
"Adel?"
"Daniel?"
Adel terperanjat saat melihat Daniel ada di depannya, pria itu adalah salah satu temannya waktu berkuliah di Australia. Mereka berdua pernah berkuliah di bidang perhotelan dan kuliner. Sebenarnya kampus mereka berbeda, Adel berkuliah di Le Cordon Bleu sedangkan Daniel berkuliah di William Angliss Institute yang sama-sama berada di kota Sidney. Mereka sering bertemu di karenakan ikut salah satu organisasi yang sama di luar kampus.
Mereka selalu bersama dan pertemanan mereka sangat dekat hingga akhirnya Adel pulang ke Indonesia terlebih dahulu setelah menyelesaikan semua urusan kuliahnya. Setelah itu mereka berpisah dan tidak pernah bertemu lagi. Hari ini pertama kalinya mereka bertemu kembali setelah beberapa tahun berlalu.
"Hei, kenapa matamu sembab?" Apa kau baru saja menangis." Daniel duduk di kursi seberang Adel.
"Sedikit." Adel memaksakan untuk tersenyum.
"Kau kenapa? Ada masalah?" Daniel menatap lembut ke arah Adel.
"Daniel, kemarilah, duduk disini." Adel menepuk-nepuk kursi disampingnya.
Daniel menurut saja dan dengan segera duduk di samping Adel, dia menatap heran pada gadis itu. Tiba-tiba Adel memeluknya dan langsung menumpahkan air matanya di bahu Daniel. Gadis itu menangis sesenggukan hingga badannya ikut bergetar. Adel terus menangis tanpa memperdulikan tatapan bingung orang disekitar mereka.
"Tenanglah." Daniel mengusap lembut punggung Adel meskipun dia tidak tahu penyebab gadis itu menangis.
Adel akhirnya mulai tenang, tidak terdengar lagi suara tangisannya. Adel mengusap-usap matanya untuk membersihkan sisa air mata. Daniel memberikannya tissu agar Adel lebih mudah menghapus air matanya.
"Apa sekarang kau sudah merasa lebih baik?" Daniel tersenyum pada gadis itu.
"Mmm." Adel mengangguk.
"Baiklah, minumlah ini." Daniel membuka botol air mineral yang tersedia di atas meja dan memberikannya pada Adel.
Adel meminum air itu hingga hampir habis, sepertinya dia kehausan setelah menangis cukup lama. Daniel menatap wajah Adel yang terlihat memerah dan semakin sembab. Daniel merasa penasaran tentang apa yang terjadi pada Adel, namun dia tidak ingin memaksa gadis itu untuk segera bercerita. Dia akan menunggu hingga gadis itu merasa tenang.
"Daniel." Adel akhirnya membuka mulutnya.
"Ya?"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Seharusnya aku yang menanyakan hal itu?" Daniel tersenyum.
"Aku sedang jalan-jalan disini, bagaimana denganmu?"
"Aku pemilik kafe ini." Daniel terkekeh.
"Benarkah? Kau pemilik kafe keren ini?" Mata Adel membulat.
"Tentu saja, kau lihat sendiri namanya?"
"Dan Classic Cafe?"
"Dan adalah nama pemiliknya."
"Daniel?"
"Tentu saja, itu namaku." Daniel terkekeh.
"Dari mana kau mendapat ide membuat kafe dengan nuansa retro seperti ini?" Adel terlihat sangat mengagumi kafe itu.
"Entahlah, ide itu muncul sendiri di kepalaku."
"Tempat ini benar-benar keren, aku sangat menyukainya." Adel tampak tersenyum seakan lupa dengan apa yang baru saja dia lakukan.
"Kau tahu?" Daniel menatap Adel
"Apa?
"Baru kali ini kau memujiku, dulu apapun yang kulakukan akan menjadi bahan ledekanmu." Daniel tertawa kecil.
"Ya, dulu apapun yang kau lakukan selalu berantakan." Adel terkekeh.
"Ya, kau membuatku selalu berusaha menjadi lebih baik, hinaan jujurmu padaku dulu membuatku semangat untuk terus belajar." Daniel terkekeh mengingat pertemanan mereka di masalalu
"Berterima kasihlah padaku wahai tuan Daniel." Adel terkekeh.
"Ya, terima kasih kau sudah ikut menempa mentalku." Daniel terkekeh.
__ADS_1
"Tentu saja, kau punya bakat yang luar biasa, hanya saja saat itu kau belum menyadarinya."
"Ya, bahkan aku selalu bersikap ceroboh saat itu."
"Niel, bagaimana kabarmu sekarang?"
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik." Daniel tersenyum.
"Mmm, kau terlihat sangat bahagia." Adel memaksakan senyum.
"Kau terlihat suram." Daniel terkekeh.
"Ya, aku memang terlihat sangat suram hari ini." Adel tersenyum masam.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Del?"
"Niel, kekasihku sedang berada di Singapura, aku kesini ingin memberikan kejutan kepadanya yang hari ini berulang tahun."
"Terus?"
"Ternyata aku yang mendapatkan kejutan."
"Apa itu?"
"Dia bersama kekasihnya disini." Adel tersenyum pahit.
"Apa maksudmu kekasihnya yang lain?"
"Ya, dan mereka sudah sangat lama berhubungan dibelakangku." Adel terkekeh sangat pahit.
"Dimana dia sekarang?"
"Entahlah aku tidak tahu, aku pergi darinya dan mematikan ponselku, aku tak peduli lagi." Adel menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja.
"Mmm baiklah, apa itu kopermu?" Daniel menunjuk koper di samping Adel.
"Ya." Adel mengangguk.
"Kau menginap dimana?"
"Kau menginap saja di tempatku." Daniel menatap Adel.
"Apa tidak merepotkanmu?"
"Tidak."
"Bagaimana dengan kekasihmu? Apa dia tidak akan marah?" Adel bertanya dengan serius.
"Aku tak punya kekasih." Daniel terkekeh.
"Kau yakin?"
"Ya." Daniel mengangguk.
"Pria setampan dan segagah dirimu tidak punya kekasih? Rasanya aku tak yakin." Adel menggeleng.
"Kau masih saja cerewet bahkan di saat patah hati seperti ini." Daniel tertawa.
"Huh, apa sekarang kau mengejekku? Apa kau ingin membalas ejekanku kepadamu dulu?" Adel mengerucutkan bibirnya.
"Tidak, tidak, aku hanya bercanda." Daniel tersenyum
"Niel, aku lapar?"
"Hei, apa kau belum memesan apapun?" Daniel menatap meja, dia baru sadar bahwa tak ada makanan apapun disana.
"Belum." Adel menggeleng
"Baiklah, tunggu sebentar aku akan menyuruh pelayanku membawakan makanan untukmu.
Daniel beranjak meninggalkan Adel dan menghilang di balik pintu menuju dapur kafe itu. Adel menunggu di mejanya, dia kembali melamun setelah ditinggal Daniel pergi, pikirannya hanya tertuju pada hubungannya dengan Ansel. Adel berpikir tentang apa yang harus dilakukannya setelah ini, harus kah dia terus bertahan dengan hubungannya yang memang sudah cacat sejak awal?
Adel terus melamun, pikirannya meninggalkan raganya entah kemana. Adel bahkan tidak sadar bahwa beberapa makanan sudah berada di atas meja. Daniel duduk dan tersenyum melihat gadis itu yang tak juga sadar walau dia sudah berada di depannya.
__ADS_1
"Apa kau akan terus melamun sampai besok?" Daniel terkekeh membuat Adel terperanjat.
"Daniel?" Adel menatap bingung ketika Daniel sudah berada di depannya dengan banyak makanan di atas meja.
"Kau melamun sangat lama." Daniel terkekeh.
"Benarkah?"
"Ya, sekarang makanlah."
"Baiklah." Adel mengangguk dan mulai menyantap makanannya.
Daniel hanya tersenyum melihat Adel yang terlihat bersemangat menyantap makanannya. Gadis itu terus melahap apa yang ada di depannya. Sepertinya dia benar-benar kelaparan saat ini.
"Apa kau tidak makan?" Adel berbicara dengan mulut yang masih di penuhi makanan.
"Tidak, kau saja." Daniel tersenyum.
Adel melanjutkan makannya dengan lahap, dia benar-benar menghabiskan semua makanan yang di hidangkan. Adel mengunyah dan menelan makanan terakhir dimulutnya. Dia mengusap-usap perutnya menandakan dia sudah sangat kenyang.
"Menu yang kau suguhkan benar-benar lezat." Adel terkekeh.
"Kau seperti seseorang yang belum makan satu minggu." Daniel tertawa.
"Ya, aku benar-benar kelaparan."
"Tapi kau hebat, Del. Biasanya seorang gadis yang sedang patah hati akan kehilangan nafsu makannya. Tapi kau berbeda, kau malah menghabiskan semua makanan ini." Daniel terkekeh.
"Hatiku sudah cukup menderita, aku tidak ingin membuat perutku juga ikut menderita." Adel terkekeh sambil memegang perutnya.
"Baiklah, ayo pulang kerumahku sekarang. Malam sudah larut, kau harus istirahat."
"Apa kau tidak disini sampai kafe tutup?"
"Tidak, para pelayanku yang akan menutupnya."
"Mmm, baiklah."
Daniel dan Adel akhirnya pergi meninggalkan kafe. Daniel melajukan mobil menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari kafe. Tidak sampai lima belas menit mereka akhirnya sampai dirumah Daniel. Daniel mengantar Adel ke kamar tamu yang akn di tempati Adel.
"Del, istirahatlah dengan nyaman, anggap saja kamarmu sendiri."
"Terima kasih Niel, kau sudah membantuku."
"Ya, aku akan pergi ke kamarku. Jika kau memerlukanku ketuk saja kamarku."
"Yang mana kamarmu?"
"Itu." Daniel menunjuk sebuah pintu paling berbeda dirumah itu.
"Kamar dengan pintu yang aneh." Adel tertawa meledek.
"Hei, itu bagus."
"Pintu dirumahmu semuanya berwarna hitam, kenapa pintu kamarmu berwarna kuning?"
"Warna itu menandakan bahwa tidak ada seorangpun yang boleh masuk ke kamar itu selain diriku." Daniel terkekeh.
"Apakah itu sebuah pintu terlarang?" Adel tertawa.
"Ya, semacam itu." Daniel kembali terkekeh.
"Sangat konyol." Adel terus tertawa.
"Aku sudah biasa dengan ejekanmu."
"Apa kau sudah kebal?" Adel tergelak
"Tentu saja." Daniel terkekeh. "Baiklah, aku akan pergi ke kamarku."
"Ya." Adel mengangguk.
"Istirahatlah, selamat malam." Daniel tersenyum dan berlalu dari hadapan Adel.
__ADS_1
"Selamat malam, Niel." Adel menutup pintu kamar.
...****************...