
Suara dering handphone yang nyaring mengusik tidur siang Nara, tanpa membuka matanya, dia meraba sisi tubuhnya, mencari benda kotak yang sudah mengganggu tidurnya, setelah mendapat benda yang di carinya, Nara langsung melihat layar benda itu untuk melihat siapa yang sudah mengganggu tidur siangnya.
" Ck... ganggu aja nih orang ! " Ujar Nara saat melihat nama Ikbal tertera di handphonenya, dengan malas Nara menjawab panggilan itu.
" Halloo ! " ujar Nara dengan nada ketus
" Hallo Ra.... kamu lagi apa ? "
" Baru bangun tidur nih, ada apa mas ? " jawab Nara masih memejamkan mata
" Yah .... mas ganggu dong, maaf ya !"
" Hemm "
" Mmm..... ya udah kamu lanjutin aja tidurnya Ra, maaf mas udah ganggu "
" Iya." Nara langsung mematikan handphonenya tanpa mendengar kata-kata terakhir dari Ikbal, Nara berniat melanjutkan tidurnya, namun dia baru tersadar, sudah ada selimut yang menutupi tubuhnya, dan televisi kini sudah tidak menyala lagi. Nara pun mengubah posisinya jadi duduk, lalu dia melihat ke arah luar, Vespa kuno milik sang ayah sudah terparkir di halaman, menandakan ayah sudah ada di rumah sekarang. Nara kembali menggeliat, mengumpulkan nyawanya yang tadi berterbangan entah kemana.
" Udah bangun kamu Ra.. ? " tanya sang ayah berjalan menghampiri Nara, lalu duduk di sofa yang dijadikan tempat tidur Nara tadi, dengan tangan yang menenteng sebuah kotak berukuran sedang.
" Udah Yah barusan," jawab Nara dengan mata yang terus menatap benda yang di bawa sang ayah " Itu apa yah ?," tanya Nara penasaran
" Ini hadiah ! "
" Buat siapa yah ? "
" Buat kamu lah ! " jawab Ayah sambil memberikan sebuah kotak yang di bungkus kertas kado bermotif pelangi, dan di terima Nara dengan mata yang berbinar tak percaya
" Beneran nih Yah ? "
" Iya sayang ! " jawab ayah tersenyum, dengan tangannya yang mengelus lembut rambut putri bungsunya itu.
Tanpa banyak berkata lagi, Nara merobek kertas kado itu dengan sangat cepat, sepertinya rasa penasaran sudah begitu menguasainya. Dengan mata berbinar Nara melihat gambar benda yang terdapat di depan kardus tersebut, benda yang selama ini ingin di miliki Nara, namun karena harganya agak mahal, jadi Nara tidak mengatakan keinginannya itu pada siapapun, mengingat ibunya hanya seorang penjual sembako di kios kecil depan rumah, dan ayahnya hanya seorang pensiunan pegawai negeri, jadi Nara cukup tahu diri untuk tidak meminta sesuatu yang tidak terlalu penting.
" Yah.... ini kan ? " Nara tidak mampu melanjutkan pertanyaannya, suaranya sudah bergetar, matanya berkaca-kaca
" Iya sayang, itu kamera polaroid buat kamu ! "
" Ayah, tahu darimana aku mau ini ? "
" Ayah gak tahu kamu mau itu, cuman ayah liat anak muda seusia kamu banyak yang punya, jadi ayah beliin deh buat kamu ! "
" Makasih ya ayah, Nara sayang ayah ! " ujarnya sambil menghamburkan tubuhnya memeluk sang ayah, dan di balas dengan hangat oleh ayah.
" Ya sayang, ya udah sekarang kamu mandi gih, terus sholat Dzuhur, belum sholat kan kamu ? " perintah ayah saat pelukannya terlepas.
" Oke, siap ayah ! "
" Abis itu langsung makan ya, kamu belum makan dari pagi ! "
" Iya ayahku " Ujar Nara sambil melenggang pergi meninggalkan sang ayah untuk mandi.
Ayah hanya tersenyum sambil menggeleng kepalanya perlahan, tiba-tiba mulutnya menguap, rasa kantuk menyerangnya, sedetik kemudian ayah bangkit dari duduknya, lalu pergi menuju kamar untuk tidur siang.
Setelah membersihkan badan dan sembahyang, Nara pergi ke meja makan yang terletak di dapur untuk mengisi perutnya yang sudah sangat lapar, mengingat sejak pagi perutnya hanya terisi buah nanas hasil kejahatannya dengan Dicky tadi.
Ketika sedang asyik menikmati makanannya, Nara di buat terkejut oleh suara handphone yang dia letakkan dekat piring makannya, dia tersenyum saat melihat nama pemanggil yang tertera disana adalah Dicky.
