
"Ibumu tak pernah bisa lepas dari seseorang dimasalalunya, ibumu tidak pernah bisa mencintai ayah sepenuhnya."
"Ti..tidak mungkin." Aku menganga mendengar setiap kata yang keluar dari mulut ayah.
"Ini terasa sangat pahit bagi ayah, tapi sekeras apapun ayah mencoba, ayah tetap tidak bisa merubah apapun tentang ibumu."
"Ke..kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi diantara ayah dan ibu?" Otakku benar-benar sulit untuk mencerna apa yang ayah katakan.
"Ayah dan ibumu menikah bukan karena sama-sama menginginkannya Dafa. Ayah memang mencintai ibumu, tapi tidak dengan ibumu. Dia tidak pernah bisa merubah perasaannya. Ibumu terus menyimpan cinta untuk seseorang dimasalalunya."
"Tidak mungkin, ayah." Aku merasa sangat tidak percaya, selama ini hubungan mereka baik-baik saja. Keluarga kecil kami terlihat sangat harmonis di setiap waktu.
"Terkadang apa yang kau lihat diantara kami berbeda dengan yang sebenarnya Dafa, kau harus bisa mengerti dan menerima semuanya."
"Ayah, apakah ayah akan melepaskan ibu begitu saja?"
"Ayah sudah berusaha keras untuk ibumu, ini hal yang terbaik untuk kami berdua."
"Apa ayah tidak ingin mempertahankan ibu lagi?"
"Bukan begitu, mempertahankan ibumu hanya membuatnya semakin terluka."
"Bagaimana dengan ayah? apakah ayah juga terluka?"
"Seandainya kau bisa melihat kedalam hati ayah, mungkin kau akan tahu sebesar apa cinta dan luka yang saat ini memenuhinya." Ayah terkekeh pahit menertawakan hatinya sendiri.
"Ayah."
"Dafa, ayah ingin melihat ibumu bahagia. Dia sudah cukup menderita hidup bersama ayah sampai saat ini."
"Tapi ayah."
"Sudahlah, kau tahu semuanya sekarang. Suatu saat jika kau memulai sebuah rumah tangga, pastikanlah bahwa kau dan pasanganmu tidak lagi terikat dengan suatu hubungan masalalu dengan orang lain. Selesaikanlah hubunganmu terdahulu agar kau dan pasanganmu tidak saling menyakiti."
"Ya, ayah." Aku mengangguk, aku sadar betapa masalalu sangat mempengaruhi masadepan kehidupan seseorang.
"Bagaimana? apakah kau sudah memutuskan untuk ikut dengan siapa? Brian pasti sudah memberitahumu kan?"
"Mmm." Aku mengangguk.
"Bagaimana?"
"Biarkan aku berpikir dulu, ayah."
__ADS_1
"Baiklah, setelah seluruh urusan selesai ayah akan kembali ke Thailand secepatnya, jika kau belum bisa memutuskannya kau bisa menghubungi ayah nanti."
"Baik ayah."
"Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu, ambilah keputusan terbaik untuk dirimu, ayah tidak akan memaksakan apapun kepadamu. Maafkan ayah atas semua yang terjadi, Dafa."
"Ya, ayah." Aku kehabisan kata-kata.
"Istirahatlah, ibumu sepertinya tak akan pulang. Dia menghindari ayah, kemungkinan dia menginap di butik."
"Mmm." Aku mengangguk.
"Ayah juga mau istirahat dulu, selamat malam Dafa." Dia tersenyum
Aku mengangguk, ayah beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang kerjanya. Sepertinya dia memilih untuk beristirahat disana daripada ke kamarnya. Aku menatap punggung dan bahu yang selalu tegak itu. Saat ini aku melihat sedikit kerapuhan disana yang selalu berusaha dia sembunyikan. Begitulah ayah, dia selalu berusaha menjadi seseorang yang bertanggung jawab untuk keluarganya. Dia selalu terlihat tegar dalam keadaan apapun, aku tidak menyadari sama sekali jika selama ini dia begitu terluka dengan pernikahan yang sudah berjalan puluhan tahun itu.
Aku juga tidak menyangka jika ibu masih terikat dengan masalalunya. Aku tidak tahu sebesar apa perasaan ibu terhadap seseorang dimasalalu itu hingga dia tidak bisa mempertahankan keluarga kecil kami. Aku merasa sedikit kesal dengan sikap ibu, tapi ayah sudah menyuruhku berjanji untuk tidak membenci siapapun. Aku memutuskan untuk menemui ibu, aku ingin mendengar penjelasan darinya.
Aku melajukan mobil menuju butik milik ibu. Butik besar berlantai dua itu terlihat sepi karena sudah tutup. Aku menatap ke lantai dua, disana lampu terlihat masih menyala menandakan bahwa tempat itu masih berpenghuni. Aku masuk dan naik ke lantai dua, aku memang mempunyai akses bebas untuk memasuki butik ini. Samar-samar aku mendengar suara tangisan ibu dibalik pintu, dan terdengar suara seorang pria bersamanya.
