
Senja baru saja berlalu, aku baru saja selesai mandi. Aku mengeringkan rambut sambil menonton televisi. Aku mengambil ponselku, aku ingin menelepon ayah, ada yang ingin kutanyakan kepadanya.
"Grace?" Suara ayah diseberang.
"Ayah."
"Ada apa sayang?"
"Aku ingin bertanya pada ayah."
"Apa itu?"
"Kenapa ayah membohongiku?"
"Maksudmu?"
"Kenapa ayah tidak memberitahuku yang sebenarnya?"
"Tentang apa?"
"Tentang hidupku."
"Apa kau sudah mengingatnya?"
"Ya, sedikit."
"Maafkan ayah sayang, ayah egois." Aku mendengar suara bisik-bisik ibu di seberang sana.
"Ya, ayah." Bagaimanapun aku tidak mungkin memarahi mereka.
"Ayah tidak berpikir panjang waktu itu."
"Ya."
"Apa kau mengingat semuanya?"
"Tidak, hanya sedikit."
"Baiklah, ayah akan mengirimkanmu alamat."
"Alamat apa?"
"Alamat yang mungkin akan membantumu mengingat semuanya."
"Benarkah ayah?" Aku sangat senang dan merasa seperti mendapat lotre, aku penasaran. Alamat apa yang akan membuatku mengingat semuanya?
"Ya, bukalah pesan yang ayah kirim kepadamu."
Aku segera membuka pesan yang dikirim ayah, alamat lengkap di sertai dengan sebuah foto rumah besar. Aku penasaran, ada apa di dalam rumah itu? Kenapa ayah mengatakan bahwa alamat itu bisa membantuku mengingat semuanya.
"Aku sudah menerimanya, terima kasih ayah."
"Ya, Grace. Sekali lagi maafkan ayah."
"Ya, Ayah. Bukan salah ayah." Aku mengangguk walaupun tak terlihat dari seberang sana.
__ADS_1
"Apakah ada yang kau perlukan lagi sayang?"
"Tidak ayah, aku hanya ingin mengatakan hal itu saja."
"Baiklah sayang, istirahatlah selamat malam."
"Selamat malam ayah." Aku menutup sambungan telepon.
Aku menatap kembali alamat dan foto yang dikirim ayah. Aku sangat penasaran, aku mengambil jaketku dan segera turun ke basement. Aku melajukan mobilku menuju alamat itu. Aku tidak bisa menahan perasaanku untuk segera pergi kesana.
Sekitar dua puluh menit aku sudah sampai di alamat itu, rumah besar yang kelihatannya sangat terawat, entah siapa pemiliknya. Aku mengetuk pintu pagar, seorang satpam membukakan pintu pagar. Sangat aneh, dia tidak bertanya tentang siapa aku tapi dia langsung mempersilahkan aku masuk.
"Silahkan masuk nona."
"Bapak tidak menanyakan tentang siapa saya?" Aku merasa bingung.
"Saya sudah tahu nona, anda sudah ditunggu di dalam."
"Siapa yang menungguku?"
"Masuklah dulu nona."
Bapak satpam itu mengantarku hingga ke depan pintu rumah itu. Seorang pria berumur menyambutku di depan pintu, dibelakangnya berdiri beberapa orang berpakaian pelayan. Pria itu tersenyum ke arahku, senyum yang sangat tulus dan terlihat penuh kasih sayang. Entah siapa pria itu aku juga tidak tahu.
"Nona Defina, silahkan masuk." Pria itu tersenyum kepadaku.
"Bapak siapa? Kenapa tahu nama saya?"
"Perkenalkan saya Pak Nas, saya yang mengurus rumah ini nona. Saya baru saja di beritahu tuan Wira bahwa nona akan kesini, tapi saya tidak menyangka nona akan datang secepat ini." Dia terus tersenyum.
"Ayahku yang memberi tahu?"
Aku akhirnya mengangguk dan masuk kedalam rumah itu, aku terbelalak saat masuk keruang tamu. Aku melihat foto dengan frame besar tergantung di dinding. Foto ayah, ibu dan juga aku yang sepertinya masih berumur belasan tahun.
"Pak Nas."
"Ya, nona?"
"Ini rumah siapa?"
"Ini rumah nona sejak kecil."
Aku melongo, bagaimana bisa ayah menyembunyikan semuanya dariku selama ini. Aku merasa pusing memikirkannya, semuanya masih teka-teki di kepalaku. Aku belum mengingat apapun, apalagi tentang Dafa. Pria itu menyebutkan bahwa aku kekasihnya dulu, drama apa sebenarnya yang terjadi pada hidupku ini.
Pak Nas mempersilahkan aku untuk menaiki tangga, aku menurut saja. Pak Nas berhenti di depan sebuah pintu kamar yang penuh dengan tempelan pernak-pernik. Di dinding itu bertuliskan nama "Defina", sekarang aku yakin bahwa ini kamarku.
"Nona, ini adalah kamar nona."
"Ya." Kan benar kan ini kamarku.
"Silahkan masuk nona, kami tidak pernah merubah apapun dirumah ini, kami hanya membersihkannya saja.
"Pak, ini sunggguhan kan? Ini nyata kan? Aku tidak bermimpi kan?" Aku menatap Pak Nas dengan wajah bodoh.
