Kali Kedua

Kali Kedua
JANE


__ADS_3

Hari ini pekerjaanku sedikit menumpuk karena Grace sedang sakit. Aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku karena hari sudah semakin sore. Aku menghembuskan nafasku dengan keras ke udara melihat tumpukan dokumen di atas meja. Jika pekerjaanku tidak selesai maka aku akan terlambat pulang, padahal aku ingin segera menjenguk Grace dirumah sakit, aku ingin mengetahui keadaannya. Aku tidak menelponnya hari ini karena takut mengganggu istirahatnya jadi kuputuskan untuk langsung menjenguknya saja nanti.


Aku masih sibuk dengan pekerjaanku, tiba-tiba kudengar suara ketukan pintu dan ceklek, sosok pangeran muncul dari pintu ruanganku. Wajahnya terlihat sangat cerah dengan senyum mengembang.


"Jane." Dia menyapaku.


"Tu..tuan Ken." Aku sedikit terkejut melihat kemunculannya yang tiba-tiba. Sepersekian detik aku terhenti dari aktivitasku, seperti terhipnotis dengan kehadirannya. Namun aku berusaha mengambil kesadaranku kembali dan melanjutkan pekerjaan.


“Hei kenapa kau selalu terkejut setiap aku datang?” Dia terkekeh.


"Ma..maaf, tuan."


"Maaf untuk apa?"


Untuk apa ya? Aku juga bingung aku mengucapkan maaf untuk apa? Apa aku harus menjawab maaf karena selalu terkejut melihatmu? Aku memang selalu terkejut setiap melihatmu. Kemungkinan karena pesonamu yang tidak bisa disembunyikan itu. Bukan hanya aku tapi jantungku juga, bisa-bisa aku aku mati muda karena serangan jantung jika setiap saat melihatmu.


"Mmm, untuk apa saja." Akhirnya aku menemukan kata yang tepat.


"Baiklah, aku memaafkan untuk apa saja." Dia tertawa.


Jangan tertawa, tolong! Jantungku sangat sulit dikondisikan sekarang. Entah ada pertanda apa hari ini, kenapa dia dengan santainya masuk keruanganku di jam kerja begini. Aku menatapnya sekilas, pria ini terlihat sangat mempesona setiap hari. Beruntung sekali aku dapat menatap seorang pangeran dari negeri dongeng setiap hari, dengan melihatnya saja sudah memberikan suntikan semangat dalam diriku.


"Apa ada yang tuan perlukan?" Aku menanyakan keperluannya.


"Tidak, aku hanya ingin berkunjung." Dia duduk di sofa tanpa kupersilahkan.


Apa? Berkunjung? Aku semakin bingung dengan sikap pria ini, dengan santainya dia mengucapkan kata berkunjung, untuk apa dia melakukannya? Apa maksudnya kunjungan kerja keruanganku? Tapi jelas dia tidak melakukan apa-apa, hanya duduk santai saja di sofa. Terkadang para pria memang membingungkan.


"Jane, apa kau senang berada disini?" Dia menatap ku sekilas.


"Ya, Tuan." Aku tidak punya kata lain untuk menjawab.

__ADS_1


Apa maksudnya bertanya seperti itu? memang kalau aku senang dia mau apa? atau kalau aku tidak senang dia juga mau apa? Hmm, sebenarnya aku senang disini, hanya saja terkadang aku sering gugup saat bertemu dengan orang ini. Entah kenapa aku juga bingung dengan perasaanku sendiri.


"Jane, apakah sehabis pulang kerja kau sibuk?”


“Saya akan kerumah sakit menjenguk Grace, tuan.”


“Hmm, begitukah?”


“Ya.”


Kenapa dia menanyakan kesibukanku setelah pulang kerja? Apa dia mau mengajakku kencan. Aku tertawa sendiri dengan pikiran konyolku. Tidak mungkin itu terjadi, mana mungkin pria sesempurna ini mengajak diriku ini kencan. Terus kenapa dia bertanya? Apa dia kepo dengan kehidupanku yang tidak terlalu menyenangkan ini? Hmm aku ralat, bukan hidupku yang tidak terlalu menyenangkan. Tapi kehidupan percintaanku yang memprihatinkan.


“Aku akan ikut denganmu.” Dia melanjutkan kata-katanya.


“Mmm, baiklah tuan.” Aku tidak punya alasan untuk menolaknya.


