
Sementara itu di rumah Dicky
" Kak ! kenapa kakak malah mengajak Nara pacaran ? apa kakak lupa dengan janji kak Yudha pada kak Lily ? " Tanya Dicky gusar, sedangkan yang di tanya hanya tersenyum memandangi ponselnya setelah menerima pesan balasan dari Nara.
" Kakak ! " bentak Dicky karena merasa di acuhkan
" Apa ???" jawab Yudha tak kalah gusar
" Kenapa kakak malah menjadikan Nara pacar ? dia sahabatku Kak ! jangan menyakitinya ! "
" Siapa yang akan menyakitinya, lagi pula dia membalas cintaku, dan dia bahagia pastinya sekarang, jadi apa yang salah ? "
" Kakak yang salah ! jangan permainkan dia kak, dia gadis yang baik ! "
" Aku tidak akan mempermainkannya, aku hanya ingin bersamanya, setelah itu aku akan____ "
" Mencampakkannya, dan kembali pada kak Lily ? "
" That's right ! " Ucapnya santai sambil membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur Dicky dan memejamkan matanya.
Dicky hanya mendengus kesal melihat calon kakak iparnya itu, dia pun memutuskan untuk tidur di sofa karena tidak mungkin tidur di sebelah Yudha, terlebih lagi ukuran kasurnya yang single, tidak memungkinkan untuk tidur berdua.
Semoga kamu bisa menjaga hatimu agar tidak jatuh terlalu dalam pada pesonanya yang akan membuatmu terluka Ra. batin Dicky, tak lama Dicky pun terlelap dalam tidurnya.
🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈🎈
Gelap dan dinginnya malam, telah berganti dengan sinar matahari yang cerah dan terasa hangat menyentuh kulit. Saat ini Nara sedang berdiri di depan pintu kamarnya, mendekatkan telinganya, berharap bisa mendengar percakapan yang terjadi di ruang tamu, tepat berada di depan pintu kamar Nara.
Saat ini Nara sudah terlihat cantik dengan dandanan sederhana, celana jeans pendek di atas lutut, kaos berwarna merah bergambar kartun Tazmania, yang terlihat pas di badannya, sedangkan rambut panjangnya di kuncir kuda, serta poni pinggir yang menutupi dahinya, membuat gadis itu terlihat segar dan imut, sesuai usianya yang baru menginjak 15 tahun. Tak lupa dia membawa tas berukuran sedang yang berisikan kamera polaroid, dan buku diarynya.
Dia sudah siap pergi bersama Yudha seperti yang sudah di rencanakan tadi malam.
saat ini Yudha sedang meminta izin kepada ayah Nara.
Setelah beberapa menit akhirnya Yudha mendapatkan izin dari ayah Nara, dan sebelum keluar dari pagar rumah, Ayah terus memberikan petuah dan aturan selama mereka pergi, dan harus kembali sesuai dengan waktu yang sudah di tentukan.
" Kita mau kemana Kak ? " Tanya Nara saat mereka mulai berjalan kecil meninggalkan rumah Nara
" Berkeliling sekitar sini, kata ayah jangan jauh-jauh "
" Kita gak naik motor kak ? "
" Nggak ! kan kata Ayah jangan jauh-jauh Ra ! "
Huh dasar orang tua posesif
" Hmm kita enaknya kemana ya ? " tanya Yudha
" Ya aku gak tahu kak, kan aku belum tahu daerah ini semuanya "
" Hmmm ya udah kita duduk dulu di situ yuk " ajak Yudha menunjuk sebuah beton yang di bawahnya terhampar sungai yang cukup deras
Apa ? kencan pertamaku setelah jadian hanya di pinggir jalan begini ? kalo gitu mending di rumah !. Nara masih mematung di tempat, melihat itu Yudha menarik tangan Nara, dan menggenggamnya.
Genggaman yang spontan itu membuat Nara kaget, ada yang bedesir di hatinya, jantungnya berdetak sangat cepat, tanpa sadar sekarang dia dan Yudha sudah duduk di beton tersebut, Yudha terus menggenggam tangan Nara, seakan tak ingin melepaskannya, sedangkan Nara hanya menunduk melihat tangannya yang di genggam erat oleh Yudha, rasanya sangat bahagia.
