Kali Kedua

Kali Kedua
YANG SEBENARNYA TERJADI


__ADS_3

"Grace, apa kau mendengar suara ketukan pintu?" Jane menatap Grace.


"Ya, samar-samar."


"Itu bukan suara ketukan di pintu ruanganku."


"Ya, apa mungkin suara ketukan di ruanganku?"


"Sepertinya iya, pergilah lihat siapa yang datang."


"Baiklah, aku ke ruanganku dulu."


"Ya."


Grace berjalan pelan keluar dari ruangan Jane. Dia terhenti saat melihat siapa yang berdiri di depan ruangannya. Wanita cantik dengan riasan yang lumayan menonjol terlihat tersenyum kepadanya. Grace mendekatinya dan mempersilahkan wanita itu masuk keruangannya.


"Laura, duduklah."


Laura duduk dengan anggun dan menyilangkan kakinya, dia menatap seisi ruangan Grace yang terlihat sangat rapi. Tatapannya berhenti pada Grace yang duduk di sofa depannya. Grace balas menatap Laura yang terus menatapnya.


"Jadi, ada perlu apa kau menemuiku?" Grace akhirnya bertanya.


"Masih tentang hal yang sama." Laura tersenyum.


"Dafa?"


"Tentu saja."


"Ada apa lagi dengan Dafa?"


"Grace, aku ingin mibta bantuanmu."


"Bantuan?"


"Ya." Laura mengangguk.


"Apa itu?"


"Aku ingin bertemu Dafa."


"Kau bisa langsung menemuinya, kenapa kau harus meminta bantuanku?"


"Kau tahu pria tidak ramah yang selalu berada di belakang Dafa? Dia selalu menghalangiku untuk menemui Dafa, entah kenapa dia begitu ikut campur dengan hubunganku. Pria itu sangat dingin, aku tak yakin akan ada wanita yang menyukainya."


"Sekretaris Ken?"


"Ya, siapa lagi jika bukan dia?"


"Jadi?"


"Bawa aku keruangan Dafa sekarang."


Ceklek, pintu terbuka menampakkan wajah pria yang terlihat masam. Pria itu masuk tanpa permisi, wajahnya tampak suram dan begitu tidak suka menatap wajah Laura. Laura sedikit terkejut melihat kedatangan pria yang baru saja di maki-makinya.


"Kau tak perlu mengganggu Grace hanya untuk bertemu dengan Tuan Dafa."


"Apa maksudmu?"


"Tuan Dafa menunggumu diruangannya?"


"Benarkah?" Mata Laura berbinar, seakan ada angin segar yang lewat menyapu wajahnya.


"Ya." Ken berbalik dan keluar dari ruangan Grace.

__ADS_1


Laura bergegas berdiri dan mmebenahi pakaiannya. Mengambil cermin dan memperbaiki riasan wajahnya. Setelah merasa semuanya sudah sempurna, dia langsung keluar dari ruangan Grace tanpa menyapa Grace kembali Grace hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Laura.


Grace kembali ke mejanya, dia tak ingin pergi menyusul mereka sama sekali. Grace tak ingin ikut campur dengan masalah yang terjadi di antara mereka walaupun dia merasa sedikit penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Grace lebih memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya dan tak ingin memikirkan tentang mereka.


......................


"Dafa." Laura tersenyum lebar tak bisa menahan rasa senangnya.


"Apa keperluanmu datang kesini?"


"Dafa, aku hanya ingin meminta kejelasan tentang hubungan kita."


"Sudah kukatakan aku tak pernah merasa menjalin hubungan denganmu."


"Daf, jangan terus berpura-pura."


"Aku? berpura-pura?"


"Ya, katakan padaku apa alasanmu sehingga kau tak mengakuiku sebagai kekasihmu."


"Kekasihku?" Dafa menyeringai.


"Kenapa kau jahat sekali padaku?" Laura tampak sangat sedih, kali ini rasa sedih yang tak dibuat-buat.


"Apa kau benar-benar ingin di akui sebagai kekasih?"


"Ya." Laura mengangguk.


"Apa kau yakin aku adalah kekasihmu?"


"Ya."


"Hmmm, baiklah tunggu sebentar. Ken, bawa dia masuk keruanganku."


"Apa kalian saling mengenal?" Dafa menatap Laura dan pria itu bergantian.


"Ya." Laura berucap.


"Tidak." Pria itu dan Laura berucap bersamaan.


"Lucu sekali, satu mengiyakan, satu lagi berkata tidak." Dafa terkekeh.