“Jane, kita sedang berdua sekarang, kau tidak perlu memanggilku tuan, panggil saja namaku, berbicaralah santai denganku.” .


Dari kasta pekerjaan saja aku jelas jauh dibawahnya, jika aku berbuat macam-macam dengannya bisa-bisa aku ditendang dari proyek, parahnya lagi di tendang dari Eiregin Corp, aku tidak ingin menjadi pengangguran walaupun sebenarnya keluargaku termasuk keluarga konglomerat. Bagiku bekerja bukan hanya untuk uang, tapi untuk mengisi waktu keseharianku dan tentunya untuk bersosial, mencari teman atau salah satunya juga bisa untuk mencari kekasih. Aku terkikik dalam hati karena pikiranku sendiri.


"Baik, Ken.” Aku menjawab seadanya, entah kenapa aku merasa sungkan.


“Jane kenapa kau selalu terlihat sungkan kepadaku?”


“Tidak, Ken. Aku hanya.” Aku terdiam bingung mau mengatakan apa.


“Apa karena malam itu?” Dia menyela kata-kataku.


“I..iya.” Akhirnya aku mengatakannya.


“Kenapa? Kau kan tidak melakukan apapun.” Tidak melakukan apapun katanya? Aku yakin aku telah melakukan hal-hal diluar akal sehatku.

__ADS_1


“Aku hanya merasa malu, aku pasti bertingkah bodoh di depanmu saat mabuk.”


“Hei, apa kau sangat memikirkan hal itu?” Dia tertawa.


“Ya, aku selalu menebak-nebak tentang apa yang kulakukan malam itu.” Aku ingin tahu apa yang telah ku lakukan.


“Apa kau mau tahu? Apa perlu aku memberi tahumu?” Dia bertanya dan aku mengangguk.


Akhirnya dia menceritakan apa yang kulakukan malam itu saat mabuk, tentu saja aku merasa sangat malu. Tapi setidaknya aku sudah merasa lega karena tidak lagi penasaran dengan hal itu. Ternyata malam itu aku benar-benar bertingkah konyol, bahkan aku memakinya karena mengira bahwa dia adalah Liam. Bodoh sekali aku menjadikan pria setampan Ken sebagai pelampiasan amarahku hanya karena pria pecundang seperti Liam.


Jam pulang kantor sudah tiba, tapi pekerjaanku belum selesai. Ken bermurah hati dan turun tangan membantu pekerjaanku hingga selesai. Setelah itu kami berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Grace, tapi ternyata dia sudah pulang. Huh kenapa dia tidak memberitahuku jika sudah pulang. Ken mengatakan kemungkinan Grace sedang istirahat sehingga belum menghubungiku, aku mengangguk-angguk saja, salahku juga baru menjenguknya sekarang.


"Apa kau lapar?" Ken bertanya


"Mmm, sangat." Aku tersenyum lebar karena baru menyadari jika perutku sudah terasa sangat lapar.


"Aku juga." Ken terkekeh.


"Ayo kita makan sebentar."


"Baiklah, kau mau makan apa?" Ken bertanya padaku.


"Ayo ikut aku, ada tempat makan enak di dekat sini." Aku menarik tangan Ken mengajaknya keluar dari rumah sakit.


Tidak jauh dari rumah sakit ada warung makan yang menurutku menu-menunya sangat enak, aku makan disana satu kali saat menjaga Grace kemarin. Aku mengajak Ken untuk mencoba makanan disana, siapa tahu juga cocok dengan seleranya.


Sesampainya di depan warung makan itu, aku tersadar dengan apa yang kulakukan. Aku masih menggenggam erat tangan Ken. Aku segera melepaskannya pelan agar tidak terlalu kentara. Aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku dengan santainya menggenggam tangan pria ini dan menariknya dari rumah sakit sampai kesini. Oh betapa bodohnya kau, Jane. Aku memaki diriku sendiri, seandainya aku sedang sendiri aku ingin jungkir balik karena merasa diriku sangat konyol.


Aku menatap Ken sekilas, dia terlihat biasa saja. Syukurlah sepertinya dia tidak menyadari apa yang terjadi. Rasanya aku ingin mengelus-elus dadaku tapi tidak mungkin karena pasti Ken akan melihatnya dan bertanya-tanya kenapa aku mengelus-elus dada.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2