
Sekretaris Ken? Kenapa pria ini ada dikamarku? Hei bagaimana caranya dia masuk? Apa aku bermimpi?
"Jane."
Ternyata bukan mimpi, dia benar-benar disini.
"Jane, kenapa melamun?"
"Ken, aku mandi dulu." Aku segera melompat dari tempat tidur dan berlari kedalam kamar mandi.
Aku mengunci pintu kamar mandi, huh selamat. Ada apa dengan hari ini? Kenapa tiba-tiba Ken ada disini? Aku menghembuskan napas ke telapak tangan dan mengendus-endusnya. Aku segera pergi ke kamar mandi tadi karena sadar bahwa aku bau, karena kadang aku tidur ileran, haha.
Aku menatap wajahku di cermin, berantakan sekali. Rambut acak-acakan dengan wajah yang juga terlihat berantakan. Ken telah melihatnya, ah kenapa dia selalu menyaksikan keadaanku yang selalu berantakan?
Bagaimana caranya Ken masuk ke apartemenku? Bukankah dia tidak punya kartu akses apartemenku. Ah tak perlu berpikir, sudah pasti nenek sihir yang tinggal di apartemen satu lantai diatasku penyebabnya. Hanya dia yang punya duplikat kartu akses ke apartemenku. Awas kau Grace, kau sudah mempermalukanku di depan kekasihku sendiri. Hiks.
Bicara tentang kekasih, terkadang karena terbiasa sendiri membuat aku lupa bahwa sekarang aku memiliki kekasih. Aku juga tak menyangka akan jatuh cinta secepat itu pada sekretaris yang tak pernah terpikirkan juga jatuh cinta padaku. Bahkan aku terkadang masih tak percaya jika sosok sempurna itu sudah menjadi bagian hidupku walau belum seutuhnya.
Aku terlalu lama menghayal dan meninggalkan Ken yang pastinya sedang menunggu di luar. Aku segera menyelesaikan mandiku dan keluar dari sana. Aku menatap sekeliling kamar, tak ada siapapun tapi aku melihat kamarku rapi. Tempat tidur sudah tidak berantakan, mengingat aku tak punya asisten rumah tangga berarti sudah jelas bahwa Ken yang merapikan dan membersihkannya.
Aku berjalan pelan keluar dari kamar, diruang tengah tak ada siapapun juga, tak terlihat Ken ada disana. Apakah dia pulang? Jahatnya! Dia membangunkanku dihari libur dan tiba-tiba meninggalkanku. Memberi harapan palsu kemudian menjatuhkanku, ah kupikir akan bersamanya lama di hari libur. Hmmm apa dia pergi karena aku terlalu lama di kamar mandi dan dia bosan menunggu?
Tingg.
Aku mendengar suara alat-alat masak bergesekan di dapur, dengan segera aku berlari kecil menuju dapur. Aaaaa, kekasihku masih disini rupanya dan lihat itu dia sedang memasak. Manisnyaaaaa. Aku berusaha menahan rasa senangku agar tidak terlihat terlalu lebay. Ah entahlah, semenjak jatuh cinta aku merasa diriku semakin lebay, biasanya tak ada yang menarik dihidupku setelah banyaknya hal rumit yang terjadi dalam drama percintaanku. Namun sekarang semua tentang Ken selalu menjadi hal yang menarik bagiku.
"Ken, kau sedang apa?" Ya aku hanya berbasa-basi, jelas saja aku tahu dan melihat dengan kedua bola mataku sendiri bahwa dia sedang memasak.
"Memasak untukmu." Ken berkata tanpa menoleh kepadaku, aku berjalan pelan mendekatinya.
"Kau bisa memasak?"
"Tentu saja."
"Rasanya aku tak percaya?"
"Kenapa?"
"Pria sesibuk dirimu kurasa mustahil bisa memasak?"
"Meskipun aku sibuk, aku punya waktu untuk melakukan banyak hal."
"Benarkah?" Aku terus memperhatikannya yang sedang memasak, ya ku akui dia terlihat lihai dalam hal itu.
"Ya."
"Apa yang kau masak? Bukankah itu brokoli dan jamur?"
__ADS_1
"Ya, brokoli dan jamur. Apa kau suka?"
"Aku suka jamur, tapi aku tak pernah makan brokoli." Ya, aku tak pernah tertarik dengan sayur berwarna hijau dengan bentuk rambut kribo itu. Aku bahkan tak pernah mencicipinya dan jelas tak tahu rasanya.
"Hmmm, jika kau tak suka brokoli tak apa. Kau bisa makan jamurnya saja." Ken sekilas menatapku sambil tersenyum.
"Bukan aku tak suka, tapi aku tak pernah mencobanya."
"Jadi kau tidak tahu rasanya brokoli?"