" Ra.... " panggil Yudha, refleks Nara mendongak, tatapan mata mereka bertemu, saling mengunci satu sama lain, tatapan mereka di penuhi dengan cinta, Nara melihat tatapan Yudha, persis seperti tatapan yang dia lihat dalam mimpinya, begitupun dengan Yudha, mereka terus memandang seakan tengah meluapkan perasaan mereka masing-masing.
" Cendol manis dingin, cendol manis dingin..!! " Teriakan seorang pedagang membuyarkan tatapan cinta mereka, spontan mereka melepas genggaman tangan dan saling membuang muka, mencoba meleburkan rasa malu dan canggung yang datang menyergap, membuat suasana hening, tak ada kata apapun yang terucap dari mereka berdua.
__ADS_1
Sampai akhirnya Nara berinisiatif membuka pembicaraan terlebih dulu.
" Kakak itu bawa gitar untuk apa ? " tanya Nara saat baru sadar ternyata ada gitar yang menempel di punggung Yudha.
" Oh ini, ya untuk di mainkan Ra, masa buat di jual "
" Ya maksudnya, kakak bisa main gitar ?"
" Tentu saja, aku punya band, dan aku vokalisnya " ucap Yudha bangga
" Benarkan ? " tanya Nara antusias
" Mau bukti ?" tanya Yudha yang hanya di balas anggukan oleh Nara dengan wajah yang berbinar, saat Yudha akan mulai memainkan gitarnya, dengan cepat Nara menghentikan gerakan tangan Yudha, membuat Yudha mengernyit heran, tatapan matanya seolah bertanya " kenapa ?".
" Kakak yakin akan main gitar disini, apa tidak ada tempat lain yang lebih nyaman ? tanya Nara seolah mengerti arti tatapan Yudha tadi, Yudha pun tersadar.
" Eh iya ya, masa disini " Ucapnya sambil mengedarkan pandangan, mencari tempat yang nyaman untuk bermain gitar, sampai akhirnya matanya tertuju pada bukit batu yang tidak jauh dari jembatan tempatnya duduk.
" Kita kesana Yuk " tunjuk Yudha
" Apa kakak yakin ? tanya Nara
" Tentu saja ! "
" Hmmm___" melihat Nara yang ragu, membuat Yudha gemas, dia langsung menarik tangan Nara, dan membawa gadis itu menuju bukit tersebut.
" Apa gak bahaya kak, naik ke bukit itu ?" ucap Nara saat sudah sampai di kaki bukit, jalannya tidak terlalu tinggi, namun seperti sedikit licin meskipun terbuat dari batu, banyak rumput liar yang tumbuh di situ, membuat Nara sedikit takut.
mendengar penuturan Nara, Yudha tahu bahwa gadis kecilnya ini sedang merasa takut, Yudha menarik tangan Nara yang masih di genggamannya, menuju dadanya.
" Percaya sama aku Ra, aku bakal jagain kamu, kamu percaya kan sama aku ? " Ucap Yudha, dengan tatapan tajam namun teduh memandang tepat pada bola mata Nara, seakan terhipnotis, tanpa banyak bicara Nara pun mengangguk, dan mengikuti langkah Yudha menaiki bukit, sesekali Yudha membantu Nara untuk berjalan.
Deraian air sungai, hamparan kebun teh di satu sisi, dan hamparan sawah di sisi lainnya.
Tanpa sadar Nara melangkah ke depan, merentangkan tangannya, menghirup udara segar, membiarkan angin menyentuh tubuhnya.
sedangkan Yudha masih mematung di tempat, dia sama terkejutnya dengan Nara, meskipun dia pernah naik kesini, tapi keadaan bukit ini sekarang jauh berbeda saat dulu dia naik ke bukit ini, saat dia masih sekolah SD. kini tempat itu berubah, dan sama persis dengan tempat yang ada di mimpinya, dengan posisi Nara yang membelakanginya seperti dalam mimpi.
Apa itu benar dia Tuhan ?
Gadis dalam mimpiku itu benar Nara ?
Dia benar-benar nyata ?
Tiba-tiba terdengar alunan melodi yang menyadarkan Nara, melodi itu berasal dari gitar yang di mainkan oleh Yudha, setelah bergumam dalam hati, akhirnya Yudha memilih untuk duduk, dan memainkan gitarnya. Nara pun menoleh, dan menghampiri Yudha, duduk di sebelahnya dan menikmati alunan melodi yang Yudha mainkan, namun sampai akhir melodi tersebut, tidak ada lirik dalam lagu itu, membuat Nara penasaran.
