Kali Kedua

Kali Kedua
Mimpi yang terus berulang


__ADS_3

Tak seperti pagi biasanya, pagi ini bukit terasa begitu sejuk dari sebelumnya, namun gadis itu sudah berdiri membelakangi Yudha di tempat biasanya. Perlahan dia berbalik dan tersenyum ke arah Yudha, sedangkan Yudha hanya bisa berdiri terdiam, mematung, dan jantungnya berdetak lebih cepat, matanya tertuju pada gadis asing yang selalu datang hampir setiap hari di hidupnya. Tak terasa gadis itu sudah ada di depannya, dan memeluknya begitu erat.


" Siapa kamu ? " tanya serasaya mencoba melepaskan pelukan gadis itu dari tubuhnya.


" Aku kekasihmu " jawabnya menengadahkan pandangan sesaat, lalu kembali menenggelamkan kepalanya di dada bidang Yudha.


" Tapi___ "


" Rasakan Yudha..... Rasakan debaran jantungku " ucap gadis itu lirih


Yudha pun menurut, dia diam, tapi otaknya tetap menolak pelukan gadis itu, tapi sepertinya tubuh lelaki itu sedang menghianatinya sekarang, buktinya kini tanpa dia sadari, dia mulai membalas pelukan itu, memejamkan mata mencoba mencari kehangatan dalam pelukan itu, terdengar detak jantung gadis itu, merangkai melodi indah di telinganya.


" Aku kekasihmu Yudha, semesta yang mengirimku untukmu, begitupun sebaliknya " Ucapnya lagi


" Tapi katakan, siapa namamu ? " Tanya Yudha seraya melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah gadis yang sedang tersenyum hangat kepadanya.


" Aku__ " Ucapannya terhenti, perlahan dia pergi menjauh, bayangannya semakin menghilang seiring dengan guncangan yang terpusat di bahunya, dan suara perempuan yang di kenalnya terus memanggil namanya.


" Sayang ! Bangun ! " Ujarnya dengan nada kesal. " Yang ih, bangun ! "


Perlahan Yudha membuka matanya, sesekali dia mengerjapkan matanya untuk memperjelas penglihatannya. Dan hal yang pertama kali dia lihat adalah perempuan yang sangat dia cintai sejak dulu. dia terlihat sudah segar dengan rambut basah, sedangkan dia sendiri masih terbaring dengan bagian tubuh atas yang terbuka, terlihat keringat membasahi dada bidangnya, keringat lengket sisa percintaan panas penuh kerinduan siang itu.


Perlahan Yudha duduk lalu menyisir rambutnya kasar dengan tangannya, memberikan kesan maskulin pada wajahnya meskipun dia baru bangun tidur.


" Ayo bangun, antar aku ke stasiun " Ujar gadis itu sambil bergelayut manja pada tangan Yudha.


" Apa kamu akan pergi lagi Li ? " tanya Yudha sambil mengelus sayang kepala Lily, ya dia Lily kekasih Yudha sejak duduk di bangku SMP. Lily adalah adik satu tingkat di bawah Yudha, mereka adalah pasangan yang sangat serasi, yang laki-laki tampan dengan celana jeans robek di bagian lutut yang memberikan kesan badboy, sedangkan yang perempuan terlihat cantik dan manis dengan rambut poni pinggir dan pakaian feminimnya.


" Tentu saja, ada ujian yang harus aku ikuti besok di kampus Yud " jawabnya sambil merapikan rambut yang di acak-acak Yudha tadi.


" Jahat sekali " cibir Yudha kesal


Melihat itu Lily hanya menggelengkan kepala, lalu dia menangkup kedua pipi Yudha agar menghadap padanya lalu dia memberikan kecupan manis pada bibir kekasihnya yang sedang dalam mode marah itu.


" Aku janji akan selalu menemanimu saat kita sudah menikah nanti "


"Janji ? "


" Tentu saja ! "


" Ayo kita menikah hari ini ! " ajak Yudha semangat.


" Tunggu aku lulus kuliah ya sayang "


" Masih lama ! " kesal lagi


" Sabar sedikit lagi, oke ! " jawabnya memelas


" Baiklah " ucap Yudha pasrah " Apa kamu benar-benar mencintaiku ? " timpal Yudha

__ADS_1


" Tentu saja, kalau tidak, aku tidak mungkin kembali meskipun sehari hanya karena merindukanmu " Jawab Lily yakin " Harusnya aku yang bertanya begitu, kan kamu suka main perempuan selama aku gak ada " timpal Lily kesal sambil menjauhkan tubuhnya dari Yudha.


