiba pria ini membicarakan tentang rahasia.
"Aku mencintaimu."
Kali ini aku benar-benar membeku mendengarnya, dari sekian banyak kata kenapa harus kata itu yang keluar dari mulutnya. Dan lihat dia bahkan terlihat sangat santai sekali mengatakannya. Berbeda denganku, aku tidak bisa santai sama sekali. Ada jantung yang berdebar dengan cepat dan ada hati yang tiba-tiba menerbangkan kupu-kupu dalam diriku.
"A..apa?" Aku terbata.
"Aku mencintaimu." Dafa berbisik lirih di telingaku mengulangi kata-katanya.
"Apakah benar?"
"Ya." Dafa mengangguk, tangannya menurunkan tanganku dari kepalanya dan terus menggenggamnya erat.
"Dafa, apa kau yakin?"
"Tentu saja." Pria itu menjawab lembut.
Aku juga merasakan perasaan yang sama dengannya tapi bagaimana caranya aku mengatakannya, haruskah kukatakan aku juga mencintainya sekarang? Hei, baru saja aku berpikir untuk menjauhinya tadi kenapa dia malah mengungkapkan cinta padaku. Ayo otak, berpikirlah harus mengatakan apa aku saat ini?.
"Grace?"
"Mmm, ya?"
"Kenapa kau diam?"
"A..aku tidak tahu harus mengatakan apa, aku tidak tahu harus menjawab apa tentang perasaanmu."
"Kau tak perlu menjawabnya sekarang, aku hanya mengungkapkan perasaanku."
"Daf?"
"Ya?"
"Bolehkah aku bertanya padamu?"
"Apa?"
"Apakah kau menyukaiku karena aku mirip dengan kekasihmu yang dulu seperti yang dikatakan Adel?"
"Hei, apa kau memikirkan hal itu?" Dafa tersenyum.
__ADS_1
"Ya, kau mengungkapkan perasaanmu padaku sehingga aku memikirkannya sekarang."
"Grace, kau akan tahu nanti tentang itu, kau akan tahu apakah yang dikatakan Adel benar atau salah." Dafa tersenyum, dia terlihat sangat tenang mengatakannya.
"Bagaimana caranya aku tahu?"
"Akan ada saatnya."
"Aku tak mengerti."
"Jangan terlalu dipikirkan."
"Mmm, Daf."
"Ya?"
"Aku tidak ingin kau mencintaiku hanya karena aku mirip dengan kekasihmu dimasalalu." Akhirnya aku mengatakannya.
"Aku mencintaimu karena dirimu sendiri." Dafa menatapku lembut.
Sekarang aku harus menjawab apa jika dia sudah berkata seperti itu? Bagaimana ini, apakah aku harus pura-pura jual mahal di depannya. Hei, tidak-tidak, buat apa aku sok jual mahal. Jadi apa? aku juga tidak ingin jual murah. Apa yang harus ku katakan sekarang?
"Grace, jangan dipikirkan." Dafa seakan mengerti apa yang ku pikirkan.
Dafa menuntunku untuk duduk di sofa, dia lalu duduk di sampingku. Aku masih tak bisa mengatakan apapun, aku benar-benar telah kehilangan kata-kata saat ini. Jantungku juga tidak bisa di ajak kerjasama, dari tadi dia terus berdetak kencang tak ingin berhenti.
"Daf, apa kau sungguh mencintaiku?" Akhirnya aku dapat berkata kembali, aku mengulangi pertanyaanku entah sudah yang keberapa kali.
"Sungguh." Dafa mengangguk.
"Ya, aku menginginkannya jika kau menerimanya."
"Jika aku tidak menerimanya?"
"Aku takkan memaksa, tapi aku akan terus berusaha." Dafa menatap lembut kepadaku.
Benarkah dia akan berusaha jika aku menolaknya sekarang? Kadang aku berpikir bagaimana rasanya benar-benar diperjuangkan oleh seseorang. Apakah akan seindah drama-drama yang sering ku tonton selama ini? Ataukah akan berakhir menyakitkan seperti hubunganku yang dulu bersama Ethan, huh aku benci mengingat hal itu.
Pria ini selalu terlihat tenang dalam keadaan apapun, tapi dia selalu terlihat khawatir jika menyangkut tentang diriku. Apakah itu bisa di sebut bahwa dia benar-benar mencintaiku? Aku berkenalan dengannya baru beberapa bulan tapi entah kenapa aku merasa sudah sangat dekat dengannya. Apa mungkin karena sifatnya yang selalu peduli terhadapku?
