Kali Kedua

Kali Kedua
ANAK AYAH


__ADS_3

Hampir seharian Dafa menemani Grace berjalan-jalan disalah satu mall terbesar di kota. Walaupun dia merasa lelah tetapi setiap melihat keceriaan Grace di dekatnya rasa lelahnya menguap dan hilang begitu saja.


Tuhan aku ingin begini saja setiap saat. Batin Dafa sambil tersenyum menatap Grace yang sedang mengunyah makanan yang di belinya disalah satu gerai makanan.


"Grace." Dafa menatap Grace.


"Ya?" Grace menjawab dengan mulut penuh makanan


"Telan dulu makananmu." Dafa tertawa melihat tingkah Grace.


"Mmm oke." Grace mengunyah cepat dan menelan makanannya.


"Maukah pulang ke Indonesia bersamaku dan Ken besok?"


"Mau." Grace menjawab cepat sambil mengangguk angguk.


"Kita berangkat pagi, apa kau setuju?"


"Setuju." Grace menganguk-angguk lagi.


"Kenapa kau terus mengangguk? bisa-bisa lehermu lepas." Dafa tertawa.


"Leherku elastis."


"Oh, sini biar ku buktikan, aku akan mematahkannya?" Dafa membentuk tangannya seakan ingin mencekik Grace.


"Tidak, jangan." Grace melindungi lehernya dengan tangan. Dafa hanya tertawa melihat tingkah Grace.


"Baiklah, apa kau mau pulang kerumah sekarang? ini sudah malam." Dafa menatap lembut dua bola mata Grace.


"Mmm, ayo kita pulang. Aku harus mengambil mobilku di kantor." Kata Grace


"Tidak perlu, mobilmu sudah pulang kerumahmu lebih dulu." Dafa terkekeh.


"Apa? Bagaimana bisa." Grace terlihat bingung.


"Aku yang melakukannya." Dafa tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa bisa? kau bersama ku seharian." Grace berpikir.


"Bisa, memakai sihirku." Dafa terbahak.


"Kau konyol." Grace tertawa sambil memukul bahu Dafa.


...----------------...


Grace melambaikan tangannya saat mobil Dafa berlalu meninggalkan rumahnya. Grace masuk dan melihat ayahnya sedang duduk di ruang tamu. Dia menghampiri ayahnya dan duduk disampingnya.


"Ayah." Grace memanggil ayahnya.


"Kau darimana saja sayang?"


"Aku berjalan-jalan sebelum pulang besok." Grace tersenyum riang.


"Benarkah, kau pergi dengan siapa?"


"Dengan presdir Date Group."


"Dafa?".


"Apa kau berhubungan dengannya?" Wira menatap wajah ceria anaknya.


"Tidak." Grace menggeleng.


"Terus?"


"Kami berteman." Grace tersenyum.


"Secepat itu kau berteman dengan rekan bisnismu Grace?"


"Tentu saja, dia orang yang baik dan ramah, ayah." Grace tidak berhenti tersenyum.


"Benarkah?"


"Mmm, tentu saja."

__ADS_1


"Baiklah, tapi kau harus berhati-hati, jangan terlalu cepat menilai seseorang dan jangan terlalu percaya dengan orang-orang yang baru kau kenal.


"Iya ayah aku mengerti." Grace mengangguk.


"Jaga dirimu baik-baik sayang, ayah tidak ingin kau terluka sedikitpun." Wira mengelus kepala anaknya. Grace mengangguk-angguk mengiyakan perkataan ayahnya.


"Mmm, ayah." Grace menatap ayahnya


"Ya, sayang?"


"Anak sahabat ayah kembali menggangguku."


"Ethan?"


"Ya."


"Apa dia menyakitimu?"


"Dia memaksaku untuk kembali padanya?"


"Benarkah?" Ayah Grace menatap wajah anaknya.


"Mmm, aku kesal ayah, aku benci padanya. Ayah tahu kan bagaimana dia menyakitiku dulu?" Wajah Grace berubah kesal.


"Sudah dua kali dia memaksaku dan berusaha menyentuhku, ayah. Aku sangat muak padanya."


"Apa? Dia berani ingin menyentuhmu?". Raut wajah Wira mengeras.


"Mmm, Dafa menolongku, aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dia tidak datang saat itu."


"Baiklah sayang, ayah akan memberinya pelajaran jika dia kembali mengganggumu. Kau tidak perlu khawatir."


Wira terlihat geram mendengar cerita anaknya, walaupun Ethan anak dari sahabatnya tetapi jika dia berani menyakiti putri semata wayangnya Wira tidak segan-segan memberinya pelajaran.


Wira tidak ingin melihat putrinya terluka, sudah cukup baginya melihat penderitaan putrinya di masalalu. Wira tidak ingin melihat kesedihan menghampiri Grace, wira berharap hanya kebahagiaan yang selalu menyelimuuti Grace.


Hari ini Wira sudah sangat senang melihat keceriaan di wajah anaknya. Grace memang selalu terlihat ceria belakangan ini, tapi tidak pernah seceria ini, mungkinkah karena Dafa pikirnya. Wira hanya sedikit khawatir jika kejadian di masalalu terulang kembali, dia takut Dafa kembali melakukan kesalahan terhadap putrinya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2