" Kenapa gak ada liriknya Kak ? "
" Nah itu, aku belum menemukan lirik yang pas setelah sekian lama "
" Kenapa ? "
" Entahlah ! " Ucap Yudha sambil menatap mata Nara, entah kenapa dia sekarang sangat senang memandang mata bulat sayu itu, sedangkan yang di pandang sudah salah tingkah, dan memalingkan wajahnya karena malu.
Kenapa dia suka sekali menatapku sih, gak tahu apa jantungku hampir meledak karena tatapannya ! . batin Nara
Tiba-tiba terbesit sebuah ide, Nara pun membuka tasnya, membawa buku diarynya beserta bolpoinnya, dia punya membuka beberapa lembar buku tersebut.
" Coba kakak mainin lagi lagunya, aku coba bikin liriknya ! " Ujar Nara antusias
__ADS_1
" Apa bisa ? " tanya Yudha sangsi
" Ya kita coba dulu ! " jawab Nara yakin. Yudha pun memainkan lagunya tersebut, Nara terlihat sesekali menerawang, lalu menulis dengan serius, sampai lagu itu selesai, Nara pun tersenyum melihat tulisannya, lalu memberikan buku itu pada Yudha.
" Kenapa kamu menulis dengan tinta biru ? kenapa gak hitam seperti orang lain ?" Tanya Yudha saat melihat tulisan Nara memakai tinta biru.
" Entahlah Kak, ini juga pertama kalinya aku nulis pake tinta biru " jawabnya " ayo kak baca, siapa tahu itu cocok untuk lirik lagu kakak ! " timpal Nara, Yudha pun mengangguk, setelah beberapa saat dia tersenyum pada Nara, dan mulai kembali memainkan gitar, sambil bernyanyi lirik lagu yang di tulis Nara.
* *Hidupku di dunia hanya sekali...
lebih tak berarti tanpa kau di sisiku..
sampai ku mati, ku ingin bersama dengan mu
Ijinkanlah ku mencari, kesungguhan hati.
Tuk buktikan kamu ada di hidupku
bisikkanlah dari hati, kau ada disini
Temani hidupku, tak berujung waktu.
Bila kau tercipta memang untukku.
Tunjukkanlah bahwa aku lelaki terakhirmu.
sampai ku mati, ku serahkan semua.
sampai ku mati, ku ingin bersama denganmu*.
(original song by : Nano band - sampai ku mati)
Yudha pun terlihat senang saat lirik yang di buat Nara berhasil masuk dan pas dengan melodinya, tanpa sadar Yudha mencium kening Nara begitu lama, seakan menjelaskan betapa besarnya perasaan yang ada dalam hatinya untuk gadis kecil di depannya itu.
" Aku mencintaimu Ra... " ucapnya saat ciuman di kening terlepas
" Aku juga kak " jawab Nara, dia pun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Yudha, pemuda itu pun memeluk Nara begitu erat, mata keduanya terpejam, merasakan hembusan angin yang bertabur kebahagiaan di hati keduanya.
Semenjak saat itu, keduanya menjadi semakin dekat, hampir setiap hari, dari pagi sampai petang Yudha selalu datang ke rumah Nara, bahkan malam pun Yudha selalu datang hanya untuk sekedar mengobrol, tak jarang ayah pun ikut bercanda dengan mereka.
Mereka sering kembali datang ke bukit tersebut untuk sekedar bernyanyi, dan mengabadikan kenangan mereka melalui kamera polaroid milik Nara.
Tak ada hari yang Nara lalui tanpa Yudha di sisinya, tanpa sadar kini Yudha menjadi dunianya.
Dunia yang dimana udaranya di penuhi dengan wajah Yudha.
Bersambung....
.
.
.
Selamat membaca, jangan lupa like, vote, dan di tunggu komen positivenya ya...
Maaf jika alurnya sedikit cepat, ini memang alur yang sudah saya rencanakan, terlebih-lebih saya tidak suka jika cerita ini terlalu bertele-tele, tapi tenang aja meskipun cepat, tapi tidak mengurangi kejelasan ceritanya Koo.
Terimakasih 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1