Kali Kedua

Kali Kedua
LAURA VS GRACE


__ADS_3

"Grace, mau berjalan-jalan denganku sebentar sepulang bekerja?" Dafa menatap Grace yang sedang menghabiskan makan siangnya.


"Mmm, aku sedikit sibuk hari ini Daf, ada yang harus aku kerjakan." Grace beralasan.


"Oh ya?"


"Ya."


"Baiklah, lain kali saja." Dafa mengangguk-angguk.


"Mmm." Grace ikut mengangguk sambil mengunyah pelan makanan dimulutnya. Dia lega karena Dafa tidak menanyakan apa kesibukannya. Dia bingung akan menjawab apa jika Dafa menanyakannya.


"Grace, ada tulang di dagumu."


"Tulang?" Grace mengusap-usap dagunya namun tak ada apapun.


"Itu." Dafa menunjuk dagu Grace.


"Tak ada." Grace menggeleng sambil terus mengusap-usap dagunya.


"Ini tulang." Dafa terkekeh sambil menyentuh tulang dagu Grace.


"Daf, apa kau baru saja becanda?"


"Ya." Dafa mengangguk.


"Daf, kurasa itu tidak lucu." Grace tergelak.


"Hei, itu adalah candaan klasik anak-anak zaman dulu." Dafa tertawa kecil.


"Benarkah? Aku tak tahu."


"Padahal kau yang pertama kali mengajarkan aku tentang candaan itu, huh apa kau benar-benar melupakan semua kenangan kita?" Dafa memasang wajah kesal.


"Hei, melupakanmu bukan keinginanku." Grace tertawa.


"Tapi tidakkah sedikit saja tersisa tentang aku di hati dan otakmu?" Dafa semakin cemberut.


"Daf, walaupun semuanya tak kuingat, tapi sekarang hanya kau yang ada di pikiran dan hatiku."


"Grace, apa kau baru saja menggombaliku?"


"Ya, aku sedang menggombalimu, tapi itu sungguh-sungguh." Grace tertawa kecil.


"Ah senangnya bisa selalu melihatmu dan berbincang kembali seperti ini." Dafa memangku wajahnya dengan kedua telapak tangan, menatap Grace sambil terus tersenyum.


"Hei jangan berlagak menggemaskan begitu." Grace tertawa kecil.

__ADS_1


"Kau cantik sekali."


Dafa terus saja menggoda Grace sepanjang makan siang. Hingga tak terasa waktu makan siang telah berakhir. Grace dan Dafa akhirnya kembali ke kantor, larut dalam kesibukan masing-masing.


...****************...


Grace segera merapikan barang-barangnya dan bergegas keluar dari kantor menuju tempat parkir mobil. Dia meluncur menuju mall, ingin segera menemui Laura. Grace berjalan cepat menuju resto yang disebutkan oleh Laura. Grace memasuki resto dan mencari-cari keberadaan Laura.


Grace menangkap sosok wanita cantik itu sedang duduk disebuah kursi di sudut resto. Seorang pria berdiri dibelakangnya. Laura sedang menatap Grace, mengisyaratkan agar segera menghampirinya. Laura terlihat memakai topi lebar dan kacamata hitam.


"Kenapa kau lama sekali?" Laura mendengus saat Grace sudah duduk didepannya.


"Aku sibuk." Grace menjawab singkat.


"Alasanmu saja."


"Apa kau baru saja pulang dari pantai, ppfft." Grace menahan tawanya.


"Kau mengejekku? Kau tahu bahwa aku adalah model terkenal, jika aku tidak memakai topi dan kacamata hitam akan banyak yang mengenaliku."


"Berpakaian seperti itu menambah perhatian orang lain, tahu. Kenapa kau tidak memakai pakaian simple dan topi biasa saja, kenapa harus memakai topi pantai disini. bukankah itu sangat aneh. Lihat itu, sangat lebar sekali." Grace tertawa kecil menatap topi milik Laura.


"Hei, topi ini bukan cuma untuk dipantai tahu? Sudahlah, mari kita bicara." Laura memutus pembicaraan tentang topi.


"Siapa dia?" Grace menatap pria dibelakang Laura.


"Bukankah kita akan bicara berdua saja?"


"Dia tidak akan mendengarkan."


"Tapi aku tak nyaman melihatnya berdiri disana seperti robot."


"Baiklah. Yos, tunggu diluar." Laura memerintahkan asistennya itu untuk keluar. Dengan patuh pria yang dipanggil Yos itu segera pergi dan menghilang dari sana.


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Grace berucap.


"Aku ingin menceritakan tentang hubunganku dengan Dafa."


"Baiklah, aku akan mendengarkan." Grace mengangguk.