" Ada apa Ky ? " tanya Nara dengan mulut yang masih mengunyah makanan
" Kamu lagi ngapain sih Ra, ngomong gak jelas gitu ? " tanya Dicky dengan suara memelas seperti menahan sakit
" Lagi makan, kamu kenapa Ky ? sakit ? "
" Iya nih sakit perut, gara-gara nanas haram itu kali ya Ra,"
" Dih buat kamu doang kali haram, aku gak sakit perut tuh, biasa aja ! " ledek Nara
" Sialan ! kesini kamu, obatin aku ! "
" Ih ogah, males banget !, emang ibu kamu kemana Ky,?
" Ibu aku lagi keluar, lagian aku kan makan nanasnya sama kamu tadi, jadi kamu harus tanggung jawab !"
" Loh kok gitu, kan yang nyuruh nyurinya kamu, jadi ya derita tanggung sendiri lah "
__ADS_1
" Ahhh bodo amat, kalo kamu ga kesini kita musuhan ! " Ujar Dicky memutus panggilan teleponnya.
Dasar tukang ngambek !. Nara berdecak kesal
sambil membereskan piring bekas makannya, untung saja makannya sudah hampir selesai tadi, jadi dia bisa langsug menemui Dicky di rumahnya tanpa harus menahan lapar.
Setelah berpamitan pada ayah yang sedang beristirahat di kamarnya, Nara bergegas pergi ke rumah Dicky, tidak lupa dia juga membawa botol berisi air hangat, dan beberapa obat sakit perut, tak butuh waktu lama Nara sampai di rumah Dicky, dia langsung masuk menuju kamar Dicky, disana terlihat Dicky yang meringkuk, menahan sakit di perutnya.
" Sakit banget ya Ky ? " tanya Nara yang saat ini sudah duduk di bibir ranjang, tepat di samping Dicky, yang di tanya hanya mengangguk lemas, bibirnya meringis menahan sakit.
" Minum ini dulu Ky, biar cepet sembuh "
Dicky pun mengubah posisinya jadi duduk, lalu menerima obat dan air dari tangan Nara, dia pun meminumnya.
" Makasih ya Ra." Ucap Dicky
" Santai aja Ky ! " jawab Nara tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar, karena perutnya masih sakit, Dicky meminta Nara untuk melihat siapa yang datang, tanpa berkata Nara bergegas menuju pintu lalu membukanya, setelah pintu terbuka sempurna, Nara melihat seseorang tengah berdiri membelakangi Nara.
" Nyari siapa ya Kak ? " tanya Nara, perlahan orang itu berbalik dan,
Deg
Deg
Deg
Jantung Nara berdetak begitu kencang saat melihat wajah seseorang yang kini ada di depannya, seseorang berpenampilan keren dengan kaos hitam, celana jens robek, dan kalung besi yang.menggantung dari leher hingga perut, Nara terpaku melihat wajah itu. wajah asing yang selalu hadir di mimpinya setiap malam, wajah yang selalu memberikan senyuman hangat di bibirnya, wajah itu kini nyata ada di depannya.
" Siapa itu Ra...? " teriakan Dicky mengrmbalikan lagi kesadaran Nara yang sempat hilang beberapa detik tadi, begitu pun dengan lelaki itu, terlihat wajahnya yang juga sama terkejutnya saat melihat Nara saat ini.
" Ma - masuk kak ! " ajak Nara dengan terbata, sambil memberikan jalan agar laki-laki itu masuk. Lelaki itu mengangguk dan berjalan mengikuti langkah kaki Nara menuju kamar Dicky, kamar yang jaraknya sangat dekat kini entah mengapa terasa sangat jauh dan hening.
" Eh kak Yudha, sini kak, mau ngambil gitar ya ? " tanya Dicky saat Nara dan Yudha sudah sampai di kamarnya
" I-iya Ky ! " jawab Yudha, sepertinya dia juga sama gugupnya dengan Nara
" Bentar ya kak, aku____ "
Apa dia benar nyata ?
Dia benar-benar mirip dengan seseorang yang aku lihat di mimpi !
suaranya pun mirip !
Eh siapa tadi namanya ? dasar bodoh, saking gugupnya aku sampe lupa tadi Dicky manggil apa.
Ya Tuhan jantungku terasa mau copot tadi.
Setelah selesai dengan gumaman di hatinya, Nara mengambil tas kesayangannya, dan mengeluarkan buku diary yang masih bersih belum ada tulisan apapun, dia pun naik ke atas ranjang, memposisikan tubuhnya telungkup, dan mulai menulis.
*Dear diary ..
hari ini aku bertemu dengannya, dia yang selalu ada di mimpiku.
apa itu benar dia ?
atau hanya mirip saja ?
ah entahlah aku juga bingung, tapi apapun itu aku sangat bahagia sekarang, aku merasa udara di sekelilingku terasa lebih ringan untuk aku hidup.
Dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Sebenarnya siapa dia* ?
Nara pun menutup buku diary diarynya, lalu memeluk sambil memejamkan mata, menikmati debaran jantungnya yang masih berdetak dengan cepat hingga saat ini.
🎈🎈🎈🎈🎈🎈
Sementara itu di rumah Dicky, Yudha tengah memegang dadanya, merasakan detak jantungnya yang sedari tadi berdetak begitu cepat, dia diam dengan tatapan kosong.