Aku membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Kedua orang yang sedang duduk di sofa itu langsung menoleh ke arahku dengan terkejut. Aku menatap pria itu dengan datar, aku bertanya-tanya dalam hati apakah dia sosok masalalu ibu.
"Bisakah kau keluar sebentar?" Aku menatap ke arah pria itu. Dia mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
"Ibu." Aku duduk di hadapan ibu, tepat di tempat duduk pria tadi.
"Dafa, maafkan ibu." Aku menatap wajah ibu, matanya yang sembab kembali meneteskan air mata.
"Ibu, apakah ini yang terbaik untuk ibu?"
"Maafkan ibu." Hanya itu yang terucap dari mulutnya.
"Ibu, aku tidak bisa memaksakan apapun pada ibu." Aku menatap wajahnya yang sendu.
"Apakah ayahmu sudah menceritakan semuanya?"
"Mmm." Aku mengangguk.
"Ibu tidak bisa terus menyakiti ayahmu, dia laki-laki yang sangat baik."
"Mmm." Ibu, jika kau tahu bahwa ayah adalah laki-laki yang baik kenapa kau tidak bisa menerimanya sama sekali, aku hanya bisa berkata dalam hati.
"Semuanya terjadi begitu saja, perjodohan dan pernikahan yang tidak bisa ibu hindari adalah kesalahan yang menjadi awal semua ini." Ibu terus meneteskan air mata.
__ADS_1
"Ibu."
"Ayahmu selalu memperlakukan ibu dengan baik, tapi ibu tidak bisa melepaskan sama sekali perasaan ibu terhadap seseorang yang sangat ibu cintai jauh sebelum bertemu ayahmu."
"Apa orang yang tadi?"
"Ya." Dia mengangguk.
"Apa kehadiranku di hidup ibu juga sebuah kesalahan?"
"Tidak, kau bukan kesalahan sama sekali. Kau adalah anugerah Tuhan untukku dan ayahmu."
"Mmm." Aku hanya bisa mengangguk kehabisan kata-kata untuk di ucapkan.
"Ibu berharap kehadiranmu menjadikan kami menjadi lebih baik, tapi tetap saja tak berubah. Ibu benar-benar tidak bisa mengendalikan perasaan ibu, Dafa." Ibu terus terisak.
"Apakah ibu selalu bertemu dengan pria itu selama ini?"
"Mmm." Ibu mengangguk.
"Apa ayah tahu?"
"Ya." Ibu kembali mengangguk.
"Hmm." Aku hanya bisa mengangguk untuk kesekian kalinya. Bagaimana bisa ibu melakukan ini semua terhadap ayah.
"Dia selalu menunggu ibu, Dafa. Ibu tidak bisa membohongi perasaan ibu sendiri."
"Kenapa dia tidak bisa meninggalkan ibu agar bahagia dengan ayah? Bukankah salah satu bentuk cinta adalah merelakan? Kenapa dia terus datang ke kehidupan ibu meski tahu ibu sudah memiliki keluarga?" Aku menahan sedikit rasa emosi dihatiku.
"Kami saling mencintai, Dafa. Itulah yang membuat kami selalu kembali, kembali dan terus kembali."
"Hanya itukah alasannya ibu?" Ibu hanya menganguk dan terisak, aku tidak bisa membenci ibu walaupun aku sama sekali tidak bisa menerima alasan yang ibu berikan.
"Maafkan ibu, Dafa. Ini adalah yang terbaik untuk ayah dan ibu. Kami tidak bisa lagi untuk saling memaksakan perasaan."
"Baiklah ibu, semoga keputusan ini bisa membuat ibu bahagia."
"Maafkan ibu, Dafa." Hanya kata itu yang terus diucapkannya. Ibu memelukku dengan erat, aku membalas pelukannya. Walaupun hatiku terasa sakit, tapi dia tetaplah seseorang yang melahirkan dan merawatku dengan penuh kasih sayang.
Aku pamit kepada ibu untuk kembali kerumah. Aku keluar dari ruangan itu tanpa menoleh sama sekali pada seseorang yang sedari tadi menunggu di luar. Aku melajukan mobilku meninggalkan butik ibu, selama diperjalanan perasaanku benar-benar tidak karuan. Rasa sedih, luka, kecewa, semuanya campur aduk di kepalaku.
Akhirnya aku menyadari, seluka apapun hatiku saat ini takkan pernah merubah apapun yang terjadi. Aku memilih untuk menerima semuanya. Ayah dan ibu sudah memutuskan itu semua, mereka pasti sudah memikirkan semuanya dengan baik sebelumnya, hingga akhirnya mengambil jalan ini. Aku terus meyakinkan diri bahwa ini adalah yang terbaik untuk kami bertiga.
__ADS_1
...****************...