Kali Kedua

Kali Kedua
MAKAN SIANG


__ADS_3

"Wah, wah sepertinya hari ini paket lengkap telah datang." Adel tersenyum melihat ketiga pria tampan yang berada di restonya. Dia berjalan pelan menghampiri nereka.


"Tentu saja." Andres membalas senyuman Adel.


"Hei, kalian juga membawa dua gadis?" Adel baru sadar bahwa ada dua wanita yang duduk membelakanginya dihadapan ketiga pria itu.


Seketika Grace dan Jane berbalik menoleh kebelakang. Mereka tersenyum kepada Adel, Adel terhenti sebentar menatap salah satu wanita yang ada di depannya. Namun Ken melambai-lambaikan tangannya pelan dan mengedip-ngedipkan matanya agar Adel menyembunyikan rasa terkejutnya. Seketika Adel sadar dan kembali berjalan menghampiri meja mereka.


"Ini Adel, dia pemilik resto ini. Del, yang ini Grace dan ini Jane. Mereka rekan bisnis kami dari Singapura." Ken langsung memperkenalkan Adel pada Grace dan Jane.


"Oh, ya, ya." Adel mengulurkan tangannya menyalami kedua gadis itu bergantian. Adel berusaha menyembunyikan rasa herannya saat melihat Grace.


"Baiklah, kalian mau pesan apa?" Ken memberikan buku menu pada kedua gadis itu.


"Jadi, siapa yang berulang tahun? Kenapa kalian semua berkumpul disini?" Adel


"Tidak ada yang berulang tahun." Dafa tersenyum masam.


"Lalu?" Adel menatap Dafa.


"Kedua anak ini terus berdebat, mungkin mereka sedang kelaparan, jadi aku membawanya kesini." Dafa menatap ke arah Ken dan Andres.


"Apa kalian masih saja bertengkar?" Adel menatap heran pada kedua pria itu.


"Dia yang mulai." Ken mendengus.


"Kau yang mulai." Andres menyahut.


"Sudah, cukup." Dafa menatap dingin pada mereka berdua.


"Kalian berdua tidak berubah sama sekali." Adel tertawa.


"Memang." Dafa menimpali.


"Hei, jadi dua gadis ini milik siapa?" Adel menggoda ketiga pria di depannya.


"Tidak ada." Grace dan Jane menjawab kompak.


"Bagus!" Andres bergumam pelan.


"Apa katamu?" Ken menatap Andres.


"Apa?" Andres balas menatap Ken.


"Tadi aku seperti mendengarmu bicara." Ken menyelidik.


"Tidak ada." Andres menjawab singkat.


"Kukira diantara kalian ada yang sedang berkencan, ternyata tidak ya?" Adel terkekeh.


"Diamlah, Del." Dafa menatap Adel.


"Kenapa?" Adel


"Kau terlalu banyak bicara." Dafa.


"Sudahlah, Del ini pesanan kami." Ken memberikan catatan menu pesanan mereka. Adel memanggil pelayannya dan memberikan catatan itu pada mereka.

__ADS_1


"Hei, Grace, Jane. Apa kalian betah menjadi rekan bisnis mereka?" Adel menatap ke arah dua gadis disampingnya.


"Ya." Grace mengangguk


"Apa kalian tahu sifat mereka berdua bagaimana?"


"Sedikit." Grace mengangguk lagi, Jane juga ikut mengangguk.


"Semua sifat tegas dan berwibawa mereka hanyalah pencitraan, aslinya begini." Adel menatap Grace dan Jane, mereka berdua hanya tertawa kecil menanggapinya.


"Hei, gadis gadis, kenapa kalian menggosipkan kami?" Ken menatap ketiga gadis di depannya.


"Kami tidak menggosipkan kalian, kami membicarakan fakta." Adel


"Cih, sama saja." Ken mendengus.


"Del, apa kabar si produser musik?" Andres menatap Adel


"Baik." Adel mengangguk


"Apa kalian masih bersama." Andres mengernyitkan kedua alisnya.


"Ya." Adel mengangguk.


"Sepertinya mereka sudah merencanakan pernikahan." Ken terkekeh.


"Ap kau rela di langkahi gadis ini, Daf?" Andres tertawa.


"Terserah saja." Dafa hanya tersenyum masam.


"Ya?" Grace.


"Apa kau tahu bahwa rekan kerjamu ini sedang menunggu kekasihnya yang menghilang?" Adel menunjuk Dafa.


"Benarkah? Aku tidak tahu." Grace menggeleng.


"Ya, dia tidak bisa move on sampai saat ini." Adel memasang muka serius.


"Kemana menghilangnya gadis itu?" Grace


"Entahlah, dia tidak bisa menemukannya." Adel


"Benarkah?" Grace


"Ya, dan kurasa wajah gadis itu sedikit mirip dengan wajahmu." Adel menatap wajah Grace.


"Del, hentikan." Dafa menatap tajam ke arah Adel, Adel hanya cengengesan membalas tatapannya.