Wajah itu ?
Apa itu benar dia ?
__ADS_1
Gadis yang selalu hadir di mimpiku ?
Gadis yang detak jantungnya terdengar seperti melodi indah yang hingga saat ini aku masih mencari liriknya.
Apa dia benar nyata
bukan sekedar bunga tidur ?
Hey ! itu tidak mungkin Yudha, itu hanya mimpi, tidak mungkin !. gumam Yudha, sambil mengusap wajahnya kasar, di ikuti gelengan kepala, sedangkan Dicky hanya mengernyit melihat hal itu, dia merasa ada yang aneh, di mulai Nara yang tiba-tiba pergi, dan kini sikap Yudha yang menurutnya aneh.
Kalian kenapa si, aneh begini, aku jadi takut tau ! saking takutnya aku sampai lupa kalau sedang sakit perut. batin Dicky
" Nih kak, gitarnya ! " Ujar Dicky menyodorkan gitar yang dia ambil tadi dari pojok ruangan. kini Yudha sedang duduk di bibir ranjang Dicky.
" Eh iya Ky " jawab Yudha yang masih berperang dengan pikirannya
" Kak Yudha kenapa ? "
" Gak apa-apa Ky "
Hening
Hening
Hening
" Cewek yang tadi siapa Ky ?" ragu-ragu akhirnya bertanya juga
" Oh itu sahabatku, namanya Nara kak ! "
" Oh, dia bukan orang sini kan, aku baru melihatnya hari ini "
" Bukan, dia orang kota sebelah, hanya ayahnya yang tinggal disini sejak 1 tahun yang lalu "
" Siapa ayahnya ? "
" Itu pak Bram, tetanggaku " jawab Dicky sedikit heran atas pertanyaan Yudha " Jangan macem-macem kak, dia sahabatku !"
" Siapa yang mau macam-macam ?" elak Yudha, namun ada rasa yang menggelitik hatinya, sekelebat bayangan Nara muncul di otaknya.
" Kakak minta nomornya Nara Ky !"
" Buat apa Kak ? jangan, inget kakak punya kak Lily !"
" Kasihin gak nomornya ? atau aku suruh Alena buat mutusin kamu !" ancam Yudha
" Kok jadi bawa-bawa Alena sih Kak, jahat amat ! "
" Makanya mana nomor temen kamu itu ! ayo siniin ! " mulai maksa
Sebenarnya aku kenapa, baru kali ini aku begitu menginginkan nomor ponsel perempuan, biasanya kan perempuan yang menginginkanku. batin Yudha
" Tapi kan, bukannya kakak udah janji ya ke kak Lily buat ga selingkuh lagi ! " ujar Dicky
" Ck.." Yudha berdecak, melihat Dicky dengan sorot mata tajam, " Siniin nomornya, atau aku bilang ke Alena buat mutusin kamu sekarang juga ! " ancam Yudha dengan tatapan yang membunuh, membuat Dicky tak bisa berkutik dan bergidik ngeri.
Akhirnya Dicky memberikan nomor ponsel Nara meskipun dengan berat hati, sebenarnya dia tidak mau memberikan nomor ponsel Nara, takut Nara akan di sakiti oleh Yudha, mengingat tidak ada yang bisa menghindar dari pesona sang Casanova yang ada di depannya ini, puluhan gadis sudah menjadi korbannya, andai saja Alena, gadis yang di cintai Dicky bukan adik Yudha, pasti Dicky tidak akan memberikan nomor Nara.
" Thanks ya Ky, aku pergi dulu ! " ujar Yudha berlalu pergi setelah mendapatkan yang dia inginkan, samar-samar terdengar senandung kecil lolos dari bibirnya. Dicky memandang nanar kepergian calon kakak iparnya itu.
Semoga kamu tidak tergoda dengan pesonanya Ra..., meskipun itu kemungkinannya sangat kecil. Batin Dicky
Yudha terus bersenandung kecil, meninggalkan Dicky di kamarnya, hingga saat dia memposisikan gitar di punggungnya, dan menaiki motornya, senandung itu masih terdengar dari bibirnya, saat motornya menyala, Yudha melirik ke belakang, tepatnya ke arah rumah Nara, dengan pagar yang hanya setinggi pinggang orang dewasa, Yudha bisa melihat jendela kamar Nara yang kebetulan posisi kamarnya ada di depan, dan jendelanya terbuka, matanya yang jeli bisa melihat Nara sedang memejamkan mata dengan bibir tersenyum memegang diary di dadanya.
Kenapa rasanya bahagia sekali melihatnya tersenyum.
Rasanya aku ingin memelukmu. batin Yudha
Sedetik kemudian dia tersadar dengan pikirannya, dia menggelenhkan kepala, mencoba menghapus pikirannya tentang Nara, lalu pergi melakukan motor kesayangannya dengan kecepatan tinggi.
Bersambung....
selamat membaca.
jangan lupa vote, like dan komennya ya !
__ADS_1
terimakasih