Sekarang apa yang harus ku lakukan setelah tahu dia mencintaiku? Aku merasa senang, tapi entah kenapa aku juga merasa bimbang. Kenyataan bahwa kekasihnya mirip dengan diriku selalu terngiang dipikiranku, entah kenapa aku sangat memikirkannya. Aku benar-benar takut jika Dafa mencintaiku hanya karena alasan kekasih masalalunya. Percayalah, hubungan yang terjalin diatas urusan masalalu yang tak selesai dapat menyebabkan kekacauan dikemudian hari.
"Grace?"
"Ya?" Aku terkesiap.
"Kau melamun lagi?"
"Eh? tidak, tidak." Aku mengibas-ngibaskan tanganku.
"Grace, dengarkan aku."
"Apa?"
__ADS_1
"Kau jangan terlalu memikirkannya, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Kau mungkin selama ini bertanya-tanya arti perhatianku padamu, bukan?"
"Ya." Aku mengangguk.
"Inilah alasannya, aku mencintaimu." Dafa menyentuh lembut bahu Grace.
"Mmm." Aku hanya mengangguk, sepertinya Dafa sungguh-sungguh dengan perkataannya.
"Sekarang sudah semakin malam, kau sebaiknya tidur."
"Sepertinya aku belum bisa tidur." Aku sungguh tidak merasa mengantuk saat ini.
Dafa meletakkan bantal di pangkuannya, lalu dia merebahkanku disana. Hei, kenapa aku menurut saja apa yang dilakukannya. Aku dapat melihat garis tegas wajahnya dari sini. Dia tersenyum ke arahku, sangat manis. Aku baru menyadari pria ini memiliki eye smile, selama ini aku tidak pernah melihatnya saat dia tersenyum. Matanya tidak terlalu sipit tapi kenapa tiba-tiba ada eye smile dimatanya.
"Daf, coba kau tersenyum lagi seperti tadi?"
"Hah? Seperti ini?" Dia tersenyum persis seperti tadi, matanya berbentuk bulan sabit, sangat manis.
"Hei, kau memiliki eye smile, kenapa aku baru melihatnya sekarang?"
"Benarkah kau baru melihatnya sekarang?"
"Ya." Aku mengangguk.
"Apa kau tidak melihatnya selama ini? Padahal aku selalu tersenyum manis kepadamu." Dia mengerutkan kedua alisnya.
"Aku melihat senyum manismu selama ini, tapi tidak dengan matamu." Aku menunjuk matanya sangat dekat.
"Apa sekarang kau mau mencolok mataku setelah tahu aku memiliki mata bulan sabit jika tersenyum?"
"Tidak, tidak." Aku terkekeh.
Aku baru saja menyadari sesuatu saat ini, apa senyum Dafa selama ini tidak mencapai matanya? Apa selama ini dia tak benar-benar ceria seperti yang ditunjukkannya di depanku. Apa baru hari ini dia tersenyum dengan tulus. Apa dia memiliki masalalu yang sulit? Sepertinya iya, aku sering melihat rasa kesepian dimatanya. Haruskah aku membuatnya bahagia kali ini?
Dafa mengelus-elus kepalaku, jika dilihat sekarang aku dan Dafa sudah seperti sepasang kekasih. Padahal jelas tidak, dia baru mengungkapkan perasaannya padaku dan aku dengan gengsiku belum memberikan jawaban apapun kepadanya yang sebenarnya terlihat jelas aku juga mencintainya.
"Apa kau sudah mengantuk sekarang?"
"Sedikit."
"Baiklah, aku akan segera pulang."
Aku bangun dengan malas dari pangkuannya, entah kenapa rasanya aku tak rela. Dafa beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Aku mengikutinya di belakang, cih biasanya dia tidak ingin pulang, kenapa sekarang dia ingin pulang cepat. Huh, kenapa aku merasa sangat kesal, kenapa ya?
Dafa berjalan keluar dari apartemenku, aku menatapnya dari pintu. Dia melambai dan tersenyum kepadaku, senyum yang sama seperti tadi, senyum yang mencapai matanya. Entah kenapa ada perasaan senang melihatnya seperti itu. Aku menatap punggung tegap pria itu yang semakin menjauh.
"Dafa." Aku berteriak kepadanya.
"Ya?" Dafa seketika menengok ke belakang ke arahku.
"Aku juga mencintaimu!" Aku tersenyum dan berlari ke arahnya.
Aku memeluk pria itu tanpa tahu malu, dia terlihat terkejut namun sedetik kemudian dia tersenyum dan membalas pelukanku. Aku merasa benar-benar jatuh cinta padanya saat ini. Ini adalah perasaan yang tidak bisa ku pendam lagi, aku sudah memutuskan untuk mengungkapkannya tak peduli apapun yang akan terjadi didepan nanti yang pasti saat ini aku mencintainya dan dia juga mencintaiku.
__ADS_1
...****************...