
“Jane.” Darren tiba-tiba sudah berada di belakangku.
“Kau tidak tidur?” Aku menoleh ke arahnya.
“Kau sendiri kenapa tidak tidur?” Darren duduk disampingku.
“Aku belum mengantuk.” Aku menjawab sekenanya.
“Jane.”
“Ya?”
“Bagaimana kabarmu?” Dia menoleh padaku.
“Seperti yang kau lihat sekarang.” Aku tersenyum.
“Kau terlihat lebih ceria sekarang, Jane.”
“Kau juga.”
“Jane, bagaimana pria yang sedang dekat denganmu?”
“Apa maksudmu?” Aku menatap heran pada Darren yang tiba-tiba menanyakan tentang pria kepadaku.
“Jangan pura-pura bodoh.” Dia menyentil kepalaku.
“Hei, aku benar-benar tidak mengerti.”
“Pria yang selalu disampingmu.” Dia terkekeh.
“Pria yang selalu disampingku?” Aku menunjuk diriku sendiri.
“Jangan pura-pura berpikir.” Darren terkekeh.
“Darren aku tidak pura-pura, aku benar-benar bingung.”
“Coba kau ingat-ingat siapa pria yang beberapa waktu ini sering bersamamu?”
“Sekretaris Ken?” Aku refleks menjawabnya.
“Itu kau tahu.” Darren tertawa.
“Hei, darimana kau tahu bahwa aku sering bersama dengan sekretaris Ken?”
“Apa yang tidak kutahu tentangmu?"
“Apa kau memata-mataiku?” Aku menatapnya penuh selidik.
“Sedikit.” Dia terbahak.
“Sudah kuduga, pantas saja kau selalu tahu apa yang kulakukan.”
“Jane, aku hanya ingin yang terbaik untukmu.” Darren terlihat serius kali ini.
“Sejak kapan kau peduli padaku?”
“Sejak dulu.” Dia terkekeh.
“Kenapa kau tidak menunjukkan bahwa kau peduli padaku?” Aku merasa sedikit kesal.
“Aku takut kau merasa tidak nyaman, jadi aku memutuskan untuk mengawasimu secara diam-diam.”
“Apa kau menguntit adikmu sendiri selama ini?”
“Ya, bisa dibilang begitu.”
“Kau jahat sekali.” Aku memukul bahunya.
“Kau selalu berpikir bahwa kau bisa mandiri, jadi aku membiarkanmu merasa begitu.”
“Aku memang mandiri.”
“Ya, tapi kadang kau membuat masalah untuk dirimu sendiri.”
“Masalah apa?”
“Terakhir kali kau membuat masalah saat kau terus lari dari Liam, kau menghindarinya seakan kau masih mencintainya.”
__ADS_1
“Kau bahkan tahu masalah itu tanpa kuberitahu.” Aku tersenyum kecut.
“Sudah kubilang aku hampir tahu semuanya.”
“Aku tidak punya perasaan apapun lagi terhadap Liam, aku hanya tidak ingin bertemu dengannya.”
“Baguslah, tiga hari lagi hari pernikahannya, apa kau akan datang?”
“Kau juga tahu hari pernikahannya? Kau benar-benar hebat Darren.”
“Maaf aku tidak memberitahumu, Jane. Sebenarnya dihari pertunangannya keluarga kita diundang, tapi aku tak memberitahukannya padamu.”
“Ya, kau jahat sekali.” Aku menjawab santai, aku tidak masalah lagi dengan hal itu karena aku sudah tidak punya perasaan apapun lagi terhadap Liam.
“Kau tidak marah?”
“Tidak.” Aku menggeleng.
“Maaf, kau harus tahu dari orang lain.”
“Tak apa, aku mengerti.” Aku tersenyum.
“Orang tua Liam tidak mengetahui bahwa kau adalah anak dari keluarga Austin, kau tidak pernah mau memperkenalkan diri sebaga keluarga Austin. Seandainya mereka tahu, mungkin tiga hari kedepan kau yang akan bersanding dengannya." Darren terkekeh.
“Aku tidak ingin dipandang sebatas keluarga Austin, aku ingin dipandang atas diriku sendiri, Darren.”
“Apa untungnya bagimu?”
“Kau lihat keluarga Liam? Dia bahkan tidak menerimaku karena mereka mengira aku bukan dari kalangan mereka. Dari sana aku tahu bagaimana sifat mereka bukan?” Aku tersenyum masam.
“Ya, kau benar, sepertinya mereka keluarga yang terobsesi dengan pangkat dan kedudukan.”
“Ya, itulah mereka.” Aku mengangguk-angguk.
“Jane.”
“Ya?”
“Ku mohon jangan terluka lagi.”
“Aku akan menikah, aku tidak bisa lagi terus mengawasimu, aku harus mengurus keluarga kecilku nanti.” Dia terkekeh.
“Ya, kau akan segera berkeluarga, berhentilah menguntitku.” Aku tertawa.
