
Aku menatap keluar jendela ruanganku, terlihat sebuah mobil melambat dan berhenti di depan Grace yang sedang berdiri menunggu di depan kantor. Aku melihat Dafa keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Grace, wajahnya tak berhenti tersenyum, begitu juga dengan wajah Grace. Beberapa tahun terakhir ini aku tidak pernah melihat senyum Grace secerah itu pada seorang pria.
Mereka pergi meninggalkan kantor, aku hanya menatap kepergian mereka dalam diam. Grace sangat jarang pergi dengan seorang pria kecuali dengan Daniel yang sudah dianggapnya saudara, karena itulah aku merasa khawatir dengannya. Aku mengambil ponselku dan menghubungi seseorang.
"Lukas, awasi mereka, jangan sampai terjadi apa-apa pada Grace."
Aku menutup telpon setelah Lukas mengiyakan apa yang kuperintahkan. Aku tahu Grace pernah sangat mencintai Dafa. Grace bahkan pernah memperjuangkan perasaannya sangat lama untuk pria itu. Tapi aku benar-benar khawatir karena pria itu pernah menyakiti Grace.
Grace adalah anak gadisku yang manis, perasaannya sangat lembut dan tulus kepada siapapun. Sejak kecil dia sangat penurut pada kami orang tuanya, dia tumbuh menjadi gadis cantik dengan kepribadian kuat. Dia tidak lemah dan tidak mudah menangis, anak itu selalu kuat menghadapi situasi apapun.
Dia menjadi anak yang sangat mandiri, tidak bergantung pada orang tua dan bisa beradaptasi dengan cepat di lingkungan baru, karena itu banyak orang baik yang berdiri disampingnya. Grace selalu ingin meraih apa yang diimpikannya dengan tangannya sendiri, bahkan dia tidak mau aku terlibat dalam pencapaian cita-citanya, terkadang anak itu konyol pikirku.
Benar saja, dia meraih apa yang ingin diraihnya tanpa campur tanganku. Aku sangat bangga padanya, dia selalu meyakinkan kami agar percaya dengan apa yang dia lakukan. Oleh karena itu sampai sekarang aku sangat mempercayainya. Dia benar-benar anakku yang hebat, aku dan Rose selalu berharap agar dia selalu di kelilingi oleh kebahagiaan.
Hari ini aku melihat Dafa kembali setelah beberapa tahun lamanya, pria itu terlihat semakin dewasa sekarang. Dafa terlihat kembali mengejar Grace yang tidak lagi mengingatnya. Aku sangat menyukai pria itu dulu, sebelum dia menyakiti Grace.
Aku menghela nafas panjang mengingat kejadian waktu itu. Aku memang tidak tahu permasalahan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, yang ku tahu Dafa mengabaikan Grace saat itu. Grace tidak pernah menceritakan apapun kepadaku tentang itu. Dia berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri, aku yang khawatir dengan Grace waktu itu menyuruh Lukas untuk mengawasinya. Lukas memberitahukan kepadaku bahwa setiap hari Grace mengunjungi rumah Dafa, tetapi Dafa tidak pernah menemuinya.
Aku selalu ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Grace waktu itu, tapi ku urungkan karena Grace sama sekali tidak mengungkit tentang masalah itu didepanku. Saat itu aku berpikir bahwa Grace bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap hari aku memperhatikan Grace, wajahnya kadang terlihat murung tapi berubah ceria saat bersamaku. Aku yakin dia berusaha menyembunyikan kesedihannya di hadapanku.
Aku melihat Grace semakin hari semakin kehilangan keceriaannya, terkadang dimalam hari saat aku melewati kamarnya aku mendengar suara kecil tangisan yang tertahan. Sampai di hari yang bahagia, tepat hari wisudanya. Aku dan Rose pulang terlebih dahulu karena Grace akan merayakan kelulusannya dengan sahabat-sahabatnya.
Menjelang sore hari, hujan turun sangat lebat di luar. Suara motor terdengar memasuki pekarangan, aku dan Rose segera keluar menyambut anak itu. Grace memang benar-benar aneh, anak itu sangat suka mengendarai motor yang terkadang membuat ibunya khawatir. Rose panik melihat Grace yang basah kuyup, tapi anak itu malah tersenyum dan sedikit berlari ke arah kami dengan pakaian dan seluruh tubuh yang basah.
Brugg.
Aku dan Rose langsung panik dan menyambar tubuh Grace yang ambruk di lantai, dia tidak bergerak sama sekali. Aku segera menggendong Grace kedalam kamarnya, Rose segera mengganti pakaian Grace yang basah. Grace demam sangat tinggi, aku segera menghubungi Nathanael. Dokter Nat adalah dokter keluargaku, dia yang menangani penyakit Grace selama ini. Aku sangat khawatir dengan keadaan putriku, aku takut penyakitnya menyebar kembali.
__ADS_1
Grace menderita tumor dikepalanya, dia sudah menjalani dua kali operasi, dokter mengatakan tidak bisa mengangkat seluruh tumor dikepalanya sekaligus dengan satu kali operasi karena bisa membahayakan nyawanya. Oleh karena itu operasinya dilakukan dalam jangka waktu berbeda. Selama jeda waktu operasinya dia harus meminum obat penghambat penyebaran penyakitnya itu. Nat yang sedang memeriksa keadaan Grace berbalik ke arahku.