" Hey jangan marah " menggeser tubuhnya untuk kembali dekat dengan Lily " Mereka yang mendekatiku, bukan aku ! " bela Yudha


" Iya, tapi kamu juga meladeni mereka kan ? "


" Ya mau gimana lagi sayang, tapi kan aku selalu kembali padamu, aku tidak pernah menyatakan cinta pada mereka, karena semua rasaku hanya untuk mu ! "


" Huh gombal ! "


" Aku serius ! "


" Janji ya, kemarin yang terakhir, jangan ada lagi perempuan lain ! "


" Iya aku janji, demi cinta kita "


" Iya, demi cinta kita " ucap Lily seraya menghamburkan tubuhnya pada pelukan Yudha, mereka berpelukan cukup lama dan hangat siang itu.


Tak terasa hari sudah menuju sore, memaksa kedua sejoli itu untuk mengakhiri kebersamaan mereka hari itu


🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈


Sementara itu di rumah ayah, Nara terlihat segar sehabis mandi, rambutnya yang basah di biarkan tergantung begitu saja, membiarkan angin secara alami mengeringkannya. Saat ini Nara sedang berdiri di dekat jendela kamar, entah apa yang dia lihat sore itu, matanya kosong, sesekali terdengar dia menghembuskan nafas berat, meskipun raganya disini, namun pikirannya berlarian memikirkan mimpi yang terus datang dalam setiap tidurnya.


" Ra.. !! " panggil sang ayah membuat yang punya nama itu terjengkat kaget.


" Ya Alloh ayah ! ngagetin aja ! " jawab Nara seraya menghampiri ayahnya yang sudah duduk di bibir ranjang


" Mikirin cowok ganteng yah ! " Jawab Nara tersenyum jahil


" Siapa ? Ikbal ? " tanya ayah penasaran


Dih, emang gak ada laki-laki lain ya selain Ikbal ! . batin Nara


" Bukan yah, serius ! " jawab Nara sambil mengacungkan dua jari membentuk huruf v


" Bohong ! Ikbal bilang kamu jauhin dia sekarang ? apa karena hubungan ayah dan mamahnya Ikbal, bikin kamu menjauh dari Ikbal " tanya ayah merasa bersalah


" Bukan yah, bukan karena itu ! " jawab Nara cepat sambil menggenggam tangan Ayah


" Lalu kenapa ? "


" Ada satu hal yang bikin Nara jadi gak suka sama dia, tapi ayah jangan tanya apa itu ! " tukas Nara


" Baiklah, ayah gak akan maksa kamu " jawab ayah pasrah " Tapi benar kamu tidak ingin lagi bersamanya ? " tanya ayah lagi


" Nggak ayah ! Nara gak mau sama dia lagi, Nara mungkin bisa terima kalo Ikbal jadi kakak, tapi gak bisa kalo lebih dari itu ! "


" Apa kami yakin ? "

__ADS_1


" Sangat yakin ! " mendengar itu, ayah terus memandang mata anaknya untuk mencari kebohongan yang mungkin tersimpan di ucapan anaknya, namun hasilnya nihil, tidak ada kebohongan, yang ada hanya tatapan yakin dan tegas.


" Baiklah, eh iya apa kamu udah sholat ashar Ra ? udah sore lho ini " tanya ayah seraya melihat pergelangan tangannya yang terbelit jam tangan.


" Belum yah, Nara lagi M ni "


" Lagi halangan maksudnya ? " tanya ayah


" Iya, halangan M, alias Males hehe " Ujar Nara sambil nyengir kuda.


" Ya Alloh Nara, ayo cepet sholat ! gak ada acara males ! emang kamu mau Alloh males kamu kasih nafas buat kamu, terus kamu mati gitu, mau ? " geram ayah


" Ehh nggak-nggak, yaudah sekarang Nara sholat " ujar Nara sambil berlari kecil keluar kamar untuk mengambil wudhu, sedangkan ayah hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak bungsu kecilnya yang kini meranjak remaja itu.