Laura mulai bercerita panjang lebar bagaimana awal pertemuannya dengan Dafa, tentunya dengan bumbu-bumbu cinta yang berlebihan ditaburkan disetiap bagian ceritanya. Laura terlihat sangat senang menceritakan pengalaman indah hubungannya dengan Dafa. Namun diakhir cerita wajahnya berubah suram seiring berakhirnya hubungan mereka, berakhir pula ceritanya. Laura menutup ceritanya dengan menghela nafas panjang menandakan dia memang benar terluka dan bersedih.


"Akhirnya dia meninggalkanku." Wajah suram Laura bertambah suram saat mengucap kata itu.


"Aku turut bersedih dengan apa yang terjadi padamu Laura, tapi ada yang ingin kutanyakan padamu."


"Apa itu?"

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau berhubungan begitu lama namun tidak pernah bertemu?"


"Karena aku sangat percaya padanya. Meskipun tidak pernah bertemu namun kami saling mencintai."


"Dan bagaimana bisa kalian hanya berhubungan lewat sambungan telepon? menurutku itu sangat ketinggalan zaman. Bukankah sekarang teknologi sangat canggih, kalian bisa berhubungan lewat videocall."


"Itu karena dia sangat sibuk."


"Bagaimana bisa kau tahu dia sangat sibuk? Bukankah kau bercerita bahwa kalian sering bertelpon ria selama berjam-jam?"


Laura sejenak terdiam, pikirannya sedikit terbuka setelah mendengar perkataan Grace. Benar apa yang dikatakan Grace, kenapa Dafa tidak pernah meminta untuk berhubungan lewat video call?


"Entahlah, mungkin dia tidak terlalu suka."


"Laura, aku ingin mengatakan satu kemungkinan. Apa kau ingin mendengarkannya?"


"Apa itu?"


"Aku curiga, sepertinya kau berkencan dengan orang lain."


"Tidak mungkin!" Tanpa sadar Laura menggebrak meja membuat Grace terkejut. "Jangan mengada-ada dan jangan seenaknya bicara hanya karena kau kekasih Dafa sekarang."


"Aku kan hanya mengatakan kemungkinan."


"Itu tidak mungkin." Laura emosi seakan mau meledak-ledak, padahal baru saja tadi dia bercerita dengan senang.


"Baiklah." Grace mengalah karena Laura terlihat sangat emosi, dia tidak ingin membuat kegaduhan dengan Laura yang sepertinya sulit menahan emosi.


"Grace, kau jangan terlalu merasa diatas angin. Walaupun kau kekasih Dafa, tapi sampai kapanpun aku akan terus mengejar Dafa hingga dia kembali padaku." Mata Laura tampak berkilat-kilat.


"Terserahlah." Grace sudah mulai malas, tidak terlalu suka tipe wanita seperti Laura yang tidak bisa menempatkan diri dengan baik, wanita itu sangat cepat emosi.


"Kelak kau akan merasakan apa yang terjadi padaku, dicampakkan pria itu." Laura merasa geram, dia meraih tasnya dan pergi keluar dari resto sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal.


"Apa dia baru saja mengutukku? Laura, kau luar biasa." Grace terkekeh bicara dengan dirinya sendiri setelah kepergian Laura.


Bagaimana wanita sekelas dirimu tak sadar bahwa kau ditipu? Apa kau terlalu dibutakan oleh cintamu pada Dafa?


Laura, aku yang tidak terlalu berpengalaman dengan masalah percintaan saja bisa paham hanya karena mendengar ceritamu. Dafa dan kekasih onlinemu itu jelas berbeda, ku tebak pria yang mengaku sebagai Dafa adalah pria yang menemuimu dan mengaku sebagai sahabat Dafa.


Bagaimanapun caramu untuk meminta kepastian dari Dafa kupastikan takkan bisa kau gapai. Aku yakin Dafa tidak ingin bertanggung jawab dengan masalah yang kau buat sendiri. Menyerahlah Laura, jika kau terus berjuang aku pastikan aku juga akan terus berjuang. Bagaimanapun Dafa kekasihku, kau tahu aku sangat menyayanginya.


Grace memilih untuk tetap berada disana, memesan minuman dan beberapa makanan ringan. Sore menjelang petang, Grace masih belum beranjak dari tempatnya, dia larut dalam pikirannya. Memikirkan bagaimana agar Laura tak mengganggunya lagi. Sedikit banyak peran Laura pasti akan mengganggu hubungan mereka.


Grace tak punya ide sama sekali, akhirnya dia memilih menghabiskan makanannya dan keluar dari resto. Grace berjalan cepat menuju parkiran, ingin pulang dan ingin menghubungi Dafa, entah kenapa tiba-tiba dia merindukan pria itu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2