"Ya." Aku mengangguk pasti.
"Kenapa tidak pernah mencobanya?"
"Aku tak terlalu tertarik."
"Lalu sayur apa yang kau suka?"
"Ada satu yang paling aku suka."
"Apa?"
"Wortel."
"Kenapa suka wortel?"
"Tidak tahu." Aku menggeleng.
"Hei apa-apaan? Kita sedang membahas sayur, kenapa tiba-tiba bilang cantik?"
"Kau cantik sekali." Ken menatap wajahku.
"Ken, dasar tidak nyambung, lebih baik selesaikan dulu masak-masak mu." Aku berbalik menyembunyikan rona wajahku dan berjalan menuju meja makan.
Ken tidak menjawab tapi aku mendengar tawa kecilnya, kenapa pria itu? apa dia menertawakanku? Aku menarik kursi dan duduk, aku menatapnya kembali yang masih asik dengan masakannya. Mimpi apa aku hari ini hingga ada seorang pangeran datang ke apartemenku?
Aku teringat saat itu, saat aku terbangun dirumahnya, saat aku mengira terbangun di negeri dongeng. Pertama kali aku mendengar sekretaris Ken berbicara dengan santai, Ken saja yang berbicara santai, aku tidak. Sekarang aku terbangun di tempat sendiri namun benar-benar ada pangeran disini.
Aku memandangi kembali punggung pria itu, dia terlihat masih asik memasak. Aku menghayalkan segala cerita masadepan hanya karena melihatnya memasak hari ini. Aku tersadar saat mendengar suara penanak nasi dan segera menghampirinya.
"Ken? Apa kau memasak nasi juga?"
"Tentu saja. Ah kebetulan sekali, sayur juga sudah matang."
"Hanya makan dengan nasi dan sayur?"
"Tadaaa." Ken menenteng sesuatu seperti rantang.
__ADS_1
"Apa itu?"
Ken mulai membuka satu persatu tutup wadah yang dibawanya. Ada banyak lauk disana, ayam, daging, bahkan telur.
"Ini lauk yang dimasak pelayan dirumah."
"Kenapa kau bawa sebanyak itu?"
"Aku tahu makanmu banyak, kupikir akan memakan banyak waktu jika memasak semuanya dalam waktu bersamaan di tempatmu, jadi aku hanya memasak nasi dan sayur disini."
"Hei aku tak makan banyak, hanya saja tidak sedikit, hehe."
"Sama saja."
"Kau juga makan banyak." Aku tak mau kalah.
"Ya, ya lebih baik kita buktikan siapa yang lebih banyak." Ken menata semua lauk dan sayur di meja, aku hanya membantu mengambil nasi.
"Sekarang makanlah." Ken menaruh beberapa lauk kedalam piringku.
"Baik." Aku mengangguk.
"Aku senang jika melihatmu makan dengan lahap." Ken menyendok sayur dan menaruhnya ke piringku, dipilah-pilihnya antara brokoli dengan jamur, dia hanya menaruh jamur dipiringku.
"Ken, aku mau mencoba brokoli, aku penasaran dengan rasanya."
"Kau yakin?"
"Tentu saja." Aku mengangguk-angguk.
"Baiklah." Ken menaruh beberapa potong brokoli di piringku.
Aku mulai menyendok perlahan brokoli dengan sedikit nasi dan memasukkannya kedalam mulut, mengunyah perlahan kemudian menelan. Mataku berbinar, ah rasanya enak sekali, kenapa baru sekarang aku ingin mencoba sayur kribo ini. Aku menyendok kembali nasi, brokoli dan jamur, terus menerus hingga tak tersisa dipiring.
"Apa enak?"
Aku baru sadar jika sejak tadi Ken memperhatikanku, aku jadi merasa malu karena kepergok makan dengan lahapnya. Ken terlihat tersenyum tipis entah apa yang dipikirkannya.
"Enak." Aku mengangguk.
"Kau suka?"
"Sangat, ternyata kau pintar memasak. Hehe."
"Ayo makan lagi." Ken tersenyum.
Kami akhirnya menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja. Setelah selesai aku melihat Ken mencuci semua piring, gelas dan alat masak yang tadi digunakannya. Aku hanya termangu menyaksikannya, apa pria itu memang pria serbaguna? Dia bahkan bisa melakukan semua hal yang bahkan jarang aku lakukan.
__ADS_1
Hari itu aku menghabiskan waktu libur seharian dengan sekretaris Ken. Sederhana yang kami lakukan, hanya membersihkan seluruh sudut apartemenku. Ternyata melakukan hal melelahkan sekalipun, jika bersama dengannya benar-benar menggembirakan. Aku tersadar bahwa ada yang lebih menyenangkan daripada tidur seharian dihari libur.
...****************...