“Untuk itulah aku harus memastikan kebahagiaanmu terlebih dahulu.”
“Aku sudah bahagia, Darren kau tak perlu khawatir.”
“Apa kau bahagia karena sekretaris itu?”
“Entahlah, sepertinya iya.” Aku tersenyum masam, membayangkan perasaanku yang belum tentu berbalas.
“Hei, baru kali ini kau jujur padaku.” Dia terkekeh.
“Ya, baru kali ini juga kita bisa duduk berbincang seperti ini.”
“Maafkan aku karena tidak bisa menjadi saudara yang sempurna untukmu.”
“Jangan berkata begitu, kau yang terbaik Darren.” Aku tulus mengatakannya.
“Jane, kau tahu aku sangat menyayangimu.” Darren merangkul bahuku.
“Ya, aku juga sangat menyayangimu.” Aku menyandarkan kepalaku ke bahunya.
“Kau tahu aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu?”
“Aku tahu, kau bahkan memukul Liam untukku.” Aku terkekeh.
“Kau mengetahuinya, Jane?”
“Ya, saat itu kau berbohong padaku. Kau mengatakan bertengkar dengan temanmu.” Aku tersenyum.
“Ternyata kau tidak bisa di bohongi.” Dia terkekeh.
“Darren, dulu aku iri dengan teman-temanku karena mereka memiliki saudara yang selalu berada disampingnya. Setiap hari aku selalu mengutukimu karena tidak pernah ada untukku, bahkan yang kita lakukan hanya bertengkar setiap hari.”
“Maafkan aku.”
__ADS_1
“Sekarang aku sangat bersyukur memiliki saudara sepertimu, kau seperti pahlawan bayangan.” Aku terkekeh.
“Kau berlebihan.” Dia tertawa.
“Kau melindungiku tanpa ku tahu, kau ternyata selalu mengawasiku dan memastikan agar aku selalu baik baik saja.”
“Aku menyesal mempercayakanmu pada pria seperti Liam, aku tidak tahu dia ternyata sangat picik.” Darren mengusap lembut bahuku.
“Sudahlah, itu telah berlalu.”
“Maafkan aku.”
“Itu bukan kesalahanmu.”
“Hmmm, jadi bagaimana dengan sekretaris tampan itu?”
“Aku tidak tahu, dia selalu ada saat membutuhkannya. Aku merasa nyaman didekatnya tapi aku tidak tahu perasaannya padaku.”
“Aku yakin dia juga menyukaimu.”
“Aku tak yakin.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu.” Aku menggeleng
“Kau tahu, seorang pria tidak akan mendekati wanita terus menerus jika dia tak menyukainya.”
“Jangan membuatku berharap padanya, Darren.”
“Aku mengatakan yang sebenarnya.”
“Ya, tapi kau tidak bisa menyimpulkannya seyakin itu.” Aku tersenyum kecut.
“Baiklah, kita lihat saja nanti apa yang akan dilakukan sekretaris itu, aku bertaruh dia juga menyukaimu.” Darren terkekeh.
“Jika dia benar-benar menyukaiku kau mau apa?”
“Aku akan mempercayakanmu padanya.”
“Kenapa kau begitu percaya padanya, kau bahkan tak mengenalnya.” Aku tersenyum masam.
“Aku yakin dia pria yang baik.”
“Cih, kau begitu yakin, bagaimana jika dia menyakitiku?”
“Aku bisa menendangnya keluar bumi.” Darren terkekeh.
“Kau konyol.” Aku tertawa.
“Sedikit.” Dia juga tertawa.
“Jadi, kapan kau dan kakak ipar akan menikah?”
“Tiga bulan lagi.”
“Kau akan menjadi seorang suami beberapa bulan lagi.” Aku terkekeh.
“Ya, selama tiga bulan ini aku harus benar-benar memastikan kau bahagia, Jane.”
“Hei, jangan terlalu memikirkan tentangku.”
“Aku tidak bisa, aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menikah setelah kau benar-benar menemukan seseorang yang akan menjagamu menggantikan aku.”
“Aku akan menemukannya segera.” Aku tertawa.
“Berjanjilah.” Darren memberikan jari kelingkingnya, aku menyambutnya.
“Janji.”
Aku dan Darren tidak pernah berbicara sebanyak ini sebelumnya. Aku tidak pernah berpikir bahwa dia sepeduli ini padaku, aku mengira dia tidak pernah menyayangiku. Ternyata apa yang kulihat dengan mata bisa saja tak benar, aku melihatnya tidak pernah peduli namun sebenarnya dia terus mengawasiku. Dia bahkan menginginkan yang terbaik untukku selama ini.
Aku dan Darren terus berbincang hingga tak terasa malam sudah sangat larut. Rasanya aku ingin terus berada dalam rangkulan pria ini, rangkulan hangat dari pria paling tulus setelah ayahku. Aku berharap Darren selalu bahagia seumur hidupnya seperti halnya dia
mengharapkan kebahagiaanku.
...****************...
__ADS_1