"Mmm, ternyata banyak juga orang yang mirip denganku." Grace terkekeh.


Tidak berselang lama datanglah menu pesanan mereka. Mereka mulai menyantap makanan masing-masing tanpa banyak bicara. Adel lebih banyak memperhatikan Grace karena dia yakin jika Grace adalah Defina, kekasih Dafa yang lama menghilang. Sedangkan Andres lebih banyak memperhatikan Jane, walaupun dia juga heran dengan Grace namun dia lebih tertarik dengan asistennya.


Ken memperhatikan tingkah Andres yang sering mencuri pandang kepada Jane. Ken dengan perasaan dongkol sudah menyimpulkan bahwa gadis yang di incar oleh Andres memang benar-benar Jane. Ken menganggap bahwa Andres sudah menabuh gendang pertempuran dengannya. Ken merasa kesal ketika mengetahui bahwa Jane dan Andres sudah saling mengenal. Namun Ken belum memahami apa yang sebenarnya dia rasakan.


Dafa sesekali menatap Grace yang sedang makan, dimatanya penuh dengan cinta untuk gadis itu. Dia terus berpikir bagaimana lagi cara yang harus dia tempuh untuk membawa gadis itu kembali kepelukannya. Dafa ingin Grace segera tahu bahwa di hatinya gadis itu duduk di kedudukan tertinggi.


Jane tidak terlalu memperhatikan sekitar, dia lebih fokus untuk menghabiskan makanannya. Jane juga tidak terlalu banyak bicara karena dia memang belum terlalu akrab dengan mereka kecuali Grace dan Ken. Jane bahkan tidak menyadari jika ada beberapa pasang mata sering menatapnya diam-diam.

__ADS_1


Grace terlihat biasa saja, menyantap makanannya dengan tenang sambil sesekali menjawab pertanyaan dari orang-orang yang ada di meja itu. Grace terkadang tak sengaja menatap Dafa yang juga menatapnya sehingga mata mereka sering bertemu. Grace hanya menundukkan pandangannya setelah itu karena merasa sedikit malu, takut dikira terus menatap presdir tampan itu.


Akhirnya makan siang telah berakhir, mereka semua sudah menghabiskan makanan masing-masing. Dafa, Ken, Grace dan Jane bersiap-siap untuk kembali ke kantor, sedangkan Andres juga akan kembali ke kantor cabang. Adel hanya duduk memperhatikan mereka yang sedang sibuk merapikan diri.


"Hei, Dafa, Ken, jangan lupa membayar." Adel tertawa menunjuk ke arah kasir.


"Ya, ya, kau cerewet sekali." Ken mengeluarkan dompetnya.


"Nah begitu." Adel tertawa.


"Aku dan Jane bayar sendiri saja." Grace menimpali.


"Tidak perlu, Grace." Dafa menatap Grace.


"Mmm, terima kasih." Grace menurut.


"Ya, hari ini Dafa yang traktir." Andres menimpali.


"Baiklah, Del kami akan kembali ke kantor." Dafa


"Ya." Adel mengangguk.


"Andres? Apa kau akan langsung kembali ke kantor cabang?" Dafa menatap Andres


"Ya." Andres mengangguk.


"Baiklah." Dafa mengangguk


Keempat orang itu berlalu meninggalkan Adel dan Andres yang saling bertukar pandang. Mereka menatap kepergian keempat orang itu hingga menghilang dibalik pintu. Ada banyak pertanyaan yang datang secara tiba-tiba di kepala mereka.


"Del, apa yang ada di otakmu sama dengan yang sedang ku pikirkan?" Andres menatap Adel.


"Sepertinya iya." Adel mengangguk


"Grace?"


"Tepat." Adel menjentikan jarinya


"Walaupun aku tidak pernah bertemu gadis itu secara langsung sebelumnya, tapi aku yakin gadis itu adalah Defina, gadis yang sama pada foto yang diberikan Dafa kepadaku waktu itu." Andres memegang dagunya seperti sedang berpikir.


"Aku juga sangat yakin, aku bahkan masih menyimpan foto anak itu, sangat jelas dia adalah Defina." Adel mengangguk


"Ya, dari tatapan Dafa sudah pasti gadis itu benar-benar kekasihnya yang menghilang."


"Sepertinya sesuatu telah terjadi pada gadis itu, dia sepertinya tidak mengenali siapapun." Adel menebak-nebak.


"Ya, aku sangat penasaran."


"Aku akan menanyakannya pada Ken nanti."


"Baiklah. Del, sepertinya aku juga harus kembali ke kantor."


"Ya." Adel mengangguk.


Andres akhirnya beranjak dari duduknya dan keluar dari resto milik Adel. Andres harus segera kembali ke kantor cabang, dia teringat ada beberapa hal yang harus dia urus dan diselesaikan. Asisten Andres segera melajukan mobil mereka membelah jalanan menuju ke kantor.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2