
Grace pulang ke Singapura kemarin, baru ditinggal satu hari aku sudah sangat merindukannya. Semenjak Grace kembali kesini rasanya aku tidak bisa lagi jauh darinya. Aku ingin selalu ada di dekatnya, saat dia pergi jauh aku takut dia tidak kembali lagi. Aku memutuskan untuk menyusulnya, aku meminta Ken untuk mengatur jadwal perjalanan bisnis ke Singapura walaupun sebenarnya rencanaku hanya ingin menemui Grace.
Aku dan Ken tiba di Singapura menjelang sore hari, aku langsung menyuruh Ken menuju kantor Eiregin Corp, bukan untuk mengunjungi perusahaan itu tetapi untuk mencari keberadaan Grace. Aku menunggu di depan kantornya, benar saja, tidak lama aku melihat grace keluar dari kantor dan mengemudikan mobilnya meninggalkan kantor. Aku segera menyuruh ken untuk mengikutinya kemanapun dia pergi.
Grace memarkirkan mobilnya disebuah Cafe, aku melihatnya duduk di salah satu meja dekat dinding. Wajahnya terlihat sangat jelas karena dinding Cafe tersebut hampir seluruhnya dari kaca. Aku mengamati Grace dari dalam mobil dia terlihat sedang menunggu pesanannya sendirian. Beberapa saat kemudian pelayan datang membawakan pesanannya, aku melihat Grace menikmati makanannya sendirian, dia tidak memperhatikan kesekelilingnya dan hanya fokus pada makanannya. Tidak berselang lama Grace beranjak keluar dari cafe, dia kembali mengemudikan mobilnya melaju entah mau kemana. Aku langsung menyuruh Ken mengikutinya agar tidak kehilangan jejak mobil Grace.
Grace terlihat berhenti di sebuah toko buku yang lumayan besar, karena tidak bisa mengamatinya dari dalam mobil, aku mengajak Ken untuk ikut masuk kedalam toko buku tersebut. Kami mengamatinya dari jarak aman, beberapa kali aku dan Ken menutup wajah kami dengan buku berlagak sedang membaca karena Grace beberapa kali menengok ke arah kami. Grace cukup lama berada di toko buku,entah buku apa yang dicarinya. Ken sudah mulai bosan menunggu, beberapa kali dia mengeluh kepadaku agar menyudahi kegiatan detektif ini. Hari menjelang malam, Grace keluar dari toko membawa beberapa kantong besar berisi buku-buku yang dibelinya.
Grace melajukan kembali mobilnya di jalanan, dia berhenti dipusat perbelanjaan terbesar dikota. Aku dan Ken kembali mengikutinya memasuki tempat itu. Grace beberapa kali memasuki toko yang berbeda, banyak barang yang dibelinya kali ini, aku dan ken tentu saja terus mengawasinya. Terkadang aku dan Ken menyamar menjadi manekin toko baju jika Grace menengok ke arah kami.
“Daf, ini sudah toko ke dua belas yang kita masuki.” Ken terus menerus mengeluh
__ADS_1
“Tenanglah, Ken, hari semakin malam mungkin sebentar lagi dia akan segera pulang.”
Benar saja, setelah berbelanja bahan makanan Grace berjalan cepat menuju tempatnya memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil kami. Aku dan Ken memasuki mobil mengamati Grace yang sedang menaruh belanjaannya di bagasi. Grace baru saja ingin membuka pintu mobilnya tiba-tiba seseorang menarik tangannya. Aku terkejut melihatnya, pria malam itu kembali mengganggu Grace, aku dan ken terus mengamati mereka.
Aku menajamkan pendengaranku agar percakapan mereka terdengar jelas olehku. Aku beberapa kali mengumpat mendengar pria itu terus memaksa Grace untuk kembali padanya. Grace sepertinya sangat membenci pria itu, dia terus berusaha melepaskan lengannya dari genggaman pria itu. Aku melihat pria itu mulai kehilangan akalnya, pria itu terus mendorong Grace hingga tubuh Grace menabrak kaca mobil. Grace terlihat benar-benar ketakutan saat itu, aku tidak tahan lagi melihatnya dan segera keluar dari mobil. Aku segera menghampiri mereka diikuti oleh Ken dibelakangku.