"Bukankah kau Rico? Sahabat Dafa yang dulu menemuiku karena diminta oleh Dafa?" Laura menatap pria itu.


"Tidak, aku tak pernah bertemu denganmu." Pria itu menggeleng.


"Tidak mungkin, sangat jelas kau adalah Rico."


"Tidak." Pria itu terus menggeleng.


"Apa maksudmu? Apa kau juga tak ingin mengakui semuanya seperti Dafa tak mengakuiku?" Laura melotot ke arah Rico.


Plok.. plok.. plok.. Dafa berjalan pelan mendekati mereka sambil bertepuk tangan.


"Lucu sekali drama ini." Dafa terbahak, seketika membuat kedua orang itu beralih menatap Dafa. "Kenapa menatapku? Lanjutkan saja perdebatan kalian." Dafa tak berhenti tertawa.


"Apa maksudmu? Apa kau mempermainkanku dengan membawa pria ini?" Laura menatap Dafa.


"Siapa yang mempermainkanmu?" Dafa balas menatap Laura.


"Kenapa kau diam saja? bukankah kau sahabat dekat Dafa?" Laura menyenggol lengan Rico dengan sikutnya.


"Hahahah." Dafa kembali terbahak mendengar perkataan Laura.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau percaya bahwa dia sahabatku?" Dafa tertawa.


"Apa maksudmu?"


"Aku tak pernah mengenalnya, bagaimana bisa aku bersahabat dengannya?" Dafa menunjuk pria itu, dia sudah berhenti tertawa.


"Ba..bagaimana mungkin?"


"Kau seorang model terkenal, tapi kenapa kau sangat bodoh?" Dafa berucap serius.


"A..apa?"


"Bagaimana bisa kau mengira bahwa pria ini adalah aku? Kau tahu dia menipumu dengan cara menyamar jadi diriku, berkencan secara online tanpa pernah saling bertemu. Kau bodoh sekali!"


"Ti..tidak mungkin."


"Ah sepertinya aku terlalu banyak bicara, Ken lanjutkan." Dafa kembali ke meja kerjanya.


"Nona Laura, kau sudah mendengar langsung dari tuan Dafa. Sangat jelas selama ini kau berkencan dengan orang lain, bukan tuan Dafa."


"Rico, apa itu benar?" Laura mencengkram bahu Rico, pria itu hanya diam tak berkata apapun.


"Bajingan, jangan diam saja!" Laura semakin geram.


"Ya, akulah yang melakukan segalanya."


"Kurang ajar, apa tujuanmu sebenarnya?"


"Aku sungguh menyukaimu."


"Apa? Hanya karena kau menyukaiku sehingga kau melakukan semua kebohongan itu?"


"Aku melakukannya karena aku tak punya cara lain untuk mendekatimu."


"Aku takkan pernah menyukaimu, aku bahkan tak mengenalmu sama sekali."


"Kau mungkin tak mengenaliku sekarang, tapi aku sangat mengenalmu."


"Bagaimana bisa kau mengenalku?"


"Aku tahu semua tentangmu, Laura."


"Siapa kau sebenarnya?"


"Bagaimana bisa kau melupakan aku? Apa hanya karena penampilanku berubah?"


Laura menatap wajah Rico dengan seksama, dia mencoba mengingat apakah dia pernah bertemu sebelumnya selain waktu itu. Laura terus menatap Rico hingga akhirnya dia terperanjat, dia mengingat siapa pria itu. Laura mundur beberapa langkah membuat Rico tersenyum.


"Apa sudah berhasil mengingatku?" Rico tersenyum.


"Galeh!" Laura melotot, mulutnya sedikit terbuka.


"Apa aku mirip dengan Galeh?"


"Ya, tapi bukankah Galeh sudah mati?"


"Galeh yang dulu memang sudah mati, yang sekarang adalah Rico." Rico tersenyum.


"Karena kalian sudah tidak ada urusan lagi dengan tuan Dafa, maka silahkan keluar dari ruangan ini." Ken menyela perdebatan kedua orang itu.


Laura tak punya alasan apapun lagi untuk berada disana, dia bahkan merasa sangat malu dengan keadaan dan semua yang terjadi padanya. Bagaimana mungkin dia bisa tertipu dan akhirnya mempermalukan dirinya sendiri. Laura serasa kehilangan harga diri di hadapan Dafa dan Ken, dia bahkan tak berani menatap sedikitpun kearah Dafa. Laura keluar dengan sukarela dari ruangan Dafa, dia mengusap air mata yang keluar begitu saja dari sudut matanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2