Lalu ayah melihat sekeliling kamar yang lebih sering kosong itu dengan tatapan nanar, dia menyisir seluruh ruangan itu, dan pandangannya terhenti pada meja belajar yang di atasnya terdapat foto Nara ketika kecil dan di sebelahnya foto Nara saat ini, ayah berjalan perlahan untuk mengambil foto itu, dan foto ini adalah obat rindu ayah di saat harus jauh dari Nara. Ayah mengelus foto itu perlahan, tak terasa air matanya menetes membasahi bingkai foto itu.


" Kamu sudah besar Nak, kamu sangat cantik seperti ibumu, semoga ayah bisa terus ada di sampingmu, sampai kamu mendapatkan seseorang yang sangat mencintaimu seperti ayah " ujar pria berumur 60 tahun itu sambil meletakan kembali foto itu di tempat semula, lalu di menghapus sisa air matanya di pipi yang sudah terlihat banyak kerutan menunjukkan raut usia senjanya. lalu ayah pun pergi seiring dengan masuknya Nara kembali dalam kamar, lalu ayah keluar untuk menyiapkan makan malam.


Akhirnya makanan untuk makan malampun sudah siap, baunya yang harus mengajak Nara untuk segera menghampiri ayahnya di meja makan.


" Giliran makan aja, langsung tahu gak udah di panggil dulu! " ujar Ayah saat melihat anak gadisnya itu sudah duduk manis dengan mata berbinar melihat makanan di meja makan.


" Hehe naluri lapar yah, apalagi ini semua makanan kesukaan Nara " jawabnya sambil meletakkan nasi dan lauk pauk kesukaannya dalam piring yang sudah tersedia di depannya.


" Biar Nara aja Yah ! " ujar Nara lagi saat dia melihat ayahnya akan menyendok nasi untuk mulai makan. Ayah hanya mengangguk dan memberikan piringnya untuk di isi nasi oleh Nara.


" Cukup ! " ujar sang ayah menghentikan sendokan nasi di tangan Nara " Biar ayah ambil sendiri lauknya, kamu cepetan makan " timpal ayah seraya mengambil piring dari tangan Nara dan menambahkan lauk pauk secukupnya untuk dia makan " baca doa dulu Ra... " ujar ayah saat melihat Nara yang akan menyuapkan nasi pada mulutnya dan belum berdoa.


" Hehe.. Bismillahirrahmanirrahim " ujar Nara sambil nyengir kuda " Enak bangettttt " ucap Nara dengan wajah yang berbinar.


Ayah hanya tersenyum melihat wajah anaknya kini ceria lagi, karena beberapa waktu lalu, saat Nara dekat dengan Ikbal dulu.


saat dekat dengan Ikbal, Nara tidak ceria seperti biasanya, seperti ada sesuatu yang membebaninya, mungkin karena Ikbal tidak membalas atau menolak perasaan Nara, itu jadi beban tersendiri di benak Nara, tapi sekarang saat Nara memutuskan untuk menjauh, Nara kembali menjadi dirinya sendiri, menjadi sosok yang ceria dan penuh tawa seperti dulu.


Dan malam ini adalah makan malam terbaik bagi ayah dan anak itu, makan malam yang penuh canda tawa yang hangat.


Bersambung.........


Epilog :


Ikbal adalah seorang lelaki berusia 19 tahun, dia di kenal sebagai sosok yang taat dan baik, kaca mata yang bertengger manis di tulang hidungnya, rambutnya selalu tersisir rapih, pakaiannya pun selalu rapih dan bersih, tutur katanya yang sopan, mampu menyihir semua orang, baik laki-laki atau perempuan, yang muda maupun yang tua pasti akan jatuh hati kepadanya, tak terkecuali seorang Nara.


Namun satu peristiwa terjadi, dan hanya Nara yang mengetahuinya, membuat rasa kagum Nara hilang begitu saja, berganti menjadi rasa kecewa dan tidak percaya.


Ya, dan Ikbal adalah anak dari seorang janda yang kini dekat dengan ayah Nara, dan sepertinya sebentar lagi Nara dan Ikbal jadi saudara. Nara dengan senang hati menerima itu.


Tapi bagaimana dengan Ikbal ? Penasaran ?


yuk guys ikutin terus ceritaku.

__ADS_1


jangan lupa like, vote, dan masukin novelku di daftar favorit kalian ya, terimakasih 😉😉😉😉😉


__ADS_2