Kali Kedua

Kali Kedua
TENTANG LAURA


__ADS_3

Laura menghentakkan kakinya ke lantai berkali-kali, dia benar-benar merasa geram. Beberapa waktu ini dia tidak bisa menemui Dafa, laki-laki yang sangat di kejarnya. Banyak cara yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan pria itu, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil.


Laura adalah seorang model cantik, dia bertemu dengan Dafa pertama kali di acara pernikahan temannya. Dafa sangat menawan saat itu, membuat Laura jatuh cinta pada pandangan pertama. Sejak saat itu Laura berusaha untuk terus mendekati Dafa, tapi dia tidak punya cara sama sekali.


Laura yang bekerja di luar kota akhirnya berhasil mendapatkan nomor Dafa dari seorang temannya. Laura sering menghubungi Dafa lewat telepon, walaupun hanya lewat telepon tapi Laura merasa sangat bahagia. Tidak lama Laura mengungkapkan perasaannya, dia sangat senang karena Dafa juga membalas perasaannya.


Laura beberapa kali mengajak Dafa untuk bertemu, tapi Dafa selalu menolak dengan alasan sibuk. Laura tidak putus asa, dia terus mengajak Dafa untuk bertemu dengan berbagai cara. Akhirnya Dafa setuju untuk bertemu dengannya.


Laura menunggu lama di sebuah kafe sendirian. Dia selalu menatap ke arah pintu masuk berharap Dafa muncul dari sana. Sudah setengah jam berlalu tapi tak ada tanda-tanda kemunculan Dafa. Tiba-tiba seorang pria datang menghampirinya, Laura tidak mengenalnya sama sekali.


"Kau Laura?" Pria itu bertanya.


"Benar, kau siapa?." Laura menatap pria itu dengan bingung.


"Aku Rico, teman Dafa, dia minta tolong kepadaku untuk menemuimu, dia menitipkan ini untukmu." Pria itu menyerahkan buket bunga pada Laura.


"Apa Dafa tidak datang menemuiku?"


"Iya, dia ada urusan mendadak."


"Kenapa dia tidak memberitahuku?"


"Entahlah, mungkin dia sangat sibuk."


"Baiklah, terima kasih."


"Apa aku boleh duduk disini?"


"Oh silahkan." Laura tersenyum.


"Terima kasih." Ucap Rico


"Mmm, apa kau teman dekat Dafa?" Laura bertanya.


"Ya."


"Sedekat apa? bahkan suara kalian terdengar mirip." Laura terkekeh.

__ADS_1


"Sangat dekat." Pria itu tersenyum.


Laura dan pria itu terlihat semakin akrab, mereka menghabiskan makan siang bersama. Bahkan Laura mengajak Rico menemaninya belanja, dia ingin membeli sesuatu untuk Dafa dan menitipkannya pada Rico. Laura terlihat sangat senang hari itu.


Waktu terus berjalan, Laura sangat bahagia saat ada job di kota tempat tinggal Dafa. Laura tidak sengaja bertemu Dafa di sebuah resto, dia langsung menghampiri Dafa dan Ken yang sedang makan siang disana. Dafa dan Ken tentu saja terkejut karenanya.


Dafa mengernyitkan dahinya dan refleks mengibaskan tangan saat Laura menyentuh tiba-tiba lengannya. Laura terlihat terkejut dengan perlakuan Dafa, bukankah mereka sangat dekat walaupun tidak pernah bertemu, pikir Laura. Laura mengira Dafa pura-pura tidak mengenalinya karena mereka berada di ruang publik.


Ken juga sangat bingung dengan apa yang dilihatnya, kenapa ada wanita yang berani menyentuh Dafa. Ken mengingat-ingat wajah Laura, dia ingat wajah itu sering muncul di televisi. Kenapa dia menghampiri dan seolah sangat dekat dengan Dafa, pikir Ken.


...----------------...


Laura ternyata mengikuti Dafa dan Ken ke kantornya. Laura memaksa masuk keruangan Dafa dan menemuinya. Ken yang berada diruangan Dafa semakin bingung dibuatnya.


"Siapa kau?" Dafa mengernyitkan dahinya.


"Kenapa kau pura-pura tidak mengenalku, Dafa?" Laura kesal karena Dafa tetap berpura-pura tidak mengenalnya walaupun sudah tidak berada diruang publik.


"Aku memang tidak mengenalmu." Dafa menatap datar pada wanita itu.


"A..apa maksudmu, aku Laura kekasihmu."


"Ke..kenapa?" Laura membeku


"Ken, bilang pada wanita ini, sejak kapan aku punya kekasih?" Dafa menatap Ken, wajahnya kembali berubah datar.


"Nona, anda harus tahu. Tuan Dafa tidak mempunyai kekasih." Ken menatap Laura.


"Ti..tidak, ini tidak benar." Laura menggeleng.


"Jika anda tidak punya kepentingan lagi, silahkan keluar dari ruangan ini, nona." Ken mengusir Laura secara halus.


"Dafa, kau berbohong, kau pura-pura." Laura masih berdiri ditempatnya.


"Aku tidak berbohong dan tidak berpura-pura." Dafa menjawab datar.


"Katakan yang sebenarnya, Dafa." Laura berusaha mendekati Dafa namun ditahan oleh Ken.

__ADS_1


"Nona, jika anda keras kepala saya akan bertindak tegas." Ken menatap tajam Laura.


Laura tidak bergeming, dia tidak ingin keluar dari tempat itu sebelum mendapat pengakuan dari Dafa. Ken berusaha membujuk Laura dengan halus, dia sebenarnya tidak biasa bersikap kasar dengan wanita. Tetapi Laura benar-benar keras kepala sehingga Ken memerintahkan pengawal untuk segera membawa paksa Laura agar pergi dari ruangan Dafa.


...----------------...


Laura benar-benar merasa sakit hati dengan apa yang di alaminya. Dafa benar-benar tidak mengakuinya, bahkan pura-pura tidak mengenalnya. Dia benar-benar merasa kesal dan marah, namun cintanya pada Dafa mengalahkan semuanya. Laura bertekad akan terus mengejar Dafa agar menjadi miliknya seutuhnya.


Laura berusaha menghubungi Dafa, namun nomornya tidak lagi aktif. Pria itu benar-benar mencampakkannya, Laura membanting ponselnya ke sembarang tempat. Laura merasa sangat kacau saat itu, apa yang salah dengan dirinya hingga Dafa tidak mengakuinya saat berjumpa dengannya padahal hubungan mereka selama ini baik-baik saja. Pria itu bahkan sangat manis setiap berbicara lewat telepon dengannya.


Laura tidak habis pikir dengan apa yang terjadi padanya. Dia adalah wanita cantik, pria yang didekatinya tidak pernah bisa menolak pesonanya. Biasanya dia yang akan meninggalkan pria itu jika sudah merasa bosan, namun sekarang dia yang di campakkan tanpa sebab apapun.


Apa dia mempermainkanku? Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkannya kembali. Batin Laura


...----------------...


Laura berusaha menemui Ken, dia ingin memastikan bahwa semua yang terjadi bukan kesalahannya. Laura beberapa kali mengajak Ken bertemu dengan berbagai macam alasan, namun tidak diindahkan oleh Ken. Kali ini dia berhasil mengajak Ken untuk bertemu, Laura memakai alasan untuk tidak menemui Dafa kembali jika Ken mau bertemu dengannya.


"Ada apa lagi, nona?" Ken menatap wanita yang duduk di seberangnya.


"Ken kau harus percaya padaku."


"Apa?" Ken mengernyit.


"Dafa, dia benar-benar kekasihku."


"Anda bercanda nona." Ken terbahak.


"Aku tidak bercanda Ken."


"Anda jelas salah orang, nona."


"Tidak mungkin." Laura mengepalkan kedua tangannya.


"Baiklah, jika anda bersikeras dengan pendirian anda, silahkan lakukan jika ingin memperjuangkan perasaan anda."


Laura yang seakan mendapat lampu hijau dari Ken mengembangkan senyumnya, dia tidak menyangka sekretaris dingin yang bahkan mengusirnya kemarin mempersilahkannya untuk mendekati Dafa. Dia mulai memutar otaknya untuk mencari bagaimana cara menaklukan pria itu.

__ADS_1


Ken saat itu mengira bahwa Laura adalah wanita yang tepat untuk membuat Dafa sedikit demi sedikit melupakan cinta masalalunya. Ken ingin Dafa mendapatkan kebahagiaannya kembali, karena itu dia membiarkan Laura untuk masuk kekehidupan Dafa tanpa sadar bahwa dia membuat awal kesalahan besar.


...****************...


__ADS_2