"Ini sungguhan nona, nona tidak bermimpi." Pak Nas tersenyum sepertinya dia ingin tertawa melihat tingkah konyolku.
__ADS_1
Aku membuka pintu kamar dengan pelan, aku takut dengan sesuatu yang ada di dalam. Bisa saja ini ulah seseorang yang mengerjaiku. Tidak salah kan aku berpikir buruk terlebih dahulu sebelum berpikir tentang pengharapan.
Aku melangkah pelan ke dalam kamar, tidak ada balon-balon, tidak ada ucapan ulang tahun, tidak ada teman-teman yang muncul tiba-tiba sambil bernyanyi lagu selamat ulang tahun. Sangat jelas ini bukanlah kejutan ulang tahun tiba-tiba. Ya, aku berpikir konyol sejak tadi untuk menutupi sedikit rasa kekhawatiranku dengan apa yang ada di dalam kamar ini.
Ternyata apa yang ada di dalam kamar benar-benar mengejutkanku. Suasana kamar khas gadis remaja, dengan hiasan-hiasan bernuansa girly memenuhi kamar ini. Aku menatap kamar ini tampak sangat rapi dan terawat, inikah kamar yang kutempati dulu? Kamar ini tidak seperti kamar yang ditinggalkan lama, padahal sudah bertahun lamanya tidak ditempati.
Aku membuka salah satu pintu, ternyata ruang belajar. Aku benar-benar terkejut, ternyata apa yang dikatakan Dafa memang benar. Aku melihat foto-foto ku bersama Dafa tertempel di mading ruangan ini. Begitu banyak foto kenangan itu, aku bahkan belum mengingatnya sedikit pun.
Aku tersenyum menatap foto foto itu, pria itu terlihat rupawan sejak dulu rupanya. Dia yang sekarang hanya terlihat lebih dewasa dari dulu. Aku mengambil beberapa foto itu dan terus mengamatinya, ternyata aku sangat dekat dengannya. Pantas saja sejak awal aku merasa familiar dengan pria itu.
Aku mengamati seluruh kamar ini, aku berencana untuk menginap disini malam ini sambil sedikit mendengarkan cerita Pak Nas. Ternyata Pak Nas adalah kepala pelayan yang bekerja disini sejak aku kecil. Saat kami pindah sebenarnya dia ikut selama beberapa waktu ke Singapura, namun Pak Nas memilih untuk kembali mengurus rumah ini.
"Saya itu ke Singapura waktu nona sedang koma."
"Benarkah?"
"Ya, rasanya saya tidak sanggup melihat keadaan nona waktu itu, jadi saya memilih untuk kembali kesini walaupun tuan Wira sempat menolak."
"Pak, apakah bapak tahu alasan ayah menyembunyikan semuanya dariku?"
"Yang saya tahu tuan sangat menyayangi nona, tuan tidak ingin nona mengingat masa-masa sulit yang pernah nona lalui disini."
"Masa sulit apa?"
"Saat nona berjuang melawan penyakit yang nona derita."
"Seharusnya ayah tidak perlu melakukannya."
"Begitulah rasa sayang orang tua pada seorang anak, nona. Sebagai anak, kadang apa yang mereka lakukan memang sulit untuk kita terima."
"Ya, sebenarnya aku merasa sulit menerimanya, ini adalah sesuatu yang sangat berpengaruh pada kehidupanku."
"Ya, nona. Saya harap nona mengerti dengan apa yang di lakukan oleh tuan dan nyonya, mereka hanya ingin yang terbaik untuk nona."
"Mmm ya, apa bapak tahu siapa dia?" Aku menunjukkan foto yang tadi kuambil di mading ruang belajar.
"Tuan Dafa." Dia tersenyum.
"Apa dia benar-benar kekasihku dulu?"
"Ya, tuan Dafa sering datang kesini menjemput nona saat berkuliah, kadang dia juga berkunjung kesini. Saya dengar sekarang dia menjadi pengusaha muda yang sangat sukses." Pak Nas terkekeh.
"Ya, tepat sekali pak, dia sekarang sudah semakin dewasa." Aku terkekeh.
"Sudah sangat lama saya tidak bertemu dengan tuan Dafa, dia pernah beberapa kali datang kesini waktu nona sudah pindah, sepertinya dia selalu mencari nona. Saya di beritahu oleh pak Dody yang dulu pernah bekerja mengurus rumah ini untuk sementara."
"Benarkah? Apa saat aku pergi hubungan kami baik-baik saja pak?"
"Saya kurang tahu, nona. Hanya saja sebelum nona pindah Tuan Dafa tidak pernah datang kesini lagi."
"Hmmm, sepertinya hubungan kami memang sedang tidak baik-baik saja saat itu." Aku teringat akan perkataan Dafa tentang kesalahan yang diperbuatnya.
"Saya kurang tahu, nona. Sebaiknya nona istirahat terlebih dahulu, sudah malam, nanti kita bercerita kembali."
"Baiklah pak, saya akan kembali ke kamar."
__ADS_1
Malam ini aku menginap dikamar lamaku, entah kenapa rasanya sangat nyaman. Aku tidur sangat nyenyak tanpa memikirkan apapun lagi. Aku seakan menemukan sedikit serpihan kehidupan masalaluku yang selama ini ku cari-cari.
...****************...