
Aku mematikan televisi yang sedari tadi menemaniku, tidak ada acara yang menarik lagi untuk ditonton. Malam semakin larut, aku beranjak dari sofa dan naik ke atas kasur, duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Pikiranku mulai melayang-layang entah kemana.
Aku teringat dengan Grace, gadis itu benar-benar membuatku semakin jatuh cinta dan tergila-gila padanya. Rasanya hatiku ini sangat tersiksa mengingat dia tak membalas perasaanku sama sekali. Sudah beberapa bulan berlalu, tak ada kemajuan sama sekali diantara aku dan Grace, kami hanya semakin dekat namun perasaannya seperti tak tersentuh sama sekali dengan semua perhatian yang ku berikan padanya.
Gadis itu seperti tidak menyadari sama sekali, dia bahkan terlihat biasa saja dengan semua perlakuan manis yang ku berikan untuknya. Kadang aku berpikir, selain kehilangan ingatannya apakah dia juga kehilangan kepekaannya? Grace mendapatkanmu kembali ternyata tak semudah yang ku bayangkan, aku harus berusaha lebih keras lagi.
Aku mencuri-curi waktu untuk dapat bersamanya saat dia sakit kemarin. Aku bahkan mengusir Jane secara halus dan melarang Ken untuk kerumah sakit demi bisa berdua dengan gadis itu. Aku ingin menunjukkan betapa sayangnya aku padanya lewat semua yang kulakuan.
Dokter mengatakan jika memori lamanya mulai bekerja kembali, aku akan berusaha agar Grace bisa mendapatkan ingatannya kembali. Aku ingin dia mengingat tentangku dan hubungan kami. Walaupun aku sadar akan resiko yang kemungkinan terjadi, jika dia mulai mengingat kembali aku tidak tahu apakah dia akan menerimaku atau mungkin akan membenciku. Tapi terlepas dari semua kemungkinan itu, aku berharap dia bisa mengingat kembali. Setidaknya tentang kenangan indah kami di masalalu meskipun ada luka yang terselip disana.
Aku teringat kembali saat itu, saat terbodoh dalam hidupku. Dulu aku tak pernah memanggil namanya dengan sebutan Grace, aku selalu memanggilnya dengan nama depannya, Defina. Hari itu hari terakhirku bersama Defina, awalnya tak ada apapun, kami baik-baik saja saat itu. Sepulang kuliah aku dan Defina berjalan-jalan dengan motornya. Aku tahu anak itu adalah anak konglomerat, tapi entah kenapa dia sangat suka naik motor, dia pergi kemana saja menggunakan motor. Karena itulah sebelum aku mendapatkan hatinya aku juga membeli motor demi mendekati anak itu. Aku tidak pernah lagi memakai mobil ke kampus setelah berkenalan dengannya. Sampai aku dan dia menjadi sepasang kekasih pun kami selalu naik motor berdua.
Hari itu aku membonceng Defina memakai motornya, kami berjalan-jalan keliling kota sepulang kuliah. Hal yang hampir kami lakukan setiap hari jika tidak ada kesibukan. Aku sangat senang bersamanya, berada disisinya selalu membuatku bahagia. Dia adalah sosok yang berbeda, tak ada kutemukan pada wanita lain. Kurasa segala hal baik dari langit dan dari bumi mengiringinya saat dia dilahirkan sehingga terciptalah hampir seluruh kesempurnaan di hidupnya.
Wajah yang begitu cantik dengan bentuk tubuh ideal dimilikinya. Selain kesempurnaan fisik dia juga di anugerahi kesempurnaan hati. Jiwa yang baik bersemayam dalam dirinya, kelembutan hati dan kebaikan sikap tak pernah lari darinya. Kerendahan hati dan jauh dari rasa sombong benar-benar menambah nilai tambah di kehidupannya. Dia benar-benar sosok berbeda bukan?
Saat kami sedang jalan-jalan tiba-tiba ponselku berdering. Aku membaca nama si pemanggil, Brian asisten pribadi ayah. Aku menerima panggilan tersebut, Brian berbicara banyak diseberang sana. Percayalah itu benar-benar berita yang sangat buruk, tapi aku berusaha bersikap biasa karena ada Defina di dekatku. Aku menutup sambungan telepon dan menghampiri Defina, aku mengajaknya untuk pulang dan mengantarku. Dia seakan mengerti dengan segala keadaan walaupun tidak tahu sama sekali, dia mengiyakan tanpa bertanya apapun, dia bahkan meminta untuk memboncengku.