"Sepertinya Grace lupa meminum obatnya."
"Bagaimana bisa, dia tidak pernah melupakannya."
"Sepertinya dia sedang mengalami gejala kecemasan, apa dia sedang ada masalah?" Nat menatapku.
"Ya, akhir-akhir ini aku sering melihatnya murung.
"Hei apa yang membuat anak seceria ini bersedih?, apakah masalah asmara, dia sudah semakin dewasa sekarang." Nat terkekeh.
"Entahlah kemungkinan begitu, bagaimana keadaannya sekarang?."
"Biarkan dia istirahat dulu, aku sudah menyuntikan obat penenang. Dia akan tidur dengan tenang setidaknya sampai esok pagi."
"Besok bawa dia kerumah sakit, aku akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."
Aku mengangguk dan esok harinya aku dan Rose membawa Grace kerumah sakit. Pemeriksaan selesai dan Nat mengajakku ke ruangannya. Aku mengikutinya dan meninggalkan Rose yang sedang menjaga Grace dengan raut wajah sangat khawatir.
"Dia harus melakukan operasi lebih cepat dari jadwal seharusnya."
"Benarkah?"
"Ya, ini operasi terakhirnya, apa kau setuju?"
"Baiklah Nat, lakukan yang terbaik untuk Grace."
__ADS_1
"Kita akan melakukan operasinya di rumah sakitku di Singapura."
"Ya."
"Apa kau siap minggu depan, Wira? Kau juga harus memberitahu Grace dan istrimu."
"Baiklah, aku akan memberitahu mereka."
...----------------...
Aku dan Rose membawa Grace ke Singapura, kami sangat khawatir dengan keadaannya. Aku dan Rose selalu berdoa agar operasi Grace berjalan dengan lancar. Grace adalah anak yang kuat, dia punya semangat hidup yang tinggi, aku yakin dia bisa melewati semuanya. Anak itu bertahan dengan penyakitnya bertahun-tahun tanpa pernah mengeluh sedikitpun, dia selalu meyakinkan kami bahwa dia akan segera sembuh setelah operasinya yang terakhir.
Operasi Grace berhasil, keadaannya sudah stabil namun dia koma. Nat tidak bisa memastikan kapan dia akan bangun, karena semangat hidup seseorang tergantung dirinya sendiri, itu yang diucapkan Nat padaku.
Rose terus meneteskan air matanya melihat keadaan Grace yang masih terbaring tanpa bergerak sedikitpun, sudah berbulan lamanya. Alat-alat penunjang kehidupannya menempel di seluruh badannya. Aku dan Rose saling mencoba menguatkan diri, kami benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangannya.
Rose berteriak memanggil dokter saat dia melihat pergerakan jari-jari Grace. Aku dan Rose sangat bersyukur karena Grace mulai menunjukkan tanda-tanda kesadarannya. Beberapa hari kemudian Grace membuka matanya, aku dan Rose tak kuasa menahan air mata haru, betapa senangnya kami melihat putri kami telah sadar dari tidurnya yang panjang.
Rose memeluk dan menciumi pucuk kepala Grace, dia terlihat benar-benar bahagia. Namun Grace ternyata tidak mengenali kami, dia kehilangan ingatannya dan bahkan kesulitan untuk berbicara. Kalimat-kalimat yang di ucapkannya tidak lengkap dan tidak jelas dan hampir tergagap-gagap.
Rose kembali menangis, tidak tega melihat keadaan Grace. Nat memastikan bahwa Grace akan dapat kembali berbicara dengan normal dalam beberapa waktu karena itu adalah salah satu efek pasca operasi yang di jalaninya, tetapi Nat tidak bisa memastikan ingatan Grace akan kembali lagi. Menurut Nat hal itu tergantung dari kekuatan memori Grace dan tergantung hal-hal atau peristiwa yang akan di tangkap memori itu kembali.
Aku dan Rose memutuskan untuk menetap di Singapura, meninggalkan segala kenangan menyedihkan yang telah terjadi. Biarlah Grace hidup kembali dengan dirinya yang baru, biarlah dia tidak mengingat lagi sesuatu yang berlalu. Sekarang dia sudah sembuh dari sakitnya. Aku tidak menceritakan hal-hal yang menyakitkan padanya, tidak tentang penyakit yang pernah dideritanya dan tidak juga tentang pria itu.
Grace melanjutkan studinya, melewati hari-harinya dengan baik. Setelah lulus dia berhasil masuk perusahaanku dengan usahanya sendiri. Kinerjanya benar-benar bagus hingga dia berhasil mencapai apa yang diinginkannya. Gadis ini benar-benar membuatku sangat bangga.
Setiap hari aku melihatnya tumbuh semakin dewasa, namun dia benar-benar tidak seceria dulu. Dia melalui hari dengan baik namun tidak seperti dulu, aku melihatnya berbeda. Entahlah aku benar-benar memikirkannya dan merasa khawatir. Aku akhirnya berencana menemui Nat untuk memberitahukan tentang keadaan Grace.
__ADS_1
...****************...