Pria itu mengumpat saat melihat ku, tapi dia benar-benar kehabisan kata-kata karena aku mengklaim Grace adalah milikku. Aku yakin dia tidak bisa membela dirinya sendiri karena dia jelas salah telah mengganggu kekasih orang.
Grace memintaku berhenti di sebuah taman kota, aku menurutinya dan menghentikan mobil. Grace duduk disebuah kursi taman, aku juga ikut duduk disampingnya. Dia terlihat sangat muram saat ini, aku diam saja memandanginya. Ken memberikan air mineral pada Grace, entah darimana anak itu mendapatkannya. Grace beberapa kali mengucapkan terima kasih padaku, aku mengangguk dan tersenyum menatapnya.
Malam semakin larut, aku mengajaknya untuk pulang. Aku beranjak dari tempat duduk, tangan Grace tiba-tiba mencekal tanganku. Aku menoleh pada Grace, matanya berkaca-kaca menatapku, dia tidak bisa lagi menahannya, Grace mulai menangis sesenggukan. Aku kembali duduk merangkul dan mengusap-usap bahunya lembut mencoba menenangkannya.Dia menangis dibahuku, hatiku terasa sakit melihatnya seperti ini. Aku teringat saat aku menyakitinya dulu, apakah dia juga terluka seperti ini, rasanya hatiku semakin sakit membayangkannya.
__ADS_1
Oh Tuhan, hukum saja aku atas kesalahanku pada Grace dahulu.
Aku melihat Grace sudah mulai tenang, tidak terdengar lagi suara tangisannya, aku melepaskan rangkulan tanganku dibahunya, aku berusaha menahan diri karena takut Grace merasa tidak nyaman. Padahal rasanya aku sangat ingin memeluknya erat saat ini, dan mengatakan aku akan selalu ada untuknya. Tapi aku membuang jauh-jauh harapanku ini, aku harus bersabar hingga saatnya tiba. Aku segera mengajak Grace untuk pulang, aku dan Ken mengantar Grace pulang kerumahnya.
Ibu Grace membukakan pintu, dia terlihat terkejut dan khawatir saat melihat anaknya pulang dengan wajah lesu dan mata sembab. Ibu Grace mempersilahkan kami masuk, dia pergi mengantar Grace ke kamarnya terlebih dahulu. Sesaat kemudian Ibu Grace kembali menemui aku dan Ken. Kami berbincang-bincang sebentar dengannya sebelum akhirnya pamit pulang untuk kembali ke hotel tempat kami menginap.
Ibu Grace jelas masih mengenaliku, karena dulu aku sering bertemu dengannya jika bertamu kerumah Grace atau sekedar meminta izin untuk menjemput Grace. Dulu aku dan Ibu Grace sangat dekat, aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri. Beberapa tahun berlalu dan sekarang aku bertemu dengannya kembali, entahlah rasanya sangat canggung berhadapan kembali dengannya setelah sekian lama.
Aku sangat ingin berbagi cerita kembali dengannya dan aku sangat ingin menanyakan tentang Grace tentang apa yang dilaluinya hingga dia tidak lagi mengenal dan mengingatku. Tapi aku benar-benar kehilangan kata-kata, lidahku kelu tidak bisa mengatakan apapun. Biarlah mungkin suatu saat aku akan mengetahui semuanya pikirku. Aku pulang dengan rasa yang tidak karuan, menghadapi ibunya saja sekarang aku sangat gugup, apalagi jika harus bertemu dengan ayahnya. Aku mencoba memejamkan mataku selama diperjalanan untuk menenangkan kembali pikiranku yang terasa kacau.
...****************...
__ADS_1