Kali Kedua

Kali Kedua
JANE-CERITA MASALALU (2)


__ADS_3

"Jane."


"Jangan pernah mencoba untuk menemuiku lagi, anggap saja kita tidak pernah bersama sebelumnya."


Aku bangkit dari duduk dan pergi berlalu meninggalkannya. Pria itu bangkit dan mengejarku, dia benar-benar tidak ingin melepaskanku. Dia mencekal lenganku erat dan kembali memohon.


"Jane, ku mohon, ini hanya sebentar. Aku sangat mencintaimu."


"Liam, kau telah memilih pilihan terbaik untukmu."


"Tidak, aku tidak ingin kau pergi."


"Liam, dengarkan aku, gadis itu yang terbaik untukmu. Menikahlah sungguh-sungguh dengannya, jangan pernah menyakiti hati seorang wanita." Aku berkata dengan sangat tenang.


"Jane, ku mohon." Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya karena kutahu dia sudah kehilangan semua alasan.


"Aku sudah merelakan hubungan kita, Liam. Pergilah dengannya, dia gadis yang baik. Jangan kau tambah luka untuk siapapun lagi." Aku berbalik dan meninggalkannya.


"Jane."


Aku tidak lagi menjawab, dia masih mengejarku hingga aku masuk kedalam mobil, dia bahkan terus mengetuk-ngetuk kaca mobilku. Aku tidak lagi menghiraukannya dan segera melajukan mobilku. Aku menatap kaca spion, kulihat dia masih mengejarku hingga laju mobilku tidak lagi terjangkau olehnya.


Aku merasakan setetes buliran bening jatuh dari sudut mataku. Aku tidak menyangka melepasnya dengan cara sesempurna ini, aku tidak meneteskan air mata sama sekali di hadapannya, aku meredam segala emosi yang menggumpal dalam hatiku. Aku benar-benar terlihat tegar dihadapannya, kuharap ini menjadi keputusan yang terbaik dalam hidupku.


Sesampainya dirumah, aku masuk kedalam kamar dan menguncinya. Aku menangis sejadi-jadinya meluapkan segala emosi yang tertahan sedari tadi. Aku membuang semua barang pemberiannya dan foto kenangan kami yang banyak kupajang di dinding kamar. Aku membereskan segalanya hingga tak tersisa. Malam itu aku menangis semalaman hingga aku merasa puas. Aku terbangun dipagi hari dengan perasaan yang lebih baik karena aku sama sekali tidak bisa lagi menangis.

__ADS_1


Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, tidak ada yang berubah kecuali perasaanku terhadap Liam yang sedikit demi sedikit mulai memudar. Luka menjadikanku semakin kuat, aku tidak terlalu bersedih lagi jika mengingat tentangnya. Namun apa yang terjadi, Liam ternyata tidak menyerah begitu saja. Dia masih saja mencariku, menghubungiku, memohon kepadaku untuk kembali padanya.


Setitik ego selalu menghasut diriku untuk menerimanya kembali, namun seluruh logikaku mengingatkan agar aku terus menjauh darinya. Bimbang kurasakan, namun akhirnya aku dapat menjawabnya. Aku lebih memilih logika daripada ego, karena ku yakin logika ku lebih sehat daripada ego.


Sejak saat itu aku menghindar, memblokir nomornya, apa saja kulakukan agar dia tidak lagi menghubungiku. Hingga akhirnya Grace ditugaskan untuk menjalankan proyek kerjasama di Indonesia. Grace mengajakku pergi kesana, tentu saja dengan senang hati aku menerimanya.


Sekarang aku merasa tenang berada disini, karena sangat kecil kemungkinan Liam akan mencariku kesini. Walaupun terkadang nomor-nomor baru yang kutahu pastilah Liam sering menghubungiku. Nomor-nomor tak ku kenal itu tidak pernah ku hiraukan, aku sudah sangat malas untuk meladeninya. Pernah sekali aku menerima panggilan itu karena kukira salah satu dari rekan bisnis, nyatanya itu adalah Liam. Dia tidak berubah sama sekali, terus memohon kepadaku untuk kembali padanya.


Aku bukan tipe seseorang yang egois, sebisanya aku tidak ingin melukai siapapun. Aku tahu bahwa Margareta adalah gadis polos dan baik yang sangat penurut dengan kedua orang tuanya, dia menerima perjodohan karena tidak ingin membuat orang tuanya kecewa. Aku tahu informasi ini bukan karena aku memata-matainya, tapi dari salah seorang temanku yang bertetangga dengannya. Aku tidak mungkin menyakiti perasaan kaumku sendiri hanya karena kesalahan Liam, aku lebih memilih untuk mundur dan merelakan laki-laki yang bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Aku berharap gadis itu bahagia bersama Liam.


Aku mendengar dari teman-temanku di Singapura bahwa dalam waktu dekat Liam akan segera menikah, mereka beramai-ramai mengucapkan rasa berbela sungkawa atas kematian perasaanku ini. Saat ini Liam bahkan masih berusaha menghubungiku di waktu-waktu dia akan menikah, cih dasar laki-laki pecundang. Asal dia tahu saja, aku tidak akan pernah kembali padanya.


Aku memang masih sedikit teringat tentang kenangan-kenangan indah yang pernah terjalin antara aku dan Liam, tetapi entah kenapa aku sudah tidak punya perasaan apapun lagi terhadapnya. Bagaimanapun kenangan itu mungkin akan terus berada di memoriku, setidaknya untuk pengingat bahwa tak semua hubungan indah akan berakhir indah pula.


Banyak yang mengejarku setelah hubunganku berakhir dengan Liam, tapi aku belum bisa sepenuhnya membuka hati untuk siapapun. Bukan karena aku masih terikat dengan masalalu, hanya saja aku masih enggan memulai suatu hubungan kembali. Aku ingin menikmati hidupku terlebih dahulu setelah sekian lama menjalani hubungan yang akhirnya pupus juga.


Banyak hal dan harapan yang harus ku gapai saat ini, hidupku tidak harus melulu tentang cinta dan patah hati. Aku juga tidak sendiri, banyak orang-orang yang menyayangiku berdiri disampingku. Memberikan semangat disetiap detik kehidupanku, aku tahu hal indah akan datang suatu saat nanti. Terlepas dari semua masalalu yang rumit aku yakin bahwa akan ada masa depan yang lebih baik. Aku yakin akan ada seseorang yang menggenggam tanganku dengan tulus nantinya yang pastinya takkan pernah melepaskanku.


Aku tersadar dari segala pikiranku saat ponselku berdering. Aku menatap layar ponsel tertera nama sekretaris Ken. Aku berpikir sebentar, ada keperluan apa dia menghubungi malam-malam begini. Akhirnya aku memencet tombol terima.


"Halo."


"Halo, Jane."


"Ya, ada apa Ken?"

__ADS_1


"Apa kau sudah tidur?"


"Jika aku sudah tidur, siapa yang berbicara denganmu sekarang?"


"Ya, ya, ternyata kau belum tidur." Dia terdengar tertawa di seberang sana.


"Tentu saja." Aku tersenyum walau tak terlihat olehnya.


"Apa kau mau tidur sekarang?"


"Belum, hanya mulai mengantuk saja."


"Mmm baiklah, sebaiknya kau tidur sekarang, Jane."


"Ya, ya."


"Selamat malam, Jane."


"Selamat malam, Ken." Aku mengakhiri sambungan telepon.


Apa aku baru saja mendapat ucapan selamat malam dari sekretaris tampan itu? Apa dia menelepon ku hanya untuk hal sedikit konyol itu? Sempat kukira dia akan mengangguku dengan masalah pekerjaan malam-malam begini, tapi ternyata tidak. Aku tersenyum sekilas mengingat tingkah sekretaris yang satu itu, akhir-akhir ini dia terlihat bertingkah aneh. Aku tidak tahu dia salah minum obat apa saat ini, tapi setidaknya aku tahu bahwa dia adalah seseorang yamg menyenangkan untuk di ajak berbicara.


Aku menatap layar ponselku, melihat Daftar riwayat panggilan malam ini. Daftar nomor panggilan terakhir, nama sekretaris Ken tercetak jelas disana. Aku tersenyum tanpa sadar membaca tulisan tersebut, itulah hal konyol yang ku lakukan saat ini. Aku menepuk-nepuk dahiku saat sadar apa yang terjadi. Aku menaruh ponselku ke atas meja, merebahkan diri dan masuk dalam selimut. Tanpa aba-aba aku terlelap begitu saja hingga matahari pagi mulai menyapa.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2