Aku dan Defina telah sampai didepan rumahku, aku turun dari motor dan tersenyum kepadanya. Dia membalas senyumanku tanpa turun dari motornya. Defina sudah bersiap untuk melajukan motornya tapi aku menahan tangannya.
"Defina."
"Ya?" Dia menoleh padaku.
__ADS_1
"Ada kabar buruk."
"Apa itu?"
"Kedua orang tuaku bercerai, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat kelahiran mereka masing-masing. Ayah akan kembali ke negara asalnya, Thailand. Ibu akan kembali ke pulau XX. Aku diminta untuk memilih ikut dengan siapa, tapi sepertinya aku tidak akan ikut siapa-siapa." Dia terlihat terkejut dengan apa yang ku katakan.
"Aku turut bersedih untuk hal ini, Daf. Semoga semua yang terjadi adalah yang terbaik untuk kedua orang tuamu dan untukmu juga?" Defina menggenggam tanganku erat. Aku membalas genggaman tangannya, rasanya sedikit sedihku menguap hanya dengan kehangatan tangan gadis ini.
"Terima kasih, pulanglah sudah sore, hati-hati di jalan." Aku tersenyum kepadanya.
Defina mengangguk dan melambaikan tangannya berlalu dari hadapanku, dia melajukan motornya hingga tak terjangkau penglihatanku lagi. Aku masuk kedalam rumah, tak ada siapapun kecuali para pelayan. Seperti kata Brian kedua orang tuaku belum pulang kerumah. Ayah masih dikantor dan ibu juga masih berada di butiknya.
Malam hari tiba, ayah pulang tapi ibu tidak pulang. Aku makan malam hanya berdua dengan ayah, dia duduk dikursi seberangku. Ayah tidak bicara apapun karena dia yakin bahwa aku sudah tahu tentang mereka. Beberapa saat hanya terdengar suara denting kecil peralatan makan yang terdengar hingga akhirnya ayah membuka mulutnya.
"Ya?" Aku menoleh padanya.
"Kau sudah tahu?" Dia meletakkan sendok dan garpu ditangannya ke atas piring.
"Hmm." Aku mengangguk pelan.
"Apa kau bisa menerimanya?" Ayah menatapku menunggu jawaban dariku.
"Semoga saja." Aku menjawab singkat, bagaimanapun sebenarnya saat ini sangat sulit untuk menerima segala kenyataan ini, aku tidak menyangka sama sekali hal ini akan terjadi.
__ADS_1
"Dafa mungkin ini yang terbaik untuk kita semua, semoga kau bisa mengerti nantinya."
"Ayah, aku tidak akan mengerti jika kau tidak menjelaskan apa-apa." Aku berkata dengan datar, menyembunyikan rasa sedihku.
"Dafa, ayah tidak bisa melarang ibumu untuk pergi."
"Kenapa? Bukankah kalian saling mengasihi satu sama lain?" Aku menatap mata ayah yang terlihat sendu.
"Ayah sudah berusaha, namun ada hal yang tidak bisa di paksakan diantara kami." Ayah tidak berhenti menatapku.
"Apa itu?" Aku ingin tahu penyebab semua ini.
"Kau tidak harus tahu tentang ini."
"Tidak ayah, aku anak kalian dan aku sudah dewasa sekarang, aku berhak tahu apa yang terjadi." Aku melihat kesedihan di wajah ayah.
"Hmm, berjanjilah untuk tidak membenci siapapun setelah kau mengetahuinya."
"Baiklah." Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan ayah selanjutnya, hanya saja detak jantungku melaju dengan seketika saat menunggu kata yang akan keluar dari mulutnya.
"Berjanjilah, apapun yang akan kau ketahui dari apa yang ayah katakan, sekalipun itu kepahitan, jangan pernah membenci ayah ibumu atau siapapun."
"Baik ayah." Aku mengangguk.
__ADS_1
...****************...