Kali Kedua

Kali Kedua
SAHABAT


__ADS_3

Malam itu Grace sedang duduk dibalkon apartemennya, terkadang dia masih belum percaya dengan apa yang di alaminya tentang kehidupannya. Dia tidak menyangka jika ternyata dia lahir dan besar dinegara ini. Grace sudah mendengar semua cerita tentang hidupnya dari Pak Nas.


Tiba-tiba Grace teringat pada pria kemayu pemilik salon yang pernah ditemuinya beberapa waktu yang lalu. Sewaktu mengunjungi rumahnya kemarin, selain foto bersama Dafa, Grace juga melihat banyak foto-fotonya bersama pria itu. Grace mengambil ponselnya, dengan ragu dia memencet tombol panggil, dia ingin menghubungi Maria. Grace ingin menanyakan beberapa hal padanya.


“Halo?” Suara Maria


“Halo.”


“Siapa ini?”


“Mmm, Defina.”


“Hei cantik, apa kau sudah mengingatku sekarang?” Suara diseberang tampak ceria.


“Mmm ya, bisakah aku bertemu denganmu?”


“Bisa sayang, datanglah ketempatku kapanpun kau mau.”


“Baiklah, aku akan kesana sekarang.”


Grace segera keluar dari apartemen, dia pergi ketempat Maria sendirian. Tidak lama dia sudah tiba disalon milik Maria, dia memarkirkan mobilnya didepan salon itu. Grace keluar dari mobilnya dan berjalan pelan memasuki salon, Maria menyambutnya dengan sangat heboh.


“Oh sayang, akhirnya kau mengunjungiku, ayo masuk ikut aku.” Maria menarik lengan Grace meuju keruangan pribadi miliknya, Grace menurut saja.


Maria mempersilahkan Grace untuk duduk di sofa empuk diruangannya. Dia mengambilkan air mineral dan menaruhnya dimeja. Maria kembali duduk diseberang Grace, dia terlihat tampak sangat senang.


“Terima kasih.” Grace tersenyum.


“Defina, sudah sangat lama sekali kita tidak pernah berbicara seperti ini, sebenarnya kemana kau pergi waktu itu?”


“Mmm, maafkan aku Maria, aku sebenarnya juga belum terlalu paham. Aku kehilangan ingatanku sejak beberapa tahun yang lalu, beberapa waktu terakhir ini ingatanku mulai kembali namun hanya sedikit demi sedikit.”


“Oh, pantas saja waktu itu kau tidak mengenaliku sama sekali.” Maria mengangguk-angguk tanda mengerti.


“Aku datang kesini ingin mendengar ceritamu tentangku dimasalalu karena aku belum sepenuhnya mengingat semua memoriku.”


“Baiklah, aku akan menceritakan semua tentang dirimu, kau tahu aku dan kau bersahabat sangat dekat sejak masuk kuliah.” Maria terkekeh.


“Benarkah?”


“Ya, bahkan sebelum kau menghilang kita masih merayakan kelulusan bersama-sama.”


“Maafkan aku yang tidak mengingatmu sama sekali kemarin, Maria.”


“Tak apa, aku senang saat ini ingatanmu sudah mulai kembali.” Maria tersenyum.


“Ya, kemarin aku baru saja mengunjungi rumah lamaku dan aku melihat banyak foto-foto tentang kita.”


“Hmmm, bagaimana degan kekasihmu? Apa kau mengingatnya?”


“Dafa?”


“Tepat, ternyata kau masih mengingatnya.” Maria tersenyum lebar.


“Aku bahkan baru mengetahuinya beberapa waktu yang lalu.” Grace tersenyum masam.


“Benarkah?”


“Ya, setelah pria itu itu mengungkapkan perasaannya untuk kedua kalinya kepadaku.”


“Pria itu memang benar-benar memperjuangkanmu rupanya?” Maria tersenyum cerah.


“Apa kau juga mengenal dekat Dafa, Maria?”


“Tentu saja, pria itu dulu sangat sering menemuiku untuk mencarimu, bahkan dia mengatakan bahwa aku menyembunyikan keberadaanmu.”

__ADS_1


“Benarkah begitu?”


“Ya, dia begitu kehilanganmu Def, kau menghilang tanpa berpamitan dengan kami semua sehingga tak ada yang mengetahui kemana kau pergi.”


“Aku juga tidak tahu apapun Maria, yang kutahu saat aku terbangun aku tidak mengenali siapapun dan tidak tahu dimana aku berada.”


“Oh Tuhan, kau mengalami hal yang berat sayang.”


“Ya, tapi sekarang semuanya sudah berlalu.” Grace tersenyum.


“Kuharap kau selalu baik-baik saja sekarang.”


“Terima kasih, Maria.”


“Jadi selama ini kau berada dimana, Def?”


“Aku di Singapura.”


“Pantas saja kita tidak pernah bertemu sama sekali.”


“Ya, aku baru beberapa bulan berada di negara ini, Maria.”


“Kau tinggal dimana disini?”


"Apartemen XX.”


“Oh ya, aku tahu itu. Aku akan berkunjung sesekali kesana nanti.”


“Ya, kau bisa mengunjungi aku nanti.”


“Aku akan sering megunjungimu nanti.”


Maria dan Grace terus berbincang dengan sangat akrab, mereka terlihat sangat senang. Maria terus saja menceritakan tentang kenangan-kenangan yang pernah mereka lewati dimasalalu. Percakapan mereka terhenti saat terdengar suara ketukan dipintu. Maria beranjak dari duduknya dan membukakan pintu.


“Maria.” Sapa pria itu tersenyum.


“Masuklah, kau pasti mencari tuan putrimu.” Maria mempersilahkan pria itu masuk.


“Dafa?” Grace tampak terkesiap.


“Grace, aku meemukanmu.” Dafa duduk disamping Grace.


“Bagaimana bisa kau tahu aku disini?”


“Perasaanku yang membawaku kesini.” Dafa menaruh tangannya kedadanya sendiri.


“Oh, kau masih saja bertingkah seperti itu rupanya.” Maria terkekeh.


“Sangat konyol.” Grace menatap Dafa.


“Aku merindukanmu.” Dafa meraih tangan Grace dan menggenggamnya erat tanpa melihat situasi, ada seorang jomblo yang mengerucutkan bibirnya menatap dua sejoli didepannya.


“Hei, kau lihat Maria cemberut begitu melihat sikapmu itu?” Grace terkekeh.


“Biar saja.” Dafa tidak menghiraukan Maria.


“Huh, keterlaluan sekali kau Daf.” Maria memasang wajah kesal.


“Kau tahu Grace? Maria masih mengharapkan seseorang yang sangat jelas menolak cintanya.” Dafa terkekeh


“Benarkah?”


“Ya, cintanya bertepuk sebelah tangan.” Dafa terkekeh.


“Daf, jangan meledekku. Kau ingat jika kau dulu lebih menyedihkan daripada aku.”

__ADS_1


“Ya, ya, itu dulu. Lihat sekarang, aku sudah menemukan gadisku kembali.” Dafa semakin mempererat genggaman tangannya.


“Cih, kau sombong sekali.”


“Tapi aku membawakan hadiah untukmu hari ini Maria.”


“Apa itu?” Maria terlihat penasaran.


Seseorang tiba-tiba masuk keruangan, pria tampan yang tersenyum kepada mereka semua. Maria histeris melihatnya, dia langsung menggandeng lengan pria itu dan mempersilahkannya duduk. Pria itu hanya tersenyum kaku menerima perlakuan Maria yang selalu saja begitu terhadapnya.


“Siapa dia?” Grace bertanya pada Dafa.


“Reza.”


“Reza?” Grace tampak bingung.


“Ya, dia sahabat Dafa semasa kuliah, apa kau tidak mengingatnya sama sekali?” Maria menatap Grace.


“Tidak.” Grace menggeleng.


“Kita bahkan sering bersama-sama, namun kau sama sekali tidak mengingatku.” Reza terkekeh.


“Dia pria yang dicintai oleh Maria.” Dafa tergelak mengatakannya.


“Benarkah?” Grace mengulum senyumnya.


“Ya, sampai sekarangpun aku belum bisa melupakannya walaupun dia tidak pernah membalas perasaanku.” Maria tampak cemberut menatap Reza.


“Sudah kukatakan bahwa kau bukan tipeku, Maria.” Reza berucap sambil terkekeh.


“Ya, aku tahu, kau sudah mengatakannya ribuan kali.”


“Relakanlah dia Maria, sekarang Reza akan memiliki kehidupan baru.” Dafa menyela pembicaraan mereka.


“Apa maksudmu?” Maria menatap Dafa.


“Aku akan segera menikah awal bulan depan.”


“Apa?” Maria tampak terkejut.


“Aku diberitahu Dafa bahwa kalian sedang berkumpul disini, aku ingin memberikan ini.” Reza mengeluarkan sebuah gulungan dalam tabung mika berhias pita yang tampak sangat indah dari saku jasnya.


“Undangan?” Maria meraih gulungan itu, dia memasang wajah sedih.


“Ya, kalian harus datang.” Reza tersenyum.


“Reza, kau membuatku patah hati untuk kesekian kalinya.” Maria mendekap gulungan itu.


“Sudah saatnya kau menyerah, biarkan Reza bahagia bersama gadis pilihannya.” Dafa tekekeh.


“Ya, ya, baiklah aku akan merelakanmu, berbahagialah bersama dengan gadis pilihanmu.” Maria tersenyum masam.


“Terima kasih, Maria.” Reza tersenyum.


“Kau murah hati sekali, Maria.” Grace ikut terkekeh walaupun dia tidak mengerti apakah Maria benar-benar menyukai Reza atau hanya bercanda.


“Tentu saja, aku harus ikut bahagia jika dia juga bahagia.”


“Carilah yang lebih baik dari Reza.” Dafa masih terus tertawa.


“Ya, aku akan segera mencarinya.” Wajah Maria berubah cerah.


Mereka terus berbincang dan bercanda hingga malam semakin larut. Malam itu mereka kembali duduk bersama setelah sekian lamanya tidak pernah berjumpa. Mereka terlihat sangat akrab walaupun salah satu diantara mereka masih belum terlalu mengingat kenangan yang pernah terjalin